
“Kira-kira aku hubungi Toni berapa lama lagi, ya? Untuk menanamkan keyakinan di pikiran Wulan agar mau balikan sama dia dan mutusin Rey secepatnya.” Dean berbicara dengan suara teredam perut Winarsih yang masih dipeluknya.
“Menanamkan keyakinan itu nggak bisa buru-buru. Wanita perlu waktu untuk menilai.”
“Makanya aku lebih memilih menanamkan benih duluan. Mau nggak mau kamu yakin dengan keseriusanku,” ujar Dean.
Winarsih mencubit lengan Dean karena hal yang baru dikatakan pria itu. Dean terkekeh-kekeh, lalu mengeratkan pelukannya. Ia sudah mencampakkan jasnya seusai makan siang tadi. Dan sekarang ia malah merasa terganggu melihat Winarsih yang setengah berbaring di ranjang.
Dean gemas melihat dada istrinya yang kembang kempis. Bernapas pendek-pendek karena sesak kehamilannya.
“Gimana kalo kita killing time aja? Kalo aku selesai, Toni pasti udah selesai.” Dean mengangkat wajahnya memandang Winarsih.
“Killing time itu ngajak anak main,” kata Winarsih, membalik lembaran bukunya.
“Anak-anak tidur siang, Win. Kita bisa ma—”
“Itu temen-temennya di luar,” potong Winarsih.
“Temen-temenku sedang bersantai dan saling membunuh dalam pandangan dan hunjaman kata-kata. Jangan khawatirkan itu. Biarkan mereka mengadu ilmu,” balas Dean.
“Ada aja alasannya,” gumam Winarsih.
“Sebentar aja … aku nggak lama-lama. Biar kayak di film-film itu, Win … aku, kan, jarang-jarang pulang makan siang.” Dean masih membenamkan wajahnya di perut Winarsih. Tapi tangannya perlahan menjalar mencari tepian dress istrinya dan menyusup ke dalam.
“Hmmm,” sindir Winarsih.
“Nikmati aja, Dik Win ….” Dean mengangkat dress Winarsih hingga ke batas perut wanita itu. Lalu ia menciumi perut Winarsih dengan bibirnya yang hangat. Berkali-kali hingga wanita itu menggeliat dan memegang pipi suaminya.
__ADS_1
“Geli,” gumam Winarsih.
“Enak, kan?” erang Dean. Tangannya mengusap pinggang Winarsih dan menjalari tepian pakaian dalam wanita itu. “Gini aja udah enak banget … tapi kalo nggak sampe ke titik lebur, aku bisa pusing.”
“Pusing, kok, setiap hari,” kata Winarsih. Ia meletakkan bukunya dan sedikit mengangkat pinggul saat Dean menurunkan pakaian dalamnya.
“Kamu males-malesan diajak enak-enak. Awas kalo bersuara, ya ….” Dean meloloskan dress istrinya melalui kepalanya.
“Apa nggak ngantor lagi?” tanya Winarsih, memandang Dean yang berlutut dan melepaskan kemejanya.
“Aku mandi aja sekalian, ganti pakaian. Malem nanti, aku keluar bareng Toni, ya, Win.” Dean menurunkan resleting celananya.
“Jadi ini dalam rangka minta izin?” Winarsih mengernyit. Dean terkekeh lalu mendekatinya.
“Minta izin spesial, ya, gini …,” kata Dean. Ia berlutut di dekat kepala istrinya. “Win, kamu pasti tau ini harus diapain,” ujar Dean. Ia menarik turun boxer-nya di depan wajah Winarsih, lalu menunduk mencium puncak kepala istrinya.
***
Wulan harus luluh dan memutuskan hubungannya dengan Rey. Hal itu terus terngiang-ngiang di kepala Toni. Ciuman Wulan tak mengalami kemajuan. Toni merasa ia akan kalah, kalau Wulan tak segera bergerak membalas sama antusiasnya.
Wulan telah membuat Toni menggelegak. Seluruh hasrat terpendamnya meluap ke permukaan. Toni merasa tubuhnya sudah bergetar. Cium aku, Toni berharap. Ia menyampaikan pesan itu dengan meremaas perut Wulan.
Akhirnya, jemari Wulan melingkari rambut Toni, menarik pria itu mendekat. Kemudian Wulan menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Toni. Sebuah gerakan ragu untuk pertama kalinya. Lalu kembali masuk lebih dalam. Kian dalam, bertambah dalam, perlahan semakin menggoda.
Wulan mendesaah lirih di tengah ciuman mereka. Lirihan itu menyambar ke dalam tubuh Toni bagai sebuah sumbu yang dinyalakan. Lalu jemari Wulan perlahan meninggalkan rambut Toni. Hal itu membuat pria itu khawatir bahwa semuanya akan terhenti sampai di situ.
Namun, ternyata Wulan bangkit dari posisinya. Duduk menghadap Toni dengan kedua tangannya menempel di kepala ranjang. Mengurung Toni dalam sebuah sekat, seolah memenjarakan. Ciuman mereka masih bertaut. Wulan menekan pria itu dengan dadanya. Memanfaatkan posisinya untuk semakin memperdalam ciuman mereka.
__ADS_1
Hanya dengan begitu, Toni sudah kehilangan kendali diri. Ia meraih Wulan, mengangkat kedua pahanya. Memeluk rapat dan kuat saat wanita itu melahap mulutnya. Seluruh tubuh Toni terbangun. Begitu juga sesuatu yang ia semakin yakin, dengan keputusannya.
Selama mereka berciuman, Toni membelai-belai punggung wanita itu. Mendekapnya, menghangatkan mereka berdua di bawah gempuran AC yang berada tepat di atas mereka. Namun setelah beberapa kali menelusuri punggung Wulan, Toni tak bisa menahan diri berbuat lebih.
Toni menggerakkan telapak tangannya turun dari pinggang Wulan, merengkuh bokongnya dan meremaasnya lembut. Lalu ia menggerakkan tangannya ke samping, perlahan-lahan menyentuh pinggul, lekukan pinggang, deretan tulang rusuk Wulan, dan … akhirnya ia tiba di dada Wulan yang lembut dan padat.
“Toni …,” lirih wulan. Napasnya terkesiap menandakan bahwa mereka sudah terlalu jauh.
Toni mengerjap. Ia sudah berkhayal membuka ikatan rambut Wulan, melucuti dress lengan pendek yang dilapisi cardigan tipis dari tubuh wanita itu. Menanggalkannya satu persatu. Agar Wulan mengingat siapa yang biasa membuatnya menggeliat, terengah-engah dan mengerang nikmat. Toni sudah berkhayal Wulan bisa melihat setiap bagian dari dirinya dan ekspresi kenikmatan saat ia mendorongkan—
Wulan menatap mantan suaminya. Toni memang menawan. Sangat menawan. Tak hanya tampan, namun juga gagah dan kuat. Ia baru saja merasakan Toni mengerang. Erangan lirih juga lolos dari mulutnya barusan.
Hanya ciuman, tapi sudah membuat seluruh tubuh Wulan meremang. Ia masih sadar bahwa satu tangan Toni masih menangkup dadanya. Pria itu setengah berbaring, menjadikan satu lengannya yang lain bantal di bawah kepalanya. Napas hangat Toni menerpa lehernya.
“Kamu harus ngerti maksud aku, Lan ... Kamu juga harus pahami reaksi tubuh kamu ke aku. Kamu mau berakhir dalam sebuah pernikahan tanpa gairah? Tanpa cinta? Mungkin kebaikan Rey bisa membuat kamu tergugah. Tapi ... aku ragu apa dia bisa nyentuh kamu dengan benar. Apa kamu bisa menggeliat, merintih, dan menjerit.” Toni membuat gerakan melingkar di dada Wulan. Mulai dari bawah, hingga ke puncaknya yang mengeras.
Wulan membisu. Ia merasakan kepalanya berdenyut saat mencerna perkataan Toni padanya.
“Laki-laki yang mencintai kamu, pasti akan bersabar. Dia akan selalu menempatkan kepuasan kamu di atas kepuasannya sendiri. Juga bisa memperlakukan kamu dengan baik.”
Wulan menggigit bibirnya. Ia tahu Toni menunggu reaksinya. Ia sadar Toni sedang menggiringnya ke tepi kenikmatan yang meluluhkannya. Ia berbaring kaku yang terasa sangat lama, bertempur dengan dirinya sendiri. Bergelut antara keinginan merasakan sedikit lagi, dan takut jika terlalu jauh memaksakan diri.
Kebutuhan tubuh dan keinginannya akhirnya memenangkan pertarungan. Bibir Wulan membuka, dan wanita itu melenguhkan napas selirih desaahan.
Toni menekan lembut dada Wulan dan mengitarinya, membelai terus-menerus puncaknya yang mengeras. Wanita itu kembali mendesaah, kali ini penuh perasaan, dan Toni memberikan cubitan lembut di sana. Tubuh Wulan terangkat karena sentuhannya, serta kepalanya rebah ke samping.
“Kamu suka, kan?” Toni masih berdiam di puncak dada mantan istrinya yang tak berdaya. “Jawab, Sayang ....”
__ADS_1
Erangan lirih meluncur dari mulut Wulan.
To Be Continued