GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
59. Pertengkaran Anak Asuh


__ADS_3

Dean keluar kamar dan bergegas menuruni dua-dua anak tangga sekaligus. Dari atas tadi ia sempat mendengar suara orang berbicara saling menimpali dari depan ruang keluarga. Namun, setibanya ia di sana, tak ada satu pun yang berbicara.


“Kenapa? Kok, diem?” Dean mengedarkan pandangannya.


Ryan duduk terkantuk-kantuk dengan remote televisi di tangannya. Ia menoleh pada Dean dan melihat rambut atasannya setengah basah dan turun menutupi dahinya. Sepertinya Dean merasakan ke mana tatapannya, karena pria itu langsung menyugar rambutnya.


“Abis makan, gerah banget. Jadi gue mandi. Sekalian mau keluar bareng bapak-bapak, ke Beer Garden.” Dean menatap sekretarisnya saat mengatakan hal itu. “Lagian, kan, gue nggak lama di atas.” Dean semakin memperpanjang penjelasannya. Namun, sejurus kemudian ia langsung terdiam.


“Panas—” desis Ryan. Ia mendongak menatap tiap sudut dinding rumah itu yang ditempeli AC. Lain lagi satu unit AC standing 5 PK yang terletak di sudut ruang makan. Mau pakai sweater tebal saat makan siang pun, sepertinya tak akan menjadi persoalan. Ryan mendengus.


“Apaan, sih, lo. Udah kayak cewek aja. Gue yang punya nama belakang Danawira. Jadi lo nggak boleh keberatan, melakukan tuntutan, apalagi banding.” Dean akhirnya sadar bahwa ia sebenarnya tak perlu memberi penjelasan.


“Saya nggak ada ngomong apa-apa.” Ryan kembali memindahkan channel televisi dengan santai.


“Ekspresi diem lo itu mengandung banyak komentar,” ujar Dean. Mendekati Ryan lalu duduk di sebelah sekretarisnya itu.


Lalu pandangan Dean berpindah pada Musdalifah yang duduk di sudut sofa dengan posisi terpisah dari yang lainnya. “Yang ini kenapa? Belum jadian udah LDR aja,” kata Dean, menatap Santoso dan Musdalifah.


“Ngaco,” sahut Musdalifah. Ia lalu meliring jam di tangannya.


“Apa grogi karena ada Mas Santoso?” tanya Dean, memandang Musdalifah. Ia sedikit kasihan melihat Musdalifah lebih banyak diam dari sejak mereka tiba tadi.


“Biasa aja …,” sahut Musdalifah lembut.


“Atau kamu stres? Keluarkan stres kamu sekarang,” pinta Dean.


“Pak Santoso,” panggil Musdalifah. “Keluar sana,” ujar Musdalifah.


“Ha?” Santoso yang sedang mengecek ponselnya, mendongak dengan raut bingung.


“Sabar … bos kamu pulang sebentar, mandi. Entar langsung pergi dari sini. Mungkin ada yang bakal dia sampein sebelum kamu pulang.”


Ryan terkekeh-kekeh mendengar perkataan Musdalifah. “Jadi gimana?” tanya Ryan menoleh atasannya. “Kasusnya mas Toni lanjut, nggak? Agennya udah selesai, kan? Tagihannya udah dateng.” Ryan mengambil tabletnya dan menggulir layar untuk membuka email.


“Udah dateng aja tagihannya,” gumam Dean. Ia lalu mengambil tablet dari tangan Ryan. “Mahal banget. Padahal kerjanya cuma itu doang. Yang ngasi gambaran juga gue. Mereka tinggal cari bukti pendukung.” Lalu Dean mencampakkan tablet Ryan ke sofa.

__ADS_1


“Jadi kapan dibayar? Kalau kita transfer mereka bakal langsung kirim invoice-nya,” tambah Ryan lagi.


“Gegayaan pake invoice,” sungut Dean.


“Jadi ini mau dibayar, nggak?” ulang Ryan lagi.


“Tagih ke Toni. Dia yang memetik keuntungan dari hal itu,” kata Dean.


“Jadi Pak? Bahan yang terkumpul digunakan untuk apa?” Santoso menggeser duduknya mendekati Dean.


Dean menarik napas panjang menyandarkan punggungnya ke sosa. Ia mengenakan jeans hitam dan kemeja berwarna hijau lengan panjang yang ia gulung hingga ke siku. Rambutnya menutupi dahi karena efek sampo dan conditioner yang dipakaikan Winarsih tadi padanya.


“Lo harusnya jangan duduk di sebelah sini, So … Pandangan Mbak Mus nggak akan singgah ke lo, saat pandangannya menyapu dari sisi kanan. Duduk di sini,” kata Dean menoleh sebelah kirinya.


“Baik—baik,” ucap Santoso, berpindah tempat duduk. Kini ia duduk di sebelah Ryan. Musdalifah berada jauh di sisi kirinya. “Mbak Mus kayaknya nggak mau duduk dekat saya, ya …. Padahal kita bisa berteman lebih dulu. Apa saya kurang tampan dibanding Pak Dean?” Sebenarnya ini adalah bentuk sindiran Santoso pada Musdalifah, yang sejak tadi ia perhatikan tak lepas memandang Dean.


“Semua laki-laki itu tampan di mata wanita yang tepat. Pak Santoso juga tampan. Tapi bukan di mata saya,” ujar Musdalifah, membalas perkataan Santoso.


“Mulai lagi …,” kata Ryan. “Padahal tadi udah tenang sebentar.” Ryan memandang Santoso dan Musdalifah bergantian.


“Kalo Novi cuti melahirkan nanti, saya bisa cuti, kan?” tanya Ryan. Menyentuhkan ujung remote televisi yang dipegangnya ke lutut Dean.


“Boleh. Tapi kamu harus cari yang bisa gantiin kamu. Sebenarnya agak repot ini … kalian suami istri cuti, kami suami istri nggak ada yang bantu.”


“Asisten Bu Win, kan udah ada. Pegawai Danawira’s paling lama. Bu Fitri.” Ryan mengingatkan Dean pada salah satu pegawai Danawira’s yang pertama kali menyambutnya dari balik meja. Jika saja Bu Fitri dulu tidak memintanya langsung masuk ke ruangan Dean, mungkin ia tak akan pernah bekerja dengan atasannya.


“Itu asisten ibunya Dirja. Penggantinya elo siapa, Yan? Lo mau cuti berapa lama?” tanya Dean, merendahkan suaranya. “Lo nggak ada stok temen cewe, yang cakep buat jadi sekretaris?” Dean terkekeh melihat wajah sebal Ryan. Ia tahu bahwa Ryan akan gusar mendengar perkataannya.


“Bikin masalah aja,” omel Ryan. “Nanti kalo ketauan saya nggak enak sama Bu Win. Enggak, ah. Mengingat cara Pak De ngeles selama ini, saya cemas bakal menerima limpahan tanggung jawab. Mending nggak usah pake pengganti. Malah bikin saya khawatir. Lagian buat apa, sih? Enggak ada tobat-tobatnya.” Ryan mencebikkan bibir menatap Dean. Sepertinya bagi atasannya itu, hidup adalah tantangan. Ia sudah cukup letih menghadapi masalah yang menyangkut wanita.


“Buat lucu-lucuan aja. Entar kalo gue pergi sidang, yang ngikutin gue dari belakang cewe pake rok pendek, pake heels, lari-larian—"


“Terus jatuh terjungkal, karena aku dorong dari belakang. Memang pasti lucu,” sambung Winarsih. “Cariin aja, Pak Ryan. Kasi sesuai kriteria yang baru aja disebutkan sama atasannya. Kali ini saya yang minta.”


Empat manusia di ruang keluarga seketika terdiam karena kedatangan Winarsih. Sedetik kemudian, Musdalifah hampir menyemburkan tawa tertahan. Namun, mendapat tatapan tajam dari Dean, ia langsung mengambil guci kecil hiasan meja dan mengamati benda itu dengan teliti.

__ADS_1


“Aku bercanda lho, Win …,” ucap Dean, setengah berdiri meraih tangan istrinya dan mengajaknya duduk di sofa. Ryan langsung berdiri memberi ruang pada istri atasannya.


“Dari nadanya itu nggak bercanda,” ujar Winarsih dengan nada datar. Ryan menyingkir ke sebuah sofa tunggal yang letaknya lebih dekat ke televisi.


“Bercanda itu—bercanda,” potong Dean, memeluk Winarsih dan mencium pipi wanita itu dengan bibirnya yang basah. Winarsih memukul paha suaminya dengan ekpresi kesal. Namun, Dean menangkap tangan istrinya dan kembali meletakkan telapak tangan Winarsih di atas kejantanannya.


Ternyata adegan itu dilihat oleh Santoso dan Musdalifah secara bersamaan. Mereka lalu saling pandang. Pandangan Santoso melembut, sedangkan Musdalifah mengambil selembar tisu dan membesut hidungnya.


“Hei … sorry ya, jadi nunggu lama.” Suara Toni terdengar dari teras rumah. Ia sudah berganti pakaian menjadi lebih santai. Mengenakan jeans dan kemeja krem kotak-kotak halus dengan sepatu loafer simple berwarna cokelat.


“Gue udah mau tidur lagi, ni …,” sambut Dean.


“Mau ngobrol di mana? Di sini atau di Beer Garden?” tanya Toni, menghempaskan tubuhnya di antara Musdalifah dan Santoso.


“Di Beer Garden juga oke,” kata Dean. Ia masih menggenggam tangan Winarsih. Sedikit melirik raut istrinya untuk melihat reaksi.


“Berangkat jam berapa?” tanya Winarsih pada suaminya.


“Sebentar lagi juga nggak apa-apa,” jawab Toni. Ia merasa Dean sedikit canggung. Tangan Dean terjulur melingkari bahu istrinya dan tak henti menepuk-nepuk.


Toni bertanya-tanya dalam hati, hal apa yang sedang ingin ditenangkan sahabatnya. Padahal di telepon tadi, Dean terdengar sangat ceria. Santoso dan Musdalifah juga duduk dengan kaku. Toni merasa seperti duduk di tengah gapura.


“Iya, belum sekarang, kok,” kata Dean. Ia melirik Toni. Tatapan sahabatnya itu menetap pada bahu Winarsih tempat di mana tangannya masih menepuk-nepuk. Ia ingin menjawab tapi mustahil saat itu.


Tiba-tiba Winarsih bangkit. “Ya, udah. Kalau gitu, aku ganti pakaian dulu. Aku mau ikut,” ucap Winarsih. Ia melenggang santai meninggalkan Dean yang belum sadar dari terkejutnya.


“Silakan, Bu Win …,” jawab Toni, tersenyum. “Tumben lo ajak,” kata Toni setelah melihat Winarsih menaiki tangga besar.


“Enggak—tadi nggak gini rencananya,” jawab Dean.


Ryan tertawa-tawa dari balik sofa. “Jadi kita pakai plan yang mana?” tanya Ryan, menoleh ke belakang.


“Ini di luar plan …," gumam Dean.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2