
"Kau harus bertanggung jawab atas semua kekacauan ini!" nyonya Ruth terlihat sangat murka saat bertemu dengan putra tunggalnya.
"Mom, sejak awal aku kan sudah menolak perjodohan itu, tapi Mom terus saja memaksaku!" Ron membela diri.
"Mau ditaruh dimana muka Mom mu ini Ron?" nyonya Ruth terlihat emosi.
"Ruth tenanglah, jangan terbawa emosi, nanti penyakitnya bisa kambuh!" Nyonya Merlyn mengingatkan.
"Lihatlah kak, betapa bodohnya anak ini! dia pikir berapa usianya sekarang? kenapa sikapnya masih seperti anak-anak? dia bahkan tidak pernah merasa bersyukur dengan kehidupannya yang serba kecukupan!" Ruth seperti ingin menumpahkan segala kekecewaan yang selama ini ia pendam seorang diri.
"Mom, plisssssss!!!" Ron hanya bisa pasrah mendengarkan semua omelan ibunya. Ia tau bahwa pembelaan diri seperti apapun tidak akan membuatnya diampuni.
Sementara Mike hanya bisa melihat drama pertengkaran keluarganya tanpa mau terlibat di dalamnya secara langsung. Dia berada di ruang kerja bersama mereka hanya ingin memastikan bahwa semua tetap berjalan dengan semestinya. Hanya nyonya Ruth yang mengomel, Ron yang pasrah mendengarkan omelannya serta nyonya besar Merlyn yang menjadi penengah antara ibu dan anak itu.
..........
__ADS_1
"Bagaimana sayang?" Ananda terlihat sangat cemas saat sidang keluarga sedang berlangsung.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semua berjalan seperti yang seharusnya" Mike menjawab apa adanya.
"Aunty baik-baik saja kan?" Ananda mencemaskan kesehatan Ruth.
Nyonya Ruth memang sering kali drop karena terlalu memikirkan anaknya itu. Ia sering mendengar keluhan dari ibu mertuanya bahwa tantenya sering mengalami hipertensi karena khawatir dengan nasib anaknya yang seperti sibuk dengan diri sendiri tanpa memikirkan masa depannya sama sekali.
"Sejauh yang aku amati aunty sepertinya sangat puas dan lega bisa menumpahkan semua isi hatinya" Mike menenangkan istrinya.
"Apa ayah tidak mau membantunya sama sekali?" Ananda sungguh kasihan melihat Auntynya yang begitu sedih.
Namun demikian, Ananda tetap masih merasa tergelitik untuk membantu auntynya itu. Setelah ia mengandung dan melahirkan Raf, nalurinya sebagai seorang ibu semakin terasah dengan kuat. Ia paham bahwa auntynya melakukan semua itu semata-mata karena ingin yang terbaik untuk anaknya, sama seperti dulu saat ibu mertuanya memohon pada dirinya untuk bersedia menikahi Mike dan menjadi ibu sambung bagi Gaby.
"Semoga Ron bisa melunakkan hatinya sedikit saja" doa Ananda di dalam hati.
__ADS_1
..........
"Uhhhhh cucu grandma gemasnya!" nyonya besar Merlyn terlihat seolah ingin menggigit pipi bakpau Raf.
"Tampan sekali sih Anderson juniorku ini!" nyonya Ruth juga tidak mau kalah mencolek dan mencubit gemas pipi gembul itu.
Duo grandma itu sangat heboh bermain dengan Raf. Mereka berdua seperti anak kecil yang menemukan mainan baru yang sudah sejak lama mereka impikan. Bahkan sejenak nyonya Ruth terlihat seperti sedang tidak memiliki masalah berat sama sekali.
"Kak Ron, sepertinya aunty sudah ingin sekali menimang cucu, apa kau tidak ingin memberinya hadiah cucu seperti kami yang baru saja memberikannya kepada Mama Merlyn?" Ananda memancing.
"Ah kakak ipar, kau ini bisa saja!" Ron hanya tertawa garing.
"Aku memang bukan siapa-siapa kak, aku hanya menantu di rumah ini, usiaku juga masih jauh dibawahmu, tapi percayalah bahwa aku sangat paham apa yang aunty rasakan saat ini, naluri keibuanku melihat betapa aunty merindukan kebahagiaan anaknya, ia hanya ingin yang terbaik untuk hidupmu!" Ananda menatap auntynya yang sedang bermain-main bersama Raf dengan sendu.
"Aku akan memikirkannya kakak ipar!" Ron menarik nafas berat. Ia sadar bahwa apa yang dikatakan iparnya ini adalah kebenaran.
__ADS_1
"Semoga kelak kak Ron mendapatkan yang terbaik ya, aku akan selalu membawamu dalam doaku" Ananda mengelus lengan Ron sebagai bentuk dukungannya.
"Terima kasih kakak ipar" Ron tersenyum melihat ketulusan Ananda.