
"Aunty, Uncle!" Gaby sangat senang melihat kedatangan Ayu dan Ron.
"Halo cantik!" Ayu memeluk keponakannya dengan erat.
"Aunty ikut kita ke mall kan?" Gaby bergelayut di pinggang Ayu dengan manja.
"Apa bundamu jadi belanja keperluan bayi?" tanya Ayu antusias.
"Iya, tentu saja, kau jadi ikut kan?" tanya Ananda menimpali percakapan antara anak dan adiknya.
"Pasti donggg!" Ayu mengangguk.
"Kakak memangnya mau beli apa saja?" Ayu penasaran.
"Sebenarnya tidak banyak, karena berapa perlengkapan Raf masih banyak yang bagus, hanya mau mencari beberapa yang sudah rusak saja" kata Ananda.
"Bun, nanti aku mau mampir ke toko buku buat membeli beberapa souvenir biasku boleh ya?" Gaby yang menjadi penggemar KPOP selalu saja berburu barang-barang yang berhubungan dengan idolanya itu.
"Boleh sayang, kakak mau pergi ke mana lagi? nanti kita sekalian jalan ya!" Ananda dengan senang hati menemani putrinya.
Sesungguhnya ia tidak benar-benar ingin belanja, karena semua kebutuhan bayinya sudah lengkap, ia hanya ingin cuci mata karena selama kehamilan ini aktivitasnya hanya seputar rumah dan kampus. Mike tidak mengijinkan Ananda terlalu banyak beraktivitas di luar rumah mengingat Ananda pernah pingsan diawal kehamilannya. Terlebih pada kehamilan yang terdahulu Ananda pernah mengalami tragedi mengerikan yang hampir merenggut nyawanya, membuat Mike semakin over protect terhadap sang istri.
.........
__ADS_1
"Mau apa kau kesini pagi-pagi?" tanya Mike saat melihat Ron datang menghampirinya di ruang makan, sementara para istri masih di dapur.
"Tentu saja numpang makan gratis!" Ron langsung duduk di kursi sebelah Mike dan menatap kakaknya.
"Apa lihat-lihat!" Mike menyalak.
"Kau tidak pakai pakaian seperti kemarin lagi?" Ron bertanya sambil mengulum senyum.
"Tutup mulutmu, pulang sana ke rumahmu!" Mike mulai menduga-duga alasan kedatangan adik sepupunya ini.
"Ckck, kakak ipar kau kasih makan apa kakakku sampai bisa sejahat ini pada adiknya sendiri?" Ron bertanya ketika Ananda, Ayu dan Gaby membawa sarapan yang baru matang ke ruang makan.
"Bocah tengik sepertimu memang perlu diberi pelajaran!" Kata mike.
"Diam kau!" Mike mengambil sepotong roti dan memasukkannya ke dalam mulut Ron.
Ron yang disumpal mulutnya dengan roti hanya bisa terkikik melihat sang kakak yang semakin kesal saat ia berusaha membahas penampilan aneh Mike kemarin saat pergi kekantor.
.........
"Ayo, kita beli es dulu!" Ananda menarik tangan adik dan anaknya ke gerai es krim setelah beberapa kali keluar masuk toko perlengkapan bayi tanpa membeli apapun.
"Asikkkk, aku mau mix tiga rasa ya bunnn" Gaby berbinar-binar.
__ADS_1
"Aku coklat saja kak" kata Ayu saat Ananda mulai memesan varian es krimnya.
Sementara para suami mereka yang sejak tadi mengekor, hanya bisa berdiri dengan pasrah di belakang istrinya seperti seorang bodyguard yang sedang menjaga majikan mereka sambil mendorong stroller Raf secara bergantian.
"Kau kenapa mesti mengajakku ke sini sih?" tanya Ron kepada Mike yang awalnya tidak niat ke mall.
"Aku sudah memberimu sarapan tadi pagi, jadi kau harus balas Budi dengan menemaniku kesini!" kata Mike cuek.
"Kenapa harus menemanimu segala, memangnya kau tidak bisa sendiri saja?" Ron kesal.
"Karena aku tidak suka menjadi satu-satunya laki-laki diantara mereka saat jalan-jalan di mall!" jawab Mike.
"Kalau kau tidak suka kenapa harus ikut bersama mereka? pakai mengajakku segala, menyusahkan sekali!" Ron emosi.
"Yang jalan-jalan kan bukan hanya istri dan anakku, ada istrimu juga, jadi kau juga harus menjaganya!" jawab Mike lagi.
"Istriku itu wanita hebat, kau saja yang cari-cari alasan, dasar suami posesif!!" Ron benar-benar kesal dengan sikap kakaknya yang berlebihan terhadap sang istri.
"Ckck, mereka itu sudah seperti anjing dan kucing saja!" Ananda berdecak saat melihat kedua pria itu tidak habisnya berdebat perihal sepele.
"Iya, sangat berisik seperti anak kecil" jawab Ayu dengan anggukan.
Karena sejak kecil mereka selalu tinggal satu rumah, maka perdebatan-perdebatan kecil seperti ini memang bukan sesuatu yang baru bagi satu sama lain. Ananda dan Ayu yang juga sudah mengetahui tabiat suami masing-masing hanya bisa nonton saja tanpa mau membela suami mereka.
__ADS_1