
“Oh, iya. Luka juga. Ya, ampun. Semoga nanti nggak ninggalin bekas. Kasian bapaknya Dirja,” ucap Winarsih dengan wajah prihatin.
“Iya, nyebelin banget. Ini bukan karena aku nggak tangguh, lho. Aku sibuk manggil Ryan yang sedang sibuk membantu Rio berdiri. Aku harus pake gel penghilang memar. Sebelum daguku membiru,” tutur Dean dengan wajah memelas.
“Iya—iya, kasian bapaknya Dirja. Sakit?” tanya Winarsih menyentuh luka baru di bibir suaminya.
“Sakit. Harus dicium biar ilang sakitnya. Di sini,” kata Dean, menunduk, lalu menunjuk sudut bibirnya. “Ciuman 30 detik bisa membantu menghilangkan rasa kesal,” ujar Dean.
“Kelamaan kalo 30 detik,” sahut Winarsih menoleh pada dua sahabat suaminya.
“Kelamaan mikirnya,” tukas Dean, mengecup cepat bibir Winarsih dengan kilat. “Mmmuah,” ucap Dean.
Winarsih kemudian terdiam. Hal yang selalu mengejutkannya meski telah dilakukan Dean berulang kali. Menciumnya tiba-tiba di depan umum.
“Ayo cari tempat duduk. Kamu nanti kelamaan berdiri,” ajak Dean, menuntun tangan istrinya menuju sebaris kursi besi kosong di dekat meja piket dokter IGD.
“Mima mau duduk?” bisik Langit bertanya pada istrinya.
“Enggak apa-apa. Aku mau di sini nemenin Didi. Nunggu kabar Mas Santoso, kan?” tanya Jingga. Langit mengangguk membenarkan.
Karena kedatangan pasangan mereka, secara tak sadar posisi mereka menjadi sedikit renggang. Langit dan Jingga tak henti bicara soal kejadian tadi dengan berbisik-bisik. Dan seperti ingin menyamarkan percakapan Jingga dan Langit, Toni sedikit menyeret langkahnya menjauhi sepasang suami istri itu.
Toni masih berdiri menyandari dinding. Satu tangannya melingkari pinggang Wulan untuk merapatkan tubuh wanita itu padanya. Seperti mengerti apa yang diinginkan Toni, Wulan melingkarkan kedua tangannya memeluk pria itu. Toni harus sedikit menunduk untuk meletakkan dagunya di puncak kepala Wulan. Dalam pelukan Toni, Wulan selalu terlihat mungil sekali.
Dalam dinginnya ruang IGD, dan suasana yang sedikit tak mengenakkan, diam berpelukan seperti itu jauh membuat perasaan Toni lebih baik. Ia paham kalau Wulan juga pasti sedang tak enak hati mengingat siapa penyebab semua itu. Namun, Toni tak ingin membahasnya.
“Mesra banget, ya, Mas?” gumam Winarsih pada Dean. Sejak tadi ia memperhatikan Toni yang tak melepaskan genggamannya dari Wulan.
“Pasti kamu heran kenapa mereka bisa pisah. Iya, kan?” tanya Dean, menggenggam tangan Winarsih di atas pahanya. Satu tangannya yang lain sedang berkirim pesan dengan Ryan.
“Iya,” sahut Winarsih. Ia memang tak menyangka Toni dan Wulan yang terlihat melengkapi satu sama lain itu pernah berpisah lama.
“Tapi saat balikan, langsung bisa mesra lagi. Lebih greget malah,” kata Dean.
“Apa aku harus balik ke Jambi dua tahun? Biar Mas juga bisa merasakan greget itu?” tanya Winarsih.
“Ya, ampun. Amit-amit, Win. Bisa mati aku kalo kamu tinggalin. Memangnya kamu tega ninggalin aku?” Dean balik bertanya, menatap wajah Winarsih yang tersenyum jahil padanya.
“Enggak,” jawab Winarsih cepat.
“Kenapa?” Dean balik bertanya, penasaran dengan perasaan istrinya yang selalu tampak tenang.
“Nanti lingerieku yang banyak itu nggak kepake. Sayang,” jawab Winarsih dengan raut datar.
“Aku kira kenapa,” sahut Dean sedikit cemberut.
__ADS_1
“Ya, aku mesti jawab apa? Atas alasan apa aku ninggalin bapaknya Dirja? Selama aku dan anak-anakku dicintai, ngapain aku pergi? Memangnya aku nyari apa lagi? Mas Dean sudah punya semuanya,” jawab Winarsih. Ia lalu menarik lengan Dean agar suaminya itu sedikit menunduk. “Aku cinta bapaknya Dirja. Gimana mau pergi? Perutku aja makin besar,” bisik Winarsih, mengecup telinga suaminya.
Dean membulatkan matanya, lalu kembali memutar kepala menatap wajah istrinya. “Wow, aku digombalin Bu Winar. Makin mahir kamu,” kata Dean.
“Siapa dulu gurunya,” jawab Winarsih.
“Kamu cepat menyerap pelajaran. Aku suka. Itu alasan kenapa istriku harus kamu.” Dean menekankan hidungnya di pipi tembam Winarsih.
SREEEKKK.
Suara tirai yang menutup sekeliling ranjang Santoso, terbuka dan dokter keluar dari sana. Dean menggandeng Winarsih bangkit dari kursi dan mendatangi dokter. Bersamaan dengan itu, Musdalifah muncul.
“Pak Toni!” seru Musdalifah.
“Mus, sebentar kita denger dokter mau bicara.” Toni memandang sekilas pada Musdalifah lalu kembali menatap dokter yang berdiri di depan mereka dengan selembar kertas.
“Pak Santoso sebentar lagi akan menjalani pemeriksaan CT Scan. Jadi hasil pemeriksaannya, baru bisa disampaikan lengkap sesudah itu. Sebentar lagi akan diantar oleh perawat ke lantai dua. Saya kembali ke meja dulu,” ujar dokter tersebut.
Tiga orang pria langsung mengangguk dan menjawab, ‘baik, Dok’ nyaris bersamaan.
“Mus, lama banget.” Dean memutar berdirinya tubuhnya untuk memandang Musdalifah.
“Kelamaan nunggu ojek, Pak.” Musdalifah menjawab sekenanya saja. Ia grogi ditanyai di bawah tatapan tiga orang pria beserta pasangannya masing-masing.
“Santoso tadi sempat hilang kesadaran sebentar. Kepalanya berdenyut hebat. Dan pandangannya kabur. Enggak bisa ngeliat jelas. Mungkin kena saraf di kepalanya,” jelas Dean. Ia sengaja mendramatisir keadaan.
“Segitunya, lho, Mus. Coba kamu liat ke dalam. Siapa tau gitu ngeliat kamu, pandangannya langsung jelas. Kamu, kan, cahayanya.” Dean lalu mengatupkan mulutnya. Menahan untuk tidak tersenyum lebar.
“Ah, bisa aja.” Musdalifah melontarkan tatapan tak percaya.
“Coba bayangin kalo Pak Toni kamu ini yang jadi korban. Bisa-bisa dia nikahnya di rumah sakit kayak sinetron-sinetron itu. Enggak estetik banget pastinya. Ayo, liat ke dalem.” Dean memasang raut penuh penyesalan.
Musdalifah menatap tirai yang tertutup itu dengan ragu. Perasaannya tak enak. Kenapa ia merasa menjadi manusia yang disalahkan atas pengeroyokan itu?
Perlahan namun pasti, Musdalifah mendekati tirai.
“Pak Santoso, saya mau masuk.” Walau tak ada pintu yang bisa diketuk, Musdalifah merasa wajib mengabarkan kehadirannya. Ia khawatir Santoso sedang berada dalam posisi tak enak dilihat kalau ia tiba-tiba menerobos masuk.
“Oh, Mbak Mus! Masuk aja,” sahut Santoso.
Musdalifah membayangkan Santoso terbaring luka-luka penuh darah. Kepalanya dibebat perban ketat dan kondisi mengenaskan lainnya. Pikirannya melayang soal perkataan Asih padanya tempo hari. “Jangan sampai menyesal dua kali.” Cepat-cepat Musdalifah menyibak tirai dan masuk ke dalam.
Saat masuk dan menutupkan tirai di belakangnya, Musdalifah membalikkan tubuh. Ia melihat Santoso berbaring miring menghadapnya.
“Tadi pandangan saya buram, sekarang langsung terang." Santoso tersenyum menatap Musdalifah. Saking tak pernah tersenyum, senyuman yang dilontarkan Santoso malah terlihat janggal. "Apa itu CT Scan? Kayaknya saya nggak perlu lagi.” Lalu, raut Santoso kembali sangat serius saat mengatakan hal itu.
__ADS_1
Musdalifah sesaat berdiri mematung di depan tirai yang sudah kembali tertutup. Jangan sampai menyesal dua kali. Itu kata Asih. Sekarang Musdalifah bingung untuk kata menyesal itu. Menyesal karena tidak datang ke sana, atau menyesal karena datang ke sana?
"Jadi ... kondisinya gimana?" tanya Musdalifah dengan suara pelan sekali. Nyaris tak terdengar.
Di luar tirai, Langit dan Dean mendekatkan telinga mereka. Tak ingin kehilangan momen sepatah pun pembicaraan sepasang manusia di balik tirai.
"Kondisinya baik-baik aja. Apa lagi dengan kehadiran Mbak Mus," ucap Santoso.
Dean menatap Langit dan mengatakan, "Cieee" tanpa suara. Ia lalu membekap mulutnya menahan tawa.
"Saya kayaknya nggak bisa ...."
"Lupakan orang yang yang menyakiti kamu kemarin, dan ingat orang yang mencintaimu hari ini," tukas Santoso tiba-tiba. Ia merasakan keraguan Musdalifah terkait akan masa lalunya dengan mantan kekasih.
"Asiiik," bisik Langit, lalu mengarahkan kepalan tangannya pada Dean. Dean menyambut kepalan tangan itu sambil terkikik tanpa suara.
Musdalifah terdiam. Saat Santoso mengatakan hal itu, ia merasa wajahnya memerah. Semua orang di luar tirai pasti mendengar dengan jelas. Terutama Toni. Atasan yang sangat ia segani. Selama ini ia tak pernah membawa-bawa masalah pribadinya ke kantor. Ia merasa malu kalau Toni dan pasangannya mendengar percakapan ia dan Santoso. Terlebih ada Dean.
Dean dan Langit kembali menajamkan pendengaran. Mereka tak mendengar jawaban apa pun dari Musdalifah. Sedetik kemudian, Dean menyadari sesuatu. Ia lalu menegakkan tubuhnya.
"So! Kita semua nunggu di kantin, ya. Gue haus banget," ujar Dean.
"Baik, Pak!" sahut Santoso langsung.
"Ayo, Lang! Ton!" ajak Dean. "Di kantin lebih asik," kata Dean.
"Yoi," sahut Langit. Langkah mereka berderap menjauhi tempat di mana Santoso dan Musdalifah berada. Namun, saat mencapai pintu ruangan yang menghubungkan lorong ke bagian dalam rumah sakit, Dean menghentikan langkahnya.
Sejurus ia saling pandang dengan Langit. Lalu, kedua pria itu mengangguk bersamaan.
"Udah, biarin aja." Toni mengerti apa yang akan dilakukan dua orang temannya.
"Lo, kan, jaim karena ada Wulan. Lo di sini aja," kata Dean. Dengan langkah nyaris tanpa suara, Dean dan Langit kembali mendekati tirai dan mendekatkan telinga mereka.
"Mas Santoso keluarganya di daerah mana? Saya duduk di sini boleh?" Suara Musdalifah terdengar dari dalam.
"Boleh, jangankan duduk di ujung ranjang. Duduk di pangkuan saya sekarang, saya masih sanggup." Santoso terdengar menggeser posisinya.
Tak ingin kelepasan kata 'Cieee' dan 'Asiiik' lagi, Dean menyeret lengan Langit untuk berlalu dari tempat itu. Kedua laki-laki itu terkekeh-kekeh saat tiba kembali di dekat Toni. Mereka saling dorong karena geli mendengar jawaban Santoso.
Toni yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, spontan bertanya. "Gimana?"
Dean dan Langit berhenti tertawa, lalu menatap Toni.
"Duduk di mana, Lang?" tanya Dean.
__ADS_1
"Duduk di pangkuan saya sekarang, saya masih sanggup." Langit dan Dean kembali tertawa terkikik.
To Be Continued