
“Kira-kira kenapa?” tanya Pak Mustafa.
“Ya, karena kita …,” jawab Musdalifah.
“Masa, sih?” sahut Pak Mustafa.
“Apa perlu saya tanya ke dalam?” tanya Musdalifah.
“Saya kepinginnya mereka sama-sama lagi. Biar Pak Toni nggak kelamaan di kantor. Kadang kasian kalo temen-temennya lagi sibuk.” Pak Mustafa menjengukkan kepalanya ke dalam ruangan di mana Toni dan Wulan berada.
“Saya juga, Pak. Pengennya Pak Toni sama Bu Wulan aja. Jangan yang lain. Meski pacaran sama mbak Tasya, tapi keliatan kalo Pak Toni itu jarang ngobrol serius. Pak Toni ngikutin jiwa mudanya mbak Tasya aja. Nongkrong ke sana kemari.” Musdalifah memegang bahu kurus Pak Mustafa dan ikut menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan.
“Kalau saya pengennya kalian berdua kembali duduk dan menyelesaikan laporan kita,” sambung Santoso, dari belakang bahu Musdalifah.
Pak Mustafa dan Musdalifah sama-sama tersentak dan menoleh ke belakang. Mereka beringsut mundur dan kembali menuju kursi.
“Cuma tinggal tanda tangan aja, kok.” Santoso menyerahkan bebrapa lembar kertas yang harus ditandatangani oleh kedua Mus.
Sementara itu di dalam ruangan.
Beberapa saat, Toni membiarkan Wulan menangis di bahunya. Ia membayangkan apa yang sudah dilakukan Rey selama ini. Harusnya, sejak kejadian di Sukabumi ia menyadari kalau Wulan terlihat begitu cemas saat keributan terjadi. Toni tak ingin geer. Tapi sekarang ia merasa kalau Wulan mengkhawatirkan nasibnya kala itu. Bukan Rey. Wulan khawatir Rey yang mungkin berbuat kelewat batas.
Wulan menegakkan tubuhnya. Ia tak berani langsung memandang wajah Toni yang sedang menatapnya. “Kemeja kamu basah,” kata Wulan. Ia mengusap bagian kemeja pria yang tadi ditumpanginya untuk menangis. Ia merasa konyol sekali. Beberapa tahun sebisa mungkin menghindar dan menutup telinganya rapat-rapat dari kabar soal mantan suaminya, namun saat bertemu ia malah selalu menangis.
Wulan malu pada Toni. Ia malu karena mengira telah berhasil bertemu dengan pria yang bisa menggantikan mantan suaminya itu. Ia malu mengira bahwa Rey akan bisa memperlakukannya lebih baik. Rey memang baik. Tak pernah mempermasalahkan statusnya. Seorang janda cerai tanpa anak. Rey juga menerima keluarganya yang biasa-biasa saja. Tapi … setahun menjalin hubungan dengan Rey, Wulan sering menerima kata maaf dari pria itu.
Rey sangat mudah marah dan berkata kasar. Setelah membuat Wulan menangis, Rey selalu minta maaf. Bahkan pernah suatu ketika saat Wulan memutuskan hubungan mereka, Rey sampai bersimpuh di kakinya memohon maaf. Sampai di sana, Wulan belum juga menyadari soal perilaku Rey.
Hingga akhirnya, Rey mengetahui soal pinjaman Wulan yang ditolak oleh bank. Jaminan Wulan berupa satu unit rumah pribadinya, tak mencukupi untuk besaran pinjaman yang ia ajukan. Rey menawarkan pinjaman sejumlah besar uang dengan cicilan ‘sesuai kesanggupan’. Wulan yang tak ingin terhutang budi, memaksa Rey membuat perjanjian. Akhirnya, Wulan memiliki hutang sejumlah uang yang harus dicicilnya pada Rey. Dan juga sepuluh persen saham perusahaannya, kini berada di tangan Rey.
Toni mengusap sisa air mata di pipi Wulan dengan telunjuknya. Ia tak mengindahkan perkataan Wulan soal kemeja yang basah karena air mata. Wulan wanita yang tak terlalu sering bicara. Mantan istrinya itu jarang bercanda dan kerap terlihat selalu serius. Semarah apa Rey pada Wulan sampai sanggup menyakiti fisik wanita itu. Kalau ingin melihat Wulan menangis, Rey hanya perlu membentaknya. Wulan pasti menangis. Tak perlu sampai membuat bekas luka di tubuhnya.
Toni merasa ponsel di sakunya bergetar. Isinya sebuah pesan pendek.
__ADS_1
“Sebentar,” ucap Toni, tangan kirinya masih menggenggam tangan Wulan. Satu tangannya yang lain merogoh ponsel dari saku celana. Pesan dari Dean.
‘Lo diem aja dari tadi. Enggak ada protes. Tandanya enak. Santoso masih di sana, tapi semua beres. Lo jangan lepasin Wulan pulang sendirian. Lo yang bawa mobilnya, nyetir sampe ke rumahnya. Kan, lo jadi tau rumahnya. Lo balik pake apa, itu bukan urusan gue.’
“Ckckck ….” Toni berdecak dan menggeleng memandang ponselnya.
“Mmm—”
“Udah malem, aku anter pulang.” Toni berdiri menggandeng tangan Wulan.
“Aku bawa mobil, nggak perlu dianter. Lagian kamu juga pasti capek,” tukas Wulan, menggeliatkan tangan dalam genggaman Toni agar terlepas.
Toni mengatupkan mulutnya. Kemarin ia bisa mencium Wulan, tadi wanita itu menangis di bahunya. Sekarang, wanita itu tak mau digandengnya.
“Ini udah malem, aku anter.” Toni merangkul bahu Wulan, seraya berharap tangannya tak ditepiskan.
“Memangnya udah selesai? Kamu … dituntut, ya?” tanya Wulan. Ia berjalan perlahan keluar ruangan.
“Pak Mus juga? Pas Mus nggak luka?” Wulan terperanjat. Nadanya seketika meninggi saat mendengar nama pegawai laki-laki tua yang bertubuh kurus mungil malah menjadi korban Rey.
“Enggak luka yang gimana-gimana. Paling cuma memar,” jawab Toni. Ia melirik ke arah tiga orang yang duduk di meja lain.
“Memar ...," gumam Wulan. "Aku bener nggak apa-apa pulang sendiri. Mobil kamu di mana?” Wulan mengedarkan pemandangan ke halaman Polsek.
“Aku tadi ke sini dengan mobil polisi,” jawab Toni.
“Jadi? Dari tadi memang sendiri?” tanya Wulan lagi. Toni mengangguk.
“Kunci mobilnya mana?” Toni mengulurkan tangan.
Sejenak Wulan terlihat ragu-ragu. Lalu ia membuka tas kecilnya untuk mengambil kunci mobil dan menyerahkannya pada Toni.
“Ayo,” ajak Toni. Ia memberanikan diri untuk kembali menggenggam tangan Wulan menuju sedan hitam yang berada dekat pintu keluar. Ia membukakan pintu dan memegang punggung Wulan sampai wanita itu masuk serta duduk dengan mapan.
__ADS_1
Toni setengah berlari memutari mobil dan duduk di belakang kemudi. Dua menit kemudian, mesin mobil sudah menyala.
“Tapi kamu nggak bawa mobil, nanti pulangnya gimana?” tanya Wulan memandang Toni dalam gelap.
“Mmm … pulangnya ya?” Toni memutar matanya, berpikir. Ia lalu mengusap lembut punggung Wulan. “Gimana nanti aja, nggak usah dipikirin. Gampang,” sambungnya.
Di salah satu meja. Pak Mustafa yang tadi merasa namanya disebutkan seseorang, langsung menoleh. Musdalifah langsung meletakkan telapak tangannya di depan wajah Pak Mustafa.
“Jangan dilihat … ayo, kita juga siap-siap buat pulang. Pak Toni udah pulang.”
“Saya langsung pulang aja, deh. Sudah malem. Tadi kantor juga udah dikunci semua sama satpam. Saya naik ojek aja,” kata Pak Mustafa. “Kamu naik apa, Mus?” Pak Mustafa menoleh Musdalifah yang membereskan kertas-kertas di atas meja.
“Naik apa aja yang lewat di depan Polsek, Pak. Kuda lewat, ya, naik kuda.”
Pak Mustafa meringis mendengar ucapan Musdalifah.
“Kenapa harus nunggu yang lewat di depan Polsek, kalo ada yang di dalem?” Santoso mengangkat tasnya. “Ayo, saya anter.”
“Anter Pak Mustafa juga,” kata Musdalifah.
“Sebenarnya, tagihan saya cuma untuk menangani kasus aja.” Santoso nyengir.
“Masukkan aja ke tagihan atasan saya. Atasan saya bayar, kok. Mustahil gratis. Ayo, Pak!” Musdalifah memegang bahu mungil Pak Mustafa menuju pintu keluar.
“Mbak Musdalifah duduk di depan ya …,” ujar Santosa saat mendekati mobilnya.
“Kenapa harus saya yang di depan?” Musdalifah mengernyit.
“Biar saya rajin liat spion kiri,” ucap Santoso, santai.
“Bisa-bisanya. Sekantor sama semua mulutnya,” gerutu Musdalifah membuka pintu mobil.
To Be Continued
__ADS_1