
“Jadi? Gimana ngomonginnya? Soal di gerai juga nggak bisa disebut kalo gitu.” Toni mendongak ke lantai dua yang jelas dari tempatnya duduk.
“Demi sekretaris pengganti yang pake rok pendek dan sepatu tinggi berlari-lari kecil,” ujar Ryan.
“Maksudnya?” tanya Toni.
“Ini semua gara-gara lo. Coba lo nggak ngikut ambil cuti. Mana mungkin gue kepikiran soal sekretaris pengganti,” jawab Dean.
“Kan, bener yang saya bilang. Ngelesnya Pak De membahayakan. Yang salah tetep saya yang mau ambil cuti.”
Toni yang sudah mengerti soal apa yang dimaksud oleh Ryan, langsung mendengus. “Cari penyakit,” cetusnya kemudian.
“Gue cuma bercanda,” kata Dean.
“Bercanda karena ketauan,” sambung Toni. “Kalo nggak ketauan lain ceritanya.”
Musdalifah sedang berkipas-kipas menggunakan ponselnya memandang wajah panik Dean. Sedangkan Santoso mengernyit serius mencerna situasi mereka saat itu. Tak lama terdengar langkah kaki menuruni tangga. Dan para laki-laki itu seketika terdiam.
Winarsih muncul dengan tampilan luar biasa cantik. Dress hitam bentuk A selutut dengan potongan kerah agak lebar memperlihatkan sebagian tengkuknya.
Sepasang sepatu bertumit lima senti dengan bebatuan menyilaukan mata, membalut kakinya. Di bahunya tersampir tas GUCCI yang sudah bisa dipastikan keasliannya.
Dean terperangah. “Terlalu cantik kalo cuma ke Beer Garden aja dandanannya kayak gini,” tukas Dean.
“Enggak, kok. Di rumah juga diminta kayak gini setiap hari. Bedanya cuma pakai tas dan sepatu aja. Ayo, pergi sekarang. Aku juga udah lama nggak liat langit malam,” kata Winarsih, terlihat santai.
“Tapi ini terlalu cantik. Nanti kamu diliatin para laki-laki hidung belang di sana.”
“Kalo cuma sekedar diliat aja, kan, nggak apa-apa. Buat lucu-lucuan aja. Mas juga terlalu ganteng buat pergi sendirian nongkrong nggak bawa istri.”
“Aku setiap hari memang ganteng. Kapan kamu liat aku nggak ganteng?” tanya Dean, merangkul dan mengusap tengkuk Winarsih yang terbuka.
“Ya, sama kalo gitu,” ujar Winarsih, kalem.
“Anak-anak gimana?”
“Anak-anak anteng sama Mbak-nya. Semua masih di kamar Utinya.”
“Enggak enak aja pergi ninggalin semuanya,” ucap Dean.
__ADS_1
“Aku bawa satu ini,” jawab Winarsih, mengusap perutnya. “Sejak kapan aku pergi nggak bawa anak?” Winarsih mendongak memandang suaminya.
Dean meringis kemudian mengangguk ke arah Toni. Mereka lalu berangkat. Dean membawa Range Rover hitam miliknya bersama Winarsih. Ryan yang mobilnya masih tertinggal di kantor, memilih menyelamatkan diri dengan menumpangi mobil Toni. Begitu pula Santoso.
Saat mendekati mobil Toni, Ryan berjalan menuju pintu penumpang bagian depan. Namun, Musdalifah menepuk bahunya.
“Maaf, kali ini saya duduk di depan. Bos Bapak-bapak berdua, di sebelah sana. Yang ini bos saya. Bapak-bapak berdua sebagai tamu di mobil ini. Permisi—” Musdalifah menyeruak tubuh Ryan sampai pria itu bergeser ke samping. Ia tak mau terjebak bersama Santoso di jok tengah. Bergelap-gelapan di dalam mobil bersama pria yang memang bukan idamannya, perjalanan ke Beer Garden pasti akan terasa seperti ke puncak saking lamanya.
Toni menunggu sesaat di balik kemudi. Menantikan beberapa orang yang akan menumpangi mobilnya masuk ke dalam. Setelah Musdalifah duduk, ia menoleh ke belakang.
“Langsung kabur semua?” tanya Toni, tertawa melihat Ryan dan Santoso duduk bersisian dengan wajah sama datarnya. “Nyampe di sana, jangan lupa menjalankan protokol kayak biasa. Bu Win ikut, Bos lo bedua pasti nggak konsentrasi kalo ngomong. Jadi kalian jangan sampe salah ngomong. Urusan gue juga bergantung dengan hal ini. Ngerti semuanya?” Toni memandangi wajah Musdalifah, Ryan dan Santoso satu persatu. Lalu ia melajukan mobil mengikuti Dean yang telah mendahului mereka.
“Pak, urusan yang harus saya selesaikan ada lagi?” tanya Musdalifah.
“Nanti nyampe di Beer Garden, liat situasi. Kalo ada yang kamu mau ikut dengerin, kamu boleh di sana. Kalo mau pulang juga nggak apa-apa.” Toni menoleh sekolah pada sekretarisnya.
“Kalau boleh tau, memangnya kenapa kalau istrinya Pak Dean ikut? Enggak bisa ngobrol?” tanya Musdalifah pada Toni.
“Gimana, ya ... aku mau ngomong tapi ada dua pegawainya di belakang.” Toni tertawa menoleh spion tengah melirik Ryan dan Santoso. “Atasan mereka jaimnya luar biasa sama istrinya.” Toni lalu mengatupkan mulutnya. Kembali melirik spion untuk melihat dua pegawai Dean yang duduk bak patung.
Ryan dan Santoso memiliki pikiran yang sama. Atasan mereka yang terlalu aktif bicara dan tingkahnya, memang terkadang menyulitkan. Masalah yang paling utama sudah tentu berkaitan dengan mood Dean yang mudah anjlok. Keributan di mana pun, semua orang-orang terdekatnya pasti akan turut kecipratan akibat. Kecuali Winarsih, istrinya.
Dua mobil mulai melambat dan perlahan berhenti mencari lokasi parkir kosong. Dean terlihat buru-buru turun dan memutari bagian belakang mobil untuk membukakan pintu untuk istrinya.
“Aku bisa, lho,” kata Winarsih.
“Masa, sih, aku biarin aja turun sendiri.” Dean memegang lengan Winarsih kemudian menutup pintu mobil. Ia menunjuk pintu masuk cafe dengan dagu saat Toni melirik ke arahnya. Itu berarti Toni harus masuk lebih dulu untuk mengamankan situasi sapaan yang mungkin dilontarkan Langit atau Rio secara spontan. Hal itu bukan berlaku untuk Dean saja, tapi mereka semua. Siapa pun yang membawa pasangan, mereka akan memberlakukan hal yang sama.
Semua berjalan mendahului Dean. Seperti hari-hari lain, Beer Garden ramai oleh para pria dan wanita yang nongkrong usai jam kerja. Dari kejauhan, Dean melihat Rio dan Langit berada di meja panjang dengan bentuk bangku memanjang di depan bar.
Saat sedang menggenggam tangan Winarsih di lorong yang memisahkan deretan meja dan kursi, seorang pria yang duduk di sisi kiri, melambaikan tangan mereka.
“Win!” panggil pria itu, berdiri dari duduknya.
Dean seketika mengernyit menghentikan langkahnya.
“Eh, Ardi! Sama siapa?” sahut Winarsih, sedikit terperanjat. Namun, raut wajahnya terlihat senang bertemu dengan orang yang dikenalnya di tempat itu.
Winarsih melepaskan tangan suaminya dan berjalan ke meja pria yang menyapanya.
__ADS_1
“Ini—ada Nisa!” seru Ardi. Ia menunjuk wanita yang duduk di depannya. Ternyata Ardi datang dengan Nisa dan seorang pria lain yang dikenali Winarsih sebagai senior mereka yang sering berkeliaran di kampus.
“Ada Nisa juga,” ujar Winarsih, berdiri di dekat meja temannya. “Udah lama?”
“Baru aja,” jawab Nisa. “Duduk di sini, Win. Sebentar aja. Kita nggak pernah ketemu selain di kampus.” Menyadari seorang pria bermata sipit yang sejak tadi berdiri di belakang Winarsih dengan raut serius, Nisa seketika terdiam.
“Kenalin, ini suamiku.” Winarsih menoleh ke belakangnya. Dean maju dan tersenyum mengulurkan tangan. Mulutnya menarik garis senyum, tapi ekspresi matanya tak mendukung senyuman itu.
Satu persatu ia mendengar teman kuliah istrinya menyebutkan nama. Hingga pada seorang pria terakhir bertubuh berisi.
“Pratama. Panggil Tama aja,” tukas laki-laki itu, menyambut uluran tangan Dean.
“Dean.” Dean ikut menyebutkan namanya. “Kamu temen kuliah juga atau—”
“Alumni Mas, sekarang saya udah kerja. Dinas—”
“Dinas?”
“Dinas Pendidikan,” jawab Pratama.
“Oh, saya kira ...,” ucap Dean, mengangguk. “Sudah menikah, atau—”
“Single, Mas,” potong Pratama.
“Oh, saya kira ...,” jawab Dean, lagi. “Kalo gitu saya nggak perlu khawatir.”
“Kenapa?” bisik Winarsih. Dean tak menjawab.
“Winar boleh duduk di sini, ya, Mas ...,” kata Nisa, menepuk kursi kosong di sebelahnya.
“Boleh, Mas?” tanya Winarsih.
Dean mengangguk. “Iya. Ya, udah. Aku duduk gabung ama temenku.” Dean menarik kursi di sebelah Nisa sebagai tempat duduk istrinya. Ia lalu mengangguk dan meninggalkan Winarsih yang duduk berhadapan dengan seniornya di satu meja.
Meski sedetik tadi tersenyum, kini ia sudah memasang wajah masam. Sesaat sebelum menghempaskan dirinya di sebelah Langit, Dean kembali menoleh punggung Winarsih.
“Siapa tuh, De? Yang lagi ngobrol sama bini lo?” tanya Langit. “Lumayan ganteng, lho, De. Badannya bagus,” tambah Langit.
Toni memandang Langit dengan wajah kesal. Nasibnya benar-benar bergantung dengan suasana hati Dean saat itu.
__ADS_1
To Be Continued