Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Kepergian Ron


__ADS_3

"Kak Tian, ada apa?" Ayu yang baru saja keluar dari kelasnya terkejut karena tiba-tiba Tian sudah ada di depan kelasnya.


"Aku mau bicara, tapi kita cari tempat yuk" Tian kemudian mengajak Ayu ke tempat bakso langganan mereka.


"Kenapa kak?" Ayu penasaran.


"Yu, aku mau bicara serius sama kamu, ak aku suka sama kamu, aku mau kita pacaran" Tian meraih tangan Ayu.


"Kak!?" Ayu menarik tangannya namun tertahan karena Tian begitu erat.


"Apa kamu tidak suka sama kakak?" Tian menatap Ayu secara intens.


"Ayu suka kok sama kakak, kakak orang baik dan"


"Kalau begitu kamu menerima kakak kan?" Tian memotong pembicaraan Ayu.


Sementara seseorang yang sejak pagi tadi mengintai Ayu, yang tidak lain adalah Ron, merasa sangat kesal mendengar percakapan ini. Ia langsung pergi meninggalkan kedai bakso sebelum percakapan mereka selesai dan mendengar jawaban Ayu untuk Tian.


"Kak, saat ini Ayu masih fokus untuk kuliah, kak Tian tau kan kalau Ayu tidak punya siapa-siapa, jadi Ayu harus jadi orang sukses dulu kak" Ayu menolak dengan halus.


"Apa tidak bisa sambil berjalan?" Tian kecewa.


"Maaf ya kak, kak Tian jangan marah" Ayu tetap pada pendiriannya.


"Baiklah, no problem" Tian mengembangkan senyumnya meskipun sebenarnya hatinya kecewa.

__ADS_1


Saat bakso pesanan mereka sudah datang, mereka pun akhirnya memakannya dengan situasi yang agak sedikit canggung. Namun demikian Ayu tetap berusaha mencairkannya dengan mengeluarkan banyolan-banyolan lucu yang akhirnya membuat Tian tertawa dan melupakan sedihnya itu.


..........


"Aku mau pulang" tiba-tiba Ron duduk menghempaskan dirinya dengan keras di sofa ruang kerja Mike.


"Sudah selesai semua misinya?" Mike mencibir.


"Masih banyak pekerjaan di kantor cabang yang harus aku tangani segera" jawabnya asal.


"Cih, memangnya kau pikir aku bodoh? aku tau semua hal yang terjadi di setiap unit usaha Anderson, semua berada di bawah kendaliku, termasuk di tempat kau bekerja!" Mike kembali mencibir.


"Kalau kau sudah tau, kenapa kau masih terus memaksaku bekerja?" Ron mulai kesal.


"Apa kau lupa kalau separuh dari harta Anderson adalah milikmu?" Mike seperti mendapat angin segar untuk kembali memaksa Ron balik ke kantor pusat tempatnya bekerja dan memimpin semua anak cabang.


"Besok pagi aku akan berangkat, jadi jangan rindukan aku ya" Ron menyeringai jahil sebelum menutup pintu.


"Apa kau tidak mau pamitan ke rumah utama dulu?" Mike bertanya.


"Tidak, aku tidak mau bertemu Mom dan Aunty untuk sementara waktu!" Ron menggeleng dengan cepat dan kemudian benar-benar menutup pintu.


"Ckck, bocah tengik itu tidak pernah berubah!" gerutu Mike.


Selama ini Ron memang memegang kendali perusahaan keluarga Anderson yang berada di luar kota. Ia sengaja memilih anak cabang terkecil supaya bisa hidup dengan lebih santai ketimbang ketika ia harus bekerja di kantor pusat bersama dengan Mike yang pastinya penuh dengan tekana, karena pada dasarnya ia tidak mau terikat bekerja dengan jam kantor. Namun karena Mike pernah mengancamnya tidak akan mendapatkan warisan sama sekali jika ia melepas tanggung jawabnya sebagai ahli waris kedua, maka mau tidak mau Ron menjadi pemimpin anak cabang di sana dan menetap di luar kota selama beberapa tahun belakangan ini dan meninggalkan rumah utama milik Kakek Anderson, tempat Mike dan Ron tumbuh dewasa bersama-sama setelah kepergian ayah mereka masing-masing. Ia terpaksa meninggalkan nyonya Ruth dan Nyonya Merlyn hanya berdua saja di rumah utama itu, karena sejak Mike menikah dengan Ariella, Mike pun lebih memilih membangun rumahnya sendiri dan meninggalkan segala kenyamanan di rumah masa kecilnya itu.

__ADS_1


..........


"Uncle, kenapa cepat pergi sih?" Gaby merengek.


"Urusan uncle sudah selesai, jadi uncle harus kembali ke kantor cabang" Ron memeluk keponakannya sebelum ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Mike.


"Hati-hati di jalan ya kak" kata Ananda yang sedang menggendong Raf.


"Siap, jaga keponakan gantengku dengan baik ya kakak ipar" Ron pun mengecup pipi Raf dengan gemas.


"Bro!" Ron mengulurkan tangan dan di sambut dengan pelukan oleh Mike.


"Jaga dirimu baik-baik, cepat pulang kalau otakmu sudah kembali normal!" Mike menepuk bahu adik sepupunya.


Biar bagaimana pun mereka sering adu argumen, namun mereka tetaplah dua saudara laki-laki yang saling menyayangi satu sama lain dengan caranya masing-masing. Mike sebagai kakak, ingin selalu memberikan yang terbaik bagi adiknya itu, terutama untuk urusan pekerjaan dan jabatan. Sementara Ron, yang tidak pernah mementingkan jabatan, meskipun tetap tidak rela kalau harus kehilangan harta warisannya, selalu merasa percaya dengan apa yang kakaknya lakukan di perusahaan mereka, sehingga ia enggan ikut campur urusan perusahaan.


"Hati-hati di jalan kak" kata Ayu saat Ron tiba berpamitan padanya.


"Terima kasih Ayu, jaga diri baik-baik ya" kata Ron.


Meskipun sama-sama berat untuk berpisah, namun keduanya tetap harus menerima kenyataan dan tetap harus melanjutkan hidup masing-masing dengan cara mereka, seperti saat keduanya belum saling bertemu.


Setelah mobil Ron menghilang dari pandangan, mereka semua masuk ke dalam rumah, termasuk Ayu yang langsung menuju ke dalam kamarnya. Tanpa terasa butiran air mata menetes begitu saja dari ujung matanya.


"Hidup harus terus berjalan Ayu!" katanya pada diri sendiri untuk memberi semangat.

__ADS_1


Sementara Ron yang selama kurang lebih empat jam melakukan perjalanan darat hanya bisa merenungi nasibnya yang selalu sial jika berhubungan dengan percintaan.


__ADS_2