
“Bini gue nagih arisannya,” kata Dean.
“Iya, nih. Jenni juga nanya,” sambut Rio.
Langit tertawa, “Jingga ngomong tadi pagi. Arisannya gimana Didi? Didi terus yang ngumpul-ngumpul,” ujar Langit kembali tertawa.
“Jadi gimana? Bini gue oke-oke aja,” kata Toni.
“Nyokap lo udah bisa ditinggalin emangnya?” tanya Rio.
“Arisan, kan, nggak lama. Dua bulan sesudah operasi, keadaannya mengalami kemajuan. Meski kadang kayak orang linglung, tapi Mami Inget gue dan Wulan. Kebanyakan di kamar kalo sekarang. Bahagia banget pulang ngantor ngeliat Wulan ketiduran di sebelah Mami. Ternyata, sebahagia itu.” Toni mengulum senyumnya.
“Selamat, Mas Toni.” Santoso yang sejak tadi lebih banyak mendengar, memberi tinju pelan pada lengan Toni.
“Arisannya Minggu depan aja. Gimana? Di rumah gue aja, deh. Enggak usah di restoran atau di mana-mana. Anak gue yang bungsu baru dua bulan. Pasti bini gue lagi bosen makanya nanyain arisan. Di rumah gue aja. Yo! Bilang ke Jenni, Minggu depan!” seru Dean dari sudut meja, memandang Rio.
“Emang kenapa kalo di luar? Lo sirik aja liat bini keluar rumah,” kata Langit.
“Bukan gue sirik. Anak gue masih ASI. Yang bungsu ini agak beda. Enggak mau pake botol. ASI udah dipompa banyak-banyak, dianya nggak mau. Beda sama kakak-kakaknya. Dia lebih suka nyusu langsung. Mirip gue banget,” ucap Dean terkekeh.
“Yang udah buka puasa girang banget,” ujar Rio ikut tertawa.
“Jelas, dong … tapi, kali ini gue udah belajar pake sarung. Kurang asik. Enggak betah gue sebenernya,” tukas Dean.
Ryan yang sejak tadi diam, melirik atasannya. “Yang begitu jangan diomongin sekarang. Kasian Santoso,” cetus Ryan.
“Oh, iya. Ada Santoso,” gumam Toni, memandang Santoso dengan raut prihatin.
“Maaf, ya, So. Lo kapan lagi, So? Biar bisa menimpali percakapan soal enak-enak ini. Kayaknya dalam hal hal teori, lo udah dibekali lebih dari cukup. Saatnya praktek,” kata Dean.
Santoso yang hari itu ikut bergabung di Beer Garden, kembali mendapat sindiran soal pernikahan. “Sebelumnya, saya mau nanya ke Bapak-bapak semuanya.” Santoso mengedarkan pandangannya kepada empat pria yang melipat tangannya di atas meja. Satu pria lainnya sedang sibuk menunggu minuman.
“Minumannya lama banget,” ucap Ryan, menjulurkan lehernya dari balik punggung Toni untuk melihat ke arah bar. Ia melambaikan tangan dan Diky mengangguk menunjuk mesin kasir. Arti dari isyarat itu biasanya, Diky sedang melayani pembayaran dan akan mengantarkan minuman mereka semua sesaat lagi.
Lima belas menit kemudian, Diky datang dengan nampan besar di tangannya. “Hai, bapak-bapak genk—” Diky terdiam melirik Dean yang mengangkat alisnya. “Bapak-bapak ganteng aja, deh. Lebih aman. Nama barunya kepanjangan,” tukas Diky tertawa.
“Susun sini, buruan … aus gue,” kata Langit. Ternyata sejak tadi ia juga tak sabar menunggu. ‘Tumben lama,” cetus Langit, mengangkat gelasnya dari nampan.
“Kasirnya keluar sebentar. Eh, by the way … kasus yang kemarin gimana? Pengeroyokan?” tanya Diky seraya menyusun minuman ke atas meja.
“Udah ketangkep, dong. Emang lagi banyak masalah dianya. Toni salah satu yang ikut memicu. Untungnya sekarang Toni—” Dean mengangkat gelas jusnya ke arah Toni. “Pahlawannya tetap … member Danawira’s Law Firm. Tarif Pak Santoso semakin tinggi.” Dean mengedipkan matanya kepada Diky.
"Sukur, deh. Kalo udah ketangkep. Kita nggak mau kehilangan pelanggan setia soalnya." Diky tersenyum kemudian kembali ke bar.
“Ehem!” Santoso berdeham.
__ADS_1
“Eh, iya. Santoso mau ngomong, tuh.” Rio baru saja menyeruput setengah gelas jusnya.
“Apa tadi, So? Mau nanya apa?” tanya Dean lembut. Ia memang penasaran akan hal yang akan ditanyakan Santoso. Masalahnya seharian ini mereka bersama di kantor. Tapi, kenapa pegawainya itu tak menanyakan hal apa pun padanya. Apa Santoso sedang mengadakan survei?.
“Kayaknya seru,” gumam Langit, meletakkan gelasnya dan memajukan tubuhnya menatap Santoso.
“Kayaknya gue tau,” gumam Ryan. Sekretaris Danawira’s Law Firm terlihat tak tertarik dengan hal yang akan dilontarkan oleh rekannya.
“Bagaimana kalau … seandainya, Bapak-bapak sedang mencoba menjalin hubungan serius dengan seorang wanita, tapi seseorang dari masa lalu datang kembali? Saya nanya bukan karena bimbang. Tapi … saya khawatir salah bicara. Ada yang pernah menghadapinya?”
Pertanyaan dari Santoso membuat Dean dan Toni bertukar pandang. Itu adalah masalah klasik mereka sejak lulus SD hingga kini beranjak gede. Mereka sudah dalam tingkatan profesional. Malas menceritakan masalah masa lalu, Dean balik bertanya pada Santoso.
“Gini aja, deh. Kelamaan kalo lo nanyain kita satu persatu. Toh, lo cuma mau tau, apa yang lo omongin bener atau salah. Ya, kan?” Dean menatap Santoso. Pegawainya itu mengangguk. “Kalo gitu, lo aja yang ngomong ke kita. Emangnya lo ngomong apa ke siapa. Lo pengacara Santoso ….” Dean menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Baik—baik, Pak. Begini, seperti yang Bapak-bapak semua tau kalau saya ….”
“Iya—iya! Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sampai lutut lo luka-luka dan mata lo burem kehilangan cahaya. Oke, terus?” Dean tak sabar dengan penuturan Santoso yang mendramatisir suasana.
“Mantan pacar saya di kampung, kemarin datang dan memohon maaf. Dia mengatakan masih cinta. Dan selama ini dia memang nggak pernah ada yang lain, katanya. Dia mau saya kembali. Sebagai informasi, saya dan dia sudah lama pacaran. Pacaran tiga tahun, putus setahun belakangan ini. Jadi … kemarin saya agak kesal karena dia tiba-tiba datang ke rumah. Tapi, sekarang saya malah khawatir terlalu kasar dan menyakiti hati wanita. Karena dia nangis dan pergi ninggalin saya.”
“Hmmm ….” Toni menggaruk-garuk dagunya.
“Gitu ….” Langit manggut-manggut.
“Lama juga, ya, tiga tahun. Sayang kenapa bisa putus,” ucap Rio. Ketiga pria lainnya segera menoleh Rio. Buru-buru Rio mengangkat bahunya. Ia memang tak pernah memberi saran soal kehidupan mantan pacar. Jennifer adalah pacar pertama, mantan pacar, sekaligus istrinya. Rio tak paham soal sensasi hubungan putus sambung.
Ryan tak mengindahkan pembicaraan itu. Ia sedang membalas pesan Novi yang menitip beli popok untuk bayi mereka.
“Memangnya kamu ngomong apa? Yang kamu anggap kasar itu?” tanya Dean.
“Iya, jadi penasaran. Apa lo lebih kasar dari ….” Toni melirik Dean.
“Apa lo?” balas Dean.
Toni terkekeh bertukar pandang dengan Langit. Lalu mereka mengadu tinju karena senang melihat wajah keki Dean.
Santoso menarik napas dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin.
“Jangan menunggu. Aku nggak akan datang. Kamu cuma masa lalu yang nggak ingin kuulang. Kamu cuma perih yang pernah kupegang. Dalam hari terpuruk dan kesepian sekali pun, memang sudah nggak ada tempat buatmu sedikit pun. Biarlah aku mati hampa, dari pada denganmu harus kembali bersama.”
Keempat pria serentak bertepuk tangan memandang Santoso.
“Kasarnya segitu. Halusnya segimana? Gue jadi penasaran lo ngomong apa aja sama si Mus? Cerita dong—cerita dong. Ih, Santoso ….” Dean menonjok pelan lengan pegawainya. Dean menutup mulutnya menahan tawa. Merasa geli dengan isi pikirannya sendiri.
“Itu puisi?” tanya Langit. “Itu puisi, kan?” Langit bersikeras.
__ADS_1
“Bukan …,” jawab Rio. “Cuma kata-kata biasa aja,” sambung Rio lagi untuk menenangkan perasaan Langit.
“Tapi itu juga tajam kata-katanya,” celetuk Ryan.
“Setidaknya lebih halus ketimbang mencampakkan koper dari lantai dua ke lantai satu, Yan.” Toni mengangguk menepuk bahu Ryan.
“Untuk itu saya setuju,” gumam Ryan mengangguk samar. Matanya melirik Dean yang sudah memasang wajah sebal.
“Enggak ada contoh yang lain emangnya?” tanya Dean dengan gigi dirapatkan.
“Yang kayak gitu nggak banyak, Pak,” sahut Ryan kalem.
“Sekarang Mas Toni udah menang dengan gemilang. Semoga maminya Mas Toni juga semakin cepat sehat. Jadi, bisa ngeliat cucu tersayangnya segera,” ujar Santoso dengan nada sedikit berbeda.
“Makasi, San.” Toni gantian menonjok pelan lengan Santoso.
“Sweet banget, ya,” gumam Rio memandang Santoso dan Toni.
Dean meletakkan gelasnya dan mengernyit memandang Santoso. “Lo kenapa? Toni merestui, kok. Ya, nggak, Ton?” Dean menoleh ke arah Toni. Toni mengangguk pada Santoso.
Santoso menegakkan tubuhnya dan mengangkat gelas. Dean semakin merasa kelakuan Santoso sedikit ganjil.
“Lo mau apa, sih?” Dean masih penasaran. Santoso tak menjawab, hanya mengedikkan bahunya.
“Mmmm ... gue tebak, ya. Mau ngelamar si Mus? Mmmm ... mau—”
“Berisik!” sergah Langit, menyentil jari Dean.
“Mau kawin? Nunggu anak Pak Toni lahiran? Karena dedikasi Musdalifah. Iya, kan? Pasti si Mus pake alasan ini. ‘Tunggu anak Pak Toni lahir.’ Yakin, deh, gue! Bener, kan?” desak Dean pada Santoso.
“Jawab, San. Ketimbang sidang lanjutan. Gue yang ribet,” cetus Ryan.
“Bener nggak. Jawab, atau gue batalkan kenaikan fee Bapak Santoso? Atau … gue batalin satu klien? Dua—”
“Kata Mbak Mus, nunggu lahiran bayi Pak Toni ….” Santoso menunduk mempermainkan sedotan di gelasnya.
“Cieeeee …. Santoso mau kawin cieeee ….” Dean kembali bertepuk tangan dengan gaduhnya. Ia menyenggol Ryan yang sedang meneguk minumannya.
“Ck,” decak Ryan.
“Apa lo? Mau marah?” Dean mendelik pada Ryan, lalu kembali memukul pelan lengan Santoso.
"Ton, kita jadi besanan!" seru Dean lagi.
To Be Continued
__ADS_1