Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan

Gadis Penipu Terjerat Cinta Mantan
Bab 18 - Pertengkaran


__ADS_3

Kalina menatap Iba pada Kelly, kehadirannya di rumah ini bagai duri dalam daging, menyakiti Kelly setiap saat, Kalina mencengkram ujung gaun yang Ia kenakan.


la lantas bangkit, "mau kemana kamu?" tegur Kevin.


"A-aku mau ke-kamar, aku sudah kenyang," imbuh Kalina, dia pun lantas pergi.


Kalina duduk di tangkai jendela, tatapannya menerawang jauh, saat itulah dia mendengar suara pertengkaran hebat, Kalina memicingkan telinga, ternyata itu berasal dari lantai atas. Kalina kembali keluar sembari menutup pintu.


"Siapa yang bertengkar?" tanya Kalina pada seorang pelayan yang tengah membersihkan debu di hiasan dinding.


"Izin menjawab Nyonya ke-dua. Itu Nyonya pertama dan Tuan," jawabnya sambil menunduk sopan.


Kalina mengangguk tak lupa mengucapkan terima kasih, dia pun naik ke lantai dua, tempat suara itu berasal.


Langkah Kalina terhenti di ujung tangga, telinganya mendengar jelas pertengkaran itu.


"Kau sudah tidak waras Vin, kau mengabaikan aku demi wanita sialan itu. Aku Istri sah-mu, yang keluargamu akui hanya aku dan selamanya hanya aku." Teriakan Kelly menggema ke seluruh penjuru rumah ini.


"Dia selamanya takkan pernah di terima, apa lagi dia hanya seorang anak dari panti asuhan, mungkin saja dia seorang anak buangan yang terlahir dari seorang pelacur!" Deg... hati Kalina amat tertohok, benar dia tidak tahu siapa orang tuanya, siapa yang melahirkannya dan siapa yang membuangnya.


"Kelly! Jaga ucapan-mu, aku masih menghargai mu karena kita masih ada kerabat, tapi jika kau berani mengatakan hal kurang ajar lagi, kau tahu apa akibatnya!" Kevin meninggikan suaranya.


"Terserah lakukan saja sesukamu, aku tidak peduli! Sekarang semua sudah tahu, kalau kau berselingkuh dariku. Sekuat apa pun kau menyembunyikan dia dari dunia, pada akhirnya seluruh dunia akan tahu, dan semua orang akan membela ku!"


"Dia akan terus di salahkan, dia akan terus di cemooh, selamanya hidupnya tidak akan pernah bahagia. Seorang perebut tidak akan pernah merasakan ketenangan."


Kalina berbalik hendak turun, di saat itulah dia bertemu Kenan, pria itu melayangkan tatapan mengiba, bahkan untuk saat ini hanya sekedar tersenyum pun Kalina tak mampu, dia pergi begitu saja tanpa menyapa Kenan, air mata seketika luruh di wajahnya. Semua yang Kelly katakan tentangnya tidaklah salah, hanya saja dia tak terima jika dirinya dikatai anak seorang pelacur.


"Aku ingin pergi dari tempat ini! Aku sudah tidak tahan!" gumamnya pelan. Seseorang menarik tangan Kalina dan menyeretnya ke sudut, ternyata itu adalah Kenan.


"Kau ingin pergi dari rumah ini?" tanpa ragu Kalina langsung mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah, ikut denganku!" Kenan menuntun lengan Kalina menariknya ikut bersamanya. Setelah cukup jauh berjalan sambil menghindari para pelayan dan penjaga yang berpatroli Kenan dan Kalina masuk kedalam mobil.


"Masuk kedalam sini!" perintah Kenan dengan mata tak henti-hentinya mengawasi sekitar. Kalina mengangguk dan seketika masuk kedalam karung yang cukup besar itu, Kenan langsung mengikatnya agar tak tampak orang di dalamnya.


"Nan jangan kenceng-kenceng ngikatnya, aku gak bisa napas," keluh Kalina.


"Eh, sorry, sorry." Kenan kembali melonggarkan ikatannya agar oksigen tetap bisa masuk kedalam karung tersebut.


Kenan mulai melajukan mobilnya keluar dari garasi, entah kenapa penjagaan seolah di perketat, seorang penjaga mengetuk kaca mobil Kenan menyuruhnya membuka kaca jendela untuk pemeriksaan.


"Gila rumah Kakak udah kaya rumah presiden, penjagaannya ketat banget," keluh Kenan, sambil tetap membuka kaca tersebut.


"Maaf Tuan Kenan, kami harus tetap melakukan pemeriksaan terhadap anda," ucap penjaga tersebut.


"Tidak papa, santai saja. Lagi pula kalian hanya menjalankan tugas," ucap Kenan tenang.


"Maaf Tuan itu apa?" tunjuknya pada karung berisi Kalina yang teronggok di kursi belakang.


"Kenapa tidak memakai kotak saja Tuan? Biasanya Nyonya meletakan barang-barang untuk di sumbangkan kedalam kotak kardus," ucapnya dengan alis bertautan.


"Alah gak penting pakai apa barangnya di kirim yang penting niatnya Pak," Kenan benar-benar di buat kesal oleh bapak ini, pasalnya dia malah terus mengajaknya bicara.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Pak, takut kesiangan." Saat gerbang separuh terbuka, saat itulah suara teriakan seseorang membuat mereka menghentikan niatnya.


"Berhenti! Jangan biarkan mobil Tuan Kenan keluar!" Perintahnya. Dua penjaga itu saling berpandangan, dan mereka pun kembali menutupnya.


"Sial, Lin kayanya kita udah ketahuan deh," ucap Kenan dengan nada kesal.


"Kita udah ketahuan gitu aja? Kamu mah malah bikin masalah tambahan, Nan," keluh Kalina, dia keluar dari dalam karung dan menatap sekitar.


"Nyonya, Tuan bilang anda akan keluar sendiri atau Tuan yang akan menjemput anda?" tanya sang penjaga sambil menatap ke arah Kalina dari luar jendela.

__ADS_1


Dengan terpaksa Kalina keluar dengan wajah tertunduk, dia melirik Kevin sekilas, tampak pria itu tengah berdiri di teras dengan tangan terlipat di dada.


"Kau ingin pergi kemana Lin?" pertanyaan itu di sertai tatapan tajam.


"Kak biarkan Kalina pergi, dia tidak bahagia di rumah ini. Dengan Kakak menahan Kalina di rumah ini, Kakak sudah menyakiti dua wanita sekaligus, kasian Kakak Ipar." Kenan angkat bicara.


"Kalina juga Istriku, atas dasar apa dia harus pergi dari rumah ini?"


Kalina yang menjawab, "Itu karena kau sudah punya pasangan Vin, kau sudah menikah aku tidak ingin merusak hubungan pernikahanmu dengan Mbak Kelly, masa lalu biarlah menjadi masa lalu, lupakan aku. Mari kita jalani hidup kita masing-masing, mengenai hutangku padamu, aku akan bekerja keras untuk mengembalikannya. Mbak Kelly mencintai kamu Vin, dia wanita yang hebat dia sanggup menahan sakit di hatinya demi kamu, perlakukan dia dengan baik, mungkin kita memang tidak berjodoh di kehidupan ini."


Kevin berjalan menghampiri Kalina, "sudah puas bicaranya?"


Kalian menunduk tak sanggup menatap wajah Kevin, "tatap aku dan katakan jika kau tidak mencintaiku?"


"Aku tidak mencintaimu," jawab Kalina bergeming.


"Aku bilang tatap aku dan katakan jika kau tidak mencintaiku!" Suara Kevin naik satu oktaf.


Kalina mendongak, memberanikan diri menatap netra abu-abu itu, "aku bilang aku tidak mencintaimu!" tegas Kalina.


Seketika Kevin mencengkram lengan Kalina, "jika kau tidak mencintaiku, maka kau harus belajar untuk mencintaiku!" Kevin menarik lengan Kalina dengan kasar menyeretnya mengikuti gerak langkahnya.


"Lepasin aku Vin! Aku ingin pergi!" teriak Kalina sambil meronta, dia berusaha meraih apa pun yang bisa menjadi pegangan untuk menahan tubuhnya.


Brak...!!


Frank...!!


Semua benda yang di raih Kalina berjatuhan ke-lantai, namun Kevin tak menghiraukannya, dia tetap menarik lengan Kalina berjalan lurus ke-depan. Kalina menangis sambil terus meronta, dia bahkan memukul-mukul lengan Kevin berusaha melepaskan diri.


Kalina menagkap bayangan Kelly sekilas, yang menatapnya dengan pandangan datar.

__ADS_1


__ADS_2