
Malam itu, Toni dan Wulan keluar rumah sakit bersamaan dengan Dean dan Winarsih yang juga akan pulang. Keesokan paginya, Wulan kembali mencoba test pack di saat Toni masih terlelap. Ia ingin melihat hasil tes itu sendiri, karena jika strip dua di test pack tak terlihat pagi itu, ia tak ingin Toni melihat kekecewaan spontannya.
Untungnya, test pack yang dibeli Toni memang sangat banyak. Wulan kembali mencobanya dua buah di kamar mandi. Dengan mulut mengatup, ia kembali memandangi dua garis merah di alat tes itu.
Dengan wajah bahagia menahan senyum, Wulan duduk di tepi ranjang dan mengusap Toni yang tidur membelakanginya sembari memeluk guling. Toni hanya tidur mengenakan boxer dan separuh tubuhnya tertutup selimut.
Wulan mengusap bahu lebar suaminya. “Mas,” panggil Wulan. Toni mengerang halus, kemudian menangkap tangan Wulan dan membalikkan tubuhnya.
“Hmmm?” sahut Toni, dengan mata menyipit karena Wulan telah menyalakan lampu kamar.
“Masih garis dua,” bisik Wulan, mengangkat test pack ke depan wajahnya.
“Sayang ... makasi. Nanti kita ke rumah sakit buat langsung periksa dan jenguk Mami. Aku nggak sabar,” kata Toni dengan suara parau. Ia mengambil test pack dari tangan Wulan, memandanginya lagi, lalu merentangkan tangan. Wulan masuk ke dalam pelukan suaminya, dan mengecup dada telanjang pria itu berkali-kali.
“Aku sayang, Mas ...,” ucap Wulan dengan suara teredam. Toni mengetatkan pelukannya saat mendengar hal itu.
“Aku selalu,” bisik Toni, mengusap punggung istrinya.
Wulan adalah pasien pertama yang mendaftarkan diri di klinik spesialis kandungan pagi itu. Mereka langsung bergegas mendaftarkan diri setelah menjenguk Bu Anderson sebentar.
Saat mengecek kandungan dengan alat USG, Toni berdiri dengan satu tangannya di depan dada dan satu lainnya sedang menggaruk dagu dengan gelisah. Toni menatap layar televisi yang menampilkan gambar hitam putih yang tak dimengertinya. Ia berharap dokter yang sedang mengusap perut Wulan dengan alat USG, bisa segera menjelaskan apa yang bisa dikabarkan dari penampakan itu.
Sesaat kemudian mereka telah duduk di seberang meja dokter, dengan posisi tangan Toni menggenggam tangan Wulan dan mengusap-usap punggung tangannya. Ia melirik Wulan yang membasahi bibirnya berkali-kali, karena gugup akan hal yang akan disampaikan oleh dokter.
“Kalau dilihat dari riwayat pengantin baru ... ini kabar yang sangat membahagiakan. Sangat cepat. Bahkan tanpa jeda ibunya langsung isi. Sekarang usia kehamilannya lima Minggu. Selamat, ya. Pak Toni, Bu Arista. Overall, kandungannya sehat-sehat saja. Banyak makan makanan bergizi dan jangan terlalu capek ya. Bulan depan datang ke sini lagi. Sekarang saya kasih vitamin aja, ya.” Dokter kandungan wanita itu, menunduk untuk menulis resep.
Lalu, dokter menyerahkan selembar kertas yang diterima Toni dengan mata berbinar. Pertama kali, setelah menunggu lama. Waktu yang sangat lama buat hubungan mereka. Kehadiran calon bayi.
Sekeluarnya dari ruangan itu, Toni dan Wulan berjalan bergandengan tangan menuju apotik di lantai bawah. Mereka tak berbicara satu sama lain. Keduanya membayangkan kebahagiaan itu di dalam pikiran mereka dengan versinya masing-masing.
Wulan membayangkan sebentar lagi, ia akan mengenakan dress panjang dan melihat perutnya membesar. Ia akan mengandung bayi dari pria yang dicintainya. Menikmati tendangan makhluk mungil yang bersemayam di rahimnya. Ia lalu menoleh pada Toni, dan mengeratkan genggaman tangannya.
Sedangkan Toni, membayangkan bahwa sebentar lagi ia akan menggendong cucu pertama yang akan membawa nama keluarga Anderson. Ia akan memangku anaknya sendiri, saat acara kumpul-kumpul keluarga bersama para sahabatnya. Toni tersenyum. Ia tak sabar mengeluhkan hal yang sama dengan pria-pria lain. Ia ingin mengucapkan hal yang sama seperti yang sering Dean ucapkan. Bayinya yang baru lahir tak mau tidur dan ia harus menggendongnya sepanjang malam. Ia sudah benar-benar siap untuk itu.
__ADS_1
Dari kejauhan, Toni dan Wulan melihat seorang dokter buru-buru memasuki ruang ICU, tempat Bu Anderson berada. Seketika mereka berdua mempercepat langkahnya.
“Kenapa, Sus?” tanya Toni, pada Kepala Perawat yang berdiri di depan dinding kaca. Wanita itu memandang ke Bu Anderson dengan raut penasaran menunggu sesuatu.
“Bu Anderson bangun dan langsung minta minum. Katanya haus. Itu sedang diperiksa dokter. Kalau kondisimya stabil, mungkin Bu Anderson bakal disarankan untuk operasi. Bisa kateterisasi, atau operasi bypass.” Saat mengatakan hal itu, tatapan Kepala perawat masih memandang ke arah Bu Anderson yang sedang menjalani pemeriksaan.
Kebahagiaan dan kesibukan pasangan itu pun menjadi satu. Di antara sibuk mengurusi soal jadwal operasi Bu Anderson, Wulan dan Toni semakin sering berada di rumah sakit. Musdalifah mengurusi perusahaan yang kantornya seakan berpindah ke rumah sakit itu. Toni benar-benar khawatir, kalau ibunya sewaktu-waktu mengalami collapse atau hal yang tak diinginkannya, namun dia sedang tak berada di sisi wanita yang melahirkannya itu.
Mendekati usia kehamilan Wulan hampir empat bulan, operasi Bu Anderson bisa dilaksanakan. Perubahan fisik Wulan belum terlalu terlihat. Wanita itu hanya mengganti jeansnya dengan terusan-terusan sederhana. Saat mereka tengah duduk menantikan Bu Anderson yang akan dibawa ke ruang operasi, Toni memandang istrinya dengan raut cemas.
“Kamu, kok, kayaknya nggak gemuk, ya.” Toni melingkarkan tangannya di bahu Wulan. Menarik kepala istrinya untuk bersandar di bahunya.
“Naik, kok. Sekilo,” ucap Wulan tersenyum. “Dokter bilang aku sehat-sehat aja, kok, Mas.”
“Iya, kamu sehat, kok.” Toni membelai rambut istrinya.
Bu Anderson baru saja didorong keluar dari ruang rawatnya menuju ruang operasi. Setelah sadarkan diri, kondisinya dipantau stabil, meski terkadang terlihat linglung.
Dari arah belakang, terdengar suara pria memanggil mereka samar-samar. Toni dan Wulan seketika menoleh. Dean, Langit dan Rio muncul membawa bunga dan balon warna-warni.
“Ngapain? Mami gue belom bangun. Baru juga masuk ruang operasi,” kata Toni, terheran-heran melihat balon warna-warni yang diangkat Dean setinggi-tingginya.
“Ini buat lo! Kalo nggak mau, gue bawa pulang. Kasi buat anak-anak gue,” kata Dean.
“Mau—mau. Sini, buat bini gue aja.” Toni mengambil balon dari tangan Dean dan mengangsurkannya pada Wulan. Lalu ia menerima sebuket bunga dari Rio.
“Ini biar lo bedua pada semangat lagi,” ucap Rio.
“Makasi, Mas Rio.” Wulan kembali menerima buket bunga yang diangsurkan Toni padanya.
“Lo bawa apa?” tanya Toni pada Langit.
“Hati dan kesetiaan gue, Ton. Cuma buat lo aja,” sahut Langit. Ia lalu mengangkat paper bag berisi kopi yang dibelinya saaat menuju rumah sakit tadi.
__ADS_1
“Apa pun hasilnya—”
“Gue terima,” potong Toni sebelum Dean menyelesaikan ucapannya.
Rio mengangguk dan memukul pelan lengan sahabatnya. “Everythings gonna be alright,” kata Rio.
“Tumben lo bisa keluar siang ini?” tanya Toni pada Dean, saat mereka tiba di depan ruang operasi dan duduk di bangku besi. Lampu di atas ruangan yang berisi Bu Anderson telah menyala.
“Akhirnya, gue hari ini sedikit punya waktu kosong, setelah sepanjang Minggu meladeni klien-klien. Gue lega bisa bersantai sebentar bareng sohib-sohib tercinta gue. Kalo di rumah, hape juga nggak kepegang. Bini gue suka cemberut kalo gue megang hape mulu,” ujar Dean.
“Dinikmati—dinikmati,” sahut Langit.
“Iya, nih. Entar malem gue mau menikmati waktu luang bersama bini gue. Udah lama. Sekalian buka jalan lahir,” tukas Dean terkekeh.
“Mulut, lo ....” Toni merona karena perkataan Dean barusan pasti didengar oleh Wulan yang sedang pura-pura sibuk menyentuh tiap kelopak bunga di pangkuannya.
Tak lama usai mengatakan hal itu, Dean tiba-tiba merogoh saku celananya.
“Bini gue panjang umur, nih. Nelfon!” ujar Dean, langsung menggeser layar di ponselnya.
“Ya, Win?” sahut Dean. Ketiga pria di dekatnya seperti seketika diperintah untuk diam. Tak ada satu pun yang berbicara.
“Mas, di mana? Perutku mules. Kayaknya aku mau lahiran. Udah sakit, Mas ....” Winarsih merengek dari seberang telepon.
“Waduh, padahal masih rencana mau dibantu. Tunggu aku, masih tahan?” tanya Dean buru-buru berdiri.
“Aku tunggu, cepet .... Sakit, Mas. Aku sakit sendirian. Kalau kayak gini, Mas nggak ikut ngerasainnya,” keluh Winarsih.
“Kalo aku bisa ikut ngerasainnya, aku juga mau, Win. Tapi kebetulan aku bisa ngerasain enaknya aja. Kamu tunggu, ya, Sayang. Mas-mu pulang,” ucap Dean langsung mengakhiri teleponnya.
“Guys, gue balik. Bini gue mau lahiran. Gue selalu berdebar. Padahal udah yang keempat. Duluan, ya!” seru Dean berlari. Ia tak sempat mendengarkan sahutan teman-temannya. Dean berlari sembari melepaskan jas dan mengendurkan dasinya.
To Be Continued
__ADS_1