GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
114. Obat Untuk Mami


__ADS_3

Untuk proses kelahiran normal, Wulan berada di rumah sakit selama tiga hari dua malam. Beberapa mantan teman kantornya baru saja pulang menjenguk sebelum jam makan siang. Mereka buru-buru pamit saat Dokter Azizah datang ke ruang rawat untuk visit terakhir kali. Setelah memastikan semuanya normal dan tak ada masalah apa pun, dokter menjabat tangan pasangan orang tua baru itu dengan senyum mengembang.


 


Toni bergegas turun ke lantai dasar untuk menyelesaikan seluruh tagihan rumah sakit agar bisa segera membawa keluarga kecilnya pulang.


 


Selama di rumah sakit Toni sama sekali tak ada meninggalkan anak dan istrinya. Pakaian yang dikemas sebelum berangkat pun, bukan hanya perlengkapan bayi dan baju istrinya saja. Tapi juga pakaiannya selama berada di sana. Tiap bayinya diantar ke dalam kamar, Toni tak beranjak dari menunggui bayinya. Persis seperti induk ayam yang mengerami telurnya.


 


Rasa bahagia dan antusias yang menggebu karena memiliki seorang bayi laki-laki, membuat Toni tidak bisa tidur nyenyak selama dua malam. Malam tertidur sangat larut dan terbangun pagi-pagi sekali. Ia merasa seperti sedang jatuh cinta.


 


“Aku nggak sabar ketemu Mami, Lan,” kata Toni saat mereka sudah berada di mobil.


 


“Menurut Mas, Mami bakal inget nggak kalo kita—"


 


“Doain aja Mami nggak pernah ingat kalo kita pernah pisah.” Toni mengalungkan tangannya di belakang bahu Wulan. Kepalanya menunduk mengusap pipi bayi laki-laki tampan yang dalam dua hari saja pipinya terlihat sudah berisi.


 


“Ibu-ibu jadi dateng ke rumah nggak Arisan sekalian ngeliat anakku. Aku bisa duduk tenang sambil mangku bayi,” ujar Wulan, menatap tangan Toni yang sedang mengusap pipi bayi mereka.


 


Wulan tersenyum tipis membayangkan kerepotan manis yang sudah lama ingin ia rasakan.


 


“Anak kita, Lan—anak kita,” koreksi Toni setengah tertawa. Ia merasa sedikit geli karena Wulan begitu posesif memiliki bayinya. Apa ini yang sering dirasakan Dean? Tanya Toni dalam hati.


 


Pasangan ibu dan orangtua baru di mana-mana sepertinya sama repotnya. Barang bawaan mereka pulang dari rumah sakit terlihat seperti mereka baru saja kembali berlibur dari luar negeri selama sebulan. Ditambah kado-kado dari kerabat dan sahabat yang memenuhi bagian belakang mobil.


 


Dua orang asisten rumah tangga yang sepertinya juga sangat antusias menantikan kehadiran bayi di rumah itu, menunggu di teras. Ketika mobil berhenti di depan teras, dua asisten itu segera menghampiri. Lalu, mereka membukakan pintu bagi Wulan.


 


“Bu Wulan, kami kepingin liat,” kata asisten yang paling senior.


 


Mendengar hal itu, Wulan tersenyum sumringah. “Ayo, kita ke dalem aja. Namanya Tirta, Mbak,” ujar Wulan, menaiki tangga teras. Ia tak ingat akan suaminya yang berdiri menungguinya.


 


“Memangnya nggak sakit lagi?” gumam Toni, memandang Wulan yang dengan santai menaiki tangga teras.


 


Toni dan supir kantor menyusul masuk ke rumah. Masing-masing di tangan mereka tergenggam barang bawaan yang diturunkan dari belakang mobil. Asisten rumah tangga yang tadinya berniat membantu, malah duduk mengerubungi Wulan di ruang tamu.


 


“Nama lengkapnya, Bu?” tanya seorang asisten rumah tangga yang satunya.

__ADS_1


 


“Namanya Tirta William Anderson. Anaknya Mami Wulan,” gumam Wulan, mengatupkan mulutnya dengan gemas menyentuh pipi bayinya yang sedang terlelap.


 


“Anak Papi Toni juga,” sahut Toni yang melintas membawa bawaan menuju lantai dua.


 


Wulan melirik suaminya dan tertawa. “Iya, anak Papi Toni juga.”


 


Seorang babysitter yang sudah dipekerjakan dua hari sebelumnya datang dari ruang tengah. “Bu, semua perlengkapan bayi, diletakkan di mana? di kamar dedenya? Atau di kamar ibu?” tanya gadis muda itu.


 


“Barang bawaan dari rumah sakit, taruh ke kamar bayi aja. Nanti Tirta tetap di kamar saya. Kalo tidur siang, atau saya ada kerjaan lain, Tirta di kamarnya. Kamu bantu awasi, kalo saya sedang ada kerjaan lain.” Wulan menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh babysitter bayinya nanti.


 


Sebenarnya Wulan sudah menolak usul Toni soal menggunakan jasa babysitter. Tapi suaminya bersikeras, kalau ia juga butuh istirahat. Apalagi luka pasca melahirkan belum sembuh.


 


“Eh, jadi Pak Toni yang angkat bawaan,” tukas asisten rumah tangga yang senior. Ia buru-buru berdiri mengambil bawaan dari tangan Toni yang sudah dua kali bolak-balik di dekat mereka. Untungnya, majikan mereka memang baik sejak dulu. Toni tak pernah rewel dan cenderung masa bodoh dengan keadaan rumah.


 


“Sayang, ayo bawa Tirta ke kamar Mami. Naik lift aja,” ajak Toni, merentangkan tangan kirinya mengajak Wulan berdiri. Ia melirik putranya yang semakin ganteng. Bola mata Tirta berwarna cokelat muda. Bayi itu sedang membuka mata dan mengecapkan lidahnya.


 


Toni tak mengetuk pintu kamar ibunya. Tadi ia sempat mengintip kalau ibunya duduk bersandar di kepala ranjang. Sebuah buku terletak di pangkuannya.


 


 


“Ini anak aku, Sus. Namanya Tirta,” ujar Toni, mengusap bagian belakang kepala bayinya. Ia berdiri di belakang Wulan, memegang bahu istrinya itu.


 


“Mami ...,” panggil Wulan, menghampiri Bu Anderson dan duduk di tepi ranjang. “Ini anak Mas Toni, cucu Mami. Mau gendong?” tanya Wulan, memandang raut wajah Bu Anderson yang sedikit bingung.


 


“Anak Toni?” tanya Bu Anderson mengulurkan tangannya. “Oh, Wulan katanya ke rumah sakit. Rupanya lahiran?” Bu Anderson memandang wajah anak dan menantunya berpindah-pindah.


 


“Iya, ini cucu Mami. Namanya Tirta. Liat, Mi .... Tirta ganteng. Anak Mas Toni ganteng banget,” ucap Wulan, menggeser duduknya untuk meletakkan Tirta di pangkuan ibu mertuanya.


 


“Mami udah banyak lupanya. Mami nggak inget kalau Wulan hamil.” Bu Anderson melengkungkan bibirnya hendak menangis.


 


“Enggak apa-apa. Yang penting Mami sehat.” Toni menarik kursi yang biasa ditempati Kepala Perawat.


 


“Geser ke sini, Lan,” pinta Bu Anderson menunjuk lengan kirinya. Ia meminta Wulan memindahkan posisi Tirta lebih ke atas. Tangannya sekarang cukup kuat, tapi ia tak berani menyentuh bayi merah itu sembarangan. Apalagi, Tirta adalah cucu yang sudah sangat lama dinantikannya.

__ADS_1


 


“Mas Tirta, ini Oma.” Wulan mengusap pipi Tirta yang sepertinya haus. Bayi itu menggeliat dan mengusapkan tangannya ke wajah.


 


“Kok, Mas? Belum ada adiknya,” sahut Toni yang ikut membungkuk memegang tangan mungil Tirta di atas pangkuan ibunya.


 


“Aku mau langsung aja. Mau punya anak lagi. Enggak apa-apa kayak Winar,” tukas Wulan.


 


“Katanya kemarin sakit banget lahirannya. Ini lukanya juga belum sembuh,” jawab Toni.


 


“Enggak apa-apa. Aku mau, Mas. Biar rame. Biar Mas juga nggak keseringan nongkrong di luar karena banyak anak di rumah yang nungguin. Pokoknya kapan dapet aku mau langsung punya anak lagi. Enggak usah pake jeda. Dikasi ganteng kayak gini, aku jadi penasaran sama yang versi perempuannya.” Wulan mengatupkan mulutnya dengan gemas, memegang ujung kaos kaki bayinya.


 


Toni berdiri memperhatikan ibu dan istrinya satu persatu. Dua generasi sedang mengagumi generasi selanjutnya.


 


“Mmmm, jadi kalo banyak anak tujuannya biar Mas nggak keseringan nongkrong?” tanya Toni, mencubit pelan pipi Wulan.


 


“Iya, lebih banyak quality time buat keluarga.” Wulan menjawab tanpa menoleh.


 


Toni tersenyum. Banyak anak mengurangi waktu nongkrong? Ia merasa sepertinya perlu lebih banyak belajar dari pasangan Dean dan Winarsih.


 


“Mas, catering yang kemarin siapa yang hubungi?” tanya Wulan mendongak menatap suaminya.


 


“Mus. Kenapa?”


 


“Enak. Arisannya minggu depan kata Mbak Jenni. Mereka sekalian mau ngeliat Tirta. Nanti aku hubungi Mbak Mus. Adik-adikku juga pada ngumpul minggu depan. Semuanya mau dateng liat Tirta. Mau liat Tirta, Nak ....” Pandangan Wulan kembali pada bayinya.


 


“Cucu Oma ganteng. Mirip sama Opa. Rambutnya cokelat, kulitnya bagus. Tirta ngobatin rasa kangen Oma ke Opa. Andai Opa bisa ngeliat juga,” bisik Bu Anderson, menyeka air matanya dengan punggung tangan.


 


Toni mengusap-usap lengan ibunya dengan lembut. “Mami doain, Toni dan Wulan bisa ngasi cucu yang banyak. Mami nggak kesepian lagi,” ujar Toni.


 


Sebagai anak tunggal, dulunya Toni selalu merasa kesepian. Rumah yang besar dan bagus, tapi banyak menghabiskan waktu sendirian. Ia juga setuju rencana Wulan untuk langsung menambah momongan, walau sedikit merasa ngilu kalau ingat proses melahirkan bayi mereka.


 


Juga .... Toni sekarang lebih mengerti kenapa Dean begitu banyak memproduksi anak. Dulunya, mereka selalu ke sana kemari berdua, saking kesepiannya di rumah.


 

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2