
Tangan Toni meremaas dada Wulan, bibirnya melayangkan kecupan-kecupan di sepanjang lehernya, mengisap dan menyesap kulitnya.
“Aku mau ngingetin kamu sesuatu ...,” lirih Toni. Ia beringsut di atas Wulan, membagi rata beban tubuhnya dan menekan lembut, menyatukan dada mereka yang masih mengenakan pakaian lengkap. Sedang lutut Toni sendiri, menahan papa Wulan agar tetap terbuka.
Lalu bagian bawah tubuh Toni, mendorong ke antara dua kaki Wulan. Kenikmatan melesat ke sekujur tubuhnya. Wulan mengerang dalam dan bergairah. Menginginkan bagian itu lagi, gesekan terus menerus dari balik singkap tubuh mereka.
Toni mengabulkan permohonan tatapan Wulan padanya. Ia memberi dorongan berirama, perlahan ke tubuh Wulan seraya melancarkan ciuman-ciuman ke leher dan dadanya yang masih terbungkus pakaian.
“Kamu ngomong sesuatu?” bisik Toni, mengisap cuping telinga Wulan.
“Ha?” Wulan menatap mata cokelat mantam suaminya.
“Lagi?” tanya Toni. “Jawab aku dengan sentuhan, Lan ...,” pinta Toni.
Lalu Wulan mengalungkan tangan dinleher mantan suaminya, tatapan matanya berubah. Dan segera, Toni berhasil membuat Wulan mengerang dengan setiap sentuhannya. Semakin nyaring wanita itu bersuara, Toni menanggapinya dengan lebih keras. Ranjang di bawah mereka bergabung dengan irama erotis dan sensual, bergerak seiring dengan dorongan Toni yang kuat dan lentur.
Toni meningkatkan kecepatannya, dan kepala ranjang menambah irama dentuman menghantam dinding. Ia bisa melihat Wulan sudah jatuh dalam bujukannya. Matanya yang sayu dan bibirnya yang setengah terbuka.
“Kamu selalu cantik,” bisik Toni.
Sudah terlalu lama sejak terakhir kali, pikir Wulan. Kali ini ia tak bisa menahan dirinya. Ia memburu sensasi itu. Mengangkat pinggulnya dan menimpali dorongan tubuh Toni hingga mereka begitu simultan.
“Ton,” lirih Wulan.
“Sayang,” ralat Toni. Ia terus mendorong, terus-menerus. Sampai ia mendengar suara Wulan tersentak.
“A—ku,” pekik Wulan.
Toni membenamkan ciumannya kembali di bibir Wulan yang setengah terbuka menantinya. Akhirnya, ia merasakan Wulan menjerit tertahan dalam lumaatan bibirnya.
Wulan merasa luluh lantak. Baru saja dia mendengar dirinya sendiri memekik saat kenikmatan itu menghampirinya. Membuatnya tersengal-sengal.
Dan Toni tetap mendorong, masih bergerak dengan kecepatan yang meninggi. Ia menangkup wajah Wulan dengan kedua tangannya, menyelipkan jari-jarinya ke rambut wanita itu. Toni memegangi Wulan begitu kuat, mendorong dengan bagian bawah tubuhnya. Hingga akhirnya ....
“Maaf,” erang Toni. “Susah berhentinya.” Ia menggeram, tubuhnya bergetar dan menegang dalam pelukan Wulan. Kemudian lunglai menimpa wanita itu, terengah-engah di lekukan lehernya.
Jari-jari Wulan melemah di sekeliling leher Toni. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu bagaimana menyentuh Toni selanjutnya. Hawa ruangan itu menjadi hangat. Dan Wulan bisa merasakan kalau lehernya dialiri oleh keringat. Ia tak tahu keringat siapa itu, miliknya atau Toni.
“Aku rasa, aku udah ada jawabannya.” Toni berbicara dari balik ceruk leher Wulan.
__ADS_1
Ini bukan bercinta, pikir Wulan. Ia sudah menyerah soal apa yang akan dipikirkan Toni tentangnya. Bagaimana Toni akan menilainya, setelah ia begitu mudah mengerang dan mendesaah bersama pria itu.
Toni lalu berguling ke samping, satu tangannya masih terselip di rambut mantan istrinya.
“Kita menikah lagi,” kata Toni. “Aku bakal mencatatkannya segera. Kalo belum siap satu rumah dengan Mami, aku nggak maksa. Tapi, kamu harus jadi istriku lagi. Kamu masih cinta aku. Cara kamu menikmatinya masih sama. Kangen aku, kan?” Ia lalu menyelipkan satu tangannya di bawah tengkuk Wulan dan membawa wanita itu ke pelukannya.
“Jangan abaikan aku lagi ... masuk ke hidupku lagi. Aku iri dengan teman-temanku. Aku selalu sendiri tiap mereka sibuk dengan keluarganya. Maaf kalo aku terlambat. Tapi ... dalam waktu selama itu, aku semakin banyak mengerti.” Toni menunduk menatap Wulan. “Jawab, Lan ... Kamu masih sayang aku, kan?”
Wulan mendongak menatap mantan suaminya. “Aku selalu sayang Mas Toni. Masih sayang kamu, Yang .... Selalu.” Mulutnya menekuk menahan tangis.
Toni mengeratkan pelukannya, “Maafin aku—maafin aku.”
Saat ia memeluk Wulan dan menatap jam dinding di seberang ranjang, Toni terperanjat. Ia tadi sudah berjanji tak akan lama. Ia buru-buru bangkit.
“Lan, aku ninggalin anak di rumah Dean. Kasian anak itu. Aku harap dia nggak kehabisan energi menghadapi Santoso,” kata Toni, beranjak mengambil ponselnya di atas nakas.
“Anak?” tanya Wulan.
“Si Mus—si Mus,” jawab Toni, langsung menghubungi nomor Dean.
“Ooo .... Itu Santoso?” tanya Wulan lagi.
“Siapa yang nggak tertekan dekat pengacara Danawira?” ledek Wulan, tertawa kecil. Toni tersenyum melihat Wulan tertawa menarik sebuah guling.
“Halo? De!” panggil Toni. “Itu anak-anak lagi apa? Gue entar lagi ke sana. Ini udah mau jalan,” kata Toni.
“Lama, ya ... pasti mukadimahnya panjang. Udah enak?” tanya Dean, terkekeh.
“Enggak—enggak,” jawab Toni, dengan nada datar. Ia khawatir pembicaraannya menarik perhatian Wulan. Tapi entah kenapa ia senang dengan sensasi berbicara di telepon sambil menjaga perasaan wanita di sebelahnya. Rasanya sudah lama sekali ia tak melakukan hal itu.
“Masa, sih, belom enak? Lo cuma ngasi sampel?” Dean tergelak di seberang telepon. “Gue udah bisa bayangin lo ngapain.” Dean kembali tertawa.
“Udah, ya! Gue tutup. Entar lagi gue ke sana,” ujar Toni.
“Eh, gue udah bilang ama ibunya anak-anak. Entar malem kita keluar. Jadi sebelum ke sini, lo pulang dulu gih ganti daleman. Rumah lo, kan, deket dari sini. Entar risih, Ton ... gue aja baru selesai mandi dibantu bini gue. Ternyata siang-siang enak banget.”
“Mulut, lo! Dasar sinting,” umpat Toni. “Gue tutup,” kata Toni, lalu menekan tombol end.
“Mau langsung balik sekarang?” tanya Wulan.
__ADS_1
“Mau ngajak mandi bareng sebenernya, tapi aku nggak ada bawa ganti.” Toni tertawa palsu. Ia hanya ingin mengecek apa tanggapan Wulan atas jokes-nya barusan.
“Iya, pulang aja. Kamu, kan, bas—sah.” Wulan mengatupkan mulutnya.
“Kamu juga mandi. Entar malem kalo mau ikut, aku jemput.”
“Ke mana? Beer Garden?” tanya Wulan, masih memeluk gulingnya. Toni mengangguk.
“Enggak usah. Pasti personil bapak-bapak lengkap, kan?” tanya Wulan. “Aku nggak usah ikut, masih ada kerjaan. Aku ikutnya ... besok aja. Kita ketemu Rey,” cetus Wulan.
“Oke. Jangan buka pintu untuk siapapun, ya ....” Toni menunduk, lalu kembali mencium bibir Wulan. Ia sampai memejamkan mata, karena kenikmatan ciuman yang sedang disesapnya.
Dan Toni bisa membayangkan, hal apa saja yang bisa ia lakukan setelah Wulan kembali menjadi miliknya.
Di kediaman Hartono, Dean baru keluar kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya. Ia menuju lemari dan mengambil terusan berwarna kuning pucat untuk dikenakan istrinya di rumah.
“Pakai yang ini ya, Win.” Dean mencantolkan sebuah dress di hanger besi tinggi. Winarsih sedang duduk di depan meja riasnya, mengenakan bath robe sambil mengeringkan rambutnya.
“Katanya sekali aja, enggak lama. Aku dibola-bolai aja,” sungut Winarsih.
“Apa karena suka bola-bola?” tanya Dean, tersenyum jahil.
“Apa itu?” tanya Winarsih, memandang suaminya dari pantulan cermin.
Dean terkekeh-kekeh seraya mengenakan pakaiannya.
“Aku turun ke bawah, ya ... Aku mau nanya siapa pemenangnya.” Dean lalu buru-buru keluar kamarnya.
To Be Continued
Ini adalah novel adult romance ya ....
Dari awal bab dua sudah diingatkan.
Buat yang tidak setuju style dan ide cerita penulis, bisa pindah mencari cerita lain. Karena semuanya gratis di NOVELTOON.
Pokoknya jangan pening-pening kali. Karena ini semua cuma halusinasi. Dirangkai dari imajinasi dengan tujuan relaksasi.
Jangan ceramah di kolom komentar.
__ADS_1
Hidup itu selalu dipenuhi dengan pilihan.