GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
99. Jangan Terlalu Lama Terlelap


__ADS_3

Toni tak sempat lagi meminta Wulan untuk mengikutinya. Ia langsung buru-buru berpakaian kemudian keluar kamar. Tanpa mengetuk lagi, Toni menerobos kamar ibunya. Kepala Perawat sedang duduk dengan wajah panik di sebelah Bu Anderson yang terlihat sangat pucat.


"Ayo, Sus.” Toni meraup tubuh mungil ibunya ke dalam dekapan. Di belakang Toni, ternyata Wulan sudah tiba. Wanita itu langsung menyongsong Toni yang berjalan tergopoh-gopoh sambil memeluk ibunya. Bu Anderson tak sadarkan diri.


"Rumah sakit mana, Mas? Biar aku yang nyetir," ucap Wulan, menjajari langkah suaminya.


Dua orang perawat juga ikut berlari di belakang mereka. Perawat yang lebih muda menenteng dua tas kecil yang sudah ia siapkan selagi Kepala Perawat memeriksa tanda-tanda vital Bu Anderson.


Toni langsung berbelok menuruni tangga. “Jangan kamu yang nyetir, aku aja. Enggak apa-apa, kamu di belakang temenin Mami.”


Berduyun-duyun mereka semua keluar dari pintu samping.


“Kunci mobil—kunci mobil!” teriak Wulan ke belakang, memerintah entah siapa yang bisa memberikan kunci mobil. Rupanya seorang asisten rumah tangga sudah berdiri di ambang pintu. Mendengar perkataan Wulan, ia langsung berlari ke meja panjang dan membuka laci.


“Kunci mobilnya, Bu.” Asisten rumah tangga yang baru kali itu bertemu dengan Wulan, menyerahkan kunci mobil. Lalu, ia membuka pintu yang menuju teras samping.


Wulan berlari mendahului Toni menuju mobil dan membuka pintu tengah.


“Sus, naik!” teriak Wulan, meminta perawat untuk lebih dulu masuk ke mobil. Setelah dengan cekatan membuka dan menutup jok bagian tengah, Wulan masuk dan meluruskan pahanya.


“Sini, Mas! Sini—” Wulan menepuk-nepuk pahanya.


Asisten rumah tangga membukakan pintu mobil bagi Toni. Pria itu langsung membawa tubuh Bu Anderson masuk dan meletakkan kepala ibunya di atas paha Wulan. Lalu, setengah berlari memutari mobil dan masuk ke belakang kemudi.


Belum tengah malam, bahkan lalu lintas di jalan raya masih padat. Toni melajukan mobilnya secepat yang ia bisa. Sambil sesekali ia menoleh kebelakang, untuk mengecek apakah ibunya masih bertahan.


“Mas—buruan Mas, Mami tangannya dingin banget.” Wulan memegangi tangan ibu mertuanya. Tangan wanita tua itu terasa sangat dingin di dalam genggamannya.


“Mami—Mami, jangan tidur sekarang, Mi …,” panggil Toni dari depan. “Lan, usap-usap pipi Mami. Panggil, Lan—panggil,” pinta Toni dari kursi depan.


Wulan mengikuti apa yang diperintahkan, ia mulai mengusap pipi ibu mertuanya. “Mami, sebentar lagi kita nyampe. Mami sabar,” ucap Wulan dengan suara bergetar.

__ADS_1


Sebenarnya rumah sakit itu tidak terlalu jauh, tapi suasana yang begitu mencekam membuat perjalanan terasa lama. Dalam perjalanan, Toni menelepon rumah sakit agar tim medis bersedia di depan UGD.


Bu Anderson langsung dinaikkan ke tempat tidur dorong sebegitu tiba di depan UGD. Toni mencampakkan kunci mobilnya kepada seorang satpam. Lalu, ikut berlari menyusul Wulan dan dua orang perawat yang mengiringi ranjang ke dalam bilik yang dikelilingi oleh tirai.


Kepala perawat menjawab semua pertanyaan dokter. Saat itu juga Bu Anderson dipasangi selang untuk membantunya bernapas melalui ventilator.


Bu Anderson mengalami syok kardiogenik karena kegagalan fungsi jantungnya memompa. Untuk melakukan diagnosa yang lebih tepat, saat itu juga dokter melakukan EKG. Syok kardiogenik bisa menyebabkan kondisi memburuk dalam waktu yang cepat, sehingga sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa.


Toni menyugar rambutnya saat mendengar penjelasan dokter. Iya hanya mengangguk-angguk saja menyetujui ketika Bu Anderson langsung didorong untuk memasuki ruang ICU.


Dalam hitungan menit, dua alat baru kembali terpasang dalam pada tubuh wanita itu. Extracorporeal membrane oxygenation (ECMO), untuk meningkatkan aliran darah dan suplai oksigen ke seluruh tubuh. Juga pemasangan alat pacu jantung, untuk mengembalikan irama jantung ke dalam kondisi normal.


Dengan kondisi Bu Anderson yang sebelumnya juga tidak terlalu baik dokter mungkin sungkan untuk mengatakan bahwa wanita itu harus menunggu keajaiban dalam usaha pemulihannya.


Sebagai anak, Toni tak berhenti berharap, agar ia diberi kesempatan untuk mempersembahkan kebahagiaan yang selama ini ini selalu ditunggu oleh ibunya.


Bu Anderson sudah terbaring di dalam ruangan ICU. Toni dan Wulan duduk di bangku besi yang tak jauh dari pintu ruangan. Sambil menoleh ke arah dokter yang sedang menangani ibu mertuanya di dalam ruangan, Wulan memijat-mijat bahu suaminya.


“Mami pasti bangun, Mas.” Wulan berbicara dengan suara hampir berbisik.


Wulan menarik lengan suaminya agar pria itu mau bersandar padanya. “Kasian Mami, Lan. Selama ini aku juga terlalu sibuk. Sering ninggalin Mami sendirian di rumah cuma dengan perawatnya. Jarang ngobrol. Aku salah,” ucap Toni terbata.


“Mami nggak apa-apa, Mas. Mami masih ada. Pasti bangun,” sahut Wulan, menepuk-nepuk pelan punggung suaminya. Tenggorokannya terasa tercekat karena menahan tangis. Jika Toni sedang lemah, Wulan memutuskan untuk kuat demi pria itu. Ia berharap, dengan begitu, mereka bisa lebih mudah melewatinya.


Yang awalnya Toni dan Wulan kira Bu Anderson akan bangun dalam waktu semalam, dua malam namun, nyatanya sudah lebih dari sebulan wanita itu tertidur di ruangan ICU.


Toni dan Wulan bergantian datang ke rumah sakit. Wulan berada di sana sepanjang waktu selagi suaminya bekerja di kantor. Malam hari, Toni datang menunggui ibunya sebentar, lalu mereka kembali pulang bersama.


Terkadang Toni dan Wulan menghabiskan malam di rumah sakit. Duduk berdua bercerita dalam bisikan di kursi besi yang dingin sampai tertidur. Terkadang mereka pulang ke rumah untuk mengambil pakaian dan kembali lagi ke rumah sakit. Semua penjenguk hanya melihat dari balik kaca. Cobaan yang tidak ringan bagi pasangan yang kembali bersama dan mengharapkan sebuah keluarga yang utuh berada di rumah.


Keduanya terlihat lelah. Wajah yang muram, lingkaran gelap di bawah mata karena kurang tidur, serta fisik yang tak bersemangat.

__ADS_1


Sebulan lebih Bu Anderson terbaring di ranjang ICU, Dean dan Winarsih kembali menyambangi rumah sakit untuk singgah usai mengecek kandungan.


Dean kembali berdiri di depan kaca melingkarkan tangannya di bahu Toni. Matanya tertuju pada Bu Anderson yang sedang berbaring dengan berbagai selang. Hal apapun tidak bisa dilakukan selama wanita itu tidak sadar. Meski terlihat mustahil tapi Toni yakin kalau ibunya akan terbangun.


“Waktu kecelakaan mami pernah begini. Lama nggak sadarkan diri. Tapi, gue yakin, kalo Mami pasti bangun. Kayak sekarang, Mami juga pasti akan bangun. Kami akan selalu nunggu. Meski lama, gue akan tetap nunggu, De.” Toni tersenyum di sebelah Dean.


Dean memijat pelan bahu sahabatnya. Kedua pria itu kemudian memutar tubuh, dan berjalan kembali ke bangku besi di mana istri mereka sedang duduk bercerita.


“Udah selesai ngobrolnya?” tanya Dean pada Winarsih.


“Mau pulang?” Winarsih membenarkan tali tasnya.


“Kalau masih mau ngobrol sama Wulan, nggak apa-apa. Aku duduk dulu. Biasa kamu yang khawatir ninggalin anak-anak terlalu lama,” ucap Dean kemudian duduk di sebelah istrinya.


“Iya. Sebentar lagi, ya. Aku belum ngasih tips ke Mbak Wulan gimana biar tetap sehat selama hamil. Pasti sekarang Mbak Wulan agak lebih capek,” ucap Winarsih polos.


Ketiga orang yang mendengar hal itu saling pandang. Terutama Toni dan Wulan. Sedangkan Dean, langsung memandang sahabatnya. “Eh, udah berhasil? Enggak ngabarin, lo!” Dean terkekeh.


Toni menggeleng. “Enggak—enggak, belom. Eh, memangnya iya, Yang?” tanya Toni memegang lengan Wulan yang melemparkan tatapan bingung pada Winarsih.


“Eh, nggak tau. Aku nggak tau,” ucap Wulan sambil menggeleng.


“Lah, ini kamu improvisasi?” tanya Dean pada Winarsih.


“Lho? Belum periksa. Saya kira sudah, Mbak.” Winarsih meringis. “Mbak Wulan ini kayaknya hamil. Itu napasnya beda. Muka lelahnya juga beda. Anakku sudah mau empat, Mas.” Winarsih mencubit paha suaminya karena tersipu mengatakan Wulan hamil tanpa bertanya lebih dulu.


“Masa, sih, Bu Win?” Toni menatap Winarsih dengan sorot mata antusias.


Winarsih mengangguk. “Mudah-mudahan, Mas.” Winarsih tersenyum.


“Udah kayak bidan desa kamu, Bu.” Dean mencubit pipi istrinya.

__ADS_1


“Lan, aku ke apotik di lantai satu.” Toni tak mendengar suara Dean yang memanggilnya. Ia berlari kecil menuju lift untuk pergi ke apotik memborong test pack.


To Be Continued


__ADS_2