
Seminggu berlalu sejak pernikahan mereka berlangsung, Ananda dan Mike sudah mulai beradaptasi dengan kehadiran masing-masing. Ananda menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik mulai dari menyiapkan pakaian, makan, air mandi dan semua keperluan harian Mike kecuali kebutuhan biologisnya. Mike pun kini mulai ketergantungan dengan semua pelayanan yang diberikan oleh istrinya itu. Tentunya yang paling bahagia dan diuntungkan dari semua orang adalah Gaby. Hari-harinya dijalani dengan penuh keceriaan karena kini ia sudah memiliki seorang ibu sambung yang sangat menyayanginya.
"Bunda hari ini jadi mengantarkan aku ke sekolah kan?" rengek Gaby.
"Iya sayang, habis sarapan kita berangkat ya" jawab Ananda sambil menuangkan susu ke dalam gelas Putri sambungnya itu.
"Apa kau sudah mulai masuk kuliah?" tanya Mike kepada Ananda.
"Iya, cutiku sudah habis!" jawab Ananda.
"Kalau begitu biar ayah antar kalian berdua!" kata Mike sambil mengunyah roti yang dihidangkan oleh Ananda.
Bila dilihat secara sepintas tidak ada yang aneh dari interaksi mereka bertiga, karena Mike dan Ananda memang sudah sepakat akan bersikap senormal mungkin di depan orang lain, bahkan mereka sepakat untuk memanggil satu sama lain dengan panggilan ayah dan bunda saat di depan orang banyak, sesuai dengan harapan Gaby yang ingin memiliki orang tua yang utuh.
FLASH BACK ON
"Tuan, sarapan Anda sudah siap!" kata Ananda memberitahu Mike saat ia sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya di hari pertama mereka menikah.
"Baiklah aku akan segera turun!" kata Mike lagi.
"Saya permisi dulu tuan!" Ananda melangkahkan kakinya keluar kamar.
__ADS_1
"Tunggu!" Mike memanggil Ananda kembali.
"Ada apa tuan?" Ananda berbalik.
"Bisakah kau tidak memanggilku 'tuan' lagi? kita sudah menikah, orang akan curiga kalau kau tetap memanggilku secara formal seperti itu!" kata Mike mengingatkan.
" Lalu saya harus memanggil Anda apa?" Ananda bingung.
"Entahlah, setidaknya panggil aku layaknya para istri memanggil suami mereka!" Mike juga berfikir.
"Menurut anda apa yang pantas?" Ananda bertanya kembali.
"Mungkin kita bisa mengikuti Gaby, kau panggil aku ayah dan aku akan memanggilmu bunda, bukankah itu yang dilakukan kebanyakan orang?" Mike memberi usul.
"Apa kau bilang barusan?" Mike melotot.
"Eh, anu, maksud saya terserah anda saja ayah!" sesungguhnya Ananda sangat canggung dengan panggilan itu.
"Bagus, mulai sekarang jangan lupa ya!" Mike kemudian berjalan keluar kamar menuju ruang makan dengan cueknya.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
..........
"Bye bunda, bye ayah!" kata Gaby sambil mengecup pipi kedua orang tuanya sebelum keluar dari mobil.
"Bye sayang, nanti tunggu pak supir menjemputmu ya!" Ananda memberi pesan.
"Iya Bun!" Gaby mengangguk.
"Jangan main jauh-jauh, tetap berada di area penjemputan!" Ananda kembali memperingati.
"Oke!" jawabnya lagi.
"Jangan lupa habiskan bekalmu!" lagi-lagi pesan Ananda.
"Siap bundakuuuuu!" Gaby mulai gemas karena lama-kelamaan bunda barunya ini jadi semakin cerewet.
Sementara Mike hanya menahan senyum melihat interaksi kedua gadisnya itu. Ia sangat bersyukur karena Ananda bisa menjadi ibu pengganti sekaligus menjadi sahabat yang baik bagi Gaby.
"Sudah sana masuk, nanti kau terlambat!" Mike memperingatkan putrinya.
"Siap bossss!" Gaby memberi hormat dan membuka pintu mobil serta berjalan menuju gedung sekolahnya dengan semangat yang luar biasa dan senyum yang merekah.
__ADS_1
"Ayo George, kita jalan!" Mike memberi instruksi kepada asistennya.
"Baik tuan!" George pun melajukan mobilnya menuju kampus Ananda.