GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
78. Di Dalam Mobil


__ADS_3

Di mobil, dalam perjalanan kembali ke rumah.


“Tadi pada ngapain, sih, ngeliatin taman terus? Ada urusan apa sama sekretarisnya Toni?” tanya Jingga, penasaran mau tahu.


“Yang di taman tadi anak dari bekas ibu yang kerja di rumahnya Toni. Orang kepercayaannya maminya, sekaligus penasehat spiritual gitu, deh.” Langit menoleh sekilas pada Jingga.


“Hah? Seriusan? Penasehat spiritual? Trus tadi diapain? Kok, aneh? Pada heboh gitu bolak-balik jengukin ke luar,” ujar Jingga.


“Nah, karena maminya Toni dulunya deket, sekarang sampe ke anaknya gitu, deh. Tuh cewe katanya punya kemampuan juga. Tapi, maminya Toni nggak berenti minta anaknya terus berhubungan dengan anaknya ibu itu. Udah meninggal si ibu, tapi pengaruhnya ke Mami Toni masih erat banget. Yang repot Toni juga. Disuruh macem-macem. Buka auralah, apalah. Aneh pokoknya,” jelas Langit. Ia sudah menebak kalau Jingga pasti menanyakan soal urusan mereka yang mondar-mandir seperti pegawai catering di ruang makan dan ruang keluarga tadi.


“Trus diapain? Diminta jauhi?” tebak Jingga.


“Iya. Sejenis itu, deh. Intinya jangan ladeni atau hubungi Mami Toni lagi. Sekarang Toni yang pegang hape maminya.” Langit tertawa kecil mengingat kesibukan remeh-temeh mereka tadi di acara ulang tahun Mami Toni tadi.


“Memangnya bisa? Kalo maminya nanya gimana?” sidik Jingga lagi. Ia memang sangat penasaran dengan kesibukan empat orang laki-laki tadi.


“Kalo nanyain, ya, itu urusan Toni. Biarkan dia ngeles sebisa yang dia mampu.”


Mendengar hal itu Jingga merapatkan mulutnya dan mengangguk-angguk. Ia sama sekali tidak puas dengan penjelasan suaminya barusan. Rasa-rasanya yang dilakukan ketiga laki-laki itu di sana sangat meriah dan banyak bisik-bisik. Namun, yang disampaikan padanya hanya berupa garis besar acak, tak berurutan. Tak ada pernyataan tanpa pertanyaan.


Sementara itu, di mobil lain.


“Sakit maminya Toni separah apa, Pi? Kebayang mukanya Dean kayak kepiting rebus tadi,” gelak Jennifer. “Bener-bener ingetnya cuma si Ara,” sambung Jenni.


“Kalo denger dari cerita Toni, memang parah. Jadi ibarat ruangan yang bersekat-sekat. Sekat-sekat itu ada yang berisi ada yang kosong. Ada yang terisi dengan ingatan lama. Kasian. Padahal itu obat-obatannya udah yang paling bagus. Terapi juga jalan terus. Baru enam bulan terakhir ini Toni menghentikan terapi maminya. Mungkin maminya capek, dia juga capek.”


“Kasian Toni. Dia masih muda dan hidupnya tetap harus jalan senormal mungkin. By the way, pantes selama ini Toni itu ceria banget, ya, Pi. Belakangan ini aja kayaknya dia keliatan lebih serius,” ucap Jenni. Ia sudah mengenal empat pria itu di setengah usianya.


“Iya. Mami bener. Merhatiin juga, ya. Toni memang keliatan lebih serius akhir-akhir ini. Mungkin pengaruh karena mau balikan sama Wulan. Sebelum-sebelumnya dia kebanyakan bercanda, sih.”


“Maminya udah setuju dia mau balikan sama Wulan?” tanya Jenni.


“Masih ngambang. Tapi kayaknya Toni kali ini bakal jalan terus. Dia udah lamar Wulan, lagi.” Rio menoleh pada istrinya.


Jenni membulatkan mulutnya. “Oh, ya? Pantes …,” ucap Jenni.


“Kenapa?” tanya Rio.


“Sorot matanya sendu. Padahal cuma ngetik pesan di hape.” Jenni tertawa terbahak-bahak. “Toni nggak bisa dibohongin kalo lagi jatuh cinta. He will treat his woman like a queen,” ucap Jenni.


“Memangnya aku enggak? Langit? Dean?” Rio mengernyitkan wajahnya. “Kayaknya semua laki-laki akan memperlakukan wanita yang dicintainya kayak seorang ratu,” tambah Rio. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai seorang suami saat berdebat dengan Jenni soal perkara umum seperti itu. Mereka adalah teman. Jenni sekarang sedang memuji seorang teman mereka tanpa memikirkan nasib ketiga lainnya.


“Papi juga kayak Toni. Tapi, Papi terus dan konstan dengan hal itu. Aku ngeliat itu sebagai suatu keseharian. Sedangkan Langit, lebih ke romantis. Toni itu memuja. Menurutku beda.”


“Dean? Dean gimana?” Rio penasaran dengan penilaian Jenni terhadap ia dan teman-temannya.

__ADS_1


Jenni kembali tergelak saat mendengar nama Dean disebut lagi. “Dean, ya? Mmm … Dean juga akan memperlakukan wanita yang dicintainya seperti ratu. Tapi ….”


“Tapi apa?” selidik Rio tak sabar. Ia berniat akan menceritakan kembali penilaian Jenni barusan pada semua sahabatnya.


“Dean akan memperlakukan wanitanya kayak ratu, kalo dia diperlakukan kayak raja. Titah raja nomor satu, laksanakan. Baru kemudian bisa jadi ratu.” Jenni kembali melanjutkan tawanya.


“Hmm …. Raja Dean,” gumam Rio.


“He’eh. Raja culas,” sambung Jenni.


“He’eh. Setuju,” balas Rio. Kemudian suami-istri itu tertawa terbahak-bahak.


Sementara di mobil personil yang sedang ditertawakan ….


“Aneh, kan, soal maminya Toni?” tanya Dean menatap istrinya.


“Aneh. Aku kira orang kota itu identik dengan modernisasi yang nggak kenal dukun, pantangan, atau mitos-mitos yang belum terbukti kebenarannya. Sejak ngeliat bunga tadi, pendapatku jadi berubah.” Winarsih menjenguk jok belakang. Dita dan Dirja sudah terkapar kelelahan di pangkuan mbaknya masing-masing. Sedangkan Widi, duduk di kursi sebelah Pak Noto bersama babysitternya. Ia pun sebenarnya sangat mengantuk.


“Tapi, itu nggak semua, ya, Win. Enggak semua orang kota kayak gitu.”


“Iya, aku tau. Syukur kalau semuanya sudah beres. Kasian juga ngeliat Mas Toni kalau harus terus-menerus berdebat dengan ibunya perihal ‘orang pinter’. Aku juga kasian sama Mbak yang diminta pulang sama Mbak Mus. Aku jadi inget diriku sendiri, Mas,” ucap Winarsih. Ia memandang suaminya dengan raut memelas.


“Aduh, istriku jadi sedih,” ucap Dean. “Sini—sini. Ibu hamil nggak boleh sedih-sedih.” Dean menyelipkan tangannya di punggung Winarsih dan menarik istrinya ke dalam pelukan.


Winarsih yang mengantuk bersandar di setengah dada Dean. Rasa nyaman langsung menyebar dari tiap belaian telapak tangan pria itu di kepalanya.


“Ha?” Winarsih menegakkan tubuhnya memandang wajah Dean.


“Tuh, kan? Kamu pasti melihat dari sudut pandang perempuan, ibu-ibu, ditambah lagi sedang hamil. Bagi Asih yang terbiasa ke sana kemari tanpa izin siapa pun, tembok tinggi rumah mewah Toni pasti terlihat sebagai penjara. Bisa aja Mbak Asih sebenarnya keberatan, tapi nggak bisa nolak karena ngerasa nggak enak. Dan dengan komunikasi yang intens dengan Mami Toni, mustahil dia nggak tau sebawel apa Bu Anderson.” Dean kembali menarik tubuh Winarsih agar bersandar padanya.


“Ngatain ibunya Mas Toni bawel,” sungut Winarsih.


“Itu fakta, Win. Aku kurang bisa memperhalus istilahnya,” jawab Dean.


“Bukan karena maminya Mas Toni salah sebut nama?” tanya Winarsih. Ia tersenyum tanpa bisa dilihat suaminya.


“Ya, ampun. Itu lagi. Udah, ah. Begitu pokoknya. Sewaktu memberi penilaian, ubah sudut pandang kita berkali-kali.”


“Cara Mas gitu?” tanya Winarsih tanpa melihat suaminya.


“Iya. Setelah timbul beberapa sudut pandang, beri alasannya masing-masing.”


“Terus Mas?” Suara Winarsih terdengar bersemangat. Dean sangat jarang mau membagi ilmu dan percakapan soal pekerjaannya. Bukan pelit. Suaminya selalu mengatakan sudah terlalu lelah dan jemu membicarakan hal yang sama sepanjang hari. Di rumah, pria itu menginginkan suasana yang berbeda. Tak ada urusan pekerjaan selama di rumah. Terlebih lagi saat di ranjang.


“Terus kita turun. Ini udah nyampe di depan teras,” ucap Dean, mengacak-acak rambut istrinya.

__ADS_1


Sedangkan di dalam mobil yang berangkat paling awal tadi ….


“Ehem!” Santoso berdeham.


Musdalifah diam saja ketika Santoso mulai mencari perhatian pada lima menit pertama mereka di dalam mobil.


“Kita—maksudnya Mbak Musdalifah langsung pulang ke rumah?” tanya Santoso.


“Iya, langsung aja.” Musdalifah tersenyum datar seraya mengangguk


“Mbak Mus dari tadi diem aja. Ngomong, dong.” Santoso melirik Musdalifah yang sejak tadi hanya diam memeluk erat tasnya.


“Mau ngomong apa? Saya sudah capek hampir seharian di luar. Biasanya Sabtu saya istirahat di rumah,” jawab Musdalifah.


“Cerita apa, kek, saya kepingin denger.” Santoso ingin membuat Musdalifah nyaman. Ia bukan tak tahu kalau Musdalifah selalu memasang tameng dan terlihat sangat sentimentil dengannya. Namun, sikap Musdalifah itu semakin membuatnya penasaran.


“Mau cerita apa, ya ... hidup saya kayanya begitu-begitu aja. Seharian penuh dihabiskan di kantor. Selebihnya saya mengurus urusan Pak Toni sesuai yang diminta beliau. Enggak ada yang lain,” kilah Musdalifah. Aslinya ia memang malas memanjangkan obrolan.


Musdalifah merasa perjalanan menjadi terasa sangat panjang. Lalu lintas Sabtu sore memang tak pernah ramah. Simpang lampu merah yang sebelumnya memang lama, kini menjadi sangat lama.


“Kalo gitu, saya aja yang cerita. Boleh?” tanya Santoso.


“Ya, boleh. Silakan,” sahut Musdalifah.


“Sebulan yang lalu, saya keluar naik motor. Pulangnya agak kemaleman, hampir setengah satu malem. Ngambil berkas ke kantor. Rencananya mau cepet, tapi malah kelamaan ngobrol sama satpam lobi.” Santoso melirik sekilas wajah Musdalifah yang hanya mengeluarkan anggukan kecil mendengar pembukaan ceritanya.


“Jam setengah satu, lampu jalan entah kenapa nggak nyala. Masuk ke jalanan rumah saya gelap luar biasa. Jadi nyesel kenapa nggak bawa mobil. Saya udah lemes banget di jalan. Jalanan benar-benar sepi. Saya negative thinking aja saat itu,” tutur Santoso.


“Trus? Kenapa?” Musdalifah menoleh sejenak pada Santoso, namun pandangannya dengan cepat kembali menatap jalanan. Ia setengah terhanyut dengan cerita berbau horor yang dituturkan Santoso.


“Terus sampai rumah saya langsung makan. Hilang lemesnya.” Santoso menatap Musdalifah sejenak.


“Hah?” Musdalifah terperangah.


Santoso tertawa terkekeh-kekeh sendirian. Musdalifah semakin mengerutkan mulutnya. Ingin sekali rasanya ia mencekik Santoso saat itu.


“Saya berhenti di depan gang itu aja.” Musdalifah menunjuk sebuah gang yang terlihat beberapa meter di depan mereka.


“Baik, Mbak.” Santoso mulai melanjutkan. “Tapi ... apa nggak bisa masuk gang?”


“Enggak bisa. Gangnya terlalu kecil. Saya di depan aja,” kata Musdalifah, mulai memunguti semua bungkusannya.


“Oke, kalau gitu saya anter ke dalam.” Santoso baru saja akan mematikan mesin mobilnya, tapi dicegah oleh Musdalifah.


“Enggak usah. Deket aja, kok. Saya malah nggak enak. Saya nggak bisa ngasi apa-apa,” ucap Musdalifah.

__ADS_1


“Gimana kalo harapan?”


To Be Continued


__ADS_2