GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
109. Menatapi Hasil Sidang


__ADS_3

Santoso dan Musdalifah sedang duduk bersisian di sebuah sofa sederhana. Mereka menunduk di atas meja dengan pandangan tertuju ke arah yang sama. Dua buah kartu akses apartemen dan sebuah kunci mobil matik model terbaru.


Mereka baru tiba di rumah usai mengikuti sidang yang digelar oleh para atasan yang mereka nilai kurang kerjaan.


“Aku nggak nyangka, lho, kalo Pak Dean bakal ngasih mobil terbaru ini,” ujar Santoso, melirik sekilas istrinya kemudian kembali menunduk menatap kunci mobil.


“Apa Pak Dean selama ini termasuk atasan yang royal atau cuma sama Mas Santoso aja?” tanya Musdalifah, menatap suaminy.


“Enggak—enggak, Pak De enggak pelit. Dia memang selalu royal terhadap bawahannya. Asal ... ya, itu. Mau ngikutin apa anjurannya dan tetap tahan dengan segala cuaca kritikan tajam yang sering dia lontarkan,” jawab Santoso.


“Aku juga enggak nyangka, kalau Pak Toni bakal ngasih sebanyak ini. KPR rumahku baru berjalan tiga tahun. Baru-baru ini aku mengajukan pinjaman uang tunai untuk biaya renovasi penambahan teras depan rumah itu. Memang nggak banyak, kalau dibanding dengan uang yang dimiliki Pak Toni. Harga rumahku itu masih terlalu sedikit buat dia. Tapi, zaman sekarang orang mau ngasih kado ratusan juta, itu luar biasa, Mas. Artinya Bu Wulan juga baik banget,” ucap Musdalifah.


“Aku jadi merasa bersalah, Mus. Harusnya kita juga ngabarin ke bapak-bapak. Padahal aku udah usul ke kamu,” Santoso mengerucutkan bibirnya.


PLAKK


"Aduh, sakit Mus,” pekik Santoso memegang pahanya yang baru ditepuk oleh Musdalifah.


“Mas yang ngingetin itu terus. Udah lewat, tapi itu terus yang dibahas. Bikin aku jadi merasa lebih nggak enak lagi, “ sergah Musdalifah. “Jangan lupa, Pak Toni juga minta kita nyari Asih. Itu amanah yang harus dijalankan,” sambung Musdalifah.


Santoso masih cemberut, ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit menjauh untuk menatap istrinya. “Soal amanah itu, sudah pasti aku bakal bantu kamu. Kita sama-sama nyari Mbak Asih itu. Dan kamu ... jangan lupa. Aku ini udah suami kamu, lho. Aku menikahi kamu di depan bapak kamu. Keluarga kamu itu senang dengan aku. Apalagi waktu tau kerjaanku apa. Terus ... kamu inget nggak? Waktu aku bilang bosku itu anak bekas menteri. Semua saudara-saudara kamu senang sama aku.” Santoso membenarkan letak kerah kemejanya dengan raut jumawa.


“Ya, seneng sama anak bekas menteri. Mungkin itu maksudnya,” sahut Musdalifah.


Santoso masih mencibir, tapi pandangannya kembali berpindah pada dua kartu akses apartemen dan kunci mobil.


“Kita udah punya apartemen, udah punya mobil baru. Nanti mobilku kita jual aja. Uangnya kita simpan buat tabungan anak kita. Kita udah punya apa yang diimpikan para pengantin baru. Kita berdua tinggal mewujudkan satu hal terakhir. Kamu pasti tau itu.” Tangan Santoso perlahan berpindah ke atas paha Musdalifah dan mengelus paha istrinya naik hingga ke atas.


Musdalifah menunduk melihat tangan Santoso yang terus bergerak perlahan menyusuri pahanya hingga tangan itu berhenti dan mencengkeram lembut pinggulnya.

__ADS_1


Musdalifah berdiri dari duduknya. "Kalau gitu aku mandi dulu. Aku udah gerah. Dari tadi sore terus mendengarkan ocehan para bapak-bapak yang kayaknya memang kurang bahan pembicaraan. Aku itu tetap heran. Kok, kayaknya mereka nggak punya urusan yang lebih penting ketimbang ngurusin masalah nikah di kampung.” Musdalifah berjalan menuju kamar dan kembali keluar menjenguk suaminya dengan handuk bertengger di bahu.


“Mas Santoso juga mandi. Aku nggak mau kalau Mas Santoso nggak seger. Setidaknya Mas harus meniru atasan yang selalu licin itu,” ujar Musdalifah kemudian menghilang di balik pintu kamar.


Santoso yang masih duduk di sofa, harus memutar tubuhnya untuk melihat Musdalifah berbicara. “Apa tipenya Musdalifah ini seperti Pak Dea” gumam Santoso, melirik pintu kamar yang sudah kembali tertutup.


Setelah kepulangan dari kampung Musdalifah, Santoso mengajak wanita itu tinggal di rumah yang sudah ia beli dua tahun yang lalu. Rumah itu adalah hasil dari bonus Danawira’s Law Firm karena memenangkan suatu kasus dengan mutlak.


Santoso bangkit dan berlari menuju pintu kamarnya. “Mus, Mus! Aku gabung ya.” Santoso telah berdiri di depan pintu kamar mandi, mengetuk-ngetuk istrinya yang mulai menyalakan shower.


“Mau gabung gimana? Kamar mandinya kecil!” seru Musdalifah, membuka pintu kamar mandi dan melongokkan kepalanya.


“Nggak apa-apa, Mus. Semakin pergerakannya terbatas, pasti akan lebih menantang. Bekal teoriku udah mumpuni banget ini, Mus.” Santoso membuka pintu kamar dan ikut masuk ke dalam.


“Awas nanti kalau dijadikan bahan pembicaraan sama bapak-bapak. Aku nggak izin,” kata Musdalifah, beringsut mundur dan kembali ke bawah pancuran yang menyala.


“Kamu, kok, tau bapak-bapak bakal membahas hal beginian?” tanya Santoso seraya membuka kancing kemejanya satu persatu. Ia menoleh pada punggung Musdalifah yang sudah tak mengenakan apapun. Istrinya itu berdiri membelakanginya, lalu membasahi sekujur tubuh di bawah pancuran air hangat.


“Apa aja, Mus ... apa aja. Apa pun yang kamu minta, aku turutin. Jantungku udah mulai berdebar ini. Ya, ampun. Ternyata di balik pakaian kantormu yang sederhana itu, tersimpan tubuhmu yang begitu indah lekukannya.” Santoso mencampakkan pakaiannya dan berjalan mendekati Musdalifah dari belakang.


“Beberapa hari di kampung, aku nggak bisa sepenuhnya praktek ilmu yang aku serap selama ini. Kayaknya aku harus mulai dari awal lagi,” bisik Santoso di telinga istrinya. Mereka berdua di bawah pancuran air hangat. “Aku harus mulai dari mana, Mus? Setiap bagian tubuh kamu, pasti kusebut candu. Lidahku akan kelu, karena terus menerus mengucap rindu.”


“Berisik. Kelamaan,” sergah Musdalifah.


“Kalo gitu, aku langsung praktekkan.” Santoso mencengkeram kedua tangan Musdalifah dan meletakkannya ke dinding kamar mandi. “Untuk kenyamanan, aku mau kamu sedikit membungkuk.”


Di lain rumah.


“Mas, soal Asih udah dibilang ke Musdalifah?” tanya Wulan dari atas ranjang. Ia sedang asyik menatap suaminya yang sedang melepaskan kancing kemejanya satu persatu.

__ADS_1


“Udah. Mungkin akhir Minggu ini Mus dan Santoso bakal dateng ke rumah Asih. Kalo ngomong via telfon aja nggak sopan kayanya.” Toni menarik keluar kemejanya dari selipan celana panjang. Kini di tubuhnya hanya tersisa celana panjang bahan yang dipakainya ke kantor pagi tadi.


“Tapi ... aku memang agak aneh. Kenapa kayaknya Musdalifah yang enggan banget ngomong soal pernikahannya,” kata Wulan. “Aku nggak ada maksud apa-apa. Cuma agak aneh aja,” sambung Wulan memperbaiki kalimatnya. Ia khawatir Toni mengiranya terlalu mencampuri urusan pribadi Musdalifah.


“Mmm—iya, sih. Padahal harusnya tinggal ngomong, kita mau nikah. Selesai. Gitu, kan?” Toni balik bertanya. Ia baru saja melepaskan celana panjangnya dan berjalan menuju ranjang hanya dengan pakaian dalam ketat yang tersisa.


Toni merebahkan dirinya di sebelah Wulan dan menjadikan kaki Wulan yang terjulur sebagai gulingnya.


“Aku nggak maksud lancang mencampuri. Cuma agak aneh. Dari cerita-cerita Mas soal Musdalifah, Santoso, dan temen-temen Mas, sebagai perempuan kayaknya aku bisa ngambil kesimpulan, deh.” Wulan menyisiri rambut Toni dengan jemarinya.


“Apa? Kesimpulan Bu Wulan, apa?” tanya Toni menengadah menatap istrinya. Tangannya mengelus perut Wulan yang berada di depan wajahnya.


“Kesimpulanku? Kayanya sekretaris Mas, Mbak Musdalifah itu pernah suka sama Dean, deh. Bukan suka yang gimana, ya ... mungkin dia kagum. Dean pasti ngerasa makanya terus ketus ke Musdalifah. Untuk membentengi dirinya. Alhasil, Mbak Mus sukanya ilang, jadinya anti dan kesel sama Dean.” Wulan menunduk mengecup dahi suaminya.


“Gitu, ya? Dean pernah bilang, sih, di Sukabumi. Tapi, kita semua cuek aja. Lagian Dean, kan, udah biasa. Dia ahli bikin perempuan suka dan benci ke dia.” Toni tertawa terkekeh mengingat sidang sore tadi.


“Menurut, Mas ... Asih bakal mau nggak?” tanya Wulan, mengusap-usap pipi Toni yang memejamkan mata memeluknya.


“Kemungkinan besar , sih, kayaknya mau. Sebelum mandi, aku boleh nggak?” Toni memasukkan tangannya ke bawah gaun tidur yang dikenakan Wulan.


“Mandi dulu,” sahut Wulan kembali menunduk mencium kepala suaminya.


“Biar sekalian mandinya,” sahut Toni terus mengusap bagian dalam paha istrinya sampai tiba di tujuannya. Jari telunjuknya mengusap celah di antara kedua paha istrinya dari balik pakaian dalam tipis.


“Geli,” gumam Wulan, meletakkan telapak tangannya di pipi Toni.


“Aku sekali aja,” bisik Toni.


“Aku nggak percaya Mas bisa berenti sekali. Lanjutannya juga pasti lama,” sungut Wulan.

__ADS_1


Toni tertawa mendengar perkataan istrinya. Ia lalu bangkit dan menyingkap terusan berwarna putih yang dikenakan Wulan.


To Be Continued


__ADS_2