GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
70. Sesuai Janjiku


__ADS_3

Sepulang dari kediaman Rio, Toni tidak kembali lagi ke kantor. Malam nanti ia sudah berjanji akan mengajak Wulan makan malam di restoran yang terletak di puncak hotel bintang lima daerah Jakarta Pusat.


Setelah berdandan rapi pukul lima sore, Toni mengetuk kamar ibunya. Tak ada sahutan dari dalam. Ia langsung menekan handle pintu.


“Mami ...,” panggil Toni.


“Siapa?” Ibunya yang tadi berbaring membelakangi pintu, berbalik perlahan.


“Toni.” Ia langsung masuk dan duduk di tepi ranjang. “Mi ... hari ini ngapain aja?” tanya Toni, memijat lembut lengan ibunya.


“Keluar masuk kamar, dibawa ke taman, berjemur, sama setiap hari.” Memandang lekat wajah anak tunggalnya.


“Sepi?” tanya Toni. “Mami kesepian nggak?” Toni merapikan selimut yang menutup kaki ibunya yang kurus.


Bertahun-tahun di kursi roda, membuat saraf otot ibu Toni mengalami kerusakan. Ototnya tidak bergerak karena tidak mendapat rangsangan dari saraf. Hal itu membuat jaringan ototnya mengecil dan mengubah bentuk kakinya.


“Mau kasi temen untuk Mami?” tanya ibunya.


“Mami maunya gimana?” tanya Toni, membelai rambut ibunya. Ia sudah tidak punya saran lagi. Sekitar empat kali ia meminta sepupu lain nenek yang berasal dari keluarga sederhana untuk tinggal bersama mereka. Semua berakhir dengan mengemasi pakaian sambil menangis.


“Kalau pilihan Mami, mau?” tanya ibunya.


Toni mengerti soal objek pembicaraan ibunya. Menyodorkan seorang wanita untuk dinikahinya. Ia juga heran, padahal ibunya di rumah saja. Tapi kenapa ada orang-orang baru yang dikenalnya.


“Jangan,” kata Toni. “Aku masih sayang Wulan,” jawabnya kemudian.


“Kamu kayak nggak bisa cari wanita lain aja,” kata ibunya. “Dia saja mungkin sudah menikah lagi dengan laki-laki lain.”


“Belum. Wulan masih sendiri. Aku tau Wulan juga masih sayang aku, masih sayang Mami juga.” Toni menepuk-nepuk pelan lengan ibunya.


“Kalau dia sayang kita, dia nggak pergi. Kamu juga harus sadar.” Ibunya berbalik, menggerakkan bagian atas tubuh untuk memunggungi Toni.


“Mungkin Wulan pergi untuk ngasi kita waktu. Dia juga mungkin butuh waktu. Tapi ... aku memang cinta Wulan, Mi. Sebesar rasa cinta Mami ke Papi.” Toni mengusap bagian belakang kepala ibunya.


Ibunya hanya diam saat ia mengatakan hal itu.


“Aku keluar dulu, ya ... aku mau keluar makan bareng Wulan. Aku janji, nggak akan bawa dia ke sini, kalo Mami nggak izinin.” Toni menunduk mencium kepala ibunya. “Aku sayang Mami,” ucap Toni. Ia beranjak dari tepi ranjang dan pergi keluar kamar mencari perawat ibunya.


Dua orang wanita berseragam perawat sedang menaiki tangga manual sambil bercakap-cakap. Di tangan salah seorangnya tergenggam sebuah alat pengukur tekanan darah.


“Sus, ibu hari ini minum obat penenang?” tanya Toni.


“Minum, Pak. Sesuai resep, masih diminum. Ibu gelisah. Tidur siang tadi, terbangun karena mimpi buruk. Lalu, minta diantarkan ke rumah sakit. Katanya Papi sakit nggak ada yang jaga. Tapi sore ini sudah stabil. Cuma tekanan darahnya rendah. Tapi masih aman,” jawab perawat yang lebih senior.


“Saya tinggal nggak apa-apa, kan? Saya mau keluar dulu. Kalo ada apa-apa bisa telfon saya.” Toni sudah merasa lega menerima laporan soal ibunya. Lega, karena tidak ada hal baru yang lebih aneh.


Syukurnya akhir-akhir ini, ibunya lupa meminta dia pergi mencari penangkal segala macam musibah. Kemarin-kemarin ibunya tak berhenti merong-rong pergi dari satu tempat ke tempat lain. Dengan dalih, untuk membuat perasaanya lebih tenang.

__ADS_1


Toni duduk di balkon kamarnya seraya menyesap secangkir teh hangat. Kepalanya tak henti menoleh jam berkali-kali. Ia khawatir datang terlambat, tapi juga khawatir terlalu cepat. Wulan akan bersiap dengan terburu-buru.


Pukul 18.30 Toni melajukan mobilnya menuju apartemen Wulan. Ia merasa sudah tampil optimal. Kemeja biru langit dan celana chinos berwarna navy dipadukannya dengan sepasang loafer cokelat muda. Kegugupan yang dirasakannya semakin menjadi. Entah kenapa, ia merasa seperti berkencan dengan Wulan saat pertama kalinya.


“Oke, ini kencan resmi.” Toni bergumam demi menghilangkan groginya. Ia menyalakan lampu di dalam mobil dan bercermin sejenak merapikan rambut. Lalu ia menunduk untuk mengendus parfum yang ia semprotkan sedikit berlebihan.


Setelah memastikan semua sesuai standarnya, Toni menelepon Wulan. “Lan, udah selesai? Aku udah di lobi. Enggak—baru nyampe, kok. Oke, aku tunggu. Enggak apa-apa,” ucap Toni, lalu mengakhiri pembicaraan.


Benar saja, ternyata ia masih mengenali wanita itu. Wulan mengatakan belum selesai, sedikit lagi. Lalu wanita itu mengkhawatirkan kalau Toni sudah menunggunya lama.


Toni menepikan mobilnya sedikit ke depan agar tak menghalangi mobil yang menurunkan penumpang. Tak lama, pintu bagian penumpang dibuka dari luar.


“Hei, maaf terlambat. Udah lama?” Wulan kembali menanyakan pertanyaan yang sama.


“Baru, kok. Belum lama. Kamu cantik,” ucap Toni pelan. Ia lalu memasukkan persneling dan melajukan mobil. Setelah mengatakan itu, ia mengatupkan mulutnya. Melirik sekilas pada Wulan yang duduk memangku tasnya dengan raut wajah yang sama dengannya. Sama canggungnya.


“Kita makan di mana?” tanya Wulan.


“Di restoran yang kamu pasti udah nggak asing lagi,” jawab Toni.


“Jangan-jangan kita bakal ke—”


“Yap. Yang sedang kamu pikirkan itu bener,” potong Toni.


“Mami kamu ... sehat?” tanya Wulan.


“Keinget, sebentar lagi ulang tahun, kan?” tanya Wulan.


Toni sedikit terpana saat Wulan mengatakan hal itu. Ia menoleh sekilas pada Wulan. “Masih inget ternyata,” kata Toni.


“Masih, kok. Enggak mungkin lupa. Dari dulu yang mesenin cake ultahnya, aku, kan?” Wulan melirik Toni yang seketika tersenyum.


Mobil baru saja melewati portal kawasan hotel. Toni menghentikan mobil di lobi dan menyerahkan kunci mobil pada petugas valet yang menyongsongnya. Sedikit tergesa ia memutari mobil menjemput Wulan.


“Bener ternyata. Restoran ini,” kata Wulan, tersenyum.


“Iya, restoran ini. Yuk,” ajak Toni, meraih tangan mungil Wulan masuk ke dalam genggamannya.


“Apa mejanya di tempat biasa?” tanya Wulan saat mereka berada di dalam lift.


“Tempat biasa. Semi outdoor biar nggak terlalu berangin. Seperti permintaan Bu Wulan.” Toni melirik raut bahagia di wajah wanita yang digandengnya.


Saat mereka tiba, pelayan langsung menunjukkan meja pesanan Toni. Wulan duduk dan langsung melipat tangannya. Menoleh sekeliling mereka dengan mata berbinar. Meja mereka terletak tak jauh dari bar. Suara musik mengalun lembut seakan mencocokkan suasana dengan beberapa meja berisi pasangan-pasangan yang sedang mengobrol dengan suara rendah.


“Pesennya itu aja?” tanya Toni, saat Wulan mengembalikan buku menu pada pelayan.


“Iya, itu aja. Itu juga belum tentu abis,” jawab Wulan.

__ADS_1


“Ya, udah. Itu aja, Mas. Pesanan saya bisa dikeluarin sekarang,” pinta Toni pada pelayan.


“Pesanan apa?” tanya Wulan. Ia menatap Toni yang terlihat sangat tampan malam itu. Laki-laki di depannya membalas tatapannya lebih tajam. Wulan harus menoleh lilin kecil di dalam gelas untuk memecah rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.


Wulan merasa seperti ABG. Padahal mereka sempat bermesraan kemarin. Tapi suasananya tidak seserius ini, pikirnya. Yang terjadi kemarin hanya seperti penyaluran hasrat gegabah. Terburu-buru.


“Ini dia, pesanan yang aku maksud.” Toni menoleh pada seorang pelayan yang berjalan ke arah mereka dengan nampan di tangan.


Pelayan menurunkan sebuah cake mini berwarna merah. Red Velvet, favorit Wulan. Pelayan meletakkan sebuah sendok, piring kecil dan dua gelas air putih di meja itu.


“Waahh ....” Mata Wulan membelalak menatap kuenya. “Memang boleh dimakan sekarang?” tanya Wulan, menatap Toni yang tengah tersenyum.


“Kali ini boleh,” ucap Toni. Lalu, ia dan Wulan tertawa. Di masa lalu, Toni selalu melarang istrinya memakan hidangan pencuci mulut lebih dulu. Harus hidangan utama, baru ke pencuci mulut.


Sejak dulu, Toni selalu memprotes porsi makan Wulan yang dirasanya sangat sedikit. Wanita itu terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis.


“Tapi sebelum makan itu, aku mau ngomong sesuatu.”


“Apa?” tanya Wulan. Sepertinya akhir-akhir ini mereka sudah banyak bicara. Apa ada hal lain yang belum disampaikan mantan suaminya itu?


Toni berdiri dan menarik kursi ke sebelah Wulan. Lalu, ia meraih kedua tangan wanita itu dan menyatukannya dalam satu genggaman.


“Lan ... malam ini, di tempat ini, aku akan mengulang suatu hal. Hal yang pernah aku minta beberapa tahun yang lalu. Malam ini, aku kembali meminta yang sama. Maukah kamu jadi istriku--lagi?” Toni menatap Wulan yang malam itu tampak sangat cantik. Rambutnya terkibar karena tiupan angin.


“Aku nggak pernah beristirahat mencintai kamu, kayak janjiku dulu. Aku bakal terus mencintai kamu. Maafkan semua salah dan lalaiku. Aku harap, tujuan kita masih sama.” Toni menatap lekat mata wanita di depannya. Ia bisa melihat air mata sudah mengambang di sana.


Seraya menahan tangis, Wulan mengangguk. “Ternyata, aku juga nggak pernah berenti cinta sama kamu. Mas Toni ...,” ucap Wulan.


Toni merogoh saku kemejanya. Tanpa kotak, tanpa pita dan tanpa bunga mawar. Toni mengeluarkan sebentuk cincin dan memasangkannya di jari manis Wulan.


“Cincin ini akan selalu jadi milik kamu. Jangan dilepasin lagi, ya .... Temani aku terus.”


Wulan mengatupkan mulut untuk menahan isak. Toni lalu menangkup wajah Wulan dan mengecup dahi wanita itu.


“Aku sayang kamu, Yang ....”


To Be Continued


Oh, ya. Sepanjang novel ini, juskelapa lupa menyampaikan sesuatu. Untuk pembaca baru, novel GENK DUDA AKUT ini adalah spin off dari novel CINTA WINARSIH.


Kenapa dikatakan Spin off? Karena cerita GENK DUDA AKUT ini bisa berdiri sendiri (dibaca terpisah) bukan lanjutan dari novel Cinta Winarsih. Kalau lanjutan novel itu biasanya disebut sekuel.


Pasti udah pada tau, ya?


Jadi anak Dean berhenti di lima orang saja. sesuai ending CW 🤭🤭


Baiklah, selamat malam. Selamat istirahat. :*

__ADS_1


Jangan kelewatan Like-nya


__ADS_2