
“Tasya, kenalin ini Wulan. Wulan, kenalin ini Tasya. Aku nggak tau pastinya, tapi mungkin kalian udah tau soal diri satu sama lain.” Toni meringis.
“Ada apa lagi, sih? Mas bilang semuanya udah selesai. Tapi masih ada yang nangis-nangis kayak gini.” Wulan berdiri di depan meja Toni.
“Udah—udah selesai. Enggak ada apa-apa lagi. Aku lagi bareng mereka bertiga,” –Toni memandang meja di mana tiga sahabatnya sedang melihat— “Tasya dateng mau ngobrol. Katanya ada yang mau diomongin. Tapi udah diomongin. Udah pernah diomongin maksudnya. Dan udah selesai. Enggak ada apa-apa lagi.” Toni menjelaskan situasinya dengan terpatah-patah.
“Aku mau pulang. Mas selesaikan aja dulu,” ucap Wulan.
“Jangan!” seru Toni, berdiri menahan tangan Wulan. “Naik apa ke sini? Kalo mau pulang bareng aku.”
“Selesaikan aja dulu, enggak apa-apa.” Wulan melepaskan tangan Toni. Ia lalu menatap Tasya yang masih menunduk menyeka air matanya. “Dan kamu ... dewasa dikit, deh. Nangis-nangis di tempat umum kayak gini. Enggak malu apa?” ketus Wulan dengan bisikan.
Tasya mengangkat wajahnya dan menatap Wulan. “Aku cuma mau ngomong ke Mas Toni.”
“Trus? Udah? Apa hasil omongannya?’ tanya Wulan, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Aku belum selesai,” kata Tasya.
“Tasya, please ...,” ucap Toni.
“Gini aja, deh. Kalo Mas Toni memang mau balikan ke kamu, aku nggak apa-apa. Bener, aku nggak apa-apa. Ngapain aku nangisin laki-laki yang nggak milih aku. Silakan aja.” Wulan kemudian menatap Toni. “Mas, aku tadi naik naksi. Mobilku masih di rumah, Mas, kan? Aku mau balik sekarang. Aku udah males begini-beginian lagi. Aku bukan ABG.” Wulan berbalik dan beranjak dari sana dengan tenang.
“Lan—Lan!” panggil Toni. “Tasya, sorry. Maaf. Kita udah selesai. Aku nggak perlu izin atau alasan ke kamu untuk menikah dengan siapa pun.” Toni lalu pergi menyusul Wulan. Saat melewati meja tiga orang sahabatnya, ia berhenti.
“Mau ke mana? Nonton Batavia Dancer?” tanya Dean terkekeh.
“Tai! Lo aja yang nari telanjang sendirian,” kesal Toni. Dean menepuk meja dan tertawa semakin keras. “Bisa nikah aja udah sukur kalo gini ceritanya. Gue balik. Tolong bantu dihibur,” kata Toni, menatap Tasya yang sedang menyampirkan tasnya ke bahu.
“Lo kata kita pria penghibur? Gue juga balik! Gue mo minta bini gue pake lingerie baru entar malem,” ujar Dean, bangkit dari duduknya. “Duh, pasti seksi banget. Gue mau makan telur ayam tiga butir, biar makin lama. Pasti enak banget. Peluk-peluk, cium-cium, bisa tegang terus gue. Lo yang semangat berjuangnya!” Dean menepuk pundak Toni dengan wajah serius.
“Diem, lo! Jangan lupa bill-nya diberesin,” pesan Toni, kemudian buru-buru pergi. Dean kemudian menyusul mengikuti langkah Toni.
“Gue juga balik. Mumpung masih sore, gue pengen ngajak Jingga mandi bareng. Sorry, Yo!” Langit berdiri menepuk pundak Rio. Ia lalu menoleh pada Toni yang sudah mendorong pintu kaca. Dean menyusul di belakangnya. “Sore ini lo yang bayar dan terserah lo mau berbuat apa soal Tasya. Selamat berjuang, Dude!”
“Eh! Sialan! Dik!” Rio melambai pada Diky dan membuat isyarat menulis di atas telapak tangannya. Diky mengangguk dan bergegas ke mesin kasir untuk membuat tagihan meja empat pria yang sudah berhamburan satu persatu.
Tak lama kemudian, Diky datang dengan nampan kecil di tangannya. “Yang lain mana? Langsung lenyap?” tanya Diky, menoleh ke arah pintu dan melihat punggung Langit berbelok ke kanan.
“Temen-temen sinting itu? Pada kabur nggak bertanggung jawab.” Rio mengeluarkan dompetnya dan memilih satu kartu. Diky dengan sigap menggesek kartu itu dengan mesin EDC yang dipegangnya.
“Oke, nih! Beres,” tukas Diky. “Tinggal beresin yang itu,” tambah Diky, tergelak.
“Iya, asem memang!” Rio menggelengkan kepalanya seraya kembali meletakkan kartu ke dompetnya. Ia lalu beranjak ke meja Tasya.
“Hei, gimana? Udah selesai ngobrolnya?” tanya Rio berdiri di dekat Tasya.
Tasya hanya diam. Ia bahkan belum memesan minuman apa pun dari sejak tiba di sana. Tapi, Rio sedang tak ingin menawarkan makan-minum pada wanita itu. Sendirian berada di sana dengan seorang wanita tanpa teman-temannya, Rio merasa tak bernyali. Tak semangat.
“Kamu mau di sini atau mau ikutan keluar? Kalo mau keluar bisa bareng aku,” ujar Rio. Ia merasa hanya hal itu yang bisa dilakukannya untuk Tasya. Menyelamatkan ego Tasya agar tak berada di sana sendirian.
“Aku balik aja, Mas.” Tasya berdiri dari kursinya. Rio membiarkan wanita itu untuk berjalan mendahuluinya. Saat tiba di luar cafe, baik Dean atau pun Langit tak ada di tempat itu.
“Soal Toni, saranku dilupain aja, Sya.” Rio mengatakan itu saat ia dan Tasya berdiri bersisian di depan teras cafe. Tasya memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk. Dan sepertinya wanita itu berlama-lama di depan pintu karena ingin tahu apa yang disampaikan Rio padanya.
“Mas Toni memang nggak pernah niat serius ke aku,” gumam Tasya.
__ADS_1
“Artinya dia nggak baik untuk kamu. Melupakan bajingan dan orang baik, menurutku akan lebih sulit melupakan orang baik. Anggap Toni bajingan.” Rio memasukkan dua tangannya ke dalam saku celana.
“Dia memang bajingan,” gumam Tasya.
“Artinya dia bisa lebih mudah dilupakan,” balas Rio.
Pukul enam sore saat Dean menekan klaksonnya di depan pagar rumah, langit Jakarta sudah gelap.
Dean langsung membawa mobilnya ke belakang dan berjalan masuk melewati dapur besar. Mbah sedang duduk kursi kecil dan menunduk mengiris bawang merah.
“Mbah,” sapa Dean.
“Eh, pulang cepet hari ini?” tanya Mbah mendongak menatap anak majikannya.
“Iya, kerjaan cepet beres tadi. Ibunya Dirja mana, Mbah?” tanya Dean. “Di atas, ya?” Dean berjalan menuju dispenser dan mengisi gelas dengan air putih.
“Ibunya Dirja pergi bareng Uti. Baru aja dianter Pak Noto.” Mbah kembali menunduk mengiris sisa bawang di tangannya.
“Hah? Pergi? Ke mana? Kok, aku nggak dikasi tau?” Dean meletakkan gelasnya dan pergi melongokkan kepalanya ke luar pintu. Benar saja, Vell Fire putih milik Winarsih pemberian papanya sedang tak ada di parkiran belakang.
“Mbah nggak tau,” jawab Mbah santai. Dean langsung bergegas menyeberangi dapur menuju ruang keluarga.
“Eh, Dirja, ibu mana?” tanya Dean menghampiri putra sulungnya yang sedang melompat-lompat di sebuah trampolin mini di ruang keluarga dengan diawasi seorang babysitter.
“Ibu—sama—uti!” seru Dirja sambil melompat.
“Ke mana?” tanya Dean lagi.
“Nemenin Mama jenguk temennya baru keluar rawat inap. Kenapa?” tanya Pak Hartono. Pria itu muncul sambil menggandeng Dita dan diikuti oleh babysitter yang menggendong Widi.
“Ada keperluan penting?” tanya Pak Hartono lagi. Dean hanya mengangguk-angguk tak jelas untuk menjawab pertanyaan papanya.
Nada tunggu berbunyi lima kali barulah terdengar suara Winarsih di seberang.
“Ya, Mas?” sahut Winarsih.
“Aku pulang cepat, Win.” Dean melaporkan soal kepulangannya dengan raut sengsara.
“Ya, terus? Aku juga baru keluar diajak Mama. Baru mau nelfon Mas, tapi Mas udah nyampe rumah. Aku kira Mas pulangnya lama,” jawab Winarsih.
“Jadi aku gimana?” tanya Dean.
“Gimana apanya?” Winarsih balik bertanya.
“Aku nggak ada temen, Win.” Dean menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Jadi Papa ini apa?” tanya Pak Hartono yang duduk di sofa lainnya sambil memangku Widi.
Dirja menghentikan aktifitas melompat-lompatnya dan turun dari trampolin mendekati bapaknya. Balita naik ke sofa dan memeluk leher Dean. Seakan ia ikut memahami penderitaan bapaknya saat itu. Dean memeluk Dirja dan menarik balita itu ke pangkuannya.
“Belum juga nyampe, Mas. Aku baru keluar dari rumah. Mas baru pulang, kan? Udah mandi?” tanya Winarsih.
“Belum,” jawab Dean.
“Mandi dulu sana. Mas udah makan?” tanya Winarsih lagi.
__ADS_1
“Belum,” jawab Dean.
“Ya, udah. Mandi terus makan. Anak-anaknya diajak main. Widi sebentar lagi tidur. Ketemu bapaknya nggak pernah lama.” Winarsih menenangkan kegelisahan hati suaminya dengan sabar.
“Kamu pulang jam berapa?” tanya Dean.
“Baru keluar, De. Itu juga karena Papa capek diajak Mama. Makanya Mama ngajak ibunya Dirja.” Pak Hartono mengomeli anak bungsunya yang sudah mengendurkan dasi dan tergeletak lemas di sofa.
“Ih, Papa.” Dean cemberut melirik sekilas pada Pak Hartono.
“Belum tau jam berapa, nyampe juga belum. Udah dulu, ya.”
“Jangan lama-lama, Win. Aku mandi biar seger dan ganteng. Kamu pulang cepet,” tukas Dean.
“Iya—iya.” Winarsih kemudian mengakhiri percakapan.
Di dalam mobil, sejak tadi Bu Amalia menyimak perkataan menantunya. Hatinya dongkol karena anaknya sendiri. Baru saja keluar dari rumah membawa istri anaknya, tapi sudah heboh ditanya pulang jam berapa.
“Bapak Dirja, ya?” tanya Bu Amalia pada menantunya.
“Iya, katanya pulang cepat dari kantor.” Winarsih setengah meringis mengatakan hal itu. Ia khawatir mendengar Bu Amalia mengomeli Dean di depannya.
“Pulang ngantor cepet, ngelapor. Pulang lama, nggak ngomong. Baru keluar sepuluh menit, sudah diwanti-wanti jangan lama-lama. Biarin aja dia di rumah. Lagian ada papanya. Sekali-kali biar dia aja yang di rumah.” Bu Amalia diam setelah melihat menantunya mengangguk mengiyakan.
Sementara di rumah, Dean sudah mandi dan mengenakan pakaian santai berupa celana chinos krem selutut dan kaos oblong berwarna putih. Sesuai janjinya pada Winarsih, sesudah mandi ia langsung makan malam sambil mengawasi anak-anaknya.
Satu jam berada di rumah, Dean mengangkat Widi yang tertidur di gendongan babysitter-nya untuk diletakkan di dalam box. Mata Dean sejak tadi gelisah melihat jam. Setelah menepuk-nepuk Widi yang terlelap, ia kembali mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan.
‘Udah jalan pulang? Kok lama?’
Tak sampai lima menit, Winarsih langsung membalas pesan Dean.
‘Baru nyampe, Mas. Mama masih ngobrol dengan temannya. Sabar, ya, Mas Sayang. Anaknya diajak main dulu.’
Membaca balasan Winarsih, hati Dean sedikit tenang. Winarsih menyisipkan kata ‘Sayang’ dalam pesannya. Ia lalu kembali ke lantai satu, menuju ruang keluarga. Di sana ia menemani Dirja dan Dita menyusun balok warna-warni membentuk rumah-rumahan setinggi setengah meter.
Satu jam berlalu, Dita mengeluhkan kantuk. Dean mengajak dua anaknya menuju kamar mereka di lantai dua. Membenarkan letak bantal anak-anaknya dan menyalakan lampu tidur. Ia lalu berbaring di sebelah Dita dan menggaruk-garuk punggung balita perempuan hampir tiga tahun itu hingga tertidur.
Dean menghela napas panjang, lalu kembali merogoh ponselnya. Ia ingin menelepon Winarsih, tapi khawatir akan disemprot Bu Amalia. Sudah setengah jam ia hilir mudik dari lantai satu ke lantai dua. Ke kamar, ruang keluarga, berdiri di balkon kamarnya, lalu berjalan ke teras. Papanya menonton televisi di kamar dan ia merasa benar-benar sendiri.
Sudah pukul sepuluh malam, Winarsih belum juga kembali. Baru empat jam istrinya pergi, tapi rasanya ia sudah ditinggalkan seharian. Dean kembali merogoh ponselnya. Kali ini, ia harus menelepon. Ia setengah berbaring di ranjang. Bersandarkan beberapa bantal yang ditumpuknya.
“Halo, Win? Udah di mana, Sayang?” tanya Dean.
“Di rumah, Mas Dean Sayang ....” Winarsih mendorong pintu kamar dan menoleh ke kanan. Tempat di mana suaminya duduk dengan alis hitamnya yang menaut.
“Sini,” panggil Dean dengan wajah merana. Ia duduk di tepi ranjang merentangkan tangan pada istrinya.
“Kenapa ini?” tanya Winarsih mendekati suaminya. Ia seperti melihat raut wajah Dirja yang tak bisa mengikat tali sepatunya.
“Aku sendirian dari tadi.” Dean memeluk pinggang Winarsih dan membenamkan wajahnya di perut wanita itu. “Aku udah mandi, udah makan, aku juga ngajak anak-anak main. Aku nemenin Dita dan Dirja sampai tidur. Aku nggak akan liat penari gembel,” gumam Dean di perut istrinya.
“Ha? Penari apa?” tanya Winarsih, memeluk kepala suaminya. “Baru pergi sebentar aja, lho, Mas.” Winarsih tertawa-tawa, lalu menunduk mencium kepala suaminya yang beraroma segar sampo.
"Aku kangen banget," lirih Dean dengan suara teredam.
__ADS_1
To Be Continued