
"Kamu tidak perlu tahu aku dapat kemampuan ini dari mana, jika kamu ingin merias diri katakan saja padaku," ucap Kevin seraya tersenyum menatap pantulan wajah Kalina dari cermin dalam hati dia mengagumi wajah sang istri.
"Tolong ajarin aku Vin, aku juga pengen bisa pakai makeup," pinta Kalina.
"Ada aku disini, kenapa kamu harus pakai sendiri, biar aku saja." Kevin membereskan set alat makeup yang barusan dia pakaikan pada Kalina.
Kalina memegang lengan Kevin, dia menatap aneh pria itu, "Vin, alat makeup yang kamu punya lengkap banget, jangan-jangan kamu punya hobi aneh ya?" tuding Kalina.
Kevin menoleh, "hobi aneh apa?" tanya-nya bingung.
"Kamu pikir aja, jarang-jarang loh cowok bisa makeup," cibir Kalina, "apa kamu suka pakai baju cewek juga? Apa ini bekas kamu?"
Kevin mendengus kasar, "kamu pikir aku ini cowok macam apa," keluhnya kesal.
"Aku sengaja mengambil kelas makeup privat, agar aku bisa mendandani-mu sendiri, aku tidak ingin orang lain menyentuh wajah-mu," wajah Kevin berubah kesal harga dirinya terusik.
Kalina melongok mendengar pernyataan Kevin, "aku pria normal Lin, dan aku tidak pernah memakai riasan atau pun pakaian wanita seperti yang kamu tuding kan, pakaian yang ada di lemari itu masih baru dan itu milikmu."
"Aku tunggu kamu diluar!" ucapnya seraya berlalu.
Kalina merasa tak enak hati, sebetulnya dia hanya ingin menggoda Kevin bukan menghinanya, tapi apa yang keluar dari bibir Kevin membuat Kalina menyadari betapa besar cinta yang Kevin miliki untuk dirinya.
"Vin, tunggu!" pekik Kalina namun pria itu tak menghiraukannya, di berlalu lebih dulu keluar dari kamar.
Kalina berlari menyusul Kevin bertepatan dengan itu Kenan keluar dari kamarnya dan Kelly turun dari lantai atas.
"Lin ini beneran kamu?" mata Kenan melebar tak percaya, "sumpah kamu cantik banget, kamu dandan sendiri?"
Kalina tersenyum canggung, dia melirik Kevin yang tengah minum segelas air di dekat meja makan.
'Mereka pasti gak tahu Kevin bisa makeup, sebaiknya aku rahasiakan saja.' batin Kalina.
"Iya, aku dandan sendiri. Gak aneh kan?" tanya Kalina.
"Aneh, mana ada, kamu cantik banget," Kenan mengacungkan jempolnya.
Kelly berdecak sinis, seraya berjalan, "Kevin aku berangkat bareng kamu, apa kata orang nanti kalau kita ketahuan turun dari mobil yang berbeda."
__ADS_1
Kevin tak merespon dia bahkan tak melirik pada Kalina.
'Kevin bener-bener marah, aku pasti sudah sangat menyakiti hatinya. Haish, dasar mulut sialan.' gerutu Kalina dalam hati.
"Lin, kamu berangkat bareng Kenan. Disana terlalu banyak orang. Orang lain belum tahu bahwa kamu istrinya Kevin juga, identitas-mu saat ini terlalu sensitif, akan lebih baik kamu menjadi pasangan Kenan di pesta." Ucap Kelly sembari berjalan di depan Kalina.
Brak...! Kevin membanting pintu mobil cukup keras, dia agaknya kesal dengan perkataan Kelly barusan, namun dirinya juga tak bisa berbuat apa-apa.
"Kevin marah, Nan. Apa sebaiknya aku tidak ikut?" tanya Kalina was-was.
"Apa sih, kaya kamu gak tahu aja sifat Kakak kaya gimana, Lin. Dia itu posesif, tapi apa kamu gak pengen liat dia cemburu?" bisik Kenan.
"Hah, kamu gila. Terakhir kali dia cemburu, aku di kurung di dalam kamar, nanti jika dia cemburu lagi entah apa yang akan dia lakukan." Gerutu Kalina.
"Udah ayo, mobil Kakak udah mau pergi tuh."
Kenan dan Kalina masuk kedalam mobil milik Kenan, mereka melaju beriringan menuju tempat pesta di adakan.
Suara riuh terdengar kala Kenan dan Kalina memasuki gedung mewah tersebut, sedang Kevin sebagai CEO di arahkan ketempat lain bersama Kelly.
"Lin, kamu mau minuman atau makanan?" tawar Kenan.
"Oke, kamu tunggu disini jangan kemana-mana."
Kalina menelaah sekitar, tak ada satu-pun orang yang Kalina kenal, disini tampak asing. Lingkungan ini tak seperti lingkungannya, dia merasa rendah diri.
"Hay, kenapa Nona cantik ini sendirian?" seorang pria berperawakan hampir seperti Kevin dan usianya pasti tidak jauh beda, dia juga terlihat tampan, datang menyapa.
"Aku tidak sendiri, aku datang bersama temanku," jawab Kalina dingin.
"Oh, siapa nama temanmu, apa aku boleh tahu? Mungkin kami juga teman, secara tidak sengaja kamu juga temanku kalau begitu." Kalina hanya mendelik sebagai jawaban, bertemu pria so dekat begini pasti bukan hal baik, pikirnya.
"Apa aku boleh tahu namamu?" Pria itu menyodorkan lengannya mengajak Kalina berjabat tangan.
Saat Kalina hendak menjawab, Kenan datang dengan langkah cepat, "jangan ganggu dia," ucapnya galak.
"Oh Kenan, jadi ini temanmu. Dia sangat cantik, kamu dan dia kenal dimana? Jika kalian hanya teman biasa, biarkan aku mendekatinya, aku suka dia." Gumamnya pada Kenan.
__ADS_1
"Mimpi saja kau, dasar sialan! Ayo Lin, jangan hiraukan laki-laki gila ini." Kenan menarik Kalina mengikuti langkahnya, menjauh dari pria itu.
"Nan siapa dia?" tanya Kalina.
"Abaikan saja jika kau bertemu dengannya, dia play boy." Decak Kenan, agaknya dia memiliki permusuhan dengan pria tadi. Tapi ya sudahlah, apa yang Kenan katakan benar, sebisa mungkin Kalina harus menghindar dari orang semacam itu.
"Ini minuman kamu." Kenan memberikannya pada Kalina, tanpa sadar mereka berjalan keluar gedung, hingga kini mereka berada di taman dengan langit terbuka.
"Nan, duduk sini." Kalina menghampiri bangku taman dan mendudukinya, begitu pun Kenan dia ikut mendudukkan dirinya di samping Kalina.
"Nan, aku benar-benar tak nyaman berada di tempat begini, disini terlalu asing untuk orang kalangan bawah sepertiku." Ucap Kalina seraya menatap langit malam yang kelam.
"Kamu pikir aku nyaman disini, aku juga sama sepertimu tak pernah datang ke-acara-acara seperti ini, kali ini aku datang hanya karena kamu. Kakak memintaku untuk menemanimu disini, dia tahu kamu akan di ganggu laki-laki seperti tadi."
"Dih, dia sampai tahu hal begitu, apa dia seorang peramal," Kalina terkekeh pelan.
"Setiap laki-laki akan mendekatimu jika kamu sendirian Lin, itu karena kamu sangat cantik." Ucap Kenan terdengar serius.
Plak...
Kalina menggeplak lengan Kenan, "kata cantik keluar dari mulut kamu itu bikin aku merinding tahu." Kalina terkekeh.
"Dih, aku seriusan, kamu cantik."
"Dah ah, jangan di ulang, aku geli."
Kenan memutar bola mata malas, "kamu tahu saat Kakak bilang dia punya pacar dulu, aku sempet gak percaya."
"Hah, kenapa?" tanya Kalina dia mengubah posisinya menghadap Kenan.
"Karena dia orang yang dingin dan sulit di dekati, gimana caranya dia nyatain perasaannya sama cewek."
Kalina terdiam, dia mengingat-ingat saat pertama kali dia pacaran dengan Kevin, "sebetulnya, aku yang duluan nyatain perasaan sama Kevin."
Kenan tampak terkejut, "beneran?!"
Kalina mengangguk, "dulu aku di tantang temen-temenku untuk nyatain perasaan sama cowok dingin di sekolah karena aku kalah taruhan, mereka sengaja ingin mempermalukan aku di depan umum dan merekamnya. Tapi, entah bagaimana Kevin tahu hal itu, dia menyelamatkan aku dari teman-temanku. Aku sempat minta maaf karena menjadikannya bahan taruhan, tapi diluar dugaan dia justru balik menyatakan perasaan padaku, jadilah kami pacaran."
__ADS_1
Kenan terkekeh, "kayanya masa SMA kalian seru ya, aku malah banyak di tolak cewek, mereka bilang aku terlalu blak-blakan dan gak keren, aku gak serius, aku terlalu kenak-kanakan dan masih banyak lagi," keluh Kenan.