
Haish... Kalina bangkit dan duduk dengan kaki terlipat kebelakang.
"Jawaban-nya bukan ya, atau pun tidak," gumam Kalina, dia tak mampu menatap mata Kevin lebih dari tiga detik.
Kevin melipat tangan di dada menunggu Kalina menjelaskan segalanya, "ya, lalu?!"
"A-aku hanya belum siap, a-aku belum ingin punya anak, a-aku masih muda, aku belum bisa merawat bayi," dalih Kalina bernada pelan di akhir katanya.
"Soal Bayi, aku bisa membayar puluhan perawat, apa kau pikir aku akan membiarkan-mu merawat Bayi kita sendirian?" Kevin tak habis pikir dengan alasan yang Kalina buat.
"A-aku juga tak ingin tubuhku membengkak, na-nanti aku tak akan punya baju yang bisa aku pakai," dalihnya lagi.
Kevin tertawa frustasi, dia menggelengkan kepala menatap aneh pada Kalina, "sudah cukup Kalina, aku sudah tidak tahan lagi dengan alasan yang kamu buat, kamu selalu begini, kamu selalu melakukan hal-hal yang tidak aku sukai, Lin, kenapa?"
"Vin sudah aku bilang aku hanya ingin menundanya, aku bukannya tak ingin punya anak, oke. Tolong mengertilah!" Balas Kalina dengan wajah gusar.
Kalina bangkit dan turun dari ranjang, "mau kemana kamu?" Kevin mencekal lengan Kalina tak membiarkannya melanjutkan langkahnya.
"Aku ingin mencari udara segar, apa itu juga tidak boleh?" Kevin melepaskan cengkraman tangannya seraya mengalihkan pandangan.
Kalina berlalu dengan perasaan dongkol, oke, dia akui itu kesalahannya, memakai alat kontrasepsi tanpa sepengetahuan sang suami, tapi apa harus secepat itu punya anak? Lagi pula untuk sekarang rasanya bukan waktu yang tepat untuk punya anak.
"Hey kau yakin akan pergi dari rumah ini?" suara Kelly terdengar menuruni tangga.
"Hem, lagi pula aku sudah tak ingin lagi melakukan ini," jawab Kenan.
Kalina menghentikan langkahnya, memperhatikan kedua orang itu yang kini berdiri di ujung tangga, Kenan menatap Kalina begitu-pun Kelly.
Kenan dan Kalina mematung di tempat, sedang Kelly dia menatap keduanya silih berganti, "jika ingin berpamitan pada Kakak ipar ke-dua mu lakukan dengan cepat, jangan sampai pawangnya keluar, dan memergoki-mu," bisik Kelly, yang juga mampu di dengar Kalina.
Kenan menunduk sembari tersenyum, "bicaralah, aku pergi dulu," Kelly menepuk pundak Kenan lantas berlalu.
__ADS_1
"Aku akan pergi," ucap Kenan.
"Aku tahu." Jawab Kalina ketus.
"Jangan selalu bertengkar dengan Kakak, cobalah fahami dia," ucap Kenan lagi.
"Aku tahu, aku lebih mengerti dia dari siapa-pun," lagi-lagi Kalina menjawab perkataan Kenan dengan nada yang sama.
"Kalau begitu aku jadi tenang, aku berharap hubungan kalian akan langgeng, aku ingin kau melupakan apa yang aku katakan padamu kemarin malam, anggap saja aku tidak mengatakan apa-pun." Kenan tersenyum ramah.
"Perkataan itu seperti kotoran yang sudah kau buang, itu tidak bisa di kembalikan kedalam perutmu."
Hey... Kenan mengernyit jijik mendengar perkataan Kalina, "kenapa kau menyamakan ucapan-ku dengan kotoran, itu menjijikan." Keluh Kenan, dia merasa mual sendiri.
"Itu hanya ibaratnya saja, kenapa kau malah membayangkan kotoran yang sesungguhnya," Kalina tertawa kecil.
"Oke, oke, sudah cukup! Jangan bahas lagi, tentang hal begitu, aku tidak tahan." Kenan menutup mulutnya.
"Ya sudah sana, katanya mau pergi!" Ucap Kalina.
"Tidak ada adik ipar yang berteman dengan Kakak Ipar-nya, sudah pergi sana!"
"Tapi aku akan tetap menganggap mu temanku, Kalina Oktavia, aku pergi dulu, dah!" Kenan berlalu sembari menarik kopernya menuju keluar rumah Kevin.
"Dasar anak itu," Kalina tertawa pelan.
Entah mengapa kepergian Kenan membuat Kalina merasa sendirian di rumah ini, kehadirannya seolah menjadi keharusan, seakan rumah ini tidak lengkap tanpa ada dia. Tawanya, tingkah konyolnya, bahkan hanya dia yang satu frekuensi dengan Kalina.
"Haish... Aku akan benar-benar sendirian sekarang, rasanya aku sedikit menyesal karena sudah memarahi dia." Kalina memberengut, sembari berjalan menuju taman belakang, dan duduk di ayunan.
Aarrrghhhh
__ADS_1
Kalina berteriak tanpa dia sadari karena perasaan kesal yang menghimpit hatinya, dua orang penjaga tiba-tiba menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa Nyonya, apa anda baik-baik saja?!" wajah mereka tampak panik.
"Hah, aku tidak papa, aku baik-baik saja. Aku hanya melihat tikus tadi, jadi aku berteriak." Dalih Kalina, sambil tertawa canggung.
"Oh begitu, tapi tikus itu tidak melukai anda kan?"
Kalina tertawa geli mendengar candaan kedua penjaga itu, "apa kalian pikir ini dalam film, haish, kalian berdua sangat lucu. Siapa nama kalian?" Kalina tampak tertarik.
Errr... Kedua pengawal itu saling bertukar pandangan, namun suara seseorang membuat mereka mundur seketika.
"Kenapa kamu sangat tertarik pada mereka?" Kevin mendekat.
Kalina memutar bola mata malas, saat ini dia masih merasa kesal dia enggan bertemu dengan Kevin. Mungkin itu sifat alami yang di miliki wanita, dia yang salah tapi dia yang marah. Hehe :v
"Cepat katakan siapa nama kalian?"
Kedua pengawal itu masih tetap diam, dengan pandangan menunduk.
"Nama mereka adalah, Suyono dan Suyitno." Kevin yang menjawab.
"Hah kapan nama kita berubah?" bisik dia yang di panggil Suyitno pada Suyono.
"Hah benarkah?" Kalina nampak tak percaya.
"Se-sebenarnya--," Suyono hendak membantah namun Kevin memelototinya, membuat kedua orang itu kembali menunduk.
"Ah ya sudahlah, lain kali aku akan menemui kalian lagi, sampai jumpa." Kalina berlalu karena ingin menghindari Kevin.
"Pe-permisi Tuan, nama saya bukan Suyitno."
__ADS_1
"Saya juga bukan Suyono, Tuan."
"Ah terserah siapa nama kalian, tapi mulai sekarang nama kalian saya ganti." Ucap Kevin seraya berlalu.