GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
90. Permintaan Toni


__ADS_3

Malam itu, mereka tak berada lama di IGD. Setelah kedatangan Ryan membawa surat perintah visum untuk Santoso, mereka semua kembali. Santoso diminta menjalani rawat inap seraya menunggu hasil CT Scan-nya dibacakan.


Dokter mengatakan soal kemungkinan gegar otak ringan yang diderita Santoso. Kepala pria itu memang paling banyak menerima pukulan saat merampas kunci mobil. Punggungnya terdapat luka lebam yang cukup besar bekas pukulan kayu dalam usahanya menghambat serangan pada Toni. Bagian siku dan telinga Santoso pun luka.


Setelah memastikan Santoso memasuki ruang rawat inap dan berbaring dengan mapan, tiga laki-laki dengan pasangannya pamit. Ryan pamit lebih dulu karena mendapat telepon dari Novi yang memintanya buru-buru pulang. Dari percakapan telepon, Novi sepertinya mengatakan kalau perutnya sudah mulai sakit. Di antara kerepotannya mengurusi bapak-bapak yang tak jauh dari kantor polisi dan rumah sakit, Ryan buru-buru pulang.


Sedangkan Rio, langsung kembali ke rumahnya seusai kembali dari kantor polisi. Pria itu masih menyesalkan soal ketidaktangkasannnya berkelahi. Dalam perjalanan ke kantor polisi tadi, Ryan mengatakan Rio menanyakan pendapat soal kelas Muay Thai. Bapak beranak empat itu sedang mempertimbangkan untuk mengikuti kelas bela diri. Sontak saja berita yang disampaikan Ryan itu langsung disambut dengan cibiran ketiga pria di rumah sakit. Ide kelas bela diri itu sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Namun, Rio hanya tahan mengikutinya paling lama dua minggu.


Dean hanya pamit dengan sebenar-benarnya pada Santoso. Sedangkan pada Musdalifah, ia hanya berkata sambil lalu. Dean tak ingin Musdalifah merasa sedang menjadi pusat perhatian. Saat ini, ia membutuhkan Musdalifah. Membuat sekretaris Toni nyaman menemani pegawainya selama menjalani pengobatan, adalah hal yang sangat penting saat itu. Santoso terluka karena membela sahabatnya. Itu poin yang Dean tekankan.


Mereka semua meninggalkan Musdalifah saat sedang menukar-nukar saluran televisi seraya duduk tak bersuara di sofa. Semua orang seperti sepakat untuk tidak menganggap Musdalifah ada di ruangan itu. Dan sepertinya hal itu cukup berhasil, karena Musdalifah terlihat mulai santai. Wajahnya tak sekaku seperti masuk ke balik tirai IGD tadi.


Saat berjalan di lorong menuju pintu keluar rumah sakit, Dean merasakan tangan Winarsih meremat tangannya yang sedang menggenggam.


“Mas, itu Dokter yang ngobatin Mas waktu itu,” bisik Winarsih.


Pandangan Dean langsung mencari subjek yang sedang dibicarakan istrinya. Sosok pria tinggi bercambang yang memakai seragam operasi berwarna hijau. Dokter itu terlihat sedikit tergesa. Kepalanya menunduk melihat ponsel yang sedang dikotak-katiknya.


Saat dokter itu mengangkat pandangan, tatapannya bertemu dengan Dean.


“Pak Dean,” sapa dokter itu.


“Dokter Firza.” Dean menyambut uluran tangan dokter itu padanya. “Masih inget ternyata,” canda Dean seraya tertawa.


“Inget, dong. Saya pernah ngoperasi anak menteri yang kena tusuk. Lukanya ninggalin bekas, nggak? Sedikit, ya?” tanya Dokter Firza dengan ramah.


“Ninggalin bekas. Tapi nggak apa-apa, kok. Istri saya gemes tiap liat bekas luka tusuk itu. Pertanda saya jantan sekali, katanya.” Dean tertawa, lalu sedikit meringis merasakan tangan Winarsih kembali meremat tangannya.


Dokter Firza tertawa. “Saya seneng dengernya. Anak kedua?” tanyanya memandang Winarsih seraya tersenyum.


“Anak keempat,” bisik Dean, sedikit mencondongkan tubuhnya.


“Jangan bilang itu karena gemes liat luka bekas tusukan,” tukas Dokter Firza tertawa kecil.


“Bukan. Kalo itu gemes karena ngeliat tetangganya luka tusukan,” balas Dean ikut tertawa. Kedua pria itu lalu serentak tertawa.


Winarsih memandang dua pria yang memiliki tinggi sejajar itu, terkagum-kagum. Sejak pertama kali melihat Dokter bedah tampan itu, penilaian Winarsih tak pernah berubah. Dokter Firza sosok yang santai dan ramah. Sepertinya rumah tangganya sangat bahagia, batin Winarsih.


“Oke, Pak Dean. Saya lanjut dulu. Ada jadwal operasi setengah jam lagi,” kata Dokter Firza.


“Silakan, Dok.” Dean kemudian kembali menjabat tangan Dokter Firza dan menggandeng Winarsih dari tempat itu.


Mereka berjalan beriring-iringan keluar rumah sakit. Malam itu tak ada acara tebar pesona. Beberapa perawat memang terlihat berbisik-bisik saat Dean, Toni, dan Langit tiba di IGD beberapa saat yang lalu. Namun, perhatian mereka tadi hanya tertuju pada Santoso. Dan lewat tengah malam itu, mereka semua terlalu lelah.


Saat Dean dan Winarsih berhenti untuk bertegur sapa dengan Dokter Firza, Langit dan Toni berdiri di luar pintu kaca yang membuka-tutup otomatis.


“Siapa? Kenal?” tanya Toni pada Dean.


“Dokter yang ngoperasi gue dulu. Waktu kena luka tusuk,” jawab Dean.


Kepala tiga orang wanita masih menembus pintu kaca, mengiringi punggung Dokter Firza yang perlahan menjauh.


“Hei—hei!” Langit mengibaskan tangannya di depan wajah Jingga. “Mima asik banget kayaknya ngeliat pria berseragam ijo,” pungkas Langit.


“Gagah, ya?” tanya Jingga, menatap Winarsih dan Wulan bergantian. Ia mengabaikan perkataan suaminya.

__ADS_1


“Iya, memang gagah.” Winarsih mengangguk menyetujui.


“Seragamnya bikin makin gagah,” tambah Wulan.


“Iya. Benar sekali. Gagah, ya, Ibu-ibu?” Dean memandang Winarsih dan dua wanita lainnya bergantian. “Tapi .... Segagah-gagahnya yang di luaran, lebih gagah yang ngasi jajan dan kepuasan. Ayo, pulang.”


Dean melingkarkan tangannya di bahu Winarsih. Ia nyaris menjepit kepala istrinya di bawah ketiak dan menyeret wanita itu menuju parkiran. Winarsih tertawa-tawa sambil memeluk pinggang suaminya.


Toni pulang mengantarkan Wulan ke rumah orang tuanya. Kekasihnya itu sudah dua malam menginap di sana menjelang acara pernikahan mereka. Walau tubuhnya terasa seperti remuk karena dipukuli beberapa pria sekaligus, hati Toni terasa ringan. Ia bahkan tak peduli soal Rey tertangkap atau tidak.


“Nanti lukanya aku kompres sebentar biar nggak bengkak kayak gitu,” ucap Wulan, kembali menyentuh pelipis Toni yang masih membengkak dan warna merah yang sekarang mulai membiru.


“Pake salep juga bisa,” sahut Toni. Ia tak mendengar sahutan Wulan. Tangan Wulan masih terus mengusap sudut matanya.


“Abis nganter aku, langsung pulang ya. Besok sore jangan terlambat. Soal Mami—”


“Besok pagi aku ngomong ke Mami. Kamu nggak usah khawatir,” ujar Toni.


Hari yang dinantikan memang selalu berjalan sangat lambat. Urusan kantor polisi sejenak terabaikan. Pukul sepuluh pagi hari Jumat, Toni sedang hilir-mudik di kamarnya mengepak pakaian. Di atas ranjang berhamparan pakaian yang dilihat dan dibolak-balik Toni. Ia mengaduk-aduk lemari. Mencoba menemukan pakaian yang membuatnya terlihat paling gagah.


Toni berjanji pada Wulan bahwa, ia akan mengatakan soal pernikahan mereka pada ibunya di Jumat pagi. Tapi, menjelang pukul 12 siang, ia baru mencari ibunya ke ruang makan.


“Mami ...,” sapa Toni, menarik kursi yang terletak di kanan wanita itu. Ibunya mendongak dengan dahi mengernyit. “Kok ngeliat aku kayak gitu?” tanya Toni, mengambil tangan kiri ibunya, lalu mengusapnya.


“Sudah makan?” tanya ibunya.


“Belum. Nih, mau makan sama Mami,” ujar Toni, mendekatkan piring yang berada di hadapannya. “Nanti sore, aku pamit, ya, Mi ... mau ke Bogor. Mami inget, kan, soal yang aku ceritakan beberapa hari yang lalu? Waktu aku pamit makan malam dengan Wulan. Inget, nggak?” tanya Toni, memandang wajah pucat ibunya.


“Yang mana? Memangnya kamu ada ngomong apa?” tanya Bu Anderson, melekatkan tatapannya pada raut Toni.


Lalu, Bu Anderson menoleh ke arah tangga seperti mencari sesuatu.


“Cari apa?” tanya Toni, ikut menoleh ke arah tangga.


“Wulan mana?” tanya Bu Anderson. Kali ini menatap wajah anaknya dengan raut tanda tanya.


Toni terdiam mencoba memahami pertanyaan ibunya. Apa yang sedang dipikirkan ibunya? Sedang berada di mana ingatan wanita yang melahirkannya ini berada.


“Wulan, Mi?” tanya Toni.


“Iya, sudah dari tadi naik, tapi kok belum muncul. Padahal katanya mau nemenin Mami makan,” jawab Bu Anderson.


Toni sejenak berpikir. Apa mungkin ingatan ibunya kembali ke masa ia dan Wulan masih bersama?


“Wulan tadi ngapain aja?” tanya Toni, mencoba peruntungannya.


“Dia ngajak Mami jalan ke taman. Ngobrolin soal bunga. Mami bilang lagi suka anggrek. Wulan mau beli dan taruh di halaman samping. Kamu mau ke mana?” tanya Bu Anderson pada anaknya.


“Mau keluar sama Wulan. Mau nginep di Bogor. Mami nggak apa-apa?” tanya Toni.


“Mau honey moon lagi, ya? Boleh. Mami mau cepat punya cucu,” jawab ibunya. “Tapi, bilang ke Wulan. Jangan terlalu capek. Dia kayaknya kalo Mami yang ngasi tau, kurang mau denger. Wulan nggak perlu sering-sering keluar bantuin kamu di kantor. Konsentrasi aja buat punya anak. Mami udah nggak sabar,” sungut Bu Anderson.


Apa ini kekhawatiran dan unek-unek ibunya selama ini? Toni tak mengerti. Yang jelas, ia sekarang sedang nekad akan melakukan sesuatu.


“Ya, udah. Nanti sore aku berangkat ke Bogor, ya ... Aku honey moon lagi. Biar Mami cepat dapet cucu,” ucap Toni. Ibunya mengangguk-angguk.

__ADS_1


Setelah menemani ibunya makan siang, Toni bergegas membereskan semua perlengkapannya. Ia tak sabar untuk mengatakan pada Wulan soal percakapan bersama ibunya. Pukul tiga sore, Toni sudah melaju di jalan raya menuju rumah Wulan.


Wulan duduk di jok depan dengan raut penasaran. Sepanjang jalan Toni meneleponnya dan mengatakan akan menyampaikan sesuatu.


“Keluarga yang lain di sana semua?” tanya Toni, menunjuk mobil kantor yang dikemudikan supir untuk membawa keluarga kecil Wulan.


“Iya, Ibu bilang mereka di sana semua. Enggak mau ganggu,” jawab Wulan tertawa. “Ada-ada aja,” sambungnya.


“Eh, Ibu pengertian banget.” Toni ikut tertawa. Tapi, tertawanya sedikit canggung karena mengingat hal yang akan disampaikannya pada Wulan. Ia ragu apa wanita itu akan menerimanya.


“Katanya tadi mau ngomong sesuatu. Apa?” tanya Wulan.


“Hmmm .... Nanti kamu tinggal di rumah aja, ya. Sesudah menikah, kamu kembali ke rumah. Kayak biasa,” ucap Toni.


“Tapi, Mami—”


“Mami tadi nanyain kamu. Kayaknya ingatannya kembali ke masa kamu masih di rumah. Mau, ya, Lan? Mami enggak sehat lagi. Kondisinya makin sulit,” lirih Toni dengan raut memelas.


“Mas, nggak khawatir? Gimana kalo tiba-tiba Mami sadar dan ngusir aku?” Wulan menatap calon suaminya dengan alis mengernyit.


“Kalo ngikut saran yang pernah dilontarkan Dean. Katanya ... harus kita yang gantian hilang ingatan. Yakinkan Mami kalo memang kita nggak pernah pisah,” ucap Toni.


Wulan memandang Toni dengan raut gelisah. Perlu keberanian luar biasa untuknya kembali melangkahkan kaki masuk ke rumah itu. Dengan ingatan buruk soal perkataan-perkataan ibu mertuanya dulu, Wulan merasa jantungnya berdebar.


“Gimana? Berani?” tanya Toni. “Demi aku, Lan ... izinkan aku menjadi anak berbakti sampai aku pisah dengan Mami. Aku sayang kalian sama besar. Andai diminta memilih untuk tinggal di dekat siapa, aku sebenarnya berat. Bermalam dengan kamu, dan meninggalkan Mami yang bisa collapse kapan aja, itu sedikit berat. Jadi, aku—”


“Aku mau,” jawab Wulan. “Aku mau. Kalo istri Dean bisa. Kenapa aku nggak?” Wulan tersenyum, lalu mengusap pipi calon suaminya. “Ayo, kita menikah.”


To Be Continued


Update terakhir hari ini. Sekalian mau mengumumkan kalau event Giveaway GENK DUDA AKUT berakhir ya ....


Pengumumannya akan dibuat besok.


Terima kasih pada pembaca yang sudah mendukung novel ini ke titik maksimal kemampuannya.


Giveaway tidak hanya berdasar poin. Juskelapa pilih beberapa nantinya. Yang udah follow juskelapa pasti bisa jadi nanti njuss chat ya ....


Dan untuk yang sudah dukung novel ini, dan mau mendukung novel/penulis lain ke depannya, jangan sungkan. Jangan merasa nggak enak.


Dalam hidup ini, datang dan pergi itu adalah pasangan. Tidak terelak. silih berganti pasti ada. Dukungan itu juskelapa anggap bonus dan apresiasi.


Dukung penulis yang mana aja dirasa nyaman dan memuaskan hati para pembaca. Semuanya sama. Yang penting, ada karyanya. Jangan lupa memberi like di tiap karya siapa pun yang dibaca. Jangan pelit-pelit. Karena ada usaha dari tiap untaian kata. Hehehe ....


Besok, Tini Suketi rilis. Juskelapa juga ada giveaway berupa Tote bag dan tumbler cover Tini. Enjuss masih menghasilkan jauuuuuh dari kata cukup lewat platform ini. Tapi juskelapa mau karya juskelapa ada souvenir yang bisa dijadikan kenang-kenangan selagi menulis di aplikasi Noveltoon tercinta ini. Makanya buat yang mau beli, njuss tolak. Nanti jadinya njuss jualan. Hehehe.


Untuk yang menagih RUN! dilanjutkan, bersabar ya. Enjuss update slow, karena janjinya kemarin memang begitu. Run ditulis untuk memecah kebosanan selama menulis roman.


Buat yang ada akun Good Novel, ditunggu proyek tunggal juskelapa di sana. Sedang disiapkan.


Maaf kalau belum bisa sempurna.


Maaf juga kalau ini kepanjangan. Nanti juskelapa hapus lagi.


Salam sayang selalu untuk ibu-ibu semuanya.

__ADS_1


Nantikan malam pertama Toni-Wulan yang bakal spektakuler. Wkwkwkk


__ADS_2