
Aku merasa seakan tubuhku melayang di udara, terasa ringan namun penuh akan khayalan. Aku tidak bisa mengatakan atau pun mendeskripsikan rasanya, yang pasti ini adalah satu hal yang baru aku rasakan untuk pertama kali, setiap sentuhan yang Kevin lakukan seakan berbekas di tiap inci kulitku. Rasa perih dan sakit yang kurasakan sebanding dengan cinta dan kelembutan yang Ia berikan, Vin bisakah aku menggantungkan kepercayaan ku padamu sekarang?
"Terima kasih, sayang." Gumam Kevin lembut, sembari mendaratkan ciuman di dahi Kalina.
Tubuh telanjang mereka merapat satu sama lain, menempel walau peluh membasahi. Hasrat yang terpendam sekian lama kini tumpah sudah, Kevin tak henti-hentinya menghujani wajah Kalina dengan ciuman.
"Ih, kamu apa-apaan sih," keluh Kalina merasa risih dengan perlakuan Kevin. Dia berusaha mendorong tubuh Kevin yang menempel di tubuhnya.
Dia tersenyum pelan, bukannya menjauh dia justru semakin mengeratkan pelukannya, "Vin lepasin, apa kita akan tidur dalam keadaan begini?"
"Kenapa tidak?!" Kevin mengangkat ujung aslinya.
"Dih, gak ah. Aku takut masuk angin." Kalina hendak beranjak, namun tangannya seketika di tarik Kevin, membuat tubuhnya hilang kendali dan kembali tertarik kearah Kevin. Saat itulah Kalina kembali merasakan tubuh bagian bawah Kevin kembali mengeras.
"V-vin," ucap Kalina gugup.
Hem, jawab Kevin parau. Nampaknya hasratnya telah bangkit kembali, terbukti dari suara dan tutur katanya, dia kembali menciumi pundak Kalina, sembari menggesek-gesekan benda yang mengeras di bawah sana ke bokong Kalina.
"V-vin, i-itu ku masih sakit, a-aku tidak akan bisa lagi, malam ini," ujar Kalina dengan gugup.
Itu memang benar, bagian vital Kalina masih terasa berdenyut akibat di masuki secara paksa beberapa saat yang lalu. Darah yang keluar pun lumayan banyak membuat dia agak panik tadi, tapi Kevin bilang itu normal karena ini pengalaman pertama Kalina berhubungan badan.
"Apa sangat sakit?" tanya Kevin perhatian.
Kalina mengangguk sebagai jawaban, "biar aku coba menciumnya agar tidak sakit lagi," mata Kalina melebar sempurna, dia menggeplak lengan Kevin yang melingkar di pinggangnya.
"Apa?!" tanyanya so-polos, sambil cengengesan.
"Kamu pikir aku gak tahu, kamu nonton video porno kan dan ingin mempraktekannya, ayo ngaku." Hardik Kalina.
"Video porno apa, aku tidak pernah melihat yang seperti itu, kamu saja yang pikirannya kotor." Dalihnya.
"Jangan pura-pura Vin, aku sering liat kamu nonton itu di hp kalau malem," tuding Kalina.
__ADS_1
"Jadi kamu suka ngintip, dasar!" Kevin meremas benda kenyal yang di raihnya, membuat Kalina memekik karena terkejut.
"Kevin!" geramnya kesal.
"Apa sayang? Jangan gerak-gerak terus," lirihnya pelan.
"Dih jangan pake suara begitu," Kalina bergidik ngeri, jika suara Kevin berubah itu tandanya dia sedang terangsang.
"Emang suara aku kenapa? Seksi ya?"
"Awas ah, aku mau pake baju lagi!"
"Udah kita tidur gini aja, lagian kamu gak boleh banyak gerak nanti sakit lagi." Ucap Kevin.
"Enggak ah, bahaya kalau aku tidur telanjang gini." Tolak Kalina, kembali hendak beranjak.
"Tenang aja, aku gak akan minta lagi malam ini, kamu bisa tidur dengan nyenyak." Kevin mengusap lembut kepala Kalina.
"Beneran nih?" tanya Kalina ragu.
"Selamat malam, sayang. Mimpi indah," bisiknya di telinga Kalina.
...----------------...
Kamu tahu kenapa aku mencintai kamu selama bertahun-tahun? Karena kamu cantik, baik, segala tentangmu sempurna di mataku.
Gumaman itu terdengar samar di telinga Kalina, Kalina tersenyum, walau matanya enggan terbuka namun kata itu mampu masuk kedalam rungunya.
"Ayo bangun, ini sudah siang. Apa kamu tidak lapar?" Suara Kevin kali ini terdengar jelas.
"Aku masih ngantuk Vin," keluh Kalina dia kembali menarik selimut hingga menutup seluruh wajahnya.
"Makan dulu, setelah itu mau kamu tidur seharian pun tidak masalah." Jawab Kevin bersikukuh.
__ADS_1
"Ayo bangun!" Kevin mencium bibir Kalina sekilas, membuat wangi sampo yang Ia pakai menguar di Indra penciuman Kalina. Pria itu agaknya sudah terbangun cukup lama dan telah membersihkan diri.
Kalina menggeliat pelan, tubuhnya terasa ngilu, area sensitifnya pun masih sedikit terasa perih, perlahan matanya terbuka, menampakan wajah Kevin yang hanya berjarak beberapa Inci dari wajahnya, dia tersenyum manis dengan rambut yang basah, Kalina menenggak Salivanya, sungguh saat ini Kevin terlihat begitu tampan dan seksi, bibirnya yang tipis di bagian atas dan hidung mancungnya, serta kulitnya yang mulus bak artis Korea.
'Ini suami gue apa bukan sih? Ko bisa seganteng ini? Apa gue masih di alam mimpi? Kayanya ini beneran mimpi deh, mana mungkin muka Kevin bisa seganteng ini, walau dia emang ganteng sih. Tapi yang kali ini beneran ganteng, kaya bukan Kevin.' Kalina enggan mempercayai penglihatannya, dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan pria di depannya ini asli atau hanya sebuah ilusi.
"Kamu kenapa sih, liatin aku segitunya? Baru nyadar kalau suami kamu ini ganteng," goda Kevin.
"Dih, dasar kepedean." Cibir Kalina, padahal dalam hatinya dia mengakui kalau Kevin itu emang ganteng.
Kevin menyibak selimut yang di pakai Kalina, membuat wanita itu refleks menutupi dada dengan kedua tangannya, "Kevin! Kamu apa-apaan sih?" Wajah Kalina merah padam, kala dia melihat tubuhnya terpampang jelas tanpa tertutup sehelai kain pun.
"Ayo bangun!" Kevin malah melempar selimut itu menjauh dari ranjang, sengaja agar tak bisa di jangkau Kalina.
"Vin, balikin selimutnya, aku malu!" geram Kalina dengan wajah merah bak tomat masak.
"Kenapa harus malu sayang, bagian mana dari dirimu yang belum aku lihat," Kevin tersenyum jahil. Membuat Kalina semakin di dera rasa malu yang teramat sangat.
"Diem gak! Buruan ambilin selimutnya!" Pinta Kalina dengan tampang kesal.
"Semalam aja kamu gak malu, kenapa sekarang harus malu."
Karena geram Kalina melempari Kevin dengan bantal dan guling, namun pria itu malah semakin gemas dengan tingkah Kalina, apa lagi wajahnya yang memerah itu tampak imut di mata Kevin.
"Dasar nyebelin, liat aja nanti pembalasanku!" Ancam Kalina, dia beranjak turun, baru saja dia hendak melangkahkan kaki, perih di bagian dalam vitalnya kembali hadir, dia mendesis pelan dengan tangan bertumpu pada dinding.
"Lin, kamu gak papa?" Kevin mendekat hendak membantu Kalina.
"Jangan pegang-pegang!" Kalina menepis tangan Kevin kesal.
"Maafin ya, aku cuma bercanda tadi. Sini ku gendong," Kevin memposisikan diri untuk menggendong Kalina.
"Gak usah, aku bukan orang lumpuh yang harus kamu gendong hanya untuk pergi ke kamar mandi." Jawabnya judes.
__ADS_1
Kevin tak menggubris perkataan Kalina, dia tetap mengangkat tubuh Kalina dan membawanya ke kamar mandi, "aku bilang aku bisa jalan sendiri Vin!" tegas Kalina, namun dia tak menolak perlakuan Kevin padanya.
"Aku tahu kamu bisa jalan, tapi aku ingin menggendong kamu untuk sekarang. Anggap saja kita sedang bulan madu."