
Arisan ibu-ibu ternyata berjalan sangat lancar. Lima orang wanita duduk di taman dan terlihat berbicara serius dari kejauhan. Terkadang pembicaraan mereka diselingi dengan tawa dan saling bisik sambil terkikik-kikik.
Jennifer sedang memimpin rapat kecil. Novi bersiap di sebelahnya dengan sebuah tablet untuk mencatat. Mereka semua punya rencana dan tujuan atas kumpul-kumpul sebulan sekali itu.
Arisan itu tidak ada memungut biaya apapun. Mereka berencana mengumpulkan sejumlah uang yang akan mereka manfaatkan untuk menjamu anak-anak di rumah yatim piatu.
Setiap bulannya, mereka akan menyumbang ke tempat yang berbeda. Lalu, usul lain mengatakan kalau mereka juga bisa membuat paket-paket nasi dengan lauk lezat yang bisa dibagikan ke para pedagang kaki lima dan orang-orang yang sedang mencari nafkah di jalanan.
Semua wanita itu sepakat. Bahwa acara kumpul-kumpul mereka harus memiliki sesuatu yang berarti.
Dari kejauhan, Dean melongokkan kepalanya dari balik pintu teras. Para wanita itu telah pindah posisi ke tepi kolam renang. Winarsih duduk di tepi kolam dengan kakinya terjulur ke dalam air.
“Ternyata bini gue betah juga, ya, ngobrol hampir dua jam.” Dean melirik jam besar di dekat televisi.
“Namanya perempuan, De! Mereka butuh sarana untuk menyalurkan hobinya berbicara. Jangan lo doang yang mau ngomong,” kata Langit.
“Tapi satu jam lagi nggak kelar, kayaknya gue nyerah gendong bayi ini.” Dean menunduk memandang Handaru yang tadi terbangun dan menangis. Bayi itu diserahkan oleh babysitter kepada bapaknya.
Rio tengah mengusap-usap dahi putra bungsunya yang berkeringat karena baru selesai melompat-lompat di trampolin kecil. Dirja berlari menghampiri bapaknya dengan peluh yang sama.
“Pak, Mas boleh ngeluarin mainan dari kamar? Bosen sama yang di sini,” ucap Dirja, menarik kemeja Dean.
“Boleh, Nak. Semuanya keluarin nggak apa-apa. Yang penting anteng, ya,” sahut Dean.
Tak lama, Dita ikut menyusul kakak laki-lakinya. “Pak, Mbak juga boleh, kan? Mau ambil Barbie,” kata Dita.
“Iya, boleh. Sana minta bantu sama Mas. Jangan lari-lar—” Dean tak sempat menyelesaikan perkataannya. Dita sudah berlari mengejar kakak laki-lakinya menaiki tangga. Seorang babysitter ikut berlari di belakang bocah kecil itu utuk mengawasi langkahnya di tangga.
“Atasan dan bawahan kompak, ya. Gue iri,” ujar Rio, tersenyum memandang Ryan dan Dean bergantian. Ryan juga sedang sibuk menggoyang tubuhnya dengan irama teratur demi menidurkan bayinya yang baru saja menyusu sebotol.
“Kalo lo capek, sini gantian ama gue.” Toni menawarkan bantuannya pada Dean.
“Serius?” tanya Dean. “Bisa gendongnya nggak? Anak gue jangan lo jadiin bahan latihan,” kata Dean lagi.
“Bisa, dong. Itu sih naluri,” sahut Toni, mengulurkan tangannya. Dean perlahan-lahan memindahkan Handaru ke tangan Toni.
“Lo bedua udah kayak ibu-ibu posyandu,” tukas Langit tertawa.
“Diem, lo! Gue mau duduk dulu.” Dean menghempaskan dirinya di sofa. “Ya, ampun. Ternyata capek juga gendong bayi dua jam. Itu ibu-ibu, kok, pada tahan gendong anaknya berjam-jam. Gue sebentar aja udah pegel,” keluh Dean.
“Ibu-ibu gendong anaknya bukan pake tenaga. Tapi, pake hati. Mereka bakal tahan gendong anaknya sendiri berjam-jam. Beda kalo gendong anak orang lain,” jawab Ryan tanpa menoleh. Ia masih mengamati wajah bayinya yang mulai terlelap.
__ADS_1
“Satu lagi, nenek gendong cucunya juga tahan banget. Mertua gue dulu, bisa tahan gendong Zurra atau Kalla tiap rewel nggak mau tidur. Kekuatannya memang nggak dari tenaga,” tambah Langit.
“Kalo terpaksa bisa, sih. Kayak anak kedua dulu. Dita itu paling susah tidur malem. Nyenyaknya malah menjelang pagi. Bini gue baru lahiran. Jadi, gue yang gendong setiap malem. Sampe dua bulan kayak gitu. Berkat Dita, gue menamatkan delapan judul buku.” Dean tertawa terkekeh dari sofa.
“Ya, harus gitu. Jangan bikinnya aja lo tahan berjam-jam. Gendong hasilnya juga harus sanggup,” timpal Toni.
“Cieee … Pak Toni yang udah siap bener lahir batin buat gendong bayi berjam-jam,” canda Dean. “Lo bikinnya berapa jam Ton?” tanya Dean.
“Bukan berapa jam, tapi berapa gaya.” Toni menahan tawanya karena sadar sedang menggendong Handaru. “Gaya gendong yang paling utama. Gaya kelemahan lo, De,” sambung Toni dengan tawa tertahan.
“Diem, lo,” sungut Dean.
“Jadi, Musdalifah dan Santoso kemungkinan pergi bareng, ya?” Rio mengedarkan pandangan.
“Bisa jadi. Santoso sedang memohon restukah? Ngunjungin rumah orang tuanya si Mus?” Langit ikut mengedarkan pandangan menatap teman-temannya.
“Atau langsung nikah di kampung? Alasannya biar nggak ngerepotin? Tanpa menimbulkan hiruk-pikuk?” tambah Dean.
“Hiruk-pikuk mulut lo?” tanya Langit pada Dean.
“Eh, anj—” Dean terdiam. Widi mendatangi bapaknya dengan wajah yang kembali ditekuk. “Yang ini kenapa lagi?” tanya Dean mengangkat Widi ke pangkuannya.
“Barbie—Mbak,” ucap Widi.
“Pantes tiap gue chat balesnya bisa dua jam kemudian,” sahut Langit.
“Kalo cuma sekedar pesan masuk, gue nggak bisa tergesa-gesa ngeliatnya. Kesannya gue nunggu pesan entah dari siapa. Kalo telfon, baru bisa gue angkat langsung. Gue harus main sama anak-anak. Kata bini gue, anak gue banyak. Jangan sampe gue lupa namanya siapa-siapa aja.” Dean masih memangku Widi yang melingkarkan tangan memeluknya. Dean mengusap-usap punggung Widi yang sepertinya rewel karena mengantuk.
“Jangan-jangan lo nggak inget tanggal dan jam lahir anak lo, De! Pasti ada yang lo lupa. Jamnya inget, tapi menitnya lupa,” todong Rio.
“Lo jangan salah. Winarsih sebelum tidur sering nanya tanggal lahir dan jam lahir salah satu anak gue. Udah berasa dimintain password tiap mau enak-enak. Gue hapal tiap menit dan detiknya,” tukas Dean bangga.
Arisan hari itu menghasilkan wajah ibu-ibu yang sumringah dan wajah bapak-bapak yang kelelahan. Sore hari, semua anak-anak kecil sudah tertidur di gendongan orang tuanya masing-masing.
Langit terlihat menggendong Zurra, dan Jingga menggendong Kalla. Rio menggendong Giovani, Jennifer menggandeng Laurensia dan Tiffany di kanan-kirinya. Sedangkan Toni, memapah Wulan menuruni tangga teras dengan super hati-hati.
Tiga hari bekerja tanpa Santoso, Dean mulai terlihat uring-uringan. Ia merasa dikhianati, karena Santoso yang biasanya terbuka dengannya, kini jarang bersuara. Terlebih sejak mengetahui bahwa bawahannya itu mengambil cuti tanpa persetujuannya terlebih dahulu. Dean menebak pasti Santoso berhasil memberikan kuliah singkat bermanis mulut pada bagian kepegawaian.
“Gue nggak nyangka Santoso mengkhianati kita semua,” ujar Dean suatu pagi pada Ryan.
“Kita semua? Saya nggak, tuh. Buat apa mikirin Santoso? Mungkin sekarang dia lagi seneng-seneng di kampungnya,” ujar Ryan. Ia mengerti sepenuhnya bahwa Dean bukan merasa dikhianati dalam soal kepercayaan. Atasannya itu hanya tak suka kalau ketinggalan berita.
__ADS_1
“Gue akan menjalankan aksi diam kalo Santoso masuk kerja minggu depan. Eh, enggak langsung. Gue tunggu dulu dia ada cerita atau enggak. Kesel gue,” gumam Dean.
Ryan hanya menghela napas. Padahal itu hanya Santoso yang merupakan karyawan biasa. Tapi, Dean bisa begitu posesif. Maka Ryan tak heran kalau istri atasannya itu sulit bergerak ke mana-mana.
“Untung Bu Win pengertian,” gumam Ryan tak sadar.
“Apa? Kok, jadi ke Bu Win? Apa hubungannya?” tanya Dean, melirik sekretarisnya.
“Ada, deh.” Ryan bangkit dari kursi saat Dean telah selesai menandatangani seluruh berkas yang dibawanya.
Minggu berikutnya pun datang. Santoso masuk kerja dengan wajah yang sangat ceria. Pria itu sering bersenandung dengan ekspresi yang lain dari biasanya.
Sebelumnya, jangankan bersenandung dan tersenyum ramah. Dalam hal apa pun, Santoso terlihat sangat serius. Termasuk saat pria itu bercanda.
“Meetingnya sekarang aja. Jam tiga gue mau balik. Handaru ada jadwal imunisasi,” ucap Dean melalui pesawat telepon pada sekretarisnya. Ia lalu bangkit menuju sofa seraya menenteng tabletnya.
Sepuluh menit kemudian, tiga orang pengacara muda mengetuk pintu dan masuk ke ruangan. Lalu, disusul Santoso dan Ryan yang datang bersamaan.
“Oke, yang pegang kasus makelar tanah siapa?” Dean memandang tiga pengacara muda yang baru berada di Danawira’s Law Firm selama setahun belakangan.
Salah seorangnya mengangkat tangan, “Saya, Pak De.”
“Itu penipuan. Pasal 378 KUHP, kan? Jatuhnya ke pidana, ya. Ancaman paling berat empat tahun penjara. Jangan sampe makelar tanahnya lolos. Kasian kliennya. Bayar mahal-mahal ternyata dapet surat tanah palsu,” gumam Dean, menunduk di atas tablet yang dipegangnya.
“Selanjutnya, kasus hukum dagang. Mmm ... sengketa merek antara IPEA Swedia dan IPEA Indonesia. Ini kasus lumayan berat. IPEA Indonesia udah terdaftar di Dirjen HKI. Kasus ini siapa yang pegang?” tanya Dean mendongak.
Santoso mengangkat tangan kanannya, dan mata Dean langsung mengerjap. Lambaian tangan Santoso terlihat berbeda. Dean mencoba menyadari apa yang berbeda dari tangan Santoso. Beberapa hari belakangan ia memang sudah melupakan soal rencananya ngambek dari Santoso.
“Kayaknya ada yang beda. Apa, ya ....” Dean menggaruk dagunya.
“Kasus ini memang akan saya tangani dengan berbeda, Pak.” Santoso menunjuk-nunjuk kertas dengan tangan kanannya.
Dean mengamati tangan Santoso, lalu matanya melebar. “Jari lo! Kenapa jari lo?” tanya Dean.
“Kenapa?” tanya Santoso melihat jemari tangan kanannya.
“Cincin itu! Lo udah kawin? Itu cincin pernikahan, kan?” Dean menunjuk cincin di jari manis Santoso yang menyilaukan matanya sejak tadi. “Pengkhianat,” bisik Dean dengan wajah sebal.
To Be Continued
Oh, ya. Buat yang belum tau, Genk Duda Akut ini adalah spin off dari novel CINTA WINARSIH. Buat yang mau mengikuti cerita percintaan Pak Dean dan Bu Winar, bisa intip ke sana, ya .... :*
__ADS_1
Novel ini beberapa part lagi akan selesai. Terima kasih karena mengisi kebersamaan juskelapa bersama Genk Duda Akut selama ini.