GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
61. Kurang Konsentrasi


__ADS_3

Toni merapatkan gigi memandang wajah Langit yang tak mengerti akan akibat perkataannya barusan. Ia menendang kaki Langit. Namun ....


“Aw! Apa, sih, Ton?” Dean menoleh pada Toni di seberangnya. “Berdiri lo. Tukeran posisi ama gue. Leher gue bisa sakit noleh ke belakang terus.”


Langit memandang Toni yang sedang membelalak padanya. Lalu pria itu mengatupkan mulutnya.


“Tumben Bu Win ikut, De.” Rio memandang Winarsih yang duduk membelakangi meja mereka. Dari kursi Dean, Winarsih berada di posisi jam dua. Wajah senior istrinya di kampus, terlihat jelas dari tempatnya duduk.


“Ganteng, ya ...,” celetuk Musdalifah tiba-tiba. Toni berjengit. Menyadari ternyata Musdalifah masih berada di sudut meja bersebelahan dengan Ryan. Ia kembali membelalak menatap sekretarisnya. Namun, hingga matanya nyaris keluar, sepertinya Musdalifah tidak menyadari perbuatannya.


“Eh, gue langsung buka rapat kita. Oke. Dibuka, ya ....” Toni mengedarkan pandangannya.


Semua mengangguk kecuali Dean. Pria itu hanya mengetukkan tangannya di meja dengan mata tak lepas memandang punggung Winarsih yang berguncang karena tawa. Ia bisa melihat Winarsih menutup mulut dan mengibaskan tangannya di depan wajah. Sejak kapan Winarsih punya gesture semanis itu?


“Iya—iya, langsung buka aja rapatnya,” ujar Ryan. Ia merasa harus cepat-cepat mengakhiri kekonyolan para pria di sana. Sejak pagi ia tak habis pikir. Kenapa rapat harus di Beer Garden. Kalau ingin membahas hal penting, bukankah lebih baik mereka bertemu di kantor saja? Tapi rupa-rupanya rapat itu juga dijadikan ajang cuci mata.


“Jadi gimana, De?” tanya Rio.


“Ha?” Dean bertanya balik. Menatap semua mata yang sedang tertuju padanya.


“Gimana soal gue, De ....” Suara Toni mungkin hampir menangis karena menunggu saat yang tepat untuk mengajak Dean berbicara.


“Eh, iya. Besok, deh. Bilang ke Wulan putusin si Rey.” Dean kembali melihat ke arah istrinya. Sekarang Wiinarsih kembali tertawa sambil memegang bahu Nisa. Istrinya menyembunyikan wajah di balik tubuh temannya. Sejak kapan Winarsih bisa seanggun itu?


“Di mana?” tanya Toni, hati-hati.


Dean kembali menoleh. “Ha? Di mana? Emang maunya di mana? Kok gue jadi bingung. Biasanya lo mutusin cewe di mana?”


“Iya—di mana, Ton?” tanya Langit. “Gue jadi ikut mikir di mana biasa mutusin cewe.”


Toni kembali melemparkan tatapan sebal pada Langit di sebelahnya.


“Gue pernah diputusin lewat chat,” kata Toni.


“Sama siapa?” tanya Langit.


“Tasya,” jawab Toni.


“Oh, bagus. Kalo gitu Wulan mutusinnya lewat chat aja.” Langit mengangguk-angguk.


“Kayaknya nggak baik. Wulan ada urusan bisnis dengan Rey. Sebaiknya ngomong langsung. Lebih sopan,” kata Rio.


“Udah, besok gue aja yang mutusin dia. Ribet amat,” potong Dean.


“Nah, udah aman,” bisik Langit.


“Oke, satu masalah ditandai selesai. Kita lanjut berikutnya. Soal ... Mami Toni,” tukas Langit.


“Jadi jalanin rencana kemarin nggak?” tanya Rio.


“Ultah Mami Toni kita ngumpul semua di rumahnya bawa keluarga?” Langit meyakinkan bahwa itu yang dimaksud temannya.


“Iya—iya, bener.” Toni mengangguk. “Gimana, De? Menurut lo Wulan langsung diajak aja, atau gimana?”


“Gue nggak suka liat Bini gue ketawa terus di depan laki-laki itu. Dia kayaknya nggak pernah ketawa sesering itu di depan gue.” Dean menatap Winarsih yang menyambut minumannya datang.


“Di depan lo, sih, dia nggak ketawa. Coba inget-inget Bini lo ngapain?” Rio menepuk-nepuk pundak Dean.

__ADS_1


“Cakep, sih ...,” desis Musdalifah lagi. Ia ikut memandangi tempat Winarsih duduk bersama temannya.


Toni menatap Musdalifah seakan tak percaya. Sekretaris yang dinilainya paling sigap dan memiliki tepa salira yang tinggi baru saja mencoreng namanya sendiri karena tak memahami situasi.


“Mus,” panggil Toni.


“Ya, Pak?” Musdalifah menoleh pada atasannya.


“Kayaknya kamu udah bisa pulang.”


“Ha? Udah bisa?” Musdalifah melonjak senang dari duduknya.


“Iya, pulang aja. Enggak apa-apa,” kata Toni.


“Maka ruangan ini akan sedikit redup karena kekurangan cahayanya,” kata Santoso.


“Kalau terus bermasalah dengan cahaya, cek ke dokter mata. Siapa tau mulai katarak,” jawab Musdalifah santai, mengalungkan tasnya ke bahu.


Santoso lalu bertukar pandang dengan Ryan di depannya. Meski tanpa ekspresi, Ryan sedang tertawa di dalam hati. Musdalifah melangkah riang mengitari meja menuju lorong yang mengarah ke pintu keluar. Bersamaan dengan itu, seorang pelayan mendekati meja mereka dengan beberapa buku menu.


“Cekatan banget, ya. Aku pulang buku menu baru dateng.” Musdalifah menyindir pelayan. “Bapak-bapak semuanya, saya permisi undur diri dulu malam ini. Semoga meeting-nya membawa kesepakatan dan malam ini tidak ada acara baku hantam karena saya akan mematikan ponsel.” Musdalifah sempat melirik Dean yang merapatkan gigi memandangnya.


Musdalifah tergelak lalu buru-buru melangkah pergi. Setibanya melewati meja Winarsih dan teman-temannya, Musdalifah berhenti sejenak.


“Bu Win, saya pamit duluan ya. Sudah dari pagi di luar menemani atasan.” Musdalifah menyentuh lengan Winarsih saat mengatakan hal itu.


“Pulang sama siapa?” tanya Winarsih.


“Sendiri, Bu. Sudah biasa sendiri. Asik, ya, Bu ... duduk di sini. Kayaknya harus lebih sering ikut Pak Dean,” kata Musdalifah. Menyempatkan dirinya memandang Pratama yang sedang mengait sebuah es batu dengan sedotannya.


“Pak, ini menunya.” Pelayan menyodorkan buku menu ke hadapan Dean.


“Yang minta menu siapa, sih?” tanya Dean.


“Sini—sini,” kata Toni, pada pelayan. “Nih! Pilih sendiri, ngomong sendiri ke dia. Gue pesen yang biasa aja. Dean juga yang biasa,” ujar Toni, mengedarkan menu pada rekannya. Ia mendiktekan langsung pesanan Dean tanpa bertanya.


“Karena sepertinya bakal lama, pesanan saya agak banyak kayaknya.” Santoso membuka-buka buku menu.


“Iya, So ... iya. Terserah. Apa aja,” sahut Toni.


“Toni udah ikutan stres,” bisik Langit, pada Rio.


“Lo jangan nambah-nambahin. Sekali lagi ribut, kita semua digelandang ke kantor polisi.” Rio menendang ujung sepatu Langit yang berada di depannya.


“Ehem! De!” panggil Toni.


“Ha?” Dean menoleh, dengan wajah bengong. “Ngomong apa?”


“Soal Rey, De ...,” jawab Toni lembut.


“Sorry. Gue nggak konsen, sumpah! Aduh, gue bisa bayangin itu pikiran laki-laki ke mana-mana pasti.”


“Enggak semua laki-laki yang otaknya sama kayak lo,” timpal Langit.


“Iya, overthinking banget. Panggil aja, deh, minta duduk di sini. Urusan Toni juga nggak bakal kelar. Lo nggak konsen gitu,” kata Rio.


“Enggak—enggak. Sorry, oke. Kita lanjutin,” kata Dean. Ia cemberut menatap punggung istrinya. Ada rasa kesal bercampur sedih saat Winarsih menoleh tadi, tapi mengindahkannya.

__ADS_1


“Oke, saya aja yang urutkan masalahnya. Rey punya bisnis ilegal yang termasuk kecil-kecilan.” Ryan membuat tanda petik dengan kedua tangannya saat mengatakan hal itu.


“Bisnisnya apa?” tanya Langit, mulai tertarik. Ia memajukan letak duduknya. Namun, kembali mundur karena pelayan datang dengan nampan besar berisi pesanan mereka.


“Bisnisnya apa, Pak?” Ryan menatap atasannya dari ujung meja yang berlawanan.


“Bisnis siapa?” Dean balik bertanya. Perlahan wajah kesalnya berganti dengan sorot muram, tak bersemangat. Dean merasa diabaikan. Ia belum makan malam dan Winarsih tak ada bertanya soal hal itu padanya.


Melihat hal itu, semua saling berpandangan. Ryan menggaruk kepalanya. Santoso membulatkan matanya di depan semangkuk sop buntut lengkap beserta nasi dan perintilannya.


“Udah, deh. Panggil bininya,” kata Rio. “Bisa sampe besok ini aja nggak kelar-kelar,” sambungnya lagi.


“Gue yang panggil,” kata Toni.


“Enggak usah,” cegah Dean.


“Kenapa?” tanya Rio, Langit, Toni dan Ryan nyaris serempak.


“Gengsi gue,” lirih Dean.


“Halah! Gue panggil aja. Entar gue alesan mau minta pendapat soal Wulan. Gimana?” tanya Toni, menatap Dean.


“Kasian juga, kayaknya lagi asik ama temennya. Tapi gue resah, nggak tenang. Gue nggak suka dia duduk adep-adepan ama temennya.”


“Kan, nggak mungkin temennya di depan, tapi Bini lo ngadep ke belakang. Lo kadang suka aneh.” Langit mulai terkikik-kikik karena ucapannya sendiri. “Norak banget, sih.”


“Enggak, sih, Lang ... wajar kalo Dean ngerasa gitu. Temennya Bu Win keliatan gagah. Gue kalo jadi Dean juga bakal insecure.” Rio ikut mengamati ke arah di mana Winarsih duduk.


Kali ini Toni tak bisa menyembunyikan suara dengusnya yang sangat keras. Rio langsung diam.


“Udah, ah. Gue panggil sekarang!” sergah Toni, bangkit dari duduknya.


Kali itu, Dean tak mencegah Toni berdiri dan berjalan menghampiri Winarsih. Tadi ia memang kesal melihat istrinya tertawa-tawa, namun rasa kesal itu dengan cepat berubah menjadi sebuah perasaan sedih diabaikan.


Biasa Winarsih selalu mengurusi soal makannya tiap mereka bersama. Sekarang perutnya lapar, namun Winarsih asyik bercengkerama dengan teman-temannya.


“Bu Win,” panggil Toni. Ia sudah berdiri di dekat meja. Tinggi menjulang membayangi empat orang anak muda yang sedang bercerita sangat seru. Sesekali tadi mereka menyebut-nyebut soal acara anniversary kampus mereka.


Winarsih mendongak menatap Toni yang memandangnya meringis.


“Ya, Mas Toni?” tanya Winarsih.


“Bantu aku, Bu Win ...,” ucap Toni. Ia menoleh ke arah Dean. Sahabatnya itu berpura-pura mengangkat minumannya dan meneliti dasar gelas. Entah apa yang sedang ditelitinya.


“Kenapa, Mas? Sudah rewel?” tanya Winarsih.


“Sejak nyampe,” jawab Toni.


“Itu pura-pura sibuk, ya?” Winarsih menoleh suaminya.


“Iya, gengsi.” Toni meringis.


“Sebentar lagi saya ke sana,” jawab Winarsih, tersenyum.


“Baik. Jangan lama-lama kalo bisa.” Toni tersenyum dan mengangguk memandang teman Winarsih satu persatu.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2