
Polisi datang dengan dua mobil mini bus. Beberapa saat semua orang yang berada di sana terdiam untuk mengamati apa yang selanjutnya terjadi. Dean dengan pasti dapat menebak siapa dalang pengeroyokan itu.
Sebelum Toni kembali mendekati Wulan, Rey memang sedang berada dalam kesulitan. Produk yang akan diseludupkannya tertahan di salah satu kota yang dilewati. Itu sebabnya sejak mencampakkan bingkisan di kantor Wulan, Rey menghilang.
Rey belum melarikan diri. Ia hanya sedang sibuk membereskan masalahnya. Kedatangan Dean membereskan masalah Wulan ke kantor pria itu, turut menjadi pemantik emosi Rey pada Toni.
Masalah keributan Toni dan Rey di kantor T&T express berakhir dengan pencabutan laporan oleh keduanya. Harusnya, semua sudah berakhir. Lalu, Rey menghilang. Dan tak semua orang kuat menahan rasa sakit hati yang mendalam.
Andai saja semua manusia bisa legowo, sipir penjara pasti tak ada kerjanya, pemerintah bisa mengurangi anggaran untuk narapidana, dan APBN bisa digunakan untuk hal mendesak lainnya. Panjang dan rumit. Tapi, semuanya berkaitan dan membentuk kesimpulan umum.
Bahwasanya kedamaian tak pernah membawa kerugian. Tapi seperti halnya semua orang sadar, bahwa untuk mencapai kedamaian itu harus memenuhi banyak unsur. Salah satunya adalah tercukupinya kebutuhan. Masalah akan lebih mudah dihadapi dengan perut terisi.
“Pak,” panggil Ryan. Dean yang merasa dipanggil, menoleh membalikkan tubuhnya. “Saya dan Mas Rio ikut ke kantor polisi. Yang lain langsung ke rumah sakit aja. Gimana?” tanya Ryan, menunggu atasannya menyetujui langkah yang diambilnya. Kali ini memang harus dia yang mengurusi soal administrasi pelaporan. Meski tak terluka parah, ia melihat atasannya juga terengah-engah dengan kondisi emosi yang belum stabil.
“Lo ama Rio?” Dean memandang Ryan dan Rio bergantian, lalu mengangguk. “Oke—eh, lo kenapa?” tanya Dean pada Rio yang meringis memijat-mijat bokongnya.
“Pegal. Dipaksa duduk di tanah,” kata Rio, meringis dengan raut menggelikan.
“Kegedean bokong, sih,” tukas Dean.
“Kayaknya gue perlu banyak olahraga,” ujar Rio. “Udah kurang gesit,” tambahnya lagi.
“Ya, udah. Langsung ke rumah sakit aja, De. Periksa Santoso,” ajak Toni.
“Gue baru nelfon bini gue. Gue bilang kita diserang sekolah sebelah. Enggak luka parah, sih. Cuma lecet-lecet aja. Jingga malah ngomel-ngomel,” keluh Langit. “Padahal maksudnya biar nggak tegang-tegang amat.” Ia tertawa kecil.
“Oh, iya. Nelfon—”
“Udah! Barusan saya telfon. Saya bilang semuanya ke rumah sakit P Kebayoran Baru. Bu Win langsung ke sana aja katanya.” Ryan memotong ucapan Dean yang sedang teringat akan istrinya.
“Lo langsung ngomong soal rumah sakit? Entar dikira gue yang gimana-gimana. Dia udah trauma tiap hamil harus ke kantor polisi dan ke rumah sakit ngurus suaminya.” Dean melontarkan tatapan serius pada Ryan.
“Saya udah jelasin secara singkat dan padat. Amanlah. Yang penting sekarang ke rumah sakit dulu.” Ryan lalu menoleh pada Rio yang berdiri di dekatnya. “Ayo, Mas. Kita berangkat? Polisi udah kelar,” ajak Ryan menatap satu mobil polisi yang baru bergerak meninggalkan pelataran café.
__ADS_1
Daerah itu adalah daerah pusat kota yang kalau malam sangat sepi. Jalan raya yang membentang sangat lebar dan berlapis-lapis tidak membuat pengendara sepeda motor atau transportasi kecil sering melintas. Seusai kekacauan tadi, manager café sempat mendatangi Ryan untuk mendengar secara sekilas soal kejadian.
Manager café tak bisa menyembunyikan raut leganya. Lega karena keributan itu tidak berada di dalam café yang bisa berakibat kehancuran inventaris mereka.
Empat puluh menit kemudian, Dean, Toni, Langit, dan santoso sudah berada di IGD Rumah Sakit P Kebayoran Baru. Ryan sudah menghubungi dari kantor polisi bahwa mereka bisa melakukan visum et repertum dengan surat dari kepolisian yang akan dibawanya sesaat lagi ke rumah sakit.
“Siapa yang visum? Sampe segitunya?” tanya Toni, saat ia berdiri bersisian di dinding IGD dengan Dean.
“Gimana buat laporannya kalo nggak ada bukti yang luka-luka?” tanya Dean.
“Lah, lo tadi ikut mukul juga. Gimana?” tanya Toni lagi.
“Itu pembelaan diri,” jawab Dean terkekeh. “Mereka yang datengi kita. Penyerangan namanya,” bisik Dean.
Toni, Dean dan Langit berdiri menyandari dinding di luar tirai di mana ranjang Santoso berada. Pria itu yang pertama kali diperiksa. Tiga orang lainnya bersikeras bahwa Santosolah yang lebih membutuhkan pemeriksaan. Dean juga mengatakan kalau pegawainya itu harus menjalani CT Scan di kepalanya.
Bukan hanya untuk kepentingan laporan ke kepolisian, tapi juga untuk memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.
Winarsih turun dari mobil yang dikemudikan Pak Noto tepat di depan IGD. Jantungnya kembali berdenyut saat Ryan mengatakan bahwa suaminya akan berada di rumah sakit. Entah kenapa, meski tak pernah berharap hal-hal buruk akan terjadi pada diri suaminya, tapi kata kantor polisi masih lebih baik dari rumah sakit.
Dari kejauhan, ia melihat Dean tak lagi mengenakan jas dan dasinya. Mungkin sudah dilepas karena kotor. Suaminya memang tak akan membiarkan debu sedikit saja menempel di pakaiannya. Sambil berjalan, Winarsih mengamati wajah suaminya. Oh, hanya sudut bibirnya yang luka.
Sudut kiri mulut Dean terlihat memerah dan sedikit membengkak. Winarsih membayangkan pasti Dean akan sibuk sekali dengan krim penghilang bekas luka nantinya. Dan ibu mertuanya jelas akan bertanya dengan siapa lagi anaknya baku hantam. Tidak mau wajahnya ternoda, tapi juga tidak pernah mau mengalah dalam keributan apa pun. Itu yang selalu dikatakan ibu mertuanya tiap mengomeli anaknya sendiri.
“Mas,” panggil Winarsih yang baru tiba.
Dean yang sedang berbicara dalam bisikan dengan Toni, langsung menoleh. Ia baru saja membuka mulut akan menyahuti, tapi dari belakang istrinya muncul dua wanita lain. Jingga dan Wulan yang sepertinya tiba bersamaan.
“Eh, ini ibu-ibu dateng semua.” Dean menyikut lengan Toni di sebelah kirinya. Refleks Toni menyenggol lengan Langit yang juga berada di sebelah kirinya.
“Didi,” panggil Jingga.
“Anak-anak sama siapa?” tanya Langit. Itu hal yang pertama ditanyakannya mengingat selama ini Jingga tak pernah melepaskan si kembar bersama orang lain.
__ADS_1
“Sama Bunda. Tadi aku minta Bunda ke rumah,” jawab Jingga. “Itu siapa yang di dalem?” tanya Jingga menunjuk tirai yang tertutup.
“Santoso, pegawainya Dean.” Langit ikut memandang tirai polos di depan mereka.
“Didi wajahnya kena debu. Enggak dibersihin?” tanya Jingga, mengusap sisi kanan wajah Langit yang masih menempel debu dan sedikit pasir.
“Jadi dari tadi muka aku kayak gini?” tanya Langit, menggamit lengan Toni di sebelahnya.
Toni yang sedang mengulurkan tangannya mau meraih tangan Wulan, seketika berbalik paksa menatap Langit.
“Dari tadi muka gue belepotan pasir?” ulang Langit, menatap Dean dan Toni bergantian.
Toni dan Dean mengangguk bersamaan. Lalu serentak menjawab, “Iya.”
“Kok nggak ada yang ngomong?” tanya Langit.
“Karena Toni yang mau nikah lusa. Muka dia lebih penting. Jadi gue nggak konsen ke muka lo,” jawab Dean.
Toni tertawa, sedangkan Wulan menarik senyum tipis.
“Ya, ampun. Mas Toni luka di wajahnya juga banyak. Itu pelipisnya bengkak. Bibirnya juga. Enggak diobati sekalian? Mumpung di rumah sakit.” Tangan Winarsih berada dalam genggaman suaminya, tapi matanya menelusuri wajah Toni yang terluka.
Karena perkataan Winarsih, Wulan mendongak menatap wajah Toni. Tangan kirinya berada dalam genggaman pria itu, dan tangan kanannya terangkat untuk memegang luka di sudut bibir Toni.
“Sakit?” tanya Wulan.
“Tadi sakit, sekarang enggak.” Toni meraih tangan Wulan yang memegang lukanya dan mencium telapak tangan wanita itu.
Pemandangan itu disaksikan oleh Dean dan Winarsih. Langit dan Jingga sedang bercakap-cakap soal Santoso. Saat melihat hal itu, Dean menarik lengan Winarsih.
“Aku juga luka, Win. Ini—” Dean menunduk dan menyodorkan dagunya ke depan wajah sang istri.
To Be Continued
__ADS_1
Lanjutannya langsung scroll, tombol likenya jangan lupa diklik.