GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
100. Kado Untuk Mami


__ADS_3

Wulan menahan Winarsih untuk kembali sebelum dia dan Toni benar-benar mencoba test pack.


“Tunggu, Win. Kamu jangan pulang dulu, yah. Tunggu Mas Toni dan aku—”


“Iya, Mbak. Kita tunggu. Santai aja,” jawab Winarsih, memegang dan menepuk punggung tangan Wulan.


Dean melihat hal itu dengan raut tersipu-sipu. Ia tak pernah melihat Winarsih bercengkerama dengan seorang sahabat wanita. Sedikit tak menyangka, kalau Winarsih yang sepertinya di kota besar itu hanya mengenal suami, mertua dan anak-anaknya saja, ternyata juga bisa luwes bergaul.


Toni kembali dengan raut merah padam. Wajahnya yang blasteran terlihat seperti kepiting rebus karena larut dalam adrenalin antusiasme.


“Bu, Win. Ini!” Toni menyodorkan sebungkus test pack pada Winarsih.


“Kok, ke bini gue? Dia nggak perlu dites pake itu.” Dean menggerakkan dagunya menunjuk Wulan yang duduk di sebelah Winarsih.


“Makenya gimana?” tanya Toni, rautnya bodoh luar biasa.


“Gue nggak pernah make,” sahut Dean dengan wajah iba.


“Mas, sini.” Wulan meminta bungkusan dari tangan Toni. Pria itu langsung menyodorkan plastik yang dibawanya. “Ayo, Win. Temenin aku,” ajak Wulan, mengulurkan tangannya pada Winarsih.


Dean mengatupkan mulutnya. “Sana—sana,” pinta Dean, mendorong-dorong lengan Winarsih dengan senyum simpul. Ia masih mengikuti punggung Winarsih yang berbelok di sudut lorong.


“Lo, kenapa? Sinting?” tanya Toni, mengernyit memandang raut sahabatnya.


“Gemes aja ngeliatnya. Lucu,” sahut Dean, masih tersenyum-senyum.


Toni meringis. “Gue nggak akan heran kalo setelah ini, anak lo bakal nambah lagi.” Toni menggeleng-geleng.


Sementara itu di toilet, Wulan sedang menyobek kemasan test pack di hadapan Winarsih.


“Banyak banget,” gumam Wulan, menyerahkan sisa test pack di dalam plastik pada Winarsih.


“Enggak apa-apa. Kita coba dua atau tiga, biar puas liat hasilnya.” Winarsih kembali mengeluarkan dua test pack dan membantu menyobek kemasannya. Wulan sudah masuk ke toilet untuk mencoba yang pertama.

__ADS_1


Winarsih berdiri di luar, ikut berdebar. Ia bersandar di dinding menghadapi pintu toilet yang tertutup. Perutnya semakin besar di usia kehamilan menginjak enam bulan.


“Win! Win!” panggil Wulan dari dalam.


Winarsih terlonjak, “Ya, Mbak? Kenapa? Gimana? Enggak ada apa-apa, kan?” Berondongan pertanyaan Winarsih mirip saat salah satu anaknya memanggil dengan teriakan. Jantungnya langsung berdebar kalau salah satu anaknya tiba-tiba menjerit.


Pintu toilet terbuka dan kepala Wulan menyembul dari dalam. “Masuk aja,” ajak Wulan.


“Ha? Gimana? Aku nggak—”


Belum selesai perkataan Winarsih Wulan telah menariknya ke dalam toilet. Dalam toilet sempit itu, mereka berdua berdiri berhadapan. Perut Winarsih bahkan hampir menyentuh perut Wulan.


“Semoga aku nanti bisa gini, ya, Win.” Wulan mengusap perut Winarsih tersenyum.


“Pasti, Mbak. Itunya mana?” tanya Winarsih kembali mengingatkan Wulan akan tujuannya diseret ke dalam toilet.


“Eh, iya. Ini ....” Wulan menyodorkan test pack yang baru saja selesai dipakainya.


“Samar, Win .... Apa ini error? Aku salah makenya? Kayaknya dulu aku setiap hari make benda ini. Sampe Mas Toni beli berkotak-kotak,” kata Wulan.


“Ini positif, Mbak.” Winarsih menatap test pack dengan raut serius.


“Serius, Win. Kamu jangan ngasi harapan,” gumam Wulan. “Aku tes lagi,” ujar Wulan, menurunkan celananya dan mengambil test pack baru dari tangan Winarsih.


Winarsih menahan napasnya sejenak. Ia tak pernah berada di toilet bersama seorang wanita. Apalagi wanita yang terlihat tanpa sungkan membuka pakaiannya. Satu-satunya kejadian ia bersama orang lain di dalam toilet selain di kamar pribadinya adalah bersama Dean. Suaminya yang sedang terluka, namun harus menuntaskan hasrat di toilet rumah sakit. Jika mengingat hal itu, Winarsih masih malu pada bapak mertuanya.


Wulan kembali mengangkat sebuah test pack ke depan wajahnya. Dua garis merah yang samar.


“Masih samar,” ucap Wulan.


“Mungkin karena ini malam hari, Mbak. Besok pagi-pagi di urine pertama biasanya lebih terang,” tukas Winarsih.


“Win, aku deg-degan. Jantungku mau meledak rasanya. Win, kalo positif. Ya, ampun. Aku tes sekali lagi.” Wulan kembali merampas satu test pack baru dari tangan Winarsih. Dan hasilnya, masih menunjukkan dua garis merah yang samar.

__ADS_1


“Positif, Mbak.” Winarsih mulai merasa gerah berada di ruangan sempit itu.


“Ayo—ayo, keluar. Maaf, Win.” Wulan membersihkan dirinya kemudian merapikan pakaian. Ia lalu menyeret Winarsih keluar dari toilet. Sesaat berada di luar, Wulan memandang Winarsih, lalu memeluknya. “Aku seneng banget. Doain kami juga bisa, ya, Win ... aku udah pengen banget gendong bayi. Semoga Mami Mas Toni cepat bangun, dan bisa ngeliat kami, ya, Win.” Wulan terisak di bahu Winarsih.


Winarsih menepuk dan mengusap-usap punggung Wulan dengan lembut. “Mudah-mudahan, Mbak. Pasti ngeliat. Mbak Wulan sehat-sehat,” ucap Winarsih.


Dua wanita itu, lalu beriringan keluar dari toilet menuju dua orang pria yang sedang berbicara berbisik-bisik, tak jauh dari ruang ICU. Saat melihat Wulan mendekat, Toni segera berdiri menyongsong. “Gimana, Sayang? Bu?” tanya Toni, menoleh pada Winarsih.


Winarsih menjawab dengan senyum disertai anggukan. Melihat hal itu, Dean tertawa kecil dari kursi besi.


“Lan? Bener?” tanya Toni.


“Dua garis samar, Mas. Tapi, selama ini aku memang nggak pernah ngeliat hasil tes-ku kayak gini.” Wulan mengangkat tiga test pack yang baru dipakainya.


Toni mengambil test pack itu dan memandanginya satu persatu dengan teliti. Padahal ia pun tak pernah melihat hasil test pack seorang wanita yang positif hamil. Sudah tentu berbeda dengan sahabatnya yang sedang duduk seraya mengusap-usap punggung istrinya dengan wajah puas.


Dean terlihat ikut puas karena pendeteksian dini Winarsih terhadap kehamilan Wulan, ternyata terbukti benar.


Toni mengantongi tiga test pack bekas ke dalam saku celananya. Ia lalu memeluk Wulan erat-erat. Menciumi kepala istrinya berkali-kali. Matanya sudah berkaca-kaca akan berita bahagia di tengah kesedihan mereka.


“Besok langsung periksa ke dokter aja, Ton. Biar lebih pasti. Biar lo tau menjaga laju angin topan dari luar,” seru Dean seraya tertawa.


Dengan matanya yang masih berkaca-kaca, Toni terkekeh mendengar perkataan sahabatnya.


“Oh, iya. Itu istri Ryan udah lahiran. Lo belom ada jenguk. Kita, sih, udah. Baek-baek, lo, sama bapak-bapak beranak bayi. Entar lagi lo bakal jadi member.” Dean berdiri menggandeng tangan Winarsih, berjalan menuju Toni.


“Selamat, Dude! Kebahagiaan ini udah waktunya lo rasain. Gue ikut bahagia dari hati yang terdalam. Semoga Mami cepat bangun, ya.” Dean menepuk-nepuk lengan Toni.


“Thanks, De! Tumben gue nggak kesel denger lo ngomong,” sahut Toni, mengusap sudut matanya.


“Gue happy, beneran. Lo bisa ceritakan jasa-jasa gue ke anak lo entar. Gue nggak mau sikap patriotisme gue cuma lo aja yang tau,” balas Dean dengan raut serius.


To Be Continued

__ADS_1


__ADS_2