Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Tanpa berfikir panjang, Ron langsung meninggalkan arena pertandingan bela diri dan berangkat menuju Ibukota. Sepanjang jalan hatinya merasa gelisah, sebenarnya ia cukup percaya diri untuk meyakini bahwa pria yang disukai Ayu adalah dirinya, namun ia juga takut kalau ternyata Tian hanya mempermainkannya dan Ayu sudah memiliki pria lain.


"Kak Ron?" Ananda terkejut ketika Ron tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kakak ipar" Ron terengah-engah karena berlari dari halaman menuju ruang makan.


"Ada apa?" Ananda bingung.


"Ayu dimana?" Ron mengedarkan pandangannya keseluruh sudut rumah.


"Ayu di kamarnya, dia sedang demam" Ananda menjelaskan.


Tanpa berkata apa-apa lagi, akhirnya Ron berlari ke arah kamar Ayu.


BRAK...


"Kak Ron?" Pintu kamar terbuka lebar, Ayu yang sedang duduk bersandar di tempat tidur terperanjat karena terkejut.


"Ayu" Ron mendekap tubuh mungil Ayu dengan erat.


"Kak, ada apa?" Ayu masih belum paham dengan situasi.


"Maafkan aku!" Ron melepaskan pelukannya dan menatap mata Ayu dengan dalam.


"Untuk apa kak?" tanya Ayu yang masih bingung.

__ADS_1


"Maaf karena aku tidak berani mengungkapkan perasaanku kepadamu selama ini!" Ron mengelus pipi gadis itu dengan lembut.


"Kak, sebenarnya ada ap.." belum sempat Ayu melanjutkan pertanyaannya, Ron sudah membungkam bibir mungil itu dengan sebuah kecupan lembut.


"Aku mencintaimu Ayu" Ron menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis kesayangannya itu.


"Kakkk" Ayu tidak bisa berkata-kata lagi, hanya air mata yang menetes di pipinya yang sedang merah merona itu karena demam.


"Maaf kalau selama ini aku menyakitimu" Ron menghapus air mata Ayu.


"Maukah kau menikah denganku?" Ron dengan spontan melamar Ayu.


"Kakkk" Leher Ayu tercekat, ia tidak bisa berkata-kata sama sekali.


"Ini hanya mimpi kan? pasti karena efek obat tidur yang Ayu minum!" gadis itu menggelengkan kepalanya untuk memastikan kesadaran dirinya penuh.


Bagi Ayu mendengar pernyataan cinta dari Ron seperti mimpi di siang bolong, terlebih saat ini dirinya sedang sakit, jadi seolah-olah dia sedang mengigau akibat terpengaruh oleh obat tidurnya.


"Tidak sayang, ini nyata, ini aku Ron, aku mencintaimu!" Ron tersenyum penuh harap.


"Kak Ron" Ayu meraba wajah Ron untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi dan sontak air matanya kembali jatuh, bahkan lebih deras dari sebelumnya saat dia menyadari bahwa ini bukan mimpi.


"Sayang jangan menangis lagi, aku mohon" Ron kembali mendekap erat tubuh Ayu yang mulai bergetar menahan tangisnya.


"Kak Ron jahat!" Ayu memukul punggung Ron untuk melampiaskan emosinya yang campur aduk.

__ADS_1


"Sayang maaf" Ron membelai rambut Ayu dengan lembut.


"Kenapa baru datang sekarang?" Ayu masih belum bisa menghentikan tangisannya.


"Maaf, aku memang bodoh" Hanya itu kata yang bisa Ron uacapkan sebagai bentuk penyesalannya.


Cukup lama mereka berpelukan dalam diam sampai akhirnya Ayu tenang dan tidak menyalahkan Ron lagi.


"Apa masih sakit?" Ron meraba wajah manis gadis di depannya.


"Hanya masih sedikit demam" kata Ayu.


"Kalau begitu istirahatlah, aku akan menemanimu di sini" Ron mengecup punggung tangan Ayu dengan lembut.


"Apa kakak akan menginap di sini?" Ayu penasaran.


"Tentu saja" setelah semua yang terjadi baru saja, Ron akhirnya bertekat untuk kembali ke ibukota demi bisa terus berada di dekat kekasih hatinya itu.


"Sekarang istirahatlah, aku akan menjagamu" Ron membelai pipi Ayu.


"Hemmm" Ayu mengangguk kemudian merebahkan dirinya untuk beristirahat. Sedangkan Ron duduk ditepi tempat tidur dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat sambil terus menatap wajah Ayu yang terpejam dengan perasaan bahagia.


Sementara di luar kamar, Ananda tersenyum bahagia melihat interaksi antara dua orang itu. Sejak lama Ananda memang sudah menduga-duga bahwa ada sesuatu diantara mereka, namun ia tidak mau mendahului Ayu untuk membahasnya, ia tau bahwa Ayu sangat sungkan membahas tentang kehidupan percintaannya.


"Doaku, semoga kalian bisa terus bahagia sampai ke jenjang berikutnya!" kata Ananda dalam hati, kemudian iapun kembali ke dapur dan melanjutkan aktivitasnya untuk menyiapkan makan malam.

__ADS_1


__ADS_2