Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 55 - Sebuah perjuangan


__ADS_3

"Aku akui, aku pernah ingin memiliki Kalina untukku sendiri, tapi bagiku kebahagiaannya lebih penting di banding perasaan yang aku miliki. Kak, pergilah dan selesaikan masalah Kakak terlebih dahulu dan jemput kembali Kalina kemari, aku akan melepaskan tangannya dengan ikhlas jika kau melakukan itu," ucap Kenan.


Kevin mundur perlahan, entah mengapa perasaan marah yang semula menggebu dalam diri Kevin perlahan melemah, apa yang di katakan Kenan ada benarnya juga.


Dia menghela napas dalam dan menyandarkan punggungnya ke dinding, "Lin, aku ingin tanya padamu, tolong jawab dengan jujur. Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Kevin.


Kalina diam menatap datar wajah Kevin, "tolong jawab Lin, agar aku bisa memperjuangkanmu tanpa ragu."


Kalina mendengus pelan, "apa yang akan kau lakukan? Meninggalkan segalanya dan datang padaku? Kau tahu, aku tidak suka pada laki-laki yang tidak punya uang, jika kau datang padaku dalam keadaan miskin, maaf aku tidak akan menerimamu," jawaban Kalina membuat Kevin mau pun Kenan tampak terkejut.


"Apa yang kamu katakan?" Kenan menatap tak percaya.


"Apa? Apa ada yang salah dengan kata-kata ku? Hidup ini butuh uang, aku hanya berpikir realistis, jika kamu tidak bisa menerimanya kamu bisa pergi." Kevin mendengus senyum, dia berjalan mendekat menghampiri Kalina, matanya menusuk bola mata Kalina dia tahu betul wanita seperti apa yang dia cintai ini, meski Kalina mengatakan itu tapi Kevin tahu itu hanya di mulut saja.


Kevin mengusap pipi Kalina pelan, "aku tahu, jadi percayakan segalanya padaku, aku tidak akan mengecewakanmu, Lin." Kevin mendaratkan ciuman di dahi Kalina.


"Aku tidak akan membuat kamu dan bayi kita menderita." Tambahnya.


Kalina mengatur napasnya pelan seraya mengepalkan tangannya, "kamu masih saja egois, Vin. Lalu bagaimana dengan Mbak Kelly? Apa kau tidak pernah berpikir tentang dia?" Kalina meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Kau masih memikirkan dia? Mungkin saja dia tidak pernah berpikir tentangmu Lin, kenapa yang ada di otakmu hanya dia? Lalu kau anggap apa aku ini?"


Kalina menunduk dengan mata terpejam, jujur sekuat apa pun dia mencoba untuk menekan perasaannya, rasa itu seakan terus mendorong nalurinya.


"Sebaiknya kamu kembali Vin, seperti kata Kenan kau harus menyelesaikan dulu masalahmu terlebih dahulu, aku tidak akan mau kembali padamu sampai masalahmu dengan keluargamu selesai." Kalina menghempaskan tangan Kevin yang berada di pundaknya, kemudian berlalu.


Sebetulnya masalah ini sangat sederhana, tapi kenapa terasa begitu rumit? Kalina berlalu ke kamarnya sembari mencengkeram dadanya yang terasa perih. Dia mendudukkan diri di lantai, entah kapan cinta akan membawa kebahagiaan padanya, Kalina selalu bertanya-tanya tentang itu, bahkan mungkin dia tak pernah beruntung soal cinta, itu terbukti saat Ibunya meninggalkannya di panti asuhan dulu.


"Lin," terdengar suara panggilan dari balik pintu, "aku akan kembali tunggulah sebentar lagi, aku berjanji padamu, saat aku kembali kemari semua masalah akan selesai dan kita bisa hidup bahagia." Ujar Kevin, membuat air mata seketika luruh dari kedua sudut mata Kalina.


Kalina tidak tahu harus bersikap bagaimana, dia tidak ingin menghancurkan rumah tangga orang lain, tapi keadaan terus mengarah kesana, apa Ia akan berdosa jika sampai itu terjadi, tapi Kalina juga tidak bisa mengatakan tidak, karena rasa cinta yang Ia miliki terhadap pria ini.


"Mbak Kelly, aku sungguh minta maaf, aku tidak bisa menepati janjiku," lirih Kalina pelan.


"Kak, biarkan Kalina tenang dulu, aku bukan bermaksud buruk, tapi--," ucapan Kenan seketika di potong oleh Kevin.


"Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskannya. Nan, aku titipkan Kalina padamu, tolong jaga dia dan bayi kami, apa kau bisa?" Kevin menepuk pundak Kenan.


Kenan mengangguk seraya tersenyum, "kamu bisa percaya padaku Kak, aku akan menjaga Kalina dengan hidupku. Tapi Kak--," Kenan menjeda ucapannya, "tolong, jangan terlalu kasar pada Mamah, walau bagaimanapun dia tetap Ibuku," ujar Kenan sembari menghela napas.

__ADS_1


"Kau pikir aku ini apa, dia juga Ibuku, aku di besarkan olehnya. Jadi kau tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja, aku hanya ingin terlepas dari belenggunya." Kevin meyakinkan.


"Iya Kak, aku doakan semoga segalanya berjalan dengan lancar, aku dan Kalina akan menunggumu disini." Kevin mengangguk lantas berlalu.


'Semoga berhasil Vin. Maaf, aku tidak bisa berada di sampingmu untuk menjadi penyemangatmu, tapi aku akan disini menjaga buah hati kita.' batin Kalina, dia menatap mobil Kevin yang perlahan keluar dari pekarangan rumah.


'Aku tidak pernah membayangkan hubungan kita akan jadi begini, tapi aku tidak pernah menyesal karena mencintai seseorang Kevin Alterio, meski dia sangat kejam dan kadang membuat hidupku tersiksa, tapi itu karena cintanya yang terlalu besar, hingga membuat dirinya tanpa sadar bersikap terlalu posesif. Mungkin aku cukup beruntung mendapatkan cintamu Vin, tapi aku orang yang lemah aku bahkan tidak sanggup menghadapi diriku sendiri.'


"Lin!" panggilan itu membuat Kalina tersadar dari lamunannya, "Kakak sudah pergi, kamu lupa menawarinya sarapan, dia sudah berkendara semalaman aku takut terjadi sesuatu padanya."


Deg... Seketika perasaan Kalina jadi tak karuan, dia membuka pintu lebar-lebar, menghampiri Kenan.


"Nan coba kau hubungi dia, tiba-tiba aku merasa khawatir." Ucap Kalina.


"Jaringan disini sangat buruk, aku tidak bisa menghubungi siapa pun," Kalina mendengus kasar, hatinya semakin di dera rasa cemas yang teramat sangat.


"Kalau begitu coba kau susul dia Nan, aku sangat cemas, siapa tahu dia belum jauh," ujar Kalina, yang seketika di angguki Kenan.


"Baiklah, kau tidak papa aku tinggal sendiri?"

__ADS_1


"Ya, aku bisa menjaga diriku sendiri, kau pergilah." Kenan pun berlalu, dia menggunakan motor agar lebih leluasa dan lebih cepat juga.


'Aku harap semua akan baik-baik saja.'


__ADS_2