
“Mas pegang anaknya dulu, biar aku yang beres-beres. Kan, Mas yang mau arisannya di rumah.” Winarsih ikut merapikan meja buffet yang sudah disusun oleh pihak catering.
“Itu, kan, udah rapi. Darunya mau nyusu ini. Bibirnya gitu terus dari tadi,” ujar Dean, menatap bayi tiga bulan yang berada dalam gendongannya.
“Baru nyusu, kok. Selama nggak nangis digendong dulu. Kasian, dia masih kurang suka digendong babysitter-nya. Belum terbiasa. Masih bayi banget. Taunya Ibu Bapak aja. Kemarin dipangku Utinya juga nangis,” sahut Winarsih tanpa menoleh.
“Kamu suka banget, ya, sama Bapak? Kenapa nggak mau sama Uti? Arisan di rumah, juga buat ibu kamu. Nanti kalau arisan bawa bayi, meski ada babysitter-nya pasti tetap repot. Ibu kamu bakal nyusuin di tempat umum. Aduh, Bapak bisa pusing.” Dean menatap Handaru yang mengedip-ngedipkan matanya.
“Kan, Mas yang mau aku hamil lagi. Apa Mas lupa merencanakan kehamilan Handaru biar aku nggak sering-sering ke kampus? Dirja, Dita, Widi, semuanya nggak sengaja. Handaru ini yang Mas lakukan penuh perencanaan. Jadi, dinikmati.” Winarsih melipat tangannya di dada dengan tatapan puas menatap meja buffet.
Dean cemberut. Ia tak bisa membantah perkataan Winarsih karena memang benar adanya. Istrinya hamil anak keempat hasil dari rencananya untuk mencegah sang istri terlalu sering pergi ke kampusnya. Ia lebih suka Winarsih tetap di rumah mengurus anak-anak mereka.
“Ya, udah. Itu udah rapi banget. Kamu mandi dulu, pake dress yang udah aku keluarin dari lemari. Warna item bikin kamu nggak terlalu menonjol,” ucap Dean.
Winarsih memutar tubuh menatap suaminya. “Biar nggak terlalu menonjol, ya? Nanti kalau aku nggak—”
“Kalo kamu nggak menonjol, aku juga nggak suka. Udah, sana mandi. Gantian nanti kamu pegang bayinya. Jangan lama-lama. Kasian ini,” tukas Dean mencium dahi Handaru.
“Ya, udah. Aku mandi duluan,” ujar Winarsih.
“Jangan lama-lama.” Dean kembali mengingatkan. “Dia udah dari tadi nunggu ibunya. Anakku, lho, ini Win ....” Dean menjajari langkah Winarsih.
“Ya, iya. Anak Mas. Semua itu juga anaknya Mas,” tukas Winarsih menunjuk tiga orang anak yang sedang mengeluarkan semua mainan mereka untuk mengubah ruang itu menjadi tempat bermain dadakan.
“Banyak, ya, Win ...,” gumam Dean, melirik istrinya seraya menahan senyum.
“Belum. Belum banyak. Dihitung pake satu tangan masih bisa,” sahut Winarsih menaiki tangga.
“Hati-hati kamu. Nanti bisa-bisa anakmu nambah lagi sampai pas buat dihitung dengan satu tangan.” Dean mengikuti langkah Winarsih dengan Handaru yang berada di dalam dekapannya.
“Enggak, aku mau istirahat. Hamil terus capek. Kalau mau nambah lagi, Mas aja yang hamil.” Winarsih tertawa memandang wajah Dean yang terpojok. Rautnya mulai cemberut dan dibuat memelas.
“Tega kamu, ya .... Ini semua buah cintaku ke kamu, Win. Banyak dan berlimpah. Jangan salahkan aku yang begitu mudah menghamili kamu. Harusnya kamu bangga. Toni aja belajarnya dari aku. Pake teori bolak-balik. Dia malah pengen anaknya banyak,” tambah Dean.
__ADS_1
“Nanti aku mau pakai kontrasepsi. Mau konsultasi ke Dokter Azizah,” ujar Winarsih setibanya di kamar.
“Enggak usah dulu. Nanti kamu makan pil atau disuntik hormon, malah reaksi ke tubuh. Masih menyusui. Aku aja yang pake sarung. Aku ngalah,” kata Dean. Ia merebahkan Handaru di atas ranjang.
“Ya, harus ngalah. Kan, Mas yang punya kerja. Tapi, ngalahnya juga pakai pamrih. Sambil ngomel. Enggak enak, Win. Aku nggak ngerasain kamu yang sesungguhnya. Aku kangen tanpa halangan karet tipis ini.” Winarsih melepaskan dress yang dipakainya sejak pagi tadi dan mengambil jubah mandi yang tergantung di hanger besi tinggi dekat lemari.
Dean berbaring di sebelah Handaru. Ia menopang kepalanya dengan sebelah tangan dan membawa tubuh bayi itu menghadapnya.
“Ibu kamu mulai perhitungan sama Bapak. Kayaknya cinta ibumu harus Bapak pertanyakan lagi. Dulu, Ibu kamu jarang banget jawab omongan Bapak. Sekarang, makin jago. Kasian kita, ya, Nak. Kasian Bapakmu,” bisik Dean pada Handaru.
Winarsih tergelak mendengarkan hal yang baru saja dikatakan Dean pada anak mereka. “Jangan percaya, Nak. Bapakmu kalau sudah kalah, senjatanya selalu sama. Biar Ibu kasian. Sini, nyusu dulu. Sebelum Ibu mandi.”
Winarsih sudah melepaskan semua pakaiannya dan berganti dengan jubah mandi. Ia mendekati Handaru dan berbaring di sebelah anaknya. Tangannya dengan luwes memegang punggung Handaru dan memposisikan bayi itu menghadap ke arahnya.
Dean berbaring di sebelah Handaru. Memandangi anaknya yang sedang menyusu. Itu adalah salah satu hobinya yang masih berlangsung hingga memiliki empat orang anak. Entah kenapa, ia selalu merasa puas melihat anaknya menyusu langsung sampai kenyang, kemudian tertidur lelap. Dean merasa kalau perwujudan cinta Winarsih yang paling besar padanya adalah dengan melahirkan dan merawat anak-anaknya.
Handaru tertidur di dalam dekapan ibunya. Bayi itu diangkat oleh bapaknya dan dipindahkan ke kamar anak-anak agar bisa diawasi oleh babysitter. Dean dan winarsih turun menuju ruang besar di bawah tangga yang biasanya hanya terletak guci raksasa yang diberi batang-batang bunga kering sebagai hiasan. Hari itu, guci raksasa disingkirkan. Ruangan bawah tangga sekarang terhampar meja buffet besar.
“Darunya mana?” tanya Wulan pada Winarsih.
“Baru tidur, Mbak. Sekarang di kamar kakaknya. Mbak Wulan mau langsung makan? Yuk,” ajak Winarsih menggamit lengan Wulan. Mengajak istri sahabat suaminya itu mendekati meja buffet.
“Aku nunggu yang lain aja, Win. Masih kenyang juga. Mas Toni kayaknya nggak bisa liat aku diem. Harus ngunyah terus. Awal kehamilan kemarin dia sampai stres dan curhat ke dokter. Katanya kenapa berat badanku nggak nambah.” Wulan tertawa.
“Kalau gitu ngemil dulu. Aku juga mau maksa kayak Mas toni,” ujar Winarsih, mengambil piring kecil dan menyendokkan puding ke atas piring dan menyerahkannya kepada Wulan.
Dari pintu terdengar suara-suara orang yang baru saja datang. Winarsih melongok dan melihat Rio sekeluarga muncul bersamaan dengan Langit dan Jingga.
“Mas, Pak Ryan mana?” tanya Winarsih saat Dean melintas di dekatnya sambil menggandeng Widi. Bocah perempuan itu sedang cemberut seperti mengambek karena sesuatu tak sesuai keinginannya.
“Ryan sebentar lagi nyampe. Anaknya ini ngambek lagi, Win.” Dean mengangkat Widi dan menggendongnya. “Jadi Bapak harus gimana? Kayaknya Bapak salah terus di mata perempuan keluarga ini,” ujar Dean dengan wajah sedih pada putrinya.
Widi semakin cemberut mendengar perkataan bapaknya.
__ADS_1
“Memangnya mau apa?” tanya Winarsih pada Dean.
“Mau mainan Mas Dirja. Itu remote control punya Mas Dirja. Mas-nya baru mau main bareng temen yang baru dateng. Kamu main sama Mbak Dita aja, ya?” bujuk Dean.
Widi menggeleng. “Sama Bapak,” ucap Widi. Bocah perempuan gagal bungsu itu menolak bermain bersama kakaknya. Dean menarik napas dan menatap istrinya.
Winarsih mengambil tangan kanan Dean dan mengecup punggung tangan suaminya. “Titip anakku, Mas. Aku mau arisan,” kata Winarsih, mendekati Dean dan berjinjit mencium pipi suaminya.
Wulan yang sedang berdiri di dekat mereka tertawa karena melihat raut wajah Dean yang seketika merona.
“Aduh, tumben-tumbennya istriku mau nyium di depan orang. Demi arisan kamu menghalalkan segala cara, ya, Bu?” Dean tertawa merangkul pundak istrinya.
“Maksudnya biar tambah tenaga buat jagain anaknya. Gitu, ya, Mbak?” Winarsih memandang Wulan kemudian tertawa.
“Eh, kita duduk di mana, Win?” tanya Jennifer yang muncul bersama Jingga ke dekat meja buffet.
“Di ruang tamu aja, Mbak. Atau mau di taman?” tanya Winarsih.
“Di taman juga lucu,” jawab Jennifer.
Sedang mereka berkumpul di dekat meja buffet, Ryan dan Novi muncul. Sekretaris Dean itu muncul sambil menggendong bayinya yang berusia sembilan bulan. Novi jalan melenggang dengan menenteng satu tas perlengkapan bayi.
“Santoso nggak dateng?” tanya Dean sebegitu melihat kemnculan Ryan.
“Oh, iya. Santoso tadi nelfon, katanya dia sudah memasukkan permohonan cuti kemarin. Cuti seminggu. Enggak ada alasan jelas ke mana. Keterangannya Cuma, ‘menenangkan diri’.” Ryan menatap Dean dan menantikan reaksi atasannya itu.
“Menenangkan diri? Alasan apa itu? Berasa kerja di mana aja. Sok keren banget,” sungut Dean.
“Lah, Musdalifah juga cuti seminggu. Gue harus ke kantor Wulan dan ngirim staf dua orang ke sana untuk menangani pengiriman barang. Soalnya, Mus juga izin cutinya tiba-tiba. Kok bisa samaan gitu ya?” Toni memandang Dean.
“Apa mungkin kawin lari?” tanya Langit tiba-tiba.
To Be Continued
__ADS_1