Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 6 - Teman se-kamar


__ADS_3

"Vin, jangan terlalu deket!" tubuh Kalina mengkerut takut. Dia sebisa mungkin menjauhkan diri dari Kevin.


Kevin membaringkan diri di ranjang dengan posisi terlentang, kakinya menggantung di atas lantai.


"Tidur sini!" Kevin menepuk sisi sampingnya yang kosong.


"Gak ah, kamu aja," tolak Kalina, dia memilih duduk sedikit lebih jauh dari Kevin, dia menyandarkan diri di kepala ranjang dengan posisi mendekap lututnya.


Kevin mengganjal kepala dengan sebelah tangannya, dia melirik Kalina dari ujung matanya, "tenang saja, aku tidak akan melakukan apa pun padamu sampai kau yang menginginkannya sendiri."


Kalina mendongak, "janji ya!" Kevin mengangguk sebagai jawaban, Kalina membaringkan diri dengan posisi berlawanan arah dengan Kevin.


"Vin, minta maaflah pada Mbak Kelly, kasian dia," ucap Kalina, sesama perempuan dia faham betul seberapa sakitnya hati Kelly saat ini.


"Nanti saja," tanggapnya.


"Janji ya, kamu harus minta maaf sama Mbak Kelly!"


"Iya, aku janji."


Kalina menopang kepala dengan tangan sebagai bantalan, dia menatap langit-langit kamar tanpa suara, "ko diem?" tanya Kevin, merasa heran karena istrinya jadi bungkam.


"Vin, aku harus ngapain selama aku tinggal disini?"


"Kamu istri aku, terserah kamu mau ngapain, mau tidur seharian ke, mau nonton ke, asal kamu tetap di rumah ini. Selama aku tidak mengijinkan kamu keluar, kamu tidak boleh keluar," tegas Kevin.


Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Kevin, dia lantas bangkit dan membuka pintu, "letakan semuanya disitu."


Kalina menatap cengo pada segerombolan orang yang datang sambil mendorong troli pakaian yang berisi gaun-gaun indah dengan warna dan motif yang berbeda, serta tumpukan kardus kotak-kotak dan setumpuk kotak beludru berwarna biru dengan bentuk persegi, "hah, ini apa-apaan Vin? Kamu mau buka toko pakaian di kamar ini?"


Kalina beranjak menilik benda-benda itu penuh kekaguman, maklum lah dia yang hidup di panti asuhan selama ini mana pernah liat barang-barang mahal.


"Ini buat kamu, pilih mana pun yang kamu suka, kalau masih kurang mintalah padaku."


Kalina mengernyitkan dahi, "kamu gak salah, ini buat aku, semua?" Kalina memastikan.

__ADS_1


Kevin mengangguk sambil kembali duduk, "ini gila Vin, aku gak mau ah, nanti kamu minta timbal balik sama aku, aku kan mana punya duit."


"Gak akan, ini bener-bener aku kasih buat kamu."


"Hah beneran?" Mata Kalina berbinar senang, "kalau aku jual perhiasannya boleh gak?"


"Kalau berani, jual saja!" Kevin melempar pandang penuh ancaman.


"Hehe becanda Vin, jangan melotot gitu napa nanti softlens-nya jatuh."


"Siapa yang pake softlens ini bola mata asli aku tahu," tanggap Kevin kesal.


"Oh asli ya, aku pikir kamu pake softlens. Soalnya mata kamu bagus, masih bening." Kalina mengerjap lucu, Kevin membuang muka sambil tertawa.


Ehem...Ehem... Kevin berdehem untuk menetralkan kembali hatinya, pasalnya dia sudah janji pada Kalina untuk tidak menyentuhnya sampai Kalina sendiri yang memintanya, "coba kamu kenakan pakaian yang itu." Kevin menunjuk Dress pendek berwarna pink tanpa lengan, namun terdapat kerah di atasnya, serta taburan mutiara di bagian depan.


"Oke, tapi aku mandi dulu bentar." Kevin hanya mengangkat Ibu jari-nya tanda setuju. Lama Kevin menunggu Kalina keluar kamar mandi, dia terduduk dengan mata tak henti-hentinya mengawasi pintu kamar mandi tersebut.


"Lin, udah belum? Lama banget sih tibang mandi doang!?" teriak Kevin tak sabar.


"Bentar Vin," sahut Kalina dari dalam kamar mandi.


"Iya, iya!" sahutan Kalina disertai terbukanya pintu kamar mandi, "bawel banget sih, aku pake baju dulu," ucap Kalina sembari membenahi pakaiannya.


"Kamu pake baju langsung di kamar mandi?"


"Ya iyalah, masa aku harus pake baju depan kamu sih Vin."


"Gak papa ko, aku justru seneng," Kevin cengengesan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dih, dasar mesum!" Kalina melempar handuk bekas Ia pakai tepat ke wajah Kevin, membuat pria itu seketika terdiam.


Deg... Mata Kalina melebar sempurna, 'sial, apa si Kevin bakalan ngamuk ya? Aduh Kalina ngapain sih pake acara lempar-lempar handuk segala, macan-nya ngamuk kan jadinya.'


"Berani kamu ya? Gak sopan banget!" Kevin melempar handuk Kalina ke lantai dengan kasar.

__ADS_1


"Ma-maaf, Vin, aku gak sengaja." Kalina menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Kevin mengisyaratkan Kalina untuk mendekat degan dua jarinya.


Walau enggan gadis itu tetap mendekat, "pijitin Kaki-ku sebagai hukuman karena kamu udah kurang ajar," ucapnya, seraya menilik penampilan Kalina dari dekat.


"Oke, bentar aku sisir rambut dulu." Kalina menggerai rambut pirang bergelombang-nya yang selalu terikat sepanjang waktu dan menyisirnya perlahan.


"Kenapa gak di biarin tergerai aja, gak bosen apa rambut di iket mulu," cibir Kevin, seingatnya dari dulu Kalina tak pernah membiarkan rambutnya tergerai sama sekali, kecuali saat ini, itu pun karena dia tengah merapikannya.


"Gak ah Vin, aku lebih suka rambutku di iket, lebih simpel." Kalina mencepol rambutnya ke atas hingga menampakan leher putih mulusnya.


"Ayo baring, biar aku mulai pijitin kaki kamu." Kalina naik ke atas ranjang dan duduk dengan kaki terlipat ke-belakang.


Kevin membuka jasnya lantas berbaring, saat Kevin tengah asik menikmati pijatan Kalina tiba-tiba pintunya di ketuk dengan kasar.


Tok...Tok...!


"Pergi sana, aku gak mau di ganggu!" teriak Kevin kesal.


"Ini Mamah Vin! Kamu masih mau bilang gak mau di ganggu?!" balas seorang wanita yang mengaku dirinya sebagai Ibunya Kevin.


Kevin bangkit sambil berdecak, "Vin," Kalina menatap Kevin penuh rasa risau.


"Tenanglah, ada aku disini. Tidak akan ada yang berani melakukan apa pun padamu!"


Kevin beranjak membuka pintu.


Seorang wanita paruh baya, berdiri sambil berkacak pinggang dia menatap kesal pada Kevin, "mana wanita itu? Berani sekali dia menggoda kamu!" seketika Kevin menghalangi pergerakan wanita itu dengan tangannya.


"Vin!" geramnya tak terima.


"Dia di bawah perlindunganku Mam, tidak akan aku biarkan siapa pun menyakitinya. Lagi pula sekarang Kalina adalah menantu Mamah juga."


"Cih, Mamah tidak akan pernah menerimanya. Menantu Mamah selamnya hanya Kelly, kau dengar wanita sialan kau tidak akan pernah aku akui!"


"Cukup Mah, sebaiknya Mamah pulang. Aku bisa mengurus rumah tangga-ku sendiri, lagi pula Mamah yang paling tahu seperti apa hubunganku dengan Kelly," ucap Kevin.

__ADS_1


Kevin menutup kasar pintu kamar di depan wajah Mamahnya sendiri, membuat sang Ibu memekik kesal, Kalina menatap Kevin dengan pandangan datar.


'Sebetulnya apa yang membuat Kevin memutuskan berpoligami? Apa hubungannya dengan Mbak Kelly sebetulnya tidak baik-baik saja? Ini semakin membuat aku tak nyaman,' batin Kalina bergumam.


__ADS_2