
"Hoek, Hoek!" Sudah dua hari Mike terus saja mual dan muntah setiap pagi menjelang siang.
"Ayah masih sakit?" Ananda memijat tengkuk suaminya.
"Entahlah bun, ayah lemas sekali!" Mike hanya bisa terduduk lemah di pinggir tempat tidurnya.
"Bu Maya, tolong bantu panggilkan dokter ya?" Ananda menatap manager rumah tangganya dengan tatapan memohon.
"Baik nyonya!" kata Maya sambil tersenyum sopan.
"George, tolong handle semua urusan kantor, aku tidak kuat jalan!" Mike sudah tidak tahan sama sekali.
"Baik tuan, Anda beristirahat saja di rumah, biar saya yang tangani semuanya!" George kemudian berangkat ke kantor seorang diri meninggalkan Mike yang sudah rapi namun akhirnya gagal berangkat.
Tak lama berselang dokter pun datang untuk memeriksa kondisi Mike yang sudah semakin lemah. Kini dia malah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya sama sekali, tidak seperti hari pertama kemarin yang masih bisa berjalan ke kantor.
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Ananda terlihat sangat cemas.
"Tuan Mike hanya terkena sindrom kehamilan simpatik, ini wajar terjadi saat sang istri sedang mengandung, biasanya gejala yang muncul memang layaknya ibu hamil yang mengalami morning sickness!" kata dokter menjelaskan panjang lebar.
"Lalu berapa lama ini akan berlangsung?" Ananda sangat kasihan melihat suaminya yang terkulai sangat lemah.
__ADS_1
"Tergantung, tidak semua sama, ada yang hanya sebentar, ada yang sampai melahirkan juga!" sontak penjelasan dokter membuat mata Ananda dan Mike terbelalak.
"Ini saya resepkan obat anti mual ya, nanti diminum jika terasa!" kata sang dokter sambil menyerahkan obat yang harus dikosumsi.
"Saya juga sudah siapkan seorang perawat untuk memastikan semua berjalan lancar!" kata dokter lagi sambil memasang cairan infus di tangan Mike agar pria itu tidak terserang dehidrasi akibat terus muntah sepanjang pagi.
"Terima kasih dokter!" Ananda tersenyum saat sang dokter sudah selesai mengerjakan tugasnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu nyonya, tuan!" Sang dokter menunduk hormat kepada pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"Mari saya antar dokter!" Maya membuka pintu, meninggalkan Ananda dan Mike di dalam kamar berdua saja.
Sementara sang perawat yang didelegasikan menjaga Mike standby di ruang kerja dan akan mengontrol setiap satu jam sekali atau sesuai panggilan sang pasien.
"Bun, kenapa ayah yang muntah-muntah? padahal kan yang sedang mengandung bunda!" Gaby yang masih lugu bertanya dengan polosnya.
"Itu artinya ayah sangat mencintai bunda!" Mike menyela menjawab dengan asal sebelum Ananda membuka mulutnya.
"Jadi kalau suaminya tidak muntah berarti tidak cinta ya?" Gaby bertanya kembali.
"Tentu saja, suami yang baik adalah suami yang mau menanggung sakit istrinya!" kata Mike dengan bangga.
__ADS_1
"Waktu ibu mengandung dulu, apakah ayah muntah-muntah juga?" Gaby penasaran.
"Emmm tidak sih!" Mike menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi artinya ayah tidak cinta sama almarhum ibu dong?" Gaby menjadi sedih.
"Bukan begitu sayang!" Mike gelagepan karena jawaban asalnya ternyata malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, sementara sang istri hanya mengulum senyum.
"Sayang, setiap pasangan itu memiliki cara dalam menyatakan cinta mereka dengan berbeda-beda. Mungkin cara ayah mencintai ibu dulu, berbeda dengan cara ayah mencintai bunda sekarang, tapi ayah itu tetap sama-sama mencintai kami dengan sepenuh hatinya!" Ananda membelai rambut Gaby dengan lembut.
"Kalau ayah tidak mencintai ibu, maka tidak akan pernah ada Gaby di dunia ini dan tidak akan pernah ada pernikahan antara ayah dan bunda seperti sekarang!" Ananda melanjutkan.
Seperti petir di siang bolong, Mike yang mendengarkan penjelasan istrinya tiba-tiba merasa sangat terharu sampai menitikkan air mata. Bagaimana bisa istrinya berkata begitu bijak tentang cintanya kepada almarhum ibu Gaby tanpa ada rasa cemburu sedikitpun?
"Dia wanita yang hebat!" batin Mike menatap penuh cinta kepada istrinya.
"Ayah kenapa menangis?" tanya Gaby heran. Baru kali ini Gaby melihat ayahnya menangis sampai sesenggukan.
"Ayah sangat menyayangi kalian!" tiba-tiba saja Mike memeluk anak dan istrinya dengan erat.
"Ayah, ada apa dengan ayah!?" Gaby semakin heran.
__ADS_1
Sementara Ananda yang melihat suaminya melow seperti wanita yang sedang PMS hanya bisa tersenyum geli. "Begini toh efek sindrom kehamilan simpatik pada suami? gemasnya!!!" batin Ananda.