GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
76. Hidup Tetaplah Misteri


__ADS_3

Dean masih penasaran akan hal yang disampaikan oleh Musdalifah untuk memastikan Asih tidak berada di rumah itu. Bayangan soal tampilan sederhana Asih mengusik empatinya. Pandangan Dean berkeliling mencari di mana Santoso. Ternyata pegawainya yang satu itu benar-benar menjadi badut pesta ulang tahun. Santoso bersila di tengah permadani ruang keluarga di kelilingi oleh anak-anak.


Ruang makan dan ruang keluarga sangat riuh saat itu. Dita dan Widi berjalan ke sana kemari mengeksplorasi tiap sudut ruangan dan pajangan yang bisa mereka jangkau. Balita yang sedikit lebih besar duduk menghadapi Santoso yang sedang melakukan sulap ala kadarnya. Anak Rio yang sudah duduk di bangku SD terlihat lebih anteng memainkan game melalui tablet.


“Mus,” panggil Dean. Ia berjalan melintasi ruang makan menuju Musdalifah yang sedang berbicara dengan Toni.


Musdalifah dan Toni menoleh bersamaan. Mereka diam menantikan Dean tiba di sisi mereka.


“Napa, De?” tanya Toni.


“Perasaan gue sekarang jadi nggak enak, deh.” Dean berkata seraya berjalan mendekati Toni ke sudut ruang keluarga.


“Soal apa? Asih?” tebak Toni. Dean mengangguk.


“Kita ambil jalan tengahnya aja. Biar adil. Asih ke sini juga karena permintaan nyokap lo. Itu udah pasti. Nah, lo harus atur gimana caranya nyokap lo jangan deket-deket ponsel lagi. Setelah Asih, gue khawatir nyokap lo bisa menghubungi Badan Intelijen karena merasa dirinya terancam. Bahaya banget,” kata Dean.


“Asem! Oke—oke, noted. Trus? Asih kenapa?” tanya Toni lagi.


“Gue kasian aja gitu. Ngerasa jahat banget.” Dean diam sejenak mengerucutkan mulutnya.


“Tumben lo ngerasa jahat,” sahut Toni tersenyum.


”Gue masih penasaran Mus ngomongnya gimana ke Asih.” Dean melirik Musdalifah.


Musdalifah berdeham pelan. Sekarang ia yang merasa jahat. “Saya mengucapkan sedikit kata-kata sulit agar terkesan itu adalah hal yang sulit. Karena menurut saya, Mbak Asih juga nggak akan terlalu ngerti.” Musdalifah yakin Dean mengerti apa yang dimaksudkannya. Mengingat bagaimana kelihaian pria itu berbicara.


“Ingat, Mus, mengucapkan istilah-istilah sulit akan membuat kita terlihat pintar. Tapi saat lawan bicara tidak mengerti maksud kita, maka komunikasi kita dinyatakan gagal. Terlihat pintar itu mudah. Tapi membuat orang lain pintar karena mengerti ucapan kita, itu baru pintar yang sebenarnya. Intinya penyesuaian. Aku harap kamu nggak ngomong soal mengoperasikan Microsoft Surface Studio di depan kelompok tani yang sedang mengeluhkan gagal panen.”


Musdalifah terdiam sesaat mencerna ucapan Dean. Kemudian ia mengangguk tanda mengerti.


“Terus?” tanya Toni dengan sabar. Biasanya Dean tak pernah terlihat bimbang dengan apa yang sedang dilakukannya.


“Musdalifah harus memastikan Asih pulang dengan selamat. Dia ke sini pasti keluar uang untuk transportasi. Rumahnya, kan, jauh banget. Atau minta supir lo anter dia sampe rumahnya. Dia itu masih muda banget, Ton ….” Dean memandang wajah Toni dengan raut serius. “Gue jadi nggak enak gini.” Ia lalu mengatupkan mulutnya.


“Mus,” tukas Toni, mengangguk pada sekretarisnya.


“Baik, Pak. Ada lagi?” tanya Musdalifah. “Kalau ada lagi biar sekalian saya kerjakan semuanya. Habis diminta memastikan Mbak Asih pergi, sekarang saya diminta deketin Mbak Asih lagi. Ujung-ujungnya saya yang disantet,” kesal Musdalifah, mengerucutkan mulutnya memandang Dean.


“Inget cicilan …,” desis Dean setengah mencibir.


Musdalifah langsung mengatupkan mulut dan menyipitkan mata memandang Dean. Kalau saja ia memiliki jabatan yang setara dengan pengacara sombong di depannya itu, Musdalifah merasa yakin sanggup meladeni ucapan laki-laki itu


Musdalifah hanya khawatir bisa benar-benar pindah ke Papua seusai berdebat dengan Dean.


“Kamu ajak ngobrol santai, soal situasinya. Itu aja. Inget soal penyesuaian,” kata Dean. Ia melirik Toni yang tengah sibuk dengan ponselnya, tak menyimak pembicaraan mereka.


“Sekarang, Pak? Soalnya saya mau santai dulu,” tukas Musdalifah.

__ADS_1


“Dua hari lagi, Mus. Tunggu sampai Asih tiba di rumahnya,” sahut Dean. Musdalifah kembali mendengus dan langsung pergi meninggalkan Dean dan Toni.


“Hape teruuusss,” sindir Dean pada Toni. Yang disindir bergeming. Masih menunduk memandangi ponsel dengan senyum yang tak surut sejak tadi.


“Pak De, itu Mbak Mus ke mana lagi?” Ryan datang mendekati atasannya.


“Kasus belum bisa ditutup. Masih ada yang belum kelar,” jawab Dean. “Yang diurusin kayaknya santai aja,” sambung Dean.


“Iya, santai aja. Event organizer-nya yang repot banget,” sindir Ryan terkekeh.


“Lo udah kenyang baru nanya,” balas Dean. Ryan semakin terkekeh.


“Eh, beneran udah kebelet kawin?” sambar Langit yang berjalan mendekat sambil menggendong Zurra dan Rio di sebelahnya.


“Serius, Ton? Kebelet banget?” tanya Rio. Semuanya memandang Toni. Namun, pria yang sedang disindir oleh para sahabatnya masih sibuk dengan pesan pendek bertubi-tubi.


“Ngomong apa barusan?” tanya Toni setelah mengantongi ponselnya. Serentak semuanya menggeleng.


“Ton, kayaknya—”


“Apa lagi, Dean?” potong Toni. “Lo keliatan resah banget dari tadi,” tukas Toni.


“Kayaknya lo perlu nemuin Asih sebelum dia pulang. Ucapin apa, kek. Dia ke sini karena nyokap lo.” Dean mengangguk kecil seakan memastikan pada dirinya sendiri soal keyakinan atas ucapannya itu.


Toni memandang tiga laki-laki lainnya. Ryan mengangkat bahunya yang berarti ‘terserah’, Rio dan Langit mengangguk bersamaan. Dan Dean, sekali lagi mengangguk.


“Mbak Asih,” panggil Musdalifah lagi. Ia mendatangi meja bundar besar yang terletak di tengah-tengah teras di luar dapur.


Teras dapur itu biasa dijadikan wadah para asisten rumah tangga, supir dan perawat di kediaman Keluarga Anderson untuk bertukar gosip-gosip terkini. Dari mulai cerita soal anak yang sulit makan, suami merajuk, judul novel terbaru, Andin melahirkan tapi Al yang kesakitan, sampai gosip soal Ayah Ojak membela anaknya. Semuanya lengkap.


Musdalifah menarik satu kursi di sebelah Asih. “Ada apa, Mbak?” tanya Asih, menoleh sebentar pada Musdalifah. Ia meresleting tasnya, lalu menyampirkan tas itu dibahu.


“Kamu pulang dianter supir. Permintaan Pak Toni. Tunggu di sini, sebentar lagi supir kantor nyampe.” Musdalifah mengeluarkan ponselnya, ia menggulir layar ponsel itu sesaat. Pengalaman mengajarkannya untuk tidak terlalu fokus menunggu jawaban seseorang agar tidak terkesan mengintimidasi. Hal itu berlaku untuk Asih yang lebih pantas disebut gadis ketimbang wanita.


“Rumah saya, kan, jauh sekali. Nanti malah merepotkan,” sahut Asih. Ia jelas tak keberatan jika ada yang mengantarkannya. Ia hanya sedang menjelaskan situasi dan resiko menuju rumahnya yang harus membelah hutan dulu baru bisa tiba.


“Ada hal-hal yang memang tidak perlu kita khawatirkan.” Musdalifah kembali mengingat petuah dari Dean sesaat yang lalu. Penyesuaian ucapan pada lawan bicara. Itu hal yang baru diajarkan seorang pengacara licin padanya. Ilmu baru. Tak ada salahnya ia mencoba.


“Saya memang khawatir dengan Bu Anderson. Sewaktu sehat beliau baik pada saya dan ibu.”


“Mungkin begitu juga yang dirasakan sahabat-sahabat Pak Toni. Khawatir,” ucap Musdalifah. “Kamu tinggal sendiri di rumah? Aku saranin jangan tinggal sendiri. Rasa kesepian itu terkadang lebih berbahaya dari ancaman yang datang dari orang lain.” Musdalifah merasa sedang menasehati dirinya sendiri sekarang.


“Saya kadang di rumah bibi seharian. Pulang ke rumah untuk beres-beres aja. Penghuni rumah saya juga mungkin kesepian kalau saya nggak ada,” kata Asih tertawa.


Musdalifah berjengit. Seketika bulu kuduknya meremang. Ia mendongak melihat wajah Asih.


“Umur kamu berapa? Klau boleh tau,” tanya Musdalifah.

__ADS_1


“21 tahun, Mbak. Kata orang saya keliatan lebih dewasa dari usia saya.” Asih menatap wajah Musdalifah lekat-lekat.


“Masih muda, kok. Keliatan,” kata Musdalifah. “Siapa yang ngomong kamu lebih dewasa dari usia kamu? Kenapa nggak kamu—”


“Santet? Pasti mau ngomong gitu, kan?” Asih tergelak. Tawanya terlihat begitu lepas.


“Saya nggak maksud—”


“Saya nggak bisa. Bukan seperti itu,” potong Asih. Ia masih tertawa geli melihat reaksi Musdalifah saat ia mengatakan soal santet segamblang itu.


“Sebelum saya pasti banyak yang udah ngomong gitu, ya …,” gumam Musdalifah. Asih mengangguk santai.


“Biaya hidup di desa besar nggak?” tanya Musdalifah.


“Saya kerja di UMKM gula aren, Mbak. Tabungan saya dari Bu Anderson juga masih banyak. Dulu katanya itu tabungan biaya saya menikah,” kata Asih. “Sekarang Bu Anderson malah nggak inget,” sambungnya.


“Kalau ada apa-apa, hubungi nomor telfon Bu Anderson. Sementara ini, Pak Toni yang megang ponselnya.” Musdalifah beradu pandang dengan Asih.


“Jangan sampai menyesal dua kali, Mbak. Yang pertama memang selalu sulit dilupakan. Tapi, penyesalan kedua bisa menimbulkan trauma.” Asih berbicara memandangi wajah Musdalifah dengan seksama.


“Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh,” sergah Musdalifah. Ia kembali mendekap kedua lengannya seraya menatap Asih.


Asih menggeleng pelan. Membuyarkan pikirannya yang sesaat tadi sedang berkumpul. Ia seperti bicara sambil melamun.


Suara langkah kaki yang berat dan cepat terdengar mendekati mereka. Musdalifah menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang datang. Toni muncul beberapa detik kemudian di bawah gawang pintu teras.


“Itu supir kantor udah dateng, Mus. Aku minta masuk sampe sini,” jelas Toni.


Asih mengangguk kecil. Musdalifah berdiri dari duduknya.


“Mmmm—Mbak Asih, terima kasih karena selama ini udah jadi temen ngobrol mamiku. Mungkin selama ini aku yang jarang meluangkan waktu untuk nemenin Mami ngobrol. Nanti sekali-kali aku bawa Mami main ke rumah, ya.”


Asih mengangguk. “Saya permisi pulang, Pak Toni. Maaf kalau saya membuat kekacauan,” ucapnya tulus. Mengangkat sebuah tas pakaian kecil yang tadi dibawanya.


“Maaf, saya nggak ada maksud—”


“Enggak apa-apa, Pak Toni. Saya nggak masalah.” Asih memang benar-benar merasa tak masalah untuk itu. Bu Anderson mengatakan padanya bahwa kehadirannya di sana sudah diketahui oleh sang anak. Nyatanya, pria di depannya terlihat tak tahu apa-apa. Ia merasa tak bisa menyalahkan ibu yang sakit dan anak yang berusaha menjalankan janji baktinya.


Sebuah SUV berwarna putih masuk ke halaman belakang dan berhenti tepat di depan teras. Pria paruh baya keluar untuk menyongsong bawaan Asih.


Menjelang sore itu, Asih kembali ke kampungnya dengan diantarkan seorang supir yang sudah dititipkan pesan untuk memastikan gadis itu tiba di rumah bibinya dengan selamat.


Toni merasa lega karena drama hal klenik beserta Asih dan misterinya sudah hampir terselesaikan. Tinggal bagaimana menjawab pertanyaan akan alasan Asih yang tiba-tiba pergi.


Musdalifah merasa lega sekaligus bertanya-tanya soal hal yang dikatakan Asih tadi padanya.


“Jangan sampai menyesal dua kali,” gumam Musdalifah.

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2