
Hari demi hari berlalu, seperti yang dinasehatkan oleh Mike, kini Ron banyak belajar tentang proses kehamilan seorang wanita hingga nanti melahirkan. Ia lebih peka terhadap semua kebutuhan istrinya. Ia juga sudah jarang protes dan berkomentar yang tidak penting demi menjaga kemaslahatan rumah tangganya. Sedikit banyak ternyata strategi ini cukup berhasil menaklukkan hati istrinya. Kini Ayu lebih sering bermanja-manja padanya dan jarang mengadu hal-hal sepele kepada nyonya Ruth.
"Sayang" Ron yang baru selesai mandi langsung turun ke ruang makan untuk bersiap-siap makan malam.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Ayu kepada suaminya.
"Sudah, aku sangat lapar, jadi ingin cepat-cepat makan malam!" kata Ron yang hari ini pulang agak lebih malam dari biasanya karena harus melakukan kordinasi dengan tim di lapangan.
"Sini duduklah, biar aku ambilkan!" kata Ayu sambil memegang piring dan menyendokkan nasi untuk suaminya.
"Kemana yang lain?" tanya Ron.
"Mom dan Aunty masih ada acara kumpul dengan teman-teman mereka, Kak Mike dan Kak Nanda sudah di kamar karena kak Nanda agak kurang sehat, sementara Gaby dan Raf sudah tidur" Ayu menjelaskan.
"Ohhhhh" Ron yang sudah lapar hanya ber oh ria saja mendengar penjelasan sang istri.
Mike dan Ron memang akhirnya memutuskan untuk sementara waktu tinggal di rumah utama agar para istri mendapatkan support sistem dari orang tua mereka dalam mempersiapkan dirinya menuju hari kelahiran.
__ADS_1
..........
"Sayang, aku sangat merindukanmu" kata Ron sambil memeluk pinggang istrinya.
"Kak, ahhhhhhhh" Ayu mendesah ketika suaminya mulai bergerilya di area sensitif.
"Kau makin terlihat seksi dengan perut buncit ini sayang" Ron benar-benar sudah memanas.
"Iiiissssshhhhhh ahhhhhhhhh" Ayu bergelinjang.
"Aku sudah lama tidak menengok si kembar, apakah mereka baik-baik saja?" bisik Ron di telinga istrinya, membuat Ayu merasakan sensasi geli.
"Tetap ingat saran dokter ya kak" Ayu yang khawatir dengan kandungannya mengingatkan Ron.
"Tentu sayang, aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati!" kata Ron sambil terus berusaha melucuti satu persatu pakaian yang dikenakan oleh sang istri.
Ron membaringkan sang istri dengan perlahan, ia mulai mengeksplor setiap incinya dan berakhir di tempat favoritnya di bawah perut. Saat ia hendak memulai pertarungan sengitnya, tiba-tiba saja pintuk kamarnya di ketuk.
__ADS_1
TOK TOK TOK
"Ron, apa kau sudah tidur?" suara Mike yang terdengar dari balik pintu spontan membuyarkan rencana Ron menengok si kembar.
"Ahhhhh reseh!" Ron menggerutu sambil kembali mengenakan pakaiannya.
"Ada apa?" tanya Ron ketus ketika ia melihat Mike berdiri membawa sebungkus kacang kulit dengan seringai jahil.
"Ayo kita nonton bola, tim mu melawan tim ku malam ini!" Mike kemudian menarik tangan adiknya tanpa aba-aba.
"Tidak mau, kau mengganggu saja, aku sedang tanggung tau!" Ron sangat kesal dengan ulah Mike yang mengganggunya di tengah jalan.
"Ahhhh sudah lemas begini, masih mau lanjut?" Mike menunjuk milik Ron dengan senyum yang dikulum.
"Karena kaulah yang membuatnya lemas sebelum waktunya!" Ron berdecak kesal.
"Sudahlah, besok lagi kan masih ada waktu, berbeda dengan pertandingan bola ini, kalau besok sudah basi!" Mike tidak menggubris dan mendengar gerutuan sang adik.
__ADS_1
"Ckck, ya sudah cepat nyalakan TVnya!" akhirnya Ron pun pasrah dan mengikuti kehendak sang kakak.
Biar bagaimana pun momen menonton bola bersama seperti ini memang sudah lama sekali tidak mereka lakukan, mungkin sekitar tiga belas tahun lebih, sejak Mike pindah ke rumahnya sendiri setelah ia menikah dengan Ariella.