GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
91. Suprise


__ADS_3

Toni masih menatap Wulan dengan mulut ternganga dan pandangan tak percaya. Wanita itu baru saja menyanggupi akan kembali tinggal di rumahnya. Setelah meninggalkan rumah itu atas kehendak dia sendiri, lalu mau kembali dengan satu ajakan mudah. Toni sadar itu bukanlah hal yang mudah bagi Wulan. Wanita yang sedang mengusap pipinya saat itu pasti sudah mampu mengalahkan egonya.


“Kamu serius?” tanya Toni masih tak percaya.


“Serius. Ayo, berangkat. Mobil ayah-ibu udah jauh.” Wulan memandang deretan rumah tetangganya. Mereka bahkan belum bergerak sama sekali.


“Iya-oke, kita berangkat sekarang.” Toni memasukkan persneling dan berlalu dari depan rumah Wulan.


Hari Jumat sore jalan kota Jakarta mencapai titik macet maksimal. Pekerja kantoran berlomba tiba lebih awal di rumah mereka. Para pelancong yang ingin menghabiskan penghujung minggu dengan berlibur ke luar kota, turut menjadi penyebab kemacetan yang kentara.


Mobil yang dikendarai Toni tiba hampir satu jam sesudah keluarga Wulan. Pukul enam sore, dan langit sudah gelap. Suhu udara melorot perlahan, tapi pasti. Wulan merapatkan sweaternya saat melangkah turun dari mobil. Angin dingin seketika menyapu pipinya.


Lampu taman resor terbesar di Bogor itu sudah menyala. Memendarkan cahaya kuning yang hangat.


“Aku tidur sendiri,” bisik Toni saat ia merangkul Wulan menaiki tangga menuju lobi.


“Terus kenapa? Jangan mikir macem-macem.Malu,” sungut Wulan.


“Aku cuma bilang, aku tidur sendiri. Itu aja kok,” cetus Toni. Ia geli melihat ekspresi gusar Wulan. Kebersamaan mereka kembali, ternyata membuat Wulan kaku di depan keluarganya.


“Pak, tiga kunci lainnya sudah diberikan pada tamu yang sudah datang lebih dulu.” Resepsionis pria meletakkan dua kunci di atas meja pualam setinggi dada orang dewasa.


“Oke, terima kasih. Mmm ... untuk yang besok—”


“Besok pagi, saat Bapak keluar, akan ada petugas house keeping dan dekor dr pihak hotel,” ucap resepsionis seraya menyerahkan empat kunci kamar pada Toni. Dua orang petugas concierge menghampiri dengan sebuah troli besar berwarna keemasan, lalu mengangkut semua barang-barang yang mereka bawa. Termasuk dua hanger berisi jas hitam dan dress sederhana berwarna putih gading, namun terlihat elegan dan mewah yang masih terbungkus dalam plastik.


“Kamar kita deket-deketan, kok.” Toni kembali menggoda Wulan. “Aku bisa pindah ke sebelah,” tambahnya lagi.


“Besok aja, tunggu keluarga pulang. Lagian, habis nikah bakal ketemu tiap hari.” Wulan merendahkan suaranya agar tak terdengar.


“Tapi malam ini, kita bisa romantis-romantisan. Besok kayaknya Dean, Langit dan Rio ikutan nginep. Malam ini kita bisa makan malam berdua. Enggak ada yang ganggu. Besok malem ada mereka, berisik. Pasti ngajak ngobrol lama.”


“Iya, terserah Mas aja.” Wulan menyerah. Toni hadir dengan sejuta alasan agar mereka bisa berduaan malam itu. Sepertinya mood calon suaminya itu sedang baik karena hal yang ia lontarkan sebelum berangkat tadi.


Wulan dan Toni baru saja tiba di depan kamar mereka yang letaknya bersebelahan. Toni mengekori Wulan dan langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang besar. Keluarga Wulan sudah menempati kamarnya masing-masing. Ayah-Ibu Wulan seakan membiarkan anaknya memiliki waktu berkualitas bersama Toni. Dari mulai sebelum berangkat, mereka tak ada mengganggu pasangan itu dengan pertanyaan-pertanyaan teknis.


“Aku belum rubah kamar di rumah. Masih kayak dulu,” kata Toni.


“Berarti aku harus ganti. Kan, pengantin baru. Harusnya dikasi yang baru juga,” kata Wulan.

__ADS_1


Toni tertawa. “Iya—iya ... kamu mau ganti apa aja boleh.” Ia berbaring menumpukan kepalanya dengan satu tangan. Mengamati Wulan yang sedang mengaduk-aduk isi tasnya di meja rias.


“Mas, nggak ngasi kabar ke sepupu? Nikah lagi?” Wulan menoleh pada Toni.


“Ngasi tau? Ngapain? Mereka di luar negeri. Lagian aku nggak bilang udah pisah sama kamu. Selama empat tahun, aku ketemu mereka baru dua kali. Itu juga karena mereka dateng urusan bisnis. Buru-buru ketemuannya,” sahut Toni.


Wulan hanya diam mendengar penjelasan calon suaminya. Berarti hanya mereka saja saat itu. Benar-benar keluarga dekat. Saling berjanji dan mengikrarkan janji sebagai suami istri, lalu kembali menandantangani surat-surat memang tak akan membutuhkan waktu lama. Wulan tak perlu apa-apa lagi. Ia hanya ingin menjadi seorang istri yang bisa merawat Toni.


“Entar malem mau ngajak aku makan malam romantis di mana? Restoran, kan?” tanya Wulan.


“Iya. Memangnya mau di mana? Di kamar?” tanya Toni kembali menggoda Wulan.


Suara roda dan troli terdengar menyeret lantai. Pegawai concierge sudah datang untuk mengantarkan bawaan mereka.


Tok! Tok! Tok!


“Sebentar,” sahut Toni, menekan handle pintu dan mengayunkannya ke dalam. “Sini, biar saya aja yang angkat.” Toni mengambil dua tas dari tangan pegawai dan memasukkannya ke kamar. Ia tak mau petugas ikut masuk ke kamar saat Wulan sedang berdiri mematut-matut tubuhnya di depan kaca.


“Sudah semuanya, ya, Pak?” tanya pegawai itu memastikan.


Toni mengeluarkan dompetnya dan menarik selembar uang berwarna merah. “Terima kasih,” ucapnya.


Pegawai concierge mengangguk dan berlalu dari depan pintu.


“Mesti mandi di sini?” tanya Wulan. “Di sebelah kosong,” kata Wulan.


“Aku nggak ada temen di sebelah. Lagian cuma mandi aja. Kan, mau makan malam romantis.” Toni mengedipkan matanya pada Wulan. Wulan mencibirkan mulutnya saat melihat itu.


Wulan menelungkup di ranjang. Mengotak-atik ponselnya membalasi semua pesan yang bertanya soal acaranya esok hari. Teman-teman dekatnya mengetahui kabar soal pernikahannya kembali bersama Toni dan mengatakan kalau itu harusnya sejak dulu ia lakukan. Wulan menelungkup membelakangi lemari dan pintu kamar mandi. Setelah Toni keluar dari kamar mandi, ia juga berniat membersihkan tubuh dan memakai pakaian santai yang cukup hangat, untuk makan malam romantis.


Lalu, pintu kamar mandi terdengar terayun membuka. Toni tadi meletakkan pakaian yang dikeluarkannya dari tas di atas meja rias. Meja rias itu sejajar dengan lemari. Wulan tahu Toni pasti hanya keluar mengenakan handuk. Ia pura-pura tak menyadari kehadiran pria itu di belakangnya. Namun, suara gesekan handuk yang sedang mengeringkan rambut, membuat pikiran Wulan terusik.


Tadinya Wulan membuka-buka aplikasi pesan. Saat membaca pesan grup kampusnya, ia melihat pantulan Toni yang sedang mengambil pakaian dalam dan melepas handuknya. Toni membelakanginya. Dan secara tak sadar, Wulan mematikan layar dan menggunakan ponselnya untuk mengintip Toni. Ia memiringkan ponselnya hingga ke kiri. Mirip sebuah kaca spion yang sedang memantulkan objek di belakang.


Wulan mengatupkan mulut. Antara geli dan merasa dirinya jahat sekali. Memanfaatkan Toni yang selalu berpikiran lurus padanya. Pria itu sepertinya tak menyadari kalau sedang dijadikan objek intaian. Toni membungkuk, lalu mulai menaikkan pakaian dalamnya. Wulan harus menggigit bibir bawahnya karena menyaksikan bagaimana tubuh telanjang Toni memantul lewat kaca ponselnya.


Ia memakukan pandangannya pada paha Toni yang berisi. Otot paha pria itu membuat Wulan merinding. Saat Toni memiringkan tubuhnya, seketika itu pula Wulan menarik napas dan menelan ludah.


Ya, ampun. Sinting sekali, pikirnya. Toni saja mungkin tak akan melakukan hal serendah itu padanya. Wulan memejamkan matanya sejenak untuk mengatur napas. Isi pikirannya sekarang dipenuhi oleh bagian tubuh Toni yang beberapa waktu lalu berada di dalam genggamannya. Ia lalu membuka mata dan kembali melirik ponsel. Tak ada pemandangan Toni di belakangnya. Wulan menggeser ponsel lebih ke kiri. Mencari pemandangan yang sudah sangat lama tak ia lihat. Saat sedang sibuk memutar ponsel ke kanan dan ke kiri, tiba-tiba Wulan dikejutkan dengan tubuh Toni yang menindihnya dari belakang.

__ADS_1


“Nakal, ya ... ngintip aku rupanya,” bisik Toni di telinga Wulan. “Sabar. Besok siang udah bisa. Aku mau nyoba dari berbagai posisi.” Ia kemudian mengecup dan menggigit pelan telinga Wulan.


“Siapa yang ngintip? Geli, ah.” Wulan menggeliat, memiringkan kepalanya untuk menoleh ke belakang.


“Yakin nggak ngintip? Geli mana sama ini?” tanya Toni, menekan tubuhnya di belakang tubuh Wulan. Ia hanya mengenakan pakaian dalam. Dan Wulan mengenakan rok plisket berwarna hitam sepanjang betisnya.


“Pake baju dulu sana,” usir Wulan. Ia merasakan bagian tubuh Toni yang tadi membuatnya terhenyak kini sedang menekan bokongnya.


“Ketimbang ngintip aja. Mending ngomong kalo mau ngeliat.” Toni terkekeh.


“Apaan, sih, Mas. Geli tau,” sungut Wulan. Dari mana pula Toni belajar menggoda wanita seperti itu. Apa semakin bertambah usia, candaan para laki-laki ini semakin mesum, pikirnya.


“Geli, ya?” bisik Toni lagi, menyingkirkan rambut sebahu Wulan ke sisi lain bahunya dan mulai mengecupi leher wanita itu. Ia lalu menyelipkan tangan kanannya melewati lipatan lengan Wulan yang sedang menumpu tubuh di atas ranjang.


Toni mengecupi leher dan garis rahang Wulan. Tubuhnya masih berbaring menimpa Wulan yang berpakaian lengkap dan memegang ponselnya dengan wajah canggung. Ia bergerak maju mundur perlahan. Merasakan gelenyar sensasi di bagian bawah tubuhnya yang menekan bokong Wulan dari atas rok tipis.


DRRRRT.


DRRRRT.


DRRRRT.


“Ada telfon. Jawab siapa tau penting,” pinta Wulan. Ia harus menghentikan aktifitas yang terasa memabukkan tapi tak bisa mereka lanjutkan saat itu. Perutnya lapar. Dan bayangan makan malam romantis tak akan sanggup ia tolak.


Toni bangkit meraih ponselnya di nakas. Ia lalu merebahkan dirinya di sebelah Wulan dan memeluk tubuh wanita itu.


“Dean, nih. Mau nanya apa lagi, sih?” Toni menggeser layar ponselnya.


“Apa, De?” sahut Toni.


Lalu, “Supriseeee ....” Suara tiga orang laki-laki terdengar dari seberang telepon.


“Suprise apaan?” tanya Toni heran.


“Suprise karena kita semua udah nyampe di lobi resor. Kita semua laper. Ayo, makan malem.”


“Hah? Katanya besok pagi,” ucap Toni. Ia baru saja berencana akan mencumbui Wulan. Hanya menciumi dan memeluk wanita itu pasti akan menyenangkan sekali, pikirnya.


“Jangan bilang kalo lo lagi telanjang-telanjangan sekarang. Besok lo udah bisa fotokopi si Wulan. Lo bolak-balik depan belakang. Sekarang turun. Ajak kita makan!” Dean lalu menutup telepon.

__ADS_1


To Be Continued



__ADS_2