GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
43. Untuk Kita Kembali Lagi


__ADS_3

“Aku anter ke dalem,” kata Toni, mematikan mesin mobil. “Aku cuma nganter aja,” tegas Toni. Ia bergegas turun dari mobil dan sedikit tergesa memutari bagian depan untuk membuka pintu Wulan.


“Enggak apa-apa,” kata Wulan, saat Toni mau membawakan map yang baru diambilnya dari jok belakang. Ia kembali merasa canggung. Sikap Toni mengingatkannya akan masa awal pria itu mendekatinya. Ia baru lulus kuliah dan bekerja menjadi customer service sebuah provider.


“Lingkungan di sini gimana?” tanya Toni.


“Biasa aja. Yang jelas, aku kurang bergaul. Pergi pagi, pulang malem terus.” Wulan men-tap kartunya di pintu kaca hingga terbunyi ‘bib’ dan pintu menjadi renggang.


Toni menahan pintu kaca berat itu untuk Wulan.


“Nanti kalo turun, tekan tombol itu aja untuk buka pintu kacanya,” ujar Wulan. Ia lalu menekan tombol lift hingga terbuka. “Nyampe sini aja, kan?” tanya Wulan.


Toni berdiri sesaat kemudian meraih tangan Wulan dan mengajaknya masuk. “Aku mau liat tempat tinggal kamu selama ini,” ucap Toni.


“Mmm ... oke,” sahut Wulan. Ia kembali men-tap kartu di sensor lift. “Aku di lantai 16,” ujar Wulan. Keheningan lift membuatnya canggung.


“Pasti terbebas dari nyamuk,” sambung Toni.


“Kok, tau?” Wulan menoleh Toni, membulatkan matanya.


“Nyamuknya udah keburu capek terbang,” jawab Toni. “Enggak sanggup kalo ketinggian.” Toni tergelak diikuti Wulan.


Kemudian pintu lift terbuka dan Wulan berbelok ke kiri. “Unitku yang paling ujung, di kiri.” Wulan mendahului langkah Toni. Ia tak ingin berlama-lama di lorong itu dan dilihat bersama pria lain.


“Mmm ... Rey pernah—”


“Enggak, Rey nggak pernah nginep di sini. Aku nggak bolehin,” jawab Wulan.


“Kalo gitu—”


“Kamu juga nggak boleh,” potong Wulan.


“Aku niatnya emang cuma nganter,” ucap Toni, pelan.

__ADS_1


Mereka telah tiba di depan pintu apartemen dan Wulan membuka slot pintu dan memasukkan kata sandi. Empat digit, dan Toni tercekat saat menyadari angka yang baru diketik Wulan. Ia menoleh wajah Wulan yang sepertinya tak sadar kalau ia baru saja mengintip. Ternyata Wulan masih selalu menggunakan empat digit angka yang dulu dipilihnya sebagai tanggal pernikahan mereka. Wulan benar-benar menyukai angka itu.


“Cuma kamar studio. Gitu masuk langsung ranjang. Kursi cuma dua dan langsung ketemu dapur. Kecil banget, tapi ini udah lumayan murah. Aku ngontrak ama furniturenya sekalian. Ke sini cuma bawa koper,” tutur Wulan. Ia menyalakan semua lampu dan menyalakan AC.


Toni melangkah masuk dan melepaskan sepatunya. Ia tak tega menginjak-injak lantai bersih dan mengkilap yang pasti sering dipakai Wulan untuk duduk. Dia hapal kebiasaan kebiasaan Wulan yang suka selonjoran di lantai. Bahkan dulu, wanita itu selalu tiduran di lantai dan menggelinding ke sana kemari tiap kali bertelepon lama dengan adik-adiknya.


“Betah di sini?” tanya Toni. Ia mengedarkan pandangannya. Saat ia sedang berpikir mau duduk di mana, Wulan menjawab pertanyaan yang belum ia lontarkan.


“Kamu boleh, kok, duduk di ranjang itu. Kursi makannya terlalu mini untuk kamu.” Wulan meringis memandang kursi tinggi kecil yang mirip dengan kursi bar.


Toni menghempaskan tubuhnya, bersandar di kepala ranjang dan mengambil satu bantal untuk dipangkunya.


“Kamu pulang bawa mobil aku aja,” kata Wulan.


“Jadi besok kamu kerja giman—” Toni langsung diam. Untung saja Dean tak ada di sana mendengar ucapannya. Kalau Wulan memintanya membawa Mobil, besok ia bisa menjemput wanita itu. Ia bisa meminta supirnya mengantar mobil Wulan langsung ke kantornya. Toni mengutuki dirinya sendiri.


“Apa?” tanya Wulan, berhenti di depan pintu kamar mandi dengan handuk dan pakaian ganti di dekapannya.


Toni kembali mengeluarkan ponselnya dan sedikit takut kalau-kalau Dean kembali mengirimkannya pesan. Sudah hampir tengah malam dan ia masih bersama seorang wanita. Dan wanita itu adalah Wulan.


Toni bangkit dari duduknya. Suara shower kamar mandi masih menyala. Ia mempergunakan waktunya itu untuk berkeliling kamar. Toni mendatangi kulkas yang dipenuhi tempelan. Tak ada apa-apa di sana. Sepotong foto Wulan bersama entah siapa pun, tak ada. Hanya catatan belanja bulanan yang ditempelkan dengan sebuah magnet.


Toni menuju meja makan dan mengambil sebuah gelas. Ia lalu menuju dispenser dan memenuhi gelas itu dengan air dingin. Apa mungkin Wulan masih menganggapnya ‘orang rumah’ sampai wanita itu lupa menawarinya segelas air? Ia lalu meletakkan gelas itu di atas dispenser dan berbalik.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar mandi terbuka dan Wulan keluar. Wanita itu tak bisa menghindari tubrukan tubuhnya dengan Toni yang cukup keras. Ia sampai mundur kembali ke pintu kamar mandi dan Toni menahan tubuhnya.


“Maaf—maaf,” ucap Toni, mengusap-usap punggung Wulan yang dirasanya telah menghantam pintu.


“Enggak apa-apa. Maklum, kok. Kamarnya, kan, kecil. Kamu minum, ya? Aku sampe lupa nawarin minum.” Wulan membenarkan letak handuk di kepalanya yang melorot.


“Kamu kayaknya masih kecil aja,” ucap Toni. Memandang Wulan yang baru selesai mandi dan mengenakan piyama satin lengan pendek dan celana pendek. Wulan terlihat seperti anak SMA.


“Memangnya aku pernah besar?” Wulan balik bertanya, bibirnya mencebik.

__ADS_1


Toni tertawa. Satu tangannya masih berada di punggung Wulan.


“Kalo besok Rey dateng ke kantor sebisa mungkin jangan ribut. Sekali lagi dia berani nyentuh kamu, kamu harus buat laporan. Kamu yang buat laporan, Lan. Harus kamu,” Toni memegang kedua sisi bahu Wulan. “Aku pasti temenin,” tambah Toni.


Wulan mengangguk pelan. “Rey nggak akan kayak gitu lagi. Aku ... rencana mau ngomong serius ama dia. Tapi nanti, nggak sekarang. Aku mau nunggu sampe keadaannya tenang.”


“Soal kita, Lan ....” Toni memandang wajah istrinya.


“Enggak segampang itu, Ton. Aku masih banyak urusan yang harus aku kerjakan.” Wulan menghela napas pendek.


“Kamu masih sayang aku, kan?” tanya Toni lagi. Ia hanya ingin mendengar Wulan mengatakan hal itu setidaknya sekali saja untuk hari itu.


“Enggak tau. Jangan tanya itu dulu,” jawab Wulan.


Sudah dicium dan dipeluk. Tapi kenapa sulit sekali mengatakan masih ada rasa? Toni sedikit menekuk wajahnya.


“Kalo gitu ... aku pulang dulu ya. Udah lewat tengah malem. Itu liftnya bisa langsung ke lobi, kan?”


“Iya, bisa. Nanti langsung ke lobi aja. Kunci mobilnya tadi—”


“Masih ada.” Toni menepuk saku celana bahannya.


“Hati-hati,” ujar Wulan, sambil mengeringkan rambutnya.


“Gitu aja,” gumam Toni. Ia tak peduli kalau Wulan menganggapnya seperti anak kecil. Ia menilai Wulan pelit sekali dalam hal mengungkapkan perasaan. Ia merasa digantung.


“Jadi gimana?” tanya Wulan, sedikit kesal. Ia merasa masalahnya masih menumpuk, tapi Toni sibuk merongrongnya soal perasaan. “Udah, ah. Aku mau istirahat. Pulang aja sana. Aku capek kamu nanya itu terus,” usir Wulan. Ia memegang lengan Toni dan berusaha menyeret laki-laki itu. Namun, Toni bergeming.


“Mana mungkin kamu bisa nyeret aku ke pintu,” ucap Toni, terkekeh. Wulan masih berusaha mendorongnya dengan wajah kesal.


“Gimana kalo gini?” Toni merengkuh pinggang Wulan dan menggendongnya. “Aku bilang, kamu masih kecil.” Toni yang memiliki tinggi 186 senti, dengan mudah mengangkat wanita itu. Ia kembali mencium Wulan yang cemberut dan baru saja mengusirnya tadi.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2