
"Aduh Ayah!" Ananda yang sudah kembali ke dalam ruang makan setelah Mike berangkat kerja terkejut saat melihat berkas kontrak kerja yang baru saja diprint tertinggal di meja makan. Tadi mike memang melupakannya begitu saja karena fokus mengendong Raf agar tidak menangis lagi, sehingga yang di bawa ke luar rumah hanya tas dan jas saja seperti kebiasaannya setiap pagi.
"Kenapa kak?" tanya Ayu.
"Berkasnya ketinggalan!" Ananda memegang berkas itu.
"Yahhhh, terus bagaimana?" Ayu juga terkejut.
"Biar nanti kakak yang antar langsung ke kantornya sekalian berangkat kuliah" kata Ananda.
"Perlu Ayu temani?" tanya Ayu.
"Tidak usah, kalian berangkat saja biar tidak kesiangan" kata Ananda kepada adik dan putrinya.
Hari ini jadwal kuliah Ayu memang sedang tidak sama dengan Ananda, Ayu ada kelas pagi, sementara Ananda agak lebih siang. jadi Ayu memang lebih cocok berangkat menumpang dengan mobil Gaby yang jadwal berangkatnya hampir sama.
"Lalu kakak bagaimana?" Ayu masih mencoba ingin menemani.
"Kan ada Sita dan Abigail yang akan menemani kakak" Ananda menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu kami berangkat ya kak, Ayo Gaby!" setelah mencium tangan Ananda, Ayu menggandeng tangan Gaby dan berjalan ke arah depan.
"Bun, aku berangkat dulu ya" pamit Gaby.
"Iya sayang, belajar yang pintar ya" Ananda mengelus kepala putrinya dengan lembut.
"Oke bunda" jawab Gaby dengan riang.
..........
"Ananda!" panggil seorang wanita saat Ananda sudah memasuki lobby kantor cabang baru milik keluarga Anderson.
"Bu Fani?" Ananda senang karena akhirnya melihat seseorang yang ia kenal di kantor ini.
"Kamu ngapain disini, sudah lama ya kita tidak bertemu? katanya kamu sudah punya anak ya?" Fani dan Ananda berpelukan.
"Iya Bu, anak saya sudah hampir satu tahun" kata Ananda saat mereka melepaskan pelukannya.
"Wahh sudah besar ya? Oya kamu mau ketemu pak bos ya pastinya?" Fani menggoda Ananda dengan mengerlingkan matanya.
"Iya Bu, ruangannya di mana ya? saya baru pertama kali ke sini!" kata Ananda polos.
"Ya ampun Bu bos, saking kayanya sampai-sampai tersesat di perusahaan milik sendiri hehehe" Fani berseloroh.
Ananda memang tidak tau menau sama sekali urusan perusahaan Anderson, ia hanya pernah sekali menjadi bagian di kantor pusat saat dirinya praktek untuk mengambil nilai akhir semester, selebihnya ia benar-benar buta. Hari ini jika tidak bertemu Fani, ia pun pasti akan kebingungan mencari dimana ruangan suaminya berada.
"Aku kan hanya kenal orang-orang di kantor pusat saja Bu, kalau disini tidak ada sama sekali" kata Ananda sambil mengedarkan pandangannya menatap karyawan yang sedang lalu lalang.
"Iya sih, di sini tuh karyawannya baru semua, hanya para pemimpin saja yang sebagian diperbantukan untuk memantau kinerja staf baru" kata Fani.
"Oh, jadi hanya petinggi yang sejajar seperti Bu Fani dan pak Gusti saja ya yang bertugas di sini dari kantor pusat?" Ananda menyanjung.
"Issshhh apa sih, aku ini hanya staf biasa, kaulah yang petinggi sesungguhnya" Fani menyanjung balik.
"Oya Bu, ngomong-ngomong dimana ya ruangan suami saya?" tanya Ananda lagi pada akhirnya.
__ADS_1
"Ayo aku antar" Fani menggandeng lengan Ananda menuju lift khusus para petinggi.
"Nah ini dia ruangannya" Fani menunjuk sebuah pintu yang paling besar dan bagus diantara jejeran pintu lain setelah mereka keluar dari lift.
"Terima kasih ya bu" kata Ananda.
"Iya, sama-sama, kalau begitu aku tinggal ya" Fani kemudian berbalik menuju ruangannya sendiri yang berada satu lantai di bawah ruang kerja Mike.
..........
Setelah mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada yang menjawab, akhirnya Ananda memutuskan langsung masuk dan menunggu suaminya datang sambil mengirimkan pesan singkat kepada Mike kalau dirinya sedang berada di ruangannya.
"Ayah dimana? bunda ada di ruang kerja ayah mengantar berkas yang tadi tertinggal di meja makan" kata Ananda dalam pesannya.
"Ayah sedang meeting Bun, bunda bisa tunggu sebentar tidak? jadwal kuliah bunda masih agak siang kan? Ayah sebentar lagi selesai meeting kok!" balas Mike.
"Oke, bunda tunggu ya" Ananda tidak lupa memberi emoticon kiss di akhir kalimatnya.
"Kamu siapa?" tanya seorang wanita muda berpenampilan seksi yang baru saja masuk ke ruangan Mike.
"Ini, saya mengantarkan berkas untuk Tuan Mike" kata Ananda tanpa menyebutkan identitasnya.
"Sudah bikin janji sama Tuan Mike sebelumnya? kok saya tidak tau ya kalau akan ada tamu yang berkunjung ke sini?" tanyanya sambil menatap Ananda yang berpenampilan sederhana seperti layaknya mahasiswa biasa dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ananda memang tidak pernah merubah penampilannya sama skali, ia tetap senang dengan gaya casual dan sederhana, yang membedakannya antara pakaiannya dulu dan kini hanyalah pada merk bajunya saja. Saat ini semua yang dikenakannya adalah pakaian-pakaian bermerk mahal semua. Mike yang memiliki perusahaan fashion ternama selalu memberikan semua produk terbaru dan termahalnya untuk dipakai oleh sang istri.
"Em belum, tadi pagi kebetulan berkas ini tertinggal saat Tuan Mike sedang sarapan, jadi saya sengaja mengantarkan kesini sekalian berangkat kuliah" kata Ananda menjelaskan.
"Ya sudah sini berikan berkasnya kesaya, biar nanti saya berikan sama tuan Mike!" wanita itu ingin meraih berkas yang ada ditangan Ananda namun Ananda menepisnya.
"Kamu ini mau apa sebenarnya? kalau hanya ingin mengantar berkas, ya sudah berikan saja kepada saya, saya ini sekretaris pribadi tuan Mike, jadi semua berkas yang di serahkan kepada Tuan Mike pasti akan jatuh ke tangan saya juga pada akhirnya!" wanita itu kesal karena Ananda menolak memberikan berkas itu padanya.
"Maaf nona tapi saya ingin bertemu dan menyerahkan langsung berkas ini kepada tuan Mike" kata Ananda masih dengan sopan.
"Baiklah, kalau memang kamu tidak bisa dikasih tau dengan cara baik-baik, maka saya akan pakai cara yang lain" wanita itu mulai geram, ia meraih gagang telpon dan memanggil security untuk datang ke ruangan Mike.
"Ada apa Bu Keiko?" tanya security yang sudah tiba di dalam ruangan.
"Tolong usir dia dari ruangan ini!" wanita yang ternyata bernama Keiko itu menunjuk Ananda dengan tidak sopan.
"Maaf nona, silahkan keluar" Security itu menjalankan perintah.
"Pak, saya hanya ingin menunggu Tuan Mike sebentar saja" Ananda memohon.
"Maaf nona, sesuai peraturan yang berlaku, tidak bisa sembarang orang masuk ke ruangan presiden direktur" security berkata dengan sopan.
"Tarik saja dia!" Keiko menuding Ananda dengan tatapan sinis.
"Maaf nona kalau saya harus menarik Anda dengan paksa" security itu akhirnya menarik lengan Ananda untuk keluar ruangan.
"Pak tolong sebentar saja" Ananda yang kalah dari segi tenaga sudah terseret mendekati lift.
"Ada apa ini?" Mike yang baru keluar dari lift menatap Keiko.
"Ini pak, ada seseorang yang masuk ke ruangan Anda tanpa ijin" Keiko menunjuk Ananda.
__ADS_1
"Bunda!?" Mike yang sadar bahwa istrinya lah yang dimaksud, langsung geram dan menepis tangan security dari lengan Ananda dan segera memeluk istrinya dengan lembut.
"Ayah" Ananda hanya berkata dengan lirih dipelukan sang suami.
"Siapa yang menyuruhmu?" Mike menatap sang security dengan tatapan ingin membunuh.
"Ma maaf tuan, saya diperintah oleh Bu Keiko" security yang ketakutan langsung menunjuk Keiko.
"Keiko, siapa yang memerintahkanmu mengusir istriku hah?" Mike meninggi membuat Keiko pias seketika.
"Maaf tuan, saya tidak tau kalau ternyata nona ini adalah istri Anda" suaranya bergetar.
"Lancang!" Mike benar-benar emosi.
"Sudah ayah, bunda tidak apa-apa" Ananda menenangkan suaminya.
"Minta maaf segera!" Mike membentak kedua orang yang telah mengusir istrinya itu.
"Maafkan kami nyonya" Keiko tertunduk malu.
"Maafkan saya nyonya" kata security itu juga.
"Tidak apa-apa, kalian kembalilah bekerja, namun lain kali mohon jika ada masalah jangan langsung ambil tindakan kasar, kalian bisa lapor dulu kepada atasan sebelum memperlakukan orang lain dengan tidak sopan!" kata Ananda dengan lembut.
"Kalian lihat? betapa istriku sangat baik hah? kalau orang lain pasti kalian sudah di pecat!" Mike mendengus kesal.
"Maaf" hanya itu kata yang keluar dari mulut merek berdua.
"Sudah sana!" Mike yang paham bahwa istrinya tidak suka memperpanjang masalah kemudian membawa Ananda masuk ke dalam ruangannya.
"Bunda baik-baik saja kan?" tanya Mike.
"Iya, bunda tidak apa-apa" kata Ananda.
"Sepertinya besok ayah harus memasang foto bunda yang paling besar di setiap sudut kantor cabang, supaya mereka mengenali bunda dan bersikap sopan" Mike benar-benar menyesal atas kejadian barusan.
"Sudahlah ayah, jangan begitu!" kata Ananda.
"Tapi ngomong-ngomong, apakah memang setiap sekretaris presiden direktur selalu berpakaian seksi seperti itu ya?" Ananda menatap jengah ke arah Mike.
"Hah?" Mike tidak paham.
"Itu tadi sekretaris pribadi ayah kenapa seksi sekali?" Ananda agak risih.
"Apa bunda cemburu?" Mike memeluk istrinya dan mengendus-endus daun telinganya, membuat Ananda kegelian.
"Bukan cemburu, hanya rasanya tidak sopan saja kalau bekerja dengan model baju seperti itu!" Ananda berpendapat.
"Baiklah nyonya presdir, kalau begitu mulai besok akan hamba buatkan peraturan baru di semua kantor cabang yang mengatur bahwa setiap karyawan wanita wajib berpakaian tertutup dan tidak ketat supaya tidak menggoda iman para lelaki!" Mike kemudian mengecup bibir istrinya lembut.
"Tapi kalau khusus nyonya Presdir boleh kan berada di kantor ini tanpa berpakaian sama sekali?" kata Mike lagi yang kini sudah tidak bisa mengkondisikan tangannya.
"Ayah ihhhhhh" Ananda menepis tangan suaminya.
"Ayo Bun" kemudian Mike pun menggendong Ananda menuju ruang istirahatnya yang berada di belakang meja kerjanya untuk memulai pertarungan mereka.
__ADS_1