Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Ron dan Tian


__ADS_3

"Bos, mau sampai kapan kau berdiam diri disini?" tanya Dimas asisten Ron yang sejak tadi duduk diam menunggu sang bos yang merenung tak jelas di depan jendela kantornya.


"Kau pulanglah duluan, aku masih mau di sini dulu!" kata Ron pada akhirnya setelah lama membisu.


"Apa kau baik-baik saja?" bukannya pulang Dimas malah mendekat dan meletakkan tangannya di kening Ron.


"Apa sih!" Ron menepis tangan Dimas.


"Aku khawatir bos sakit" kata Dimas.


"Aku baik-baik saja, hanya sedang ingin sendiri, jadi lebih baik kau pulang saja!" Ron mengusir Dimas.


"Apa bos yakin?" Dimas mengernyitkan dahi.


"Iya, sudah sana pergi, husss, husss" Ron menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir lebah.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan ya" Dimas pamit.


"Hemmmm" jawab Ron tanpa menoleh.


Sejak kepulangannya enam bulan lalu dari kediaman Mike, Ron memang menjadi pribadi yang berbeda. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja di kantor. Ia sudah sangat jarang pergi ke club dan mencari gadis-gadis untuk diajak bermain-main. Hal baru yang sering ia lakukan adalah memasak menu-menu yang pernah dia praktekkan bersama Ayu dan Gaby saat di rumah Mike. Ia juga gemar menonton pertandingan bela diri di gelanggang olah raga yang ada di daerahnya.


"Sedang apa kau sekarang? apa kau sudah bahagia dengan pria itu?" Ia menatap gambar dirinya dan Ayu di ponselnya saat gadis itu memenangkan juara bela diri kala itu.


"Andaikan saat itu aku mengaku menyukaimu, mungkin sekarang kita sudah bersama atau setidaknya kalaupun kau memang hanya menganggapku sebagai kakak, aku sudah menyatakan perasaanku kepadamu, sehingga meskipun kau menolak ku karena pria itu, situasinya tidak akan seburuk seperti saat ini!" Ron selalu menyesali perkataannya di hadapan Mike saat itu.


..........


"Kak Ron?" suara seorang pria terdengar dari bagian belakang kursi penonton saat dirinya sedang menyaksikan pertandingan bela diri di gelanggang olah raga.


"Kau?" Ron mengernyitkan wajahnya saat melihat Tian menggandeng seorang wanita yang bukan Ayu.


"Apa kabar?" Tian mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.


"Baik" jawab Ron sekenanya sambil menyambut tangan Tian.

__ADS_1


"Kakak sendirian?" tanya Tian.


"Begitulah" jawab Ron sambil menatap intens ke arah gadis yang digandeng oleh Tian.


"Oh ya, perkenalkan ini pacarku kak, Shinta namanya" Tian memperkenalkan mereka berdua.


"Lalu Ayu?" Ron menatap tajam kepada Tian.


"Ayu? ohhh dia tidak ikut karena sedang sakit" Tian menjelaskan.


"Wah hebat ya, saat Ayu sedang sakit kau malah enak-enakan dengan wanita lain di sini? pria macam apa kau ini hah?" Ron yang kesal kemudian menarik kerah baju Tian.


"Kak ada apa? memangnya salah kalau aku pergi dengan pacarku sendiri?" Tian bingung dengan sikap Ron.


"Kau ini punya berapa pacar hah? apa tidak cukup berpacaran dengan Ayu saja?" Ron semakin geram dengan jawaban Tian.


"What? pacaran dengan Ayu?" Tian melongo.


"Apa kau mau mengingkari kalau kau pacaran dengan Ayu di depan gadis ini?" kata Ron benar-benar murka.


"Apa maksudmu? bukankah enam bulan lalu kalian sudah saling menyatakan perasaan masing-masing di kedai bakso langgananmu?" Ron mengungkit masa itu.


"Hahahahhahahah, jadi itu maksudmu kak?" Tian terbahak-bahak mendengarnya.


"Kenapa kau tertawa?" Ron melotot.


"Lepaskan aku dulu, aku akan jelaskan semuanya!" kemudian Tian menceritakan kronologis yang terjadi di kedai bakso saat Ron sudah pergi dari sana, bagaimana Ayu menolaknya dan akhirnya mereka malah semakin akrab seperti kakak adik. Bahkan Ayulah yang membantunya sampai bisa berpacaran dengan Shinta seperti saat ini.


"Lalu kenapa kemarin kau datang ke acara Gaby sendirian dan tidak mengajaknya?" sambil menunjuk Shinta.


"Ohhh itu, aku hanya datang untuk mengantarkan medali kejuaraan yang Ayu peroleh di hari sebelumnya!" Tian berusaha menjernihkan suasana.


"Apa kau tidak berbohong?" Ron menyelidik.


"Ya ampun, buat apa aku berbohong? apa kau mau bukti?" kemudian Tian mengambil ponselnya dan menghubungi Ayu dengan mode video call.

__ADS_1


"Halo kak?" suara Ayu terdengar.


"Bagaimana kabarmu?" Tian bertanya.


"Sudah lebih baik, apa kak Tian sudah sampai ke tempat pertandingan?" Ayu bertanya.


"Sudah, aku bersama dengan Shinta" jawab Tian sambil menunjukkan wajah Shinta kepada Ayu.


"Hai Ayu!" Shinta menyapa.


"Kak Shinta, kau baik-baik saja kan? hati-hati ya disana!" Ayu berteriak senang saat melihat Shinta dilayar ponselnya.


"Iya aku baik-baik saja, memang kenapa aku harus hati-hati?" tanya Shinta.


"Kak Tian itu suka cari-cari kesempatan!" bisik Ayu kemudian.


"Hey aku mendengarnya!" protes Tian yang disambut tawa renyah oleh Ayu.


"Sudah dulu ya, kami mau mulai menonton!" kata Tian sambil melirik ke arah Ron yang berada dibalik layar ponsel.


"Baiklah, selamat bersenang-senang ya kalian!" Ayu melambaikan tangannya.


"See?" Tian menyeringai.


"Jadi kalian tidak pacaran?" Ron benar-benar bahagia mendengarnya.


"Tentu saja, karena memang Ayu sebenarnya sudah menyukai seseorang dan sampai saat ini ia masih setia menunggunya, sayangnya pria itu sangat tidak peka!" jawab Tian dengan santai.


"Memangnya Ayu menyukai siapa?" Ron penasaran. Perasaan bahagia yang baru saja ia rasakan seketika sirna saat mendengar Tian berkata bahwa Ayu sudah menyukai pria lain.


"Apa kakak benar-benar tidak tau?" Tian memberi teka-teki.


"Jangan bercanda!" hardik Ron.


"Tanyalah pada diri kakak sendiri, kalau kakak belum juga menemukan jawabannya, maka kakak harus mencari taunya dengan bertanya langsung kepada Ayu!" sejak awal Tian memang sudah mengetahui kalau sebenarnya Ayu dan Ron sama-sama memiliki perasaan cinta, namun dia lebih memilih untuk membiarkan Ayu menemukan cintanya dengan caranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2