Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 37 - Dansa


__ADS_3

Kalina menatap Kenan seraya tersenyum, "kamu ganteng-ko, emang sih kamu agak kenakan, tapi menurutku itulah poin plus yang kamu miliki yang tidak orang lain miliki, kamu itu unik, jadi jangan berkecil hati hanya karena satu penilaian orang lain." Ucapnya.


Kenan balas menatap Kalina, "kau orangnya selalu positif ya, seandainya kau bukan istri Kakak-ku," keluhnya seraya menunduk.


"Apa salahnya dengan menjadi istri Kakak-mu? Toh kita masih bisa berteman." Jawab Kalina, yang hanya di balas anggukan oleh Kenan.


Dari lantai atas, Kevin memperhatikan kedekatan Kalina dan Kenan, dia mengepalkan tangannya. Dia kesal, marah, cemburu, juga merasa dirinya menjadi seorang pengecut, karena tidak bisa berdiri di samping Kalina menggenggam tangannya menunjukan pada dunia bahwa mereka itu pasangan.


Kelly mendekat, dia menatap sejurus. "Ayo, sudah saatnya kau menyampaikan pidato sambutan." Ucap Kelly dengan tatapan datar.


Kevin mendengus kasar, dia merampas kertas yang di pegang Kelly.


"Ingat, jangan membuat masalah. Aku mengijinkan-mu membawa wanita itu, bukan mengijinkan-mu mengakuinya di depan umum, kehormatan keluarga kita di pertaruhkan Kevin!" tegas sang Ibu.


Kevin hanya diam dengan tangan mengepal, "aku ingin kalian bersikap seperti pasangan yang saling mencintai, kau harus memimpin acara dansa pertama tahun ini." Ujar sang Ibu.


"Mah, aku dan Kevin--," tatapan mata sang Ibu, menghentikan ucapan Kelly seketika.


Kevin mendengus seraya berlalu, lantas Kelly pun mengikutinya.


"Perhatian! Silahkan untuk para tamu undangan untuk segera berkumpul di aula!"


Kenan dan Kalina pun turut bergabung bersama tamu yang lain. Kevin tampak sedang menyampaikan pidato-nya, Kalina menatap Kevin sembari tersenyum.


'Kevin, kau terlihat sangat tampan dan berwibawa, kau terlihat dewasa dan jauh berbeda dari sikapmu di rumah, disini kamu terlihat ramah dan bersahaja, padahal aslinya pemarah.' Kalina terkikik geli tanpa suara.


Pandangannya dan pandangan Kevin bertemu, dia menatap Kalina dengan tatapan sedih. Kalina menggerakkan alisnya, memberi Isyarat dengan gerak tangannya agar Kevin tersenyum. Dan aksi itu tak luput dari pandangan Kelly dan juga Kenan.


Kalina mengepalkan tangan sejajar dengan wajahnya, memberi Kevin semangat tak kasat mata, yang membuat Kevin seketika tersenyum manis, membuat semua orang yang hadir tampak terkejut, ini kali pertama Kevin Alterio tersenyum tulus seperti itu, biasanya yang terukir di wajahnya adalah senyum sekilas atau senyum formal.


Kevin pun mengakhiri pidato sambutannya, dan berjalan bersama Kelly ke tengah aula, untuk berdansa.

__ADS_1


Kalina menunduk, enggan menatap Kevin dan Kelly yang berdansa cukup mesra. Bohong jika Kalina tidak cemburu, hatinya merasa sesak, namun Ia tetap mencoba bersikap seperti biasa, walau tangannya tampak mengepal mencengkram gaun yang Ia kenakan.


"Ingin berdansa?!" Kenan mengulurkan tangannya terbuka, seraya tersenyum.


"Dansa?! Sepertinya tidak," tolak Kalina.


"Ayolah, jika kamu menolak-ku mau di taruh dimana wajahku ini." Keluh Kenan.


"Tapi Nan, aku tidak bisa dansa," bisik Kalina.


"Tenang saja, aku akan mengajarimu. Kamu cukup pegang tanganku dan ikuti arahan-ku."


Akhirnya Kalina mengalah dan menyambut uluran tangan Kenan, "benar seperti itu, kau memang hebat," Kenan dan Kalina berdansa sambil tertawa.


"Aw, sakit Vin!" Pekik Kelly saat Kevin mencengkram pinggangnya terlalu keras.


"Aah, aku benci ini! Ayo kita akhiri saja!" Ucapnya dengan wajah kesal.


Kelly mendengus kasar, dia berjalan menghampiri Kenan dan Kalina.


"Hey kalian berdua!" Kenan dan Kalina menghentikan kegiatannya, "ikut aku!"


Kenan dan Kalina mengikuti langkah Kelly menjauh dari tempat acara.


"Ck, kalian berdua, terutama kamu Kalina. Bisa-bisanya kamu bermesraan dengan adik Ipar-mu di depan suami-mu sendiri."


Kalina melebarkan matanya, "bermesraan apa Mbak? Kenan hanya mengajariku dansa Ia kan, Nan?" Kalina meminta pendapat, yang langsung di angguki Kenan.


Kevin menyambar tangan Kalina dan menyeretnya ke-kamar kosong, entah dari mana pria itu muncul.


Brak...!

__ADS_1


Kevin menutup pintu dengan kasar, dia menyudutkan Kalina di daun pintu.


"Kenapa kau berdansa dengan adikku?" ucapnya dia mendekatkan wajah beberapa inci dari wajah Kalina, napasnya hangat menampar wajah wanita itu.


"A-aku hanya, ingin mencoba berdansa." Jawab Kalina dia berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya itu.


"Kau tahu aku tidak suka melihatmu bersentuhan dengan pria lain, aku benci melihat itu!" nada suara Kevin terdengar meninggi.


Kalina mendengus kasar, "kau pikir hanya kau yang merasakan hal itu, aku juga Vin. Aku benci melihatmu terlihat begitu Intim dengan Mbak Kelly, namun aku tidak sepertimu yang hanya bisa bersikap kasar!" Ucap Kalian dengan tatapan tajam.


Seketika Kevin menurunkan tangannya, dia menunduk sembari memejamkan mata sekilas, dia menghela napas dalam menetralkan rasa yang berkecamuk dalam hatinya.


Kevin mencengkram pelan lengan bagian atas Kalina, dia menatap netra hitam kecoklatan itu.


"Maafkan aku Lin, aku dan Kelly terpaksa berakting begitu. Tapi sejujurnya aku ingin kamu yang berdiri di sampingku, menjadi pasangan dansa-ku, menjadi partnerku dalam setiap hal. Lin, aku berjanji suatu hari kamu akan mendapatkan posisi itu."


Kalina menghela napas berat, "aku tidak berani berharap Vin, karena dalam harapan terkadang muncul kekecewaan, aku hanya ingin kita menjalani hidup apa adanya. Lagi pula, kau bukan hanya milikku."


Kevin membawa Kalina dalam dekapannya, hatinya sakit mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Kalina, "aku milikmu Lin, dulu, sekarang mau-pun selamanya. Hati dan jiwaku tetap milikmu."


"Jangan terlalu banyak bicara Vin, itu terdengar seperti bualan belaka."


"Hey, aku serius! Bila perlu aku akan bersumpah atas nyawaku--," mulut Kevin seketika di bungkam Kalina.


"Jangan bicara sembarangan! Atau aku akan menghajar-mu!" geram Kalina kesal.


"Oh, aku penasaran bagaimana cara istriku menghajar-ku," Kevin malah menggoda Kalina.


Kalina menarik dasi yang di kenakan Kevin, membuat wajah mereka kembali dekat, "kau ingin tahu?" Kevin mengangguk.


"Maka jangan salahkan aku!"

__ADS_1


__ADS_2