
Setelah tiba di tempat acara berlangsung, Ayu mencari teman satu timnya yang sudah tiba di lokasi lebih dahulu.
"Ayu, sini yuu!!!" seorang pria sekitar dua puluh dua tahun melambaikan tangannya ke arah Ayu.
"Kak Tian" Ayu membalas lambaian tangannya dan menghampiri kursi pria itu.
"Kamu sama siapa?" Pria bernama Tian itu menatap Ron dan Gaby secara bergantian.
"Oh ini kak Ron dan Gaby" Ayu memperkenalkan Tian kepada Ron dan Gaby.
"Halo, salam kenal, saya Tian" sapanya dengan senyum.
"Hai, saya Ron" menjawab dengan gaya keren.
"Halo kak Tian, Aku Gaby" kata nona cilik itu riang.
"Hai Gaby" Tian membalas dengan ramah.
"Oh ya, ini body protectornya" Tian menyerahkan jaket pelindung tubuh untuk dikenakan Ayu saat bertanding.
"Makasih ya kak" kata Ayu sambil mengenakannya.
"Sini aku bantu" dengan sigap Tian berputar mengelilingi Ayu, memastikan pelindungnya terpasang dengan benar.
"Cih, mencari-cari kesempatan saja dia!" gerutu Ron dalam hati saat melihat Tian memastikan pelindungnya terpasang sempurna, seolah-olah menggerayangi tubuh Ayu.
"Sudah selesai" Tian yakin sudah terpasang sempurna.
__ADS_1
"Terima kasih" Ayu tersenyum.
"Semangat ya!" Tian mengacak-acak rambut adik kelasnya itu.
"Kak Tian ihhhh, berantakan tau!" protes Ayu sambil mengerucutkan bibir dan membuat Tian tergelak, sementara Ron makin berdecak kesal di dalam hati.
"Kak Ron dan Gaby aku tinggal ya, kalian duduk disini tidak apa-apa kan?" Ayu bersiap menuju lapangan saat namanya sudah dipanggil untuk bersiap-siap bertanding.
"Semangat kak Ayu!" Gaby menjadi supporter utama.
"Good luck!" Ron mengedipkan matanya, membuat Ayu merah merona.
.........
"Ayu!" pekik Ron saat gadis itu jatuh terpelanting akibat tendangan dari lawannya. Terlihat darah segar mengucur dari bibir mungil Ayu.
"Tapi dia berdarah!" Ron sangat khawatir.
"Nanti diobati setelah selesai tanding" kata Tian santai.
"Sok tau sekali, memang kau pacarnya?" Ron kesal dengan sikap Tian.
"Aku memang bukan pacarnya, tapi aku tau Ayu adalah gadis yang kuat!" Tian tidak melepaskan pandangannya dari Ayu.
Sementara jantung Ron bergemuruh saat melihat Ayu semakin tersudut oleh lawan. Antara rasa kagum dan juga khawatir. Jika itu terjadi pada wanita-wanita yang selama ini ia kencani, pasti mereka sudah menangis tersedu-sedu atau bahkan pingsan.
"Ayo kak Ayu, bangun, lawan!" Gaby berteriak sekuat tenaganya sampai suaranya melengking sangat tinggi.
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja Ayu berdiri dan melawan dengan segala kekuatannya. Ia seperti membabi buta membalas segala serangan yang tadi diperolehnya.
"Yes, good job sweety!" Ron berteriak kala mendengar pengumuman dewan juri bahwa Ayu lah pemenangnya.
.........
"Selamat ya yu" Tian yang juga akan maju bertanding di sesi berikutnya spontan memeluk Ayu saat gadis itu berjalan dengan membawa piala kemenangannya ke pinggir lapangan.
"Terima kasih kak" Ayu membalas pelukan itu dengan hangat.
"Masih sakit?" Tian meraba bibir Ayu yang tadi mengeluarkan darah.
"Issshhh mana ada sakit sih? cuma luka kecil doang!" Ayu menganggap itu bukan apa-apa.
"Ya sudah sini, kakak mau turun" Tian melepas pelindung tubuh Ayu dan memakainya di tubuhnya.
"Good luck kak!" Ayu menepuk bahu Tian tanda memberi dukungan, dibalas oleh Tian dengan mengacak-acak rambutnya.
Sementara Ron yang mengamati interaksi keduanya dari kejauhan di kursi penonton hanya bisa menahan kesal. Ia menganggap Tian terlalu berlebihan memperlakukan Ayu.
"Maaf ya menunggu lama" Ayu yang sudah mendekat kemudian duduk di sebelah Ron.
"Apa kau baik-baik saja?" Ron menatap wajah Ayu yang merah lebam.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja" kata Ayu sambil tersenyum.
meskipun Ayu berkata baik-baik saja, namun Ron tetap penasaran dan memegang wajah gadis itu serta mengamatinya dengan seksama.
__ADS_1
"Kak, aku tidak apa-apa" Ayu berusaha menjauhkan wajahnya dari tangan Ron.