Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO

Gadis Yatim Piatu Kesayangan CEO
Tuan Muda Rafael


__ADS_3

"Bunnnn" Mike melingkarkan tangannya ke pinggang Ananda saat istrinya sedang melepaskan dasi dari lehernya.


"Hemmm" Ananda sudah paham betul gelagat suaminya jika sudah begini.


"Memangnya belum boleh ya?" Mike memasang wajah memelas.


"Kan baru tiga minggu yah, sabar ya, sebentar lagi!" Ananda kini beralih membuka kancing kemeja sang suami.


"Kenapa lama sekali sih?" Mike sangat frustasi.


"Sekarang lebih baik ayah mandi saja ya biar segar, bunda akan siapkan makan malam" Ananda mengalihkan pembicaraan supaya suaminya tidak semakin memanas.


"Kalau begitu temani ayah mandi saja ya? plisssssss???" Mike memohon.


Ananda yang tidak tega akhirnya mengabulkan permintaan sang suami. Namun sialnya belum sempat mereka menyalakan kran air, tiba-tiba pintu kamar diketuk oleh Gaby.

__ADS_1


TOK TOK TOK..


"Bunnnn,, Raf nangis" Gaby berbicara dari balik pintu kamar yang terkunci dari dalam.


"Sebentar sayang, bunda siapkan air mandi ayah dulu ya" Ananda menjawab sambil memakai kembali pakaiannya.


"Ayah mandi sendiri ya" Ananda pergi meninggalkan suaminya yang sudah menuju puncak ubun-ubun dengan santainya tanpa merasa berdosa sama skali saat mendengar anak laki-lakinya menangis.


"Arghhhhhh Tuan Muda Rafael, kenapa kau selalu menang banyak hah???" Mike akhirnya lebih memilih berendam air dingin di bathup untuk menenangkan dirinya.


..........


"Memangnya Raf belum kenyang juga ya Bun?" Gaby mengamati mimik wajah sang adik yang menangis ketika minta menyusu.


"Sepertinya masih haus kak" jawab sang bunda sambil bersiap menyusui kembali.

__ADS_1


"Raf apa kamu tidak kasihan sama bunda? dari tadi bunda tidak bisa ngapa-ngapain loh karena Raf nangis minta susu terus!" Gaby mengajak adiknya berbicara membuat sang bunda terharu.


"Terima kasih ya kak sudah mau bantu bunda jaga adik" Ananda membelai lembut rambut putrinya yang bersedia menjaga adiknya saat sang bunda sedang sibuk melayani ayahnya yang baru saja pulang kerja.


Sejak awal mengetahui dirinya hamil, Ananda memang sudah bertekad untuk mengasuh anaknya seorang diri tanpa bantuan pengasuh. Meskipun sering kewalahan karena bayinya tidak pernah merasa kenyang menyusu, namun ia bersyukur karena suami dan putri pertamanya serta semua orang yang ada di sekitarnya selalu mendukung dan membantunya memenuhi semua yang ia butuhkan selagi ia menjaga bayinya.


"Aku kan sudah jadi kakak, jadi sudah kewajibanku menjaga adik!" Gaby membusungkan dadanya dengan bangga.


"Kakak yang hebat!" Ananda memujinya.


"Nanti kalau sudah besar, kakak dan adik harus selalu hidup rukun ya, saling menyayangi dan juga melindungi, oke!?" Ananda selalu memberikan pujian dan kalimat positif kepada Gaby, membuat putrinya selalu merasa disayang dan tidak tersisihkan.


Meskipun kini Ananda sudah memiliki anak kandung sendiri, namun baginya Gaby tetaplah Putri pertamanya. Ia bahkan selalu memprioritaskan semua keperluan Gaby. Saat pagi hari Gaby hendak berangkat ke sekolah, biasanya ia akan meminta tolong kepada Ayu untuk menjaga Rafael, setelah semua beres dan Gaby sudah berangkat menuju sekolah, barulah ia kembali mengurus bayinya.


"Bunda mau aku ambilkan makan malam?" tanya Gaby yang merasa kasihan karena sejak tadi adiknya selalu minta susu terus.

__ADS_1


"Terima kasih sayang, biar nanti bunda makan bareng ayah saja setelah Raf tidur, kasihan ayah nanti makan sendiri kalau bunda makan duluan sekarang" kata Ananda.


Sebisa mungkin Ananda tetap bersikap adil kepada semua orang yang ia sayangi, terlebih kepada sang suami yang beberapa waktu belakangan ini memang menjadi orang yang paling tersisih karena dirinya terlalu sibuk mengurus dua buah hati mereka.


__ADS_2