GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
68. Makan Siang Bersama


__ADS_3

“Mi ... gimana persiapan makan siang bapak-bapak?” tanya Rio, menghampiri Jenni yang sedang sibuk mengatur menu.


“Udah selesai, kok. Tinggal ngerapiin aja,” jawab Jenni. “Memangnya Langit udah balik dari Bandung? Kemarin Papi bilang dia di Bandung.” Ia berdiri di sebelah seorang asisten rumah tangga yang mengangsurkan piring lauk padanya.


“Udah balik kemarin. Hari ini di kantor, makanya sekalian aku ajak makan siang di sini.” Rio menarik kursi dan memandangi hamparan lauk-pauk di atas meja. “Jarang-jarang banget di hari ngantor gini kita berempat bisa makan siang bareng. Dan lunch-nya di rumah.” Ia mengangguk-angguk puas dengan menu yang dihidangkan untuk teman-temannya.


“Arisan itu gimana? Jadi? Konsepnya apa?” tanya Jenni.


“Konsepnya? Apa, ya? Ngobrol-ngobrol biasa aja. Tiap bulan atau dua minggu sekali. Kata Dean, kalo bisa sebulan sekali aja. Jangan sering-sering,” kata Rio, meringis memandang istrinya.


“Rewel beneran, deh. Arisan doang banyak banget syaratnya. Apa tiap izin keluar harus pake proposal?” tanya Jenni, tergelak.


“Kalo memang dibutuhkan, bikinin aja proposal dalam bentuk slide powerpoint. Tiap mau pergi, kirim ke Dean. Biar dia bisa rileks dikit. Heran banget emang sama tuh anak. Untung istrinya kalem. Kalo kayak Mami—" Rio lalu tertawa membayangkan kerepotan Dean soal Winarsih yang diizinkan masuk kelompok arisan.


“Kalo istri Dean kayak aku? Kayaknya nggak bakal nyampe tiga bulan rumah tangganya. Kegiatanku banyak di luar.” Jenni menatap hamparan meja dengan tatapan puas. “Udah selesai, Pi. Telfon mereka, deh, tanya udah nyampe mana. Entar keburu dingin nggak enak lagi,” kata Jenni.


“Oke, aku telfon Toni duluan.” Rio merogoh ponsel di saku celananya. Hanya dua kali nada panggilang, Toni langsung menjawab telepon itu. “Ton, udah di mana? Lo nggak bawa Wulan, kan? Kita mau ngomong soal rencana kita—oh, oke. Beres kalo gitu. Lo ama siapa? Cuma berdua dengan Mbak Ifa? Siip … gue tunggu.” Rio lalu kembali menggulir layar ponselnya mencari nama Dean.


“Halo? De? Di mana?” tanya Rio.


“Apa, sih, Riooo … nggak sabar banget,” kata Dean. Mobil yang dikemudikan Ryan baru saja berhenti di depan teras rumah Rio. Ia turun dengan ponsel yang masih berada di telinganya.


“Eh, udah nyampe!” seru Rio saat mendengar mobil berhenti di teras rumah. Ia berjalan menuju pintu utama sambil merangkul istrinya. Jennifer langsung tertawa sebegitu melihat wajah Dean. Ia teringat akan pembicaraannya bersama Rio sesaat yang lalu.


“Hamik hong choi lu lai?(Ada angin apa ke sini?),” canda Jenni, berdiri dari depan pintu.


“Cuan lai khua lu e (Cuma pengen ketemu kamu aja),” jawab Dean, menggoda Jenni dengan memukul pelan lengan wanita itu. Persahabatan 17 tahun bersama wanita itu membuat hubungan mereka sudah menyerupai saudara. Terlebih, Bu Amalia berteman dekat dengan kedua orang tua Rio dan Jenni. Dean masuk tanpa dipersilakan. Ia melewati tuan rumah yang sedang menunggu tamu berikutnya.


“Chin cai lu lah, (Terserah lo, deh)” sahut Jenni tertawa.


“Lo sama siapa, De? Ryan doang?” tanya Rio dari depan pintu.


“Ada Santoso, tuh. Chef mana pun akan senang dengan kehadiran Santoso. Dia benar-benar tau cara menghargai masakan.” Dean langsung berjalan menuju ruang makan. Setelah melihat-lihat menu makanan di atas meja, ia menarik satu kursi di sisi sebelah kiri.


“Mas Rio … terima kasih undangan makan siangnya.” Santoso baru saja tiba di teras rumah.

__ADS_1


“Iya—iya, San. Aman. Masuk aja,” kata Rio dari depan pintu. “Eh, lo nggak jadi cuti? Kok masih kerja? Novi belum lahiran?” tanya Rio, pada Ryan yang berjalan di belakang Santoso.


“Cuti apa? Itu yang masuk duluan tadi belum dapet sekretaris yang sesuai kriterianya. Kayaknya sengaja ngomong semua nggak cocok biar saya nggak jadi cuti.”


“Ryan! Ketimbang lo ngomel-ngomel di sana, mending lo masuk. Makan!” seru Dean dari meja makan. Ia sudah mengambil piring dan mengisinya dengan nasi putih, lalu membiarkan nasi itu sejenak. Seperti biasa, Dean tak suka makan nasi yang uapnya masih mengepul.


“Wuih … makan besar,” kata Santoso. Mengikuti tingkah atasannya, ia menarik sebuah kursi dan duduk di seberang Dean. Sedangkan Ryan, menyusul duduk di sebelah Dean yang sedang menyendokkan tom yam ke dalam mangkuk kecil.


“Makan, So … entar lagi cahaya lo bakal dateng,” kata Dean.


“Oh, iya. Cahaya,” gumam Santoso, membuka piring yang menelungkup di hadapannya.


Tak lama kemudian dari teras terdengar suara tawa Toni dan Langit. Ternyata mereka tiba di rumah Rio nyaris bersamaan.


“Nah, kan. Itu yang lo tunggu-tunggu udah dateng,” kata Dean, menoleh ke arah gawang penghubung ruang makan.


“Eh, udah pada makan aja.” Toni mendekati meja makan dan menepuk pundak Santoso.


“Mbak Mus, mari duduk di sebelah saya.” Santoso menarik kursi kosong yang berada di sebelahnya.


Musdalifah berdiri sesaat melihat kursi kosong lainnya.


“Si anjing,” maki Toni, terkekeh. Lalu ia menarik kursi di sebelah Musdalifah.


“Iya, bener, Mbak. Saya aja mau minta plester ke Mbak Mus,” ucap Santoso, menepuk kursi di sebelahnya.


Musdalifah tak menghiraukan perkataan Dean. “Plester? Untuk apa?” tanya Musdalifah, dengan raut heran.


“Untuk luka lecet karena sudah jatuh bertekuk lutut dengan Mbak Mus,” jawab Santoso, dengan raut kalem. Ia lalu mengangguk pada Musdalifah, seolah meyakinkan bahwa duduk di sebelahnya adalah merupakan hal yang tepat.


“Makin jago, lo. Gue bangga!” kata Dean, mengacungkan jempolnya. Musdalifah memandang sebal pada Dean. Toni semakin tergelak.


“Lo napa lesu banget?” sapa Langit, menarik kursi di sebelah Ryan. “Udah ada kartu nge-gym seumur hidup, dipake dong. Biar makin fit. Ikut latihan bentuk otot-otot lo.”


“Iya, Yan. Biar makin seksi.” Toni menyahuti dari seberang Langit.

__ADS_1


“Ngegym apa, sih?” tanya Dean, heran. “Sejak kapan lo ikut-ikut nge-gym?” Dean mulai menyendokkan nasinya ke mulut.


“Ada, deh. Mau tau aja, sih.” Langit tertawa-tawa, membuka piring di hadapannya.


“Nge-gym di mana?” tanya Dean.


“The Huge,” jawab Toni.


“Kemahalan itu. Lo beli? Tumben banget lo ngeluarin uang segitu banyak cuma untuk nge-gym?” Dean mengunyah dengan alis bertaut. “Kok gue jadi curiga. Lo nggak mungkin korupsi. Andai lo korupsi, gue pasti tau. Dan tipe lo nggak suka menghamburkan uang untuk sesuatu yang nggak darurat. Itu pasti gratis. Huge Gym?” Dean memandang Langit.


“Dari gue,” sahut Langit. “Ape lo? Gue emang mau ngasi aja.” Langit memandang Dean.


“Enggak mungkin, nggak percaya. Pasti ada pertaruhan di dalamnya,” ujar Dean.


“Lo nggak bilang makasi ke atasan lo, Yan?” tanya Toni.


“Makasih kenapa, sih?” Wajah Dean semakin bingung.


“Kasi tau-kasi tau ...,” ujar Rio dari ujung meja.


“Makasi, Pak Dean ... saya menang taruhan sebuah member Platinum Huge Gym untuk seumur hidup berkat rasa insecure di Beer Garden beberapa hari yang lalu.”


“Eh, sialan. Makasi ama bini gue, lo!” sergah Dean melanjutkan makannya.


Langit menepuk bahu Ryan. “Udah bisa lo pake. Data udah diverifikasi,” tukas Langit.


"Segera dilaksanakan," sahut Ryan, kembali makan.


“Eh, Wulan gimana, Ton?” tanya Rio. Posisi duduk ia dan Toni saling berhadapan di antara ujung meja.


“Wulan? Mmm ... entar malem gue ada kencan ama dia,” ucap Toni, dengan nada bicara yang berubah 180°.


“Cieee .... Kencaaan .... Mau melakukan pengesahan! Udah bisa dicoba ninggalin jejak, Ton.” Dean tertawa-tawa menatap Toni.


“Mesum aja pikiran lo,” kata Toni.

__ADS_1


“Nak Toni malu-malu.” Dean kembali terkikik. Toni meremat sebuah tisu untuk menimpuk Dean.


To Be Continued


__ADS_2