
"Kalian sedang apa?" tanya Ron sambil menghampiri Gaby, Maya, Ayu serta Ananda yang sedang menggendong Raf di ruang keluarga sambil menikmati malam mereka. Sementara Mike dan George sedang sibuk mengerjakan beberapa sisa pekerjaan mereka di ruang kerja.
"Kami sedang bermain uno stacko, apa uncle mau main dengan kami?" kata Gaby riang.
"Wahhhhh sepertinya seru sekali" Ron langsung duduk di sebelah Gaby.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita ulang saja dari awal?" Ananda mengusulkan.
"Oke, ayo kita susun lagi!" Gaby mengambil semua balok yang sudah dikeluarkan dari tumpukan.
"Kenapa kita tidak pakai hukuman? pasti akan lebih seru!" kata Ron.
"Hukuman?" Gaby mengernyitkan alisnya.
"Yang menghancurkan susunannya kita coret wajahnya dengan spidol bersama-sama!" Ron menyeringai jahil.
"Oke, siapa takut!" Gaby menyanggupi.
"Ahhhh tidak bunda tidak mau, nanti susah menghilangkan sisa coretannya!" Ananda menolak bukan karena takut, tapi dengan kondisinya yang bermain sambil menggendong Raf, pasti akan sulit membersihkan wajahnya nanti.
"Bagaimana kalau ganti pakai lipstick saja?" Ayu memberi alternatif.
"Nah benar, akan lebih mudah bukan?" Ron menimpali.
Akhirnya setelah kesepakatan dibuat, mereka memulai permainannya. Ron yang grasak grusuk selalu menjadi sasaran empuk empat wanita di depannya. Hanya wajahnya yang penuh dengan coretan lipstick, sementara lawan mainnya tidak ada satupun yang kena.
"Ahhhh kalian pasti sekongkol kan mengerjai aku?" Ron protes ketika wajahnya sudah tidak berbentuk lagi, membuat lawan mainnya cekikikan tanpa henti.
Permainan terus berlanjut, semakin malam semakin seru. Mereka memang terlihat lebih santai saat menjelang akhir pekan.
"Aku sudahan ya" Ananda berdiri dan berjalan menuju kamar Raf karena ia mulai rewel minta susu.
__ADS_1
"Saya juga permisi, sepertinya George sudah selesai" Maya mengikuti Ananda meninggalkan arena permainan.
"Yahhhh sudah tidak seru, aku juga sudahan ahhhh!" Gaby yang melihat bunda dan Tante Maya nya pergi akhirnya beranjak meninggalkan Ayu dan Ron berdua saja di ruang keluarga untuk menyusul ke kamar Raf.
"Biar saya saja yang rapikan tuan, Anda silahkan beristirahat" Ayu mulai mengumpulkan semua balok kecil yang berserakan dilantai untuk dimasukkan ke dalam kardus.
"Ah tidak apa-apa, hanya sedikit ini" Ron membantu Ayu mengumpulkan ke dalam kardus.
Setelah memastikan semua balok sudah beres, Ron kemudian meraih kotak tissue dan mulai membersihkan wajahnya.
"Loh, loh, loh???" Ron yang sudah menggosok wajahnya berulang kali tetap tidak dapat menghilangkan lipstick yang Menempel.
"Ada apa tuan?" Ayu melihat Ron yang mulai panik.
"Kenapa lipstick ini tidak bisa hilang ya?" tanya Ron.
"Benarkah?" Ayu yang penasaran kemudian memeriksa lipstick yang mereka pakai untuk bermain.
"Astaga, ini lipstick yang matte tuan, sepertinya ibu Maya tidak mengecek lagi tadi saat mengambil lipsticknya" Ayu menjelaskan.
"Harus pakai cairan pembersih khusus" Ayu menjelaskan lagi.
"Apa kau punya?" Ron mendesah kesal karena usulnya memakai hukuman malah seperti senjata makan tuan.
"Sebentar biar saya ambilkan di kamar" Ayu berjalan cepat menuju kamarnya.
"Biar saya bantu tuan" Ayu kemudian mengoleskan kapas yang sudah diberi cairan pembersih ke wajah Ron secara perlahan dan dengan sangat telaten.
"Ternyata dia imut juga kalau diamati" Ron membatin sambil terus menatap wajah gadis di depannya tanpa berkedip.
"Sudah tuan" Ayu yang sudah selesai membersihkan wajah Ron baru menyadari kalau ternyata pria itu sedang menatap dirinya dengan intens.
__ADS_1
"Oh terima kasih ya" Ron salah tingkah saat Ayu menyadari kalau ia sedang mencuri-curi pandang.
"Saya permisi dulu" Ayu kemudian pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Ron yang masih salah tingkah sendiri.
.........
"Sayang belum tidur?" Ananda yang baru selesai menyusui Raf, masuk ke dalam kamar dan melihat suaminya masih berdiri di balkon kamar mereka.
"Kemarilah!" Mike mengulurkan tangannya memberi kode kepada sang istri untuk mendekat.
"Ada apa? apa yang sedang kau pikirkan?" Ananda berjalan mendekat.
"Tidak ada, Aku hanya sangat merindukanmu!" Mike meraih pinggang istrinya, memeluknya dengan erat dan mengecup bibir mungil Ananda dengan lembut.
"Ayah, ahhhhhhhh" tangan Mike sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Apa sudah bisa?" Mike menagih janji sang istri.
Ananda tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil tersenyum memberi lampu hijau bagi suaminya. Tanpa menunggu lama Mike langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Aku hampir gila menunggumu dari kemarin-kemarin!" Mike yang sudah berada diatas tubuh istrinya kembali mengecup bibir mungil itu dengan perlahan namun pasti, membuat Ananda merasa terbuai.
"Emmmhhhhhhh" Ananda menggeliat ketika Mike mulai mengeksplore setiap inci tubuhnya dan meninggalkan jejak cintanya dikulit putih mulus itu, sesaat kemudian ia pun mulai melakukan tugas utamanya sebagai seorang suami.
"Sayang, arghhhhhh!!" meskipun sudah berulang kali melahap istrinya, Namun Mike tetap saja seperti tidak pernah ada puasnya.
"Kau tau aku sudah hampir gila menunggumu selama ini!" Mike merangkul tubuh istrinya ke dalam pelukannya sesaat setelah mereka berada di puncak asmara.
"Benarkah? bukankah selama bertahun-tahun kau sudah terbiasa untuk tidak melakukannya?" Ananda memicingkan matanya tidak percaya.
"Itu berbeda sayang, dulu aku bisa menahannya karena memang suasana hatiku tidak dalam kondisi yang baik, lagi pula dulu aku hidup dalam kesendirian. Kalau saat ini, dengan adanya kau di sampingku dan suasana hatiku yang selalu bahagia, rasanya sangat berbeda, aku jadi merasa seperti orang gila jika harus berlama-lama menahannya!" Mengecup kening istrinya lembut.
__ADS_1
Baginya menahan diri untuk tidak menyentuh Ananda selama lebih dari satu bulan setelah melahirkan adalah sebuah cobaan yang sangat berat. Ibarat orang yang sedang kelaparan disuguhi ayam goreng namun hanya untuk ditatap tanpa boleh dimakan.
"Terima kasih karena kau sudah hadir di hidupku dan memberikan kebahagiaan yang tak ternilai!" Mike menatap wajah istrinya dan membelainya dengan lembut.