
Dalam urusan apa saja seorang mantan suami atau mantan istri namanya tetap cemerlang dan terpahat rapi di dalam hati?
Jawabannya banyak. Tergantung dari individu yang menjalaninya. Namun, penyebab salah satunya pasti terlintas pertama kali dalam pikiran setiap orang.
Meski tadi mencoba menyeret tubuh Toni sekuat tenaga menuju pintu, nyatanya Wulan tak bisa berkutik saat tubuhnya diangkat. Tubuh Toni terlalu besar dan berat untuk disingkirkannya. Ia refleks melingkarkan tangannya di sekeliling leher mantan suaminya karena khawatir terjungkal ke belakang. Toni menciumnya lagi.
Lidah Toni menyusup ke antara bibirnya. Begitu lembut dan konstan. Semakin dalam setiap gerakannya. Membujuknya untuk membalas ciuman. Dan Wulan menyambutnya. Ia merasakan dua lengan kuat dan kokoh menahan bokongnya.
Toni masih berdiri. Menahan tubuh Wulan dalam gendongannya. Ia tahu Wulan pasti langsung melingkarkan kaki di sekeliling pinggangnya. Wulan selalu khawatir kalau digendong. Pasti Wulan akan memeluknya erat-erat dan berkata, “Kamu tinggi banget. Apa rasanya setiap hari ngeliat dari jarak setinggi ini? Semuanya pasti keliatan kecil buat kamu.”
Toni sering melakukan hal itu, dari sejak masa berpacaran. Menggendong Wulan di punggungnya saat menonton konser yang berdiri berjam-jam. Menggendongnya bak anak kecil saat ia baru tiba dari kantor. Atau menggendong Wulan ke ranjang, saat ia ingin mengajaknya bercinta.
Pelukannya malam itu harusnya bisa meyakinkan Wulan. Hasrat mereka sepertinya sama besar. Ia bisa merasakan tubuh Wulan yang bergetar dalam pelukannya. Ia memang tak perlu terlalu kreatif malam ini, pikir Toni. Ia hanya perlu ... efektif.
Setiap bagian tubuh mereka bertemu. Lekuk tulang pinggul, perut, dan dada mereka. Toni merasakan otot paha Wulan yang mengetat karena mempertahankan keseimbangannya.
Mulut Wulan melembut untuknya. Toni menciumnya semakin dalam dan mendesak. Dan Wulan semakin hanyut mengikuti gerakannya. Rangkulan wanita itu di lehernya menguat. Membuat setiap bagian tubuh Toni menegang.
Toni lalu meluncurkan tangannya ke atas, menangkup dada Wulan dengan telapak tangannya. Wulan terkesiap di mulutnya dan memutus ciuman mereka, tapi masih memeluknya. Napas Wulan menjadi parau saat Toni memijat lembut dada itu. Puncak dada Wulan mengeras di balik piyama dan bra tidurnya yang tipis.
Toni memejamkan matanya. Ia harus berhenti. Ia khawatir jika terus melanjutkan sedikit lagi, ia tak akan melepaskannya hingga Wulan berbaring tanpa busana di bawahnya, memeluknya dengan kuat.
“Aku pulang,” ucap Toni. Ia menurunkan Wulan dari gendongan dan merapikan rambut wanita itu yang hampir mengering. Handuk yang tadi dikenakan wanita itu ternyata sudah jatuh tanpa mereka sadari.
“Oh, ya ... udah lewat tengah malem.” Wulan kikuk menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu, lalu melihat Toni menunduk memungut handuknya.
“Ini ...,” kata Toni. “Masih sama kayak dulu, nggak ada yang berubah. Ditanya sayang aku atau enggak, susah banget jawabnya.” Toni mencubit pelan pipi Wulan.
“Udah pagi,” cetus Wulan. Ia lalu berjalan menuju pintu dan membukanya setengah.
“Hati-hati, jangan buka pintu untuk siapa pun. Selain aku tentunya. Bahaya,” kata Toni.
“Kamu juga bahaya ...,” gumam Wulan.
Toni mengatupkan mulutnya menahan senyum. Saat tiba di luar pintu, ia kembali berbalik. “Inget ... jangan buka pintu sembarangan,” ucap Toni lagi.
***
__ADS_1
“Pak De, case mas Toni bener dipegang ama Santoso aja?” tanya Ryan, saat melihat Dean melintas di depan mejanya.
“Iya, biar Santoso aja. Itu kasus kecil. Enggak level gue ngurusin kasus gebuk-gebukan. Gue lebih tertarik dengan latar belakang si Rey itu. Lo udah jadi kontak agennya?” tanya Dean. Ia berhenti di depan meja Ryan dengan memegang sebuah clutch berwarna cokelat.
“Jadi. Ini sama mau nanya soal pengganti Novi selama cuti melahirkan.” Ryan berdiri menyambar sebuah clear holder.
“Masuk aja.” Dean melanjutkan langkah menuju ruangannya. Setelah meletakkan clutch di atas meja, Dean berdiri menyandari meja kerja.
“Ini anak magang yang rencananya saya panggil untuk interview singkat.” Ryan membuka map dan menyodorkan tiga lembar CV tiga orang anak magang wanita.
“Mmmm ...,” gumam Dean.
“Yang mana, Pak? Ini udah saya sortir dan saya kerucutkan. Semuanya enak dipandang dan kemampuannya baik. Usia 21 tahun. Pas sesuai kriteria Pak Dean.” Ryan masih memegang tiga lembar CV di depan atasannya.
Dean melihat satu persatu CV yang disodorkan padanya. Tapi wajahnya tak bergairah. “Ckckck,” decak Dean. “Cancel—cancel. Bini gue bilang, ambil dari pegawai wanita yang mendekati pensiun.”
“Padahal saya udah capek-capek memilih cewek-cewek ini. Ya ... sudahlah.” Ryan cemberut dan seketika lesu. Ia kembali memasukkan kertas itu ke dalam map transparan.
“Enggak usah sok lemes-lemes gitu. Gue udah tau kalo keputusan bini gue itu, nggak jauh dari pengaruh lo.” Dean mendengus.
“Lagian doyan banget ama yang muda-muda ....” Ryan bersungut-sungut mengancing mapnya.
“Agennya udah ketemu. Saya kasi semua informasi yang udah kita peroleh, dia tinggal cross check dan laporan.”
“Jangan tau Toni. Jangan kasi tau siapa pun, sampai dapet kepastian semuanya.”
“Tapi ... ada hal yang perlu kita rundingkan. Ini soal pacarnya mas Rey itu. Maksudnya ... mantan pacar.”
“Trus? Ini soal latar belakang mantannya sekarang, kan?” Dean menautkan alisnya. “Ada fotonya?” tanya Dean lagi.
“Ada—ada ni,” kata Ryan. Mengambil ponselnya dari dalam saku celana.
“Ih, kamu simpen-simpen di hape?” pekik Dean, ia setengah tak percaya. “Kalo Novi liat gimana? Bisa curiga dia,” tandas Dean.
“Enggak. Novi dulu kerja di sini. Dia udah biasa dengan mulut pendekar di kantor ini. Lagian, kalo apa-apa. Saya tinggal nyalahin Bapak aja,” beber Ryan dengan polosnya. Ini menggulir ponselnya sesaat lalu menyodorkannya pada Dean.
Dean menyipitkan matanya. “Cantik, kok. Kerja di mana?” tanya Dean.
__ADS_1
“Marketing komunikasi di kantor pusat ponsel bermerek POPO,” jawab Ryan. “Keterangan dia yang paling susah dimintai. Apalagi kalo menyangkut soal Rey. Saya juga udah ngubek-ngubek sosmednya.”
“Tau alamatnya, kan?” tanya Dean menatap sekretarisnya. Ryan mengangguk. “Nanti kita datengin langsung cewe itu. Siapa, sih, yang bisa menolak pesona seorang Dean.”
Tiba-tiba,
BRAKK!
“Berisik! Masih pagi! Lo dari kemarin selalu berisik merusak suasana orang. Berisik banget nyuruh gue pulang.” Toni berdiri di ambang pintu ruangan Dean.
“Yah, elo single. Punya rumah, punya orang tua. Tapi nggak punya bini. Bagaimana pun, lo harus pulang. Beda ama gue. Gue kalo nggak pulang, bini gue bisa langsung nyanyi gini ....”
Dean kemudian melantunkan lirik lagu yang sudah diubahnya.
“Aku tak biasa
Bila tidur pakai celana
Aku tak biasa
bila kutidur tanpa belalaimu
Aku tak biasa.”
“Eh, sinting!” maki Toni. Dean terus bernyanyi. “Mus ...,” panggil Toni, menoleh sedikit ke belakang tubuhnya.
“Ya, Pak.” Musdalifah keluar dari belakang tubuh Toni. Wanita itu tiba-tiba sudah berada di sebelah atasannya.
“Ehem!” Musdalifah berdeham.
Dean seketika terdiam. Ia tak mau kehilangan wibawanya. “Kamu sejak kapan ada di sana?” sergah Dean.
“Sejak ‘bila tidur pakai celana’,” terang Musdalifah.
“Lain kali kalo ke sini, nggak bawa sekretaris juga nggak apa-apa, Ton ....” Dean memandang Musdalifah yang terlihat santai memandangi tiap sudut kantornya.
“Saya ke sini, diminta Pak Santoso ...,” ucap Musdalifah, datar.
__ADS_1
To Be Continued