
"Bun, bunda!" Ananda mulai merespon ketika ia merasakan air mata Gaby membasahi wajahnya.
"Sayang, ini Mama nak!" nyonya besar mendekatkan wajahnya ke wajah Ananda.
"Gaby, Mama" Ia masih bolak balik mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Sayang, panggil ayahmu!" nyonya besar meminta Gaby memanggil Mike yang sedang tidak ada di dalam ruang rawat.
"Ayahhhhh, ayahhhhh!" Gaby berteriak-teriak histeris memanggil Mike.
"Gaby, ada apa?" Mike yang merasa dipanggil langsung terlihat pias, khawatir terjadi hal buruk terhadap istrinya.
"Bunda yah, bunda!" Gaby tidak bisa menjelaskan saking senangnya, ia hanya bisa mengembangkan senyum di wajahnya.
"Kenapa bunda?" Mike kemudian berlari menuju tempat istrinya dirawat tanpa menunggu jawaban dari Gaby.
"Ayo nona!" George menggandeng tangan Gaby lalu mereka pun mengejar Mike.
"Sayang, kau sudah sadar?" Mike tidak kuasa membendung air mata bahagianya saat melihat wanita yang sangat ia cintai kembali membuka mata dan tersenyum kepadanya.
"Ayah" suara Ananda begitu lirih.
"Istirahatlah dulu, biar dokter memeriksamu" Mike mengecup kening istrinya lembut sebelum membiarkan dokter melakukan tugasnya.
"Bagaimana dok?" tanya Mike antusias.
"Kondisinya sudah mulai pulih, kita akan observasi lebih lanjut, jika memang tidak ada keluhan yang berarti, tidak lama lagi nyonya sudah bisa kembali pulang ke rumah" kata sang dokter memberi penjelasan.
__ADS_1
"Terima kasih dokter" Mike menatap istrinya dengan rona bahagia.
"Kalau begitu saya permisi dulu" sang dokter berpamitan.
.........
"Bagaimana perasaanmu saat ini sayang?" tanya Mike ketika dokter sudah pergi.
"Kepalaku masih sedikit sakit, tapi aku tidak apa-apa" jawab Ananda lemah.
"Istirahatlah aku akan menjagamu disini!" Mike menggenggam tangannya.
"Bunda, apa boleh aku memelukmu?" Gaby terlihat takut-takut.
"Sini sayang" Ananda merentangkan tangannya masih dalam posisi tidur.
"Hey, apa yang ditakutkan?" Ananda mengelus rambut putrinya dan mengecup keningnya dengan perlahan untuk menenangkan.
"Aku kira bunda tidak akan bangun lagi seperti ibu!" tubuh gadis cilik itu kian bergetar karena Isak tangisnya pecah.
"Uhhhh sayanggg, maaf ya bunda bikin kamu jadi takut!" Ananda mempererat pelukannya.
"Sekarang bunda kan sudah bangun, Gaby jangan nangis lagi ya" Ananda menghapus air mata di wajah putrinya.
"Boleh tidak aku disini dulu sebentar?" Gaby tidak mau turun dari tempat tidur.
"Mau lama juga boleh" kata sang bunda.
__ADS_1
"Lalu ayah sama siapa?" Mike membangun suasana.
"Ayah tidur di sofa saja!" Gaby menunjuk sofa di sebrang tempat tidur.
"Astaga, sedihnya ayah" memasang wajah menangis, membuat istri dan anaknya tergelak.
Sementara nyonya besar yang mengamati mereka dalam diam sangat bersyukur "Akhirnya ketakutanku hilang sudah!" batinnya sambil tersenyum bahagia menyaksikan ketiga orang yang ia sayangi tertawa lepas setelah melewati masa-masa sulit selama beberapa hari belakangan ini.
.........
"Apa sudah ada perkembangan?" Maya menghampiri suaminya yang habis menerima telpon dari seseorang.
"Seperti yang kita duga!" George menarik nafas dengan berat lalu mendudukan dirinya di sebelah sang istri yang juga baru saja duduk di depan ruang perawatan Ananda.
"Dia sangat berani, ini sudah melewati batas kewajaran sayang!" Maya menunjukkan mimik wajah serius.
"Kita akan bicarakan semuanya setelah Mike selesai dengan urusan kesehatan Ananda" George menunggu saat yang tepat.
"Tapi bagaimana kalau dia sampai lolos?" terlihat gurat cemas.
"Aku sudah mengutus orang untuk mengikutinya kemana pun dia pergi, jadi jangan khawatir!" George memberikan jaminan.
"Apa kita akan memberitahukan kedua orang tuanya?" Maya penasaran.
"Tergantung Mike, kalau dia menginginkannya, maka aku akan dengan senang hati mendatangi mereka!" George menjelaskan dengan senyum misteriusnya.
"Semoga saja ini yang terakhir, jangan sampai ada korban-korban lain yang senasib!" Maya merinding membayangkannya.
__ADS_1