
Empat orang laki-laki berkasak-kusuk di sebuah kantor yang letaknya paling sudut. Usai makan siang di cafe lantai dasar gedung, Dean, Rio, Langit dan Toni kembali ke ruangan. Pukul tiga sore, Santoso dan Musdalifah berjanji akan datang ke sana.
“Yakin dateng?” tanya Langit dari sofa.
“Pasti datenglah. Enggak mungkin enggak,” sahut Dean dari kursinya di balik meja kerja.
“Lo jadi ngasi apaan?” tanya Rio pada Toni.
“Lo udah ikutan mau tau juga? Sifat dia nular ternyata,” tukas Toni, melirik Dean yang sedang membolak-balik kertas di atas meja.
“Manusiawi, sih.” Rio berkilah seraya mencibir.
“Hebat banget, ya, pengaruh Santoso. Atasannya uring-uringan,” ucap Langit.
“Gue, tuh, enggak uring-uringan. Cuma heran aja. Emang kenapa mesti dirahasiakan? Apa Musdalifah malu jadian ama Santoso? Sampe harus ditutupi,” sungut Dean yang ternyata mendengar perkataan sahabatnya.
“Lo ngasi kado apa?” tanya Langit pada Dean.
“Gue mau ganti mobilnya Santoso. Mobil dia, kan, manual. Mau gue kasi yang matik. Biar nggak capek kalo mesti perjalanan jauh dan kejebak macet. Rencananya udah lama. Gue nunggu dia nikah ama si Mus. Tapi nyatanya malah nggak ngasi kabar. Kesel gue,” ujar Dean. Ia lalu menutup map yang sudah selesai dicek dan ditandatangani.
“Sebentar lagi jam tiga. Posisi duduknya gimana? Lo duduk di mana, De?” Rio yang sejak tadi berdiri, melihat-lihat ke arah sofa sambil menghitung jumlah mereka.
“Gue di sini aja. Gue mau pasang tampang alami,” sahut Dean.
“Gimana tampang alami lo?” tanya Toni.
“Bini gue yang tau. Dia selalu bilang muka gue awal-awal ketemu dia dulu, selalu bikin dia mual,” ujar Dean tergelak.
“Oh, saya tau tampang itu,” sambung Ryan yang baru muncul dari luar ruangan.
“Pasti menyebalkan banget. Bu Win aja sampe mual,” tambah Toni.
“Mual karena takut. Seluruh pegawai di kantor ini harus berterima kasih ama bini gue. Kalo nggak karena dia, mungkin gue bakal gitu terus.” Dean melirik Ryan yang mencibir saat mengambil map dari atas meja.
“Oke, Dean duduk di sana. Lo di sini, Ton.” Rio menunjuk jajaran sofa tunggal. “Lo juga di sini, Lang.” Rio menunjuk sofa di sebelah Toni seharusnya duduk.
Mengikuti apa yang baru saja disarankan Rio, Toni dan Langit berdiri untuk berpindah tempat duduk.
“Mus dan Santoso di situ?” Toni menunjuk sofa panjang di depannya. Rio mengangguk.
__ADS_1
“Nah, yang di sini siapa?” tanya Ryan, menunjuk sofa tunggal di bagian tengah yang menghadap ke meja kerja Dean.
“Gue aja. Gue hakimnya. Jadi gue harus di tengah,” ujar Rio, menduduk sofa tunggal yang langsung menghadap Dean.
“Pak De sebagai apanya?” tanya Ryan.
“Gue Jaksa Penuntut Umum,” sahut Dean. “Lo pengacaranya Santoso dan Musdalifah,” sambung Dean.
“Kita berdua apanya dong?” tanya Langit, memegang bahu Toni.
“Orang tua siswa,” jawab Dean, terkekeh-kekeh.
“Ah, si anjing. Gue serius,” ujar Langit.
“Sidang ini juga udah nggak serius, Lang. Bagian mananya sidang ini yang serius?” tanya Dean masih tertawa melihat wajah sebal Langit.
“Lo berdua juri aja. Kita menganut pengadilan di luar negeri. Ada jurinya,” ucap Dean asal.
“Oke—oke, saya duduk di mana, ya?” Ryan yang tadi hanya berniat mengambil map dan kembali keluar, segera lupa akan niatnya itu. Ia menarik sebuah kursi yang berada di depan meja kerja Dean dan meletakkannya ke sebelah sofa panjang. Ia akan duduk sejajar dengan pasangan Santoso dan Musdalifah.
“Entar apa-apa yang mau dikasi, jangan dikasi tau dulu sampe kita semua dapet cerita selengkapnya.” Dean mengetuk-ngetukkan pulpen di atas mejanya.
“Sebentar lagi pasti muncul. Santoso nggak pernah terlambat dateng ke kantor,” gumam Dean. Ia lalu kembali melirik jam di pergelangan tangan kirinya. “Sebentar lagi—sebentar lagi,” gumam Dean.
Semua mata tertuju pada pintu ruangan yang tertutup. Raut semua orang berubah menjadi sangat serius.
Tok Tok Tok
“Masuk,” sahut Dean.
Santoso bagai masuk ke Medan perang. Wajahnya yang biasa datar, sore itu menyiratkan keberanian bercampur tantangan. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan Musdalifah. Dalam sorot matanya, ia seolah berkata, “Apa lo semua?”
Santoso mengenakan kemeja krem dan celana bahan berwarna cokelat. Tampilannya sangat mentereng dan kilatan matanya tak bisa menyembunyikan kalau ia sedang berbahagia.
Sedangkan Musdalifah, datang mengenakan pakaian kantornya seperti biasa. Kemeja sifon berwarna cokelat muda, dan rok span sepanjang betis dengan sepasang heels yang tak terlalu tinggi. Jika dilihat dengan seksama, pakaian dua sejoli itu senada dan serasi sekali.
Langit hampir menyemburkan tawanya saat melihat wajah Santoso. Tapi, melihat semua teman-temannya memasang wajah serius, Langit berdeham dan kembali mencoba lebih serius.
“Oh, Pak Santoso dan Bu Musdalifah sudah tiba. Silakan menduduki tempatnya masing-masing,” ujar Dean dengan sangat resmi. Dengan matanya yang teliti, ia bisa melihat Musdalifah sedikit berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Santoso. Tapi, Santoso menahannya lebih kuat.
__ADS_1
“Eh, San, apa kabar? Buset, lo udah nikah atau lamaran aja, sih? Penasaran banget,” ujar Rio saat Santoso baru saja duduk di sofa. Sejenak, Rio lupa akan tugasnya duduk di sofa utama.
“Ehem!” Dean berdeham, lalu merapatkan giginya menatap Rio.
Rio mengatupkan mulut dan kali ini Langit kembali harus bersusah payah menahan tawanya. Langit menyembunyikan wajahnya di belakang tubuh Toni yang menarik senyum tipis di wajahnya.
Dua manusia yang tidak terpengaruh akan suasana ruangan itu hanyalah Dean dan Ryan. Dua pria itu masih memasang wajah serius seolah mereka sedang berada di ruang sidang yang sesungguhnya.
“Jadi? Perlu saya tanya, atau ... mau menceritakan kronologisnya?” tanya Dean.
“Begini, Pak. Harusnya ... kita memang mau ngasi kabar ke Pak Dean. Tapi, bapaknya Musdalifah sakit. Rencananya nggak kayak gini. Memang mau nunggu anaknya Pak Toni lahir. Jadi—”
“Jadi udah nikah, San?” potong Langit. “Di mana? Di kampung Musdalifah?” Langit tak sabar.
“Maaf, Mas Langit. Bisa kita denger penjelasan Santoso lebih dulu?” Ryan mengingatkan.
“Oh, maaf. Bisa—bisa,” sahut Langit sedikit terkejut. “Buset, Ton ... Ini Dean dan pegawai-pegawainya kenapa, sih?” Langit berbisik di telinga Toni. Mendengar bisikan Langit, Toni hanya menggeleng samar.
“Baik, saya lanjutkan,” ujar Santoso. “Kita sebenarnya ... memang sudah menikah. Delapan hari yang lalu,” ucap Santoso.
Dean menghela napas kasar, lalu mendengus. Melihat yang dilakukan Dean, Musdalifah mengeratkan tautan tangannya di atas pangkuan.
“Kenapa mesti pake rahasia-rahasia?” tanya Dean. “Kan, bisa ngomong. Enggak mungkin gue nggak ngasi. Apa alasan menyembunyikan pernikahan? Malu?” tanya Dean ke arah Santoso. Posisi tubuhnya telah condong ke depan dengan dua sikunya di atas meja.
“Tidak, tentu tidak. Saya nggak mungkin malu sudah menikahi wanita cantik dan cerdas seperti Musdalifah.” Santoso ikut mencondongkan tubuhnya.
Melihat hal itu, Dean kembali bersandar ke kursinya. Lalu, teringat akan hal baru, ia kembali mencondongkan tubuhnya dan mengalihkan tatapan pada Musdalifah.
“Siapa yang menginisiasi soal merahasiakan ini?” tanya Dean dengan raut penasaran. “Apa alasan merahasiakan?”
“Agar nggak terlalu heboh. Musdalifah khawatir bapak-bapak repot. Musdalifah juga malu, kalau—"
“Malu ke siapa? Ke kita semua? Ke gue? Kalo cinta, kenapa harus malu? Gue nikahin bini gue nggak malu, tuh. Karena gue cinta,” ucap Dean, menaikkan alisnya memandang Musdalifah dan Santoso bergantian.
“Aduh, gue serem, Yo! Muka Dean tolong dikondisikan. Lo hakim! Jangan sampe si Mus dan Santoso nangis karena mulut dia. Dean terlalu mendalami peran,” bisik Langit, menendang ujung sepatu Rio.
“Ehem! Oke, sekarang kita dengarkan pembelaan dari kuasa hukumnya. Pak Ryan, silakan.” Rio mengangguk pada Ryan.
Ryan membenarkan letak duduknya. Ia memutar tubuh menghadap Santoso dengan sedikit membelakangi Dean. “Oke, Santoso, kenapa nggak dimulai dengan permohonan maaf aja?” saran Ryan pada ‘klien’-nya. “Sekesal apa pun, biasanya maaf mampu meluruhkan permukaan amarah, meski belum sepenuhnya bisa menghapus.” Ryan mengangguk pelan dan mengedipkan matanya ke arah Santoso.
__ADS_1
To Be Continued