Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Permen


__ADS_3

"Permisi tuan, ini pesanan yang Anda minta" seorang pelayan menyodorkan sebuah bungkusan plastik kepada Mike.


"Terima kasih ya" kata Mike sambil meraih bungkusan itu.


"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu" kata pelayan itu dengan hormat.


"Ya" Mike tersenyum kepada sang pelayan.


"Apa itu?" tanya Ron penasaran saat Mike memegannya.


"Permen" jawab Mike singkat.


"Sejak kapan kau suka makan permen?" Ron memicingkan matanya karena heran dengan sikap sang kakak. Sejak kecil Mike memang tidak begitu suka permen, ia tidak mau giginya rusak akibat makanan manis.


"Sejak istriku melahirkan" jawab Mike seadanya.


"Memang apa hubungannya?" Ron masih tidak paham.


"Tentu saja ada hubungannya!" kata Mike sambil membuka bungkus plastik permen itu.


"Kau ini aneh sekali!" Ron benar-benar tidak habis pikir.


"Ini untukmu!" setelah menghitung sebanyak tiga puluh lima butir, kemudian Mike memberikan sisa permennya yang berjumlah lima belas butir kepada sang adik.


"Kenapa kau pakai menghitungnya segala?" Ron melihat Mike menghitung ulang permennya yang hanya berjumlah tiga puluh lima butir itu.

__ADS_1


"Karena aku hanya butuh tiga puluh lima butir saja!" jumlah satu bungkus permen itu ada lima puluh butir.


"Untuk apa?" Ron menyecar.


"Berapa usia baby Sera sekarang?" tanya Mike kepada Ron.


"Lima hari" kata Ron cepat.


"Kalau aku memakan permen ini sehari sebutir, berapa hari aku bisa menghabiskan semua permen yang aku punya?" Mike bertanya lagi.


"Tiga puluh lima hari" Ron seperti memecahkan teka-teki.


"Lima hari ditambah tiga puluh lima hari jadi berapa?" Mike meminta Ron berhitung.


"Empat puluh hari" jawab Ron.


"Itu apa?" Ron seperti orang bodoh.


"Kau tidak tau? empat puluh hari setelah istri melahirkan!" Mike mengerutkan dahi.


"Kenapa dengan empat puluh hari setelah melahirkan!?" Ron bingung.


"Kau benar-benar tidak tau?" Mike sangat takjub dengan kebodohan sang adik.


"Tidak, memangnya kenapa?" Ron tegas.

__ADS_1


"Dengar ya, setelah istri kita melahirkan, maka mereka akan memasuki fase nifas selama empat puluh hari ke depan" jelas Mike.


"Apa itu nifas?" Ron lagi-lagi dibuat bingung.


"Nifas itu adalah masa dimana istri kita akan mengeluarkan sisa-sisa kotoran dari tubuh mereka setelah proses mengandung dan melahirkan, kira-kira seperti saat datang bulan, nah selama itu maka kita akan puasa!" jelas Mike lagi.


"Ohhhhhhh" Ron manggut-manggut.


"Whattttttt????" teriak Ron kemudian saat sudah mencerna semua informasi yang ia terima.


"Iya, kita harus puasa empat puluh hari!" Mike berbisik di telinga adiknya untuk menggoda.


"No way!" Ron menggeleng keras.


"Mau tidak mau kau harus mau!" Mike benar-benar puas melihat wajah sang adik yang pias.


"Mana tahan selama itu!?" Ron frustasi.


"Makanya aku memakai permen ini sebagai media berhitung, sebutir sehari untuk membantuku menahan sabar, nanti kalau permennya sudah habis artinya aku bebas!" Mike tersenyum puas melihat sang adik menggila.


"Tidak, aku tidak mau seperti itu!" Ron menolak keras.


"Kau tidak punya pilihan!" Mike beranjak dari tempatnya.


"Lalu nanti aku harus bagaimana?" Ron putus asa membayangkannya.

__ADS_1


"Tenang, aku akan menghadiahkan sebungkus permen untukmu, jadi kau bisa menggunakannya untuk berhitung mundur sampai hari kebebasanmu nanti!" Mike menepuk bahu sang adik sesaat sebelum pergi meninggalkannya sendirian dengan perasaan yang frustasi.


"Hey beri aku tips dulu, Mike!" Ron berteriak, namun tak digubris oleh sang kakak yang malah tergelak melihat adiknya menderita.


__ADS_2