GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
66. Awal dan Akhir Bagi Wulan


__ADS_3

“Kayaknya sebelum semuanya masuk, gue harus ngecek dulu si Rey ada atau enggak.” Dean menoleh pintu masuk kaca yang di sebelahnya duduk seorang satpam.


“Biar saya aja yang memastikan, Pak.” Santoso menawarkan dirinya.


“Jangan,” potong Dean langsung. “Untuk hal ini biar gue aja. Rey nggak bisa dihubungi. Kemungkinan besar kalo didatengi banyak orang sekaligus, resepsionisnya bisa langsung ngomong dia nggak ada. Sampai di sini semua mengerti?” Dean mengedarkan pandangan. “Oke,” sambungnya saat tak ada pertanyaan.


Dean lalu membuka pintu dan tangannya terjulur meraba laci dasbor tengah. Semua mata mengamatinya penasaran. Saat ia kembali keluar dan menutup pintu mobil, Dean mengecapkan bibirnya di depan kaca jendela.


Ryan seketika mendengus. “Punya atasan gini amat,” gumam Ryan. Ia menyadari bahwa atasannya baru saja memulaskan lip balm ke bibirnya.


“Apa sih, Ryaaan …,” ucap Dean, sambil mengetatkan dasinya.


“Ya, udah. Siapa aja yang perlu ikut? Gue perlu ikut?” tanya Toni, sambil menambah gulungan lengan kemeja.


“Lo mau ngapain?” tanya Dean. “Lo nggak usah ikut. Tunggu di mobil aja. Yang lain ikut masuk,” tukas Dean. Ia melirik Wulan yang setengah melamun. “Lan,” panggil Dean. Wanita itu menoleh pada Dean lalu memalingkan wajahnya menatap Toni.


“Aku tunggu di sini,” kata Toni. Mengusap-usap lengan Wulan seraya tersenyum.


“Oke, gue masuk duluan. Liat hape lo,” tukas Dean, menunjuk saku kemeja sekretarisnya. “Kalo gue telfon masuk ya,” pinta Dean. Ryan mengangguk.


Dean langsung menuju pintu masuk dengan langkah percaya diri. Ia mengangguk kecil pada satpam sebelum mendorong pintu kaca dan berjalan lurus menuju resepsionis.


“Selamat sore, Pak Rey-nya ada, kan?” tanya Dean langsung.


Resepsionis di depan Dean meneliti tampilannya sejenak. “Pak Rey-nya—”


“Saya udah ada janji,” potong Dean. “Pak Rey minta saya sore ini ke kantornya.”


Resepsionis di depan Dean diam menimbang sejenak. Ia lalu meraih pesawat telepon.


“Minggu lalu saya ke sini, masa kamu nggak inget? Saya sama Pak Rey ngobrol di ruangannya. Di lantai ….” Dean berpikir sejenak.


“Lantai 3? Minggu lalu, ya? Kok saya nggak inget? Sebentar saya tanya dulu,” ucap Resepsionis itu.


“Ya, udah. Enggak usah ditanya. Nanti kamu malah dimarahin.” Dean tersenyum menatap wanita di depannya. Lalu, ia meraih ponsel dari saku jas dan menghubungi nomor Ryan.


“Ayo, sekarang.” Setelah mendengar jawaban Ryan, Dean kembali memasukkan ponselnya ke saku.


Resepsionis tadi tetap santai berdiri dan tersenyum manis di balik mejanya sampao ketika Ryan, Santoso, dan Wulan masuk ke lobi kecil itu.


“Mau ketemu siapa?” tanya Resepsionis itu lagi.


“Pak Rey. Di lantai tiga, kan?” ulang Dean. “Kamu nggak usah telfon Pak Rey lagi. Nanti malah dimarahi karena membiarkan kita semua masuk. Saya langsung aja,” ucap Dean. Ia menoleh ke belakang sejenak melihat Ryan sudah siap dengan berkas di tangan.


Dean menuju lift tunggal yang berada di sisi kanan lobi. Gedung kantor itu tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar lima lantai saja. Dan di depannya tertera nama perusahaan ekspor impor resmi milik Rey.

__ADS_1


Dean harus menebak-nebak ke mana harus berbelok setelah tiba di lantai tiga. Wulan yang dekat setahun dengan Rey, ternyata tidak pernah masuk ke kantor itu.


Saat sedang bingung memilih di antara dua pintu yang harus diketuknya, Dean langsung mendapat jawaban dari dalam.


BRAKK!


“Gitu aja nggak becus!” Suara Rey terdengar dari ruangan yang berada di sebelah kiri.


“Ooohh … yang ini,” gumam Dean.


TOK! TOK! TOK!


Dean mengetuk tiga kali dengan nada cepat.


“Masuk!!” teriak Rey dari dalam.


Dean langsung mendorong pintu hingga terbuka. Dan melangkah masuk sedikit tergesa. “Ayo—ayo, masuk. Duduk di sana,” ajak Dean, menunjukkan satu set sofa kosong di sudut ruangan Rey pada Ryan.


Seorang pria muda yang terlihat baru saja dibentak oleh Rey, melihat kedatangan tamu sedikit terperanjat. Tiga orang berduyun-duyun masuk ke ruangan dan langsung menempati sofa. Wulan menoleh sejenak saat melewati meja Rey yang duduk mematung. Rey ternyata benar-benar tak menyangka akan kedatangan tamu serombongan.


“Pak Rey, masih ingat saya?” tanya Dean, menyadarkan laki-laki itu.


“Kamu keluar sana,” ujar Rey pada laki-laki muda di depannya. Ia mengamati pegawai itu meninggalkan mereka semua sampai pintu ruangan menutup sempurna.


“Ada apa?” tanya Rey, menatap Dean. Lalu, ia memutar duduknya memandang Wulan yang duduk di sofa menghadap ke arahnya. “Enggak ketemu lama, sekalinya ketemu bawa orang banyak. Mau apa?” tanya Rey pada Wulan.


“Bicara dengan saya aja. Saya pengacaranya Ibu Arista Wulandari. Boleh kita duduk ke sofa sebelah sana, Pak Rey? Biasanya kalo di kantor saya, saya langsung minta tamu duduk di sofa. Saya udah berdiri lima menit nggak dipersilakan duduk,” sungut Dean, pergi berjalan menuju sofa dan duduk di sebelah Ryan.


Rey bangkit dari duduknya dan ikut menuju sofa tunggal yang menghadap ke arah empat orang yang sedang menatapnya.


“Mmm … baiklah. Saya langsung ngasi pembuka aja,” kata Dean. “Sebelum ini Pak Rey sudah ada dihubungi klien saya tapi tidak ada jawaban. Ponsel tidak dijawab dan pesan tidak dibalas. Jadi saya mengusulkan untuk mengadakan pertemuan langsung agar semua masalah ini cepat selesai.” Dean menoleh pada sekretarisnya dan mengangguk.


Ryan mengeluarkan beberapa lembar foto, dan surat kronologis penyelidikan mereka soal CV abal-abal milik Rey. Ia menghamparkan semua berkas di atas meja.


“Silakan dibaca-baca dulu,” saran Dean, pada Rey.


Rey mengernyit, namun membungkuk untuk mengambil satu foto dari atas meja. Rautnya berubah. Ia menyeringai sesaat, lalu rahangnya terlihat mengeras.


“Permintaannya nggak banyak. Kita barter dengan ini,” ujar Dean. Ia mengambil surat perjanjian jual-beli saham. “Lepaskan saham perusahaan Wulan. Uang Anda akan dikembalikan semuanya hari ini. Ibu Wulan juga bakal melunaskan seluruh pinjamannya.”


“Ini pemaksaan. Kalo gue nggak mau gimana? Enak, ya, Lan!” sindir Rey, menatap Wulan.


Wulan membalas tatapan Rey. “Enak aja gimana? Selama ini semua jelas perjanjian bisnis. Enggak ada dana kamu yang dikeluarkan secara pribadi.”


“Saya nggak mau denger keributan yang sia-sia. Semua keributan harus jelas untuk apa. Kalau Anda menolak, laporan soal penyeludupan pupuk bersubsidi ini bakal masuk ke kepolisian paling lama besok pagi,” tukas Dean. “Anda tinggal menyetujui jual beli itu. Enggak bakal ada laporan. Tapi, saya juga menyarankan untuk menghentikan usaha ilegal recehan kayak gitu. Enggak berkelas,” tambah Dean.

__ADS_1


Rey mencampakkan kertas yang berada di tangannya ke atas meja. “Uang dari mana kamu? Ngemis sama mantan suamimu yang nggak bertanggung jawab itu? Iya? Dikasi atau dipinjami?” Rey menatap tajam pada Wulan.


“Gue nggak suka, lho, temen gue dikata-katain nggak bertanggung jawab. Wulan nggak ngemis dari siapa-siapa. Lo salah kalo ngomong kayak gitu. Sekarang lo tanda tangani itu sekarang. Keluarkan surat perjanjian kalian. Wulan akan ngeluarin giro sejumlah uang yang udah lo keluarin.” Dean sudah kehilangan aksen bicara resminya saat mendengar Rey menyebutkan soal Toni yang tidak bertanggung jawab.


“De,” panggil Wulan. Beberapa saat ia menatap Dean dengan tatapan penuh tanya. Wulan sedikit bingung dengan kata-kata bahwa ia bakal mengeluarkan giro untuk membayar hutangnya. Kalau Toni yang meminjaminya, pasti Toni yang akan mengeluarkan giro sejumlah hutangnya pada Rey. Bukan dia sendiri.


Dean membalas tatapan Wulan dengan anggukan yang bermaksud menenangkan wanita itu. Meski terlihat masih bingung, Wulan ikut mengangguk.


Rey berdiri dari sofa dan berjalan menuju meja kerjanya. Tak lama ia kembali dengan sebuah amplop cokelat besar. Rey mencampakkan amplop itu ke tengah meja.


Ryan dengan sigap mengambil amplop itu dan meneliti isinya. Ia membalik-balik kertas yang disatukan dengan steples dan bergumam dengan suara pelan karena konsentrasinya membaca. Hal itu harus ia lakukan secepat mungkin. Di saat Dean harus menghadapi target utama dengan beradu ucapan atau tatapan, ia harus memverifikasi surat-surat secepat mungkin.


Setelah memastikan berkas yang dikeluarkan Rey adalah surat kepemilikan saham, Ryan langsung menegakkan tubuhnya.


“Pak De, oke semua ni,” kata Ryan. “Total semuanya 2,2 milyar. Pinjaman dan pembelian saham.” Ryan melaporkan dari angka yang baru saja dicoret-coretnya di atas kertas.


“Cuma segitu?” tanya Dean, meyakinkan pendengarannya. Ryan mengangguk. “Jiaaah … kirain tadi fantastis banget jumlahnya. Kenapa nggak dikasi aja, sih? Pake acara pinjem segala. Katanya sayang …,” sindir Dean. Ia mengeluarkan bilyet giro beserta buku tabungan.


“Apa ini, De?” tanya Wulan.


“Itu rekening giro atas nama kamu. Dari temenku yang katanya nggak bertanggung jawab,” sindir Dean lagi.


“Lo emang banyak bacot, yah!” sergah Rey.


“Emang! Kalo nggak banyak bacot, gue nggak kaya. Jangan bikin ribut lagi, lo! Masih ada yang belum selesai. So! Keluarkan!” pinta Dean.


“Siap, Pak!” Santoso yang sudah kebagian peran langsung menegakkan tubuh dan memajukan letak duduknya. “Baik, Pak Rey. Sekarang kita masuk ke kasus pidana antara Pak Rey dan Pak Toni. Kita sepakati saja sekarang di sini bahwa kedua belah pihak akan mencabut laporannya masing-masing.” Santoso mengeluarkan surat perjanjian yang telah mereka persiapkan.


“Licik banget, yah, mantan suami lo. Pengecut,” sinis Rey memandang Wulan.


“Jangan salahin temen gue lagi! Yang licik itu gue. Bukan dia! Udah, buruan tanda tangan! Jangan bilang kalo lo nggak mau gimana? Gue udah datengin mantan pacar lo. Wulan juga udah visum untuk kekerasan yang lo lakuin. Kalo gue bikin laporan, Mahda akan muncul sebagai saksi. Mending lo baek-baek aja, deh. Kerja yang bener.” Dean terkikik di dalam hati. Kapan pula Wulan divisum?


“Lo emang—”


“Eh, tunggu. Ada telfon masuk,” kata Dean, ia meraba kantong jasnya. Saat melihat nama yang tertera di layar ponsel, wajahnya langsung berubah. “Bini gue, nih. Lo lanjut aja ngomong nggak apa-apa biar keliatan gue lagi kerja,” kata Dean pada Rey.


“Halo? Ya, Win? Masih ada urusan di luar. Hari ini nggak lama, kok, pulangnya. Kenapa, Sayang?” tanya Dean, lalu ia diam sejenak. “Iya … nanti Mas beli. Masih di kantor temen—eh bukan temen.” Dean menatap wajah Rey yang gusar. Sejurus kemudian, Dean mengakhiri pembicaraannya.


“Sudah, Pak?” tanya Santoso.


“Belum, So. Foto gue dulu. Dari sana aja nggak apa-apa.” Dean menyerahkan ponselnya pada Santoso. Dengan penuh pengertian, Santoso menjepret Dean berkali-kali dengan kamera ponsel lalu kembali menyerahkan pada atasannya.


“Mesti gitu?” tanya Ryan, mengernyit.


“Gue sedang melakukan peningkatan mutu layanan. Baru baikan. Gue kirim foto biar dia makin percaya dan bahagia liat ketampanan suaminya di sore hari,” kata Dean tersenyum-senyum.

__ADS_1


“Ihhh,” desis Ryan.


To Be Continued


__ADS_2