
"Dih, geer banget. Orang aku mau ngambil minum ko," ucap Kenan sambil membuka kulkas mencari minuman dingin yang tersedia di dalam sana.
Kalina memutar bola mata jengah, dia memilih melanjutkan niatnya, dia mengaduk-aduk isi lemari, yang kebanyakan berisikan bahan makanan mentah, seperti tepung, gula dan bahan-bahan yang lainnya. Kalina menghembus napas kasar, "gak ada mie instan apa, katanya orang kaya, tapi mie aja kagak punya." Keluh Kalina sebal.
"Mau Mie? Aku punya," ucap Kenan sambil membuka kaleng penutup minumannya, seketika Kalina menoleh dengan pandangan berbinar senang.
"Beneran?" Kenan mengangguk.
"Boleh minta gak? Atau enggak pinjem deh, entar aku balikin." Kalina mengatupkan tangannya di hadapan Kenan.
"Dasar dua muka, dalam sekejap ekspresinya berubah," cibir Kenan.
"Please, ya ya!" Kenan mengangkat Ibu jarinya tanda setuju, membuat Kalina kegirangan.
"Bentar aku ambil dulu." Kenan berlalu menuju kamarnya, dan tak butuh waktu lama pria itu telah kembali dengan dua cup mie dengan rasa yang sama di tangannya.
"Wow thank you!" Kalina hendak meraih kedua mie itu, namun Kenan hanya memberikannya satu.
"Eit, punyaku satu," Kalina cengengesan menahan malu.
"Hehe, Iya deh. Makasih ya, satu juga cukup ko."
"Seduhin!" Kenan menaruh mie itu di atas meja, menyuruh Kalina menyiapkan untuknya juga.
Setelah mie siap makan Kalina membawanya ke halaman belakang tempat Kenan berada.
__ADS_1
"Nih Mie nya," Kalina menyodorkan Mie tersebut pada Kenan, yang langsung di raihnya dengan semangat.
"Tumben kamu keluar malem-malem?" tanya Kenan sambil menikmati Mie instan miliknya.
"Pengen aja, jenuh di kamar terus." Jawab Kalina sambil mengunyah Mie di mulutnya.
"Kakak gak ada, kan? Apa dia tidur di kamar Kakak Ipar pertama?" Kalina mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Memangnya kenapa, itu wajar-kan? Suami Istri tidur bersama." Kalina kembali menyuapkan Mie ke mulutnya.
"Tentu saja wajar, yang gak wajar itu muka kamu." Ejek Kenan.
"Emangnya muka aku kenapa?"
"Enggak ko, aku gak ada pikiran kaya gitu. Justru aku yang minta Kevin tidur di kamar Mbak Kelly." Kalina membela diri.
Kenan terdiam sambil melempar pandang ke arah lain, "cemburu itu bukan sebuah dosa ko, jadi wajar aja kalau kamu cemburu pada Kakak dan Kakak Ipar."
"Aku gak cemburu Nan, hanya sedikit merasa tak karuan. Bisa gak, gak usah bahas tentang itu." Pinta Kalina sangat.
"Gimana Mie nya, enak gak?" Kenan langsung mengubah topik pembicaraan mereka.
"Enak banget, lain kali beli rasa yang pedes banget ya."
"Sip!"
__ADS_1
Kenan dan Kalina duduk di teras belakang hingga larut malam. Tanpa mereka sadari Kevin berjalan menuruni tangga, dia terbangun karena merasa haus.
'Lin, seandainya kamu bukan Istrinya Kakak, sepertinya kita akan cocok. Karakter kita lumayan mirip, apa yang kita sukai pun hampir sama, melihat kamu tersenyum aku juga ikut tersenyum. Hah, apa yang aku pikirkan?' Kenan menggelengkan kepalanya berusaha menyingkirkan pikiran yang muncul di otaknya.
"Kalian sedang apa?" tanya Kevin, membuat Kalina dan Kenan seketika tersentak. Refleks Kalina menyembunyikan cup Mie yang di pegang-nya.
"Kami gak ngapa-ngapain ko, cuma ngobrol doang, ya kan Nan?!" Kalina menyikut lengan Kenan meminta dukungan, apa yang Ia lakukan tak lepas dari pengawasan Kevin.
Dia menatap tajam tangan Kalina, si raja cemburu itu terlihat marah, "ikut aku!" Kevin menarik tangan Kalina dengan kasar membawanya mengikuti langkah lebarnya.
"Pelan-pelan apa Vin," keluh Kalina dengan kesal, dia memberikan cup mie bekasnya pada Kenan sebelum melangkah jauh. Kenan hanya bisa diam menatap sikap Kakaknya yang memperlakukan Kalina dengan kasar.
"Kakak benar-benar keterlaluan, apa ini yang Ia sebut cinta? Aku benar-benar tidak suka melihat Kalina di perlakukan begitu," gumam Kenan sembari menatap cup Mie di tangannya.
Bruk...! Kevin menghempaskan Kalina ke ranjang, dia lantas mengunci pintu.
"Baru sebentar aku pergi kamu sudah main-main dengan laki-laki lain, apa kamu sengaja menyuruh aku pergi ke kamar Kelly agar kamu bisa berduaan dengan Kenan?" Nada suara Kevin meninggi.
"Kenan itu adik kamu dia bukan orang lain Vin, jangan lebay deh. Lagian aku cuma makan Mie sama dia."
"Meskipun dia adikku, dia tetap pria lain Kalina, dia bukan aku. Kamu adalah istriku, dirimu sepenuhnya adalah milikku." Kevin mencengkram dagu Kalina, membuat gadis itu meringis.
"Aku tahu aku ini istrimu, dan Kenan adalah adik Ipar-ku. Jadi apa salahnya jika aku ngobrol sama dia? Cemburu kamu ini sudah kelewatan Vin." Keluh Kalina, dia menghempaskan tangan Kevin dari dagunya.
"Kalau kamu tahu kamu ini Istriku, ijinkan aku mengambil hak-ku."
__ADS_1