
Semua yang berada di ruangan itu masih terdiam menantikan apa yang akan dikatakan oleh Musdalifah. Asih meletakkan semangkok salad di meja dan berdiri tersenyum memandang Musdalifah yang kebingungan.
"Mbak," sapa Asih pada Musdalifah.
Sadar Asih baru saja menyapanya, ia mengangkat bahu, membalas tatapan gadis itu. "Selamat apa?" tanya Musdalifah masih dengan raut bingung.
"Oh, berarti belum tau," sahut Asih. "Padahal dilihat dari jauh aja, udah kelihatan, lho."
"Kelihatan apanya? Kamu jangan bikin aku merinding," ujar Musdalifah.
"Jadi jawabannya apa, Mus?" tanya Wulan.
"Saya nggak tau, Bu. Belum ada periksa atau rasa gimana-gimana," jelas Musdalifah.
"Tapi, kalau dengar dari kata Asih Kayaknya kamu pulang dari arisan ini harus mampir ke apotek Mus." Wulan tertawa menepuk lutut Musdalifah yang duduk di sebelahnya.
Musdalifah mengangguk mengiyakan. "Bu Winar setiap hamil gejalanya gimana? Apa ada perbedaan dari tiap anak?" tanya Musdalifah pada Winarsih. Kapan lagi ia memiliki kesempatan untuk menanyakan hal itu pada wanita yang tak terlalu banyak bicara dibanding suaminya.
"Kayanya saya kalau hamil nggak terlalu banyak masalah. Paling saya cuma laper." Winarsih tertawa mengingat saat awal kehamilan Dirja, ia menghabiskan hampir setengah gajinya dari Pak Hartono hanya untuk jajan. "Ada sedikit rasa nggak enak di penciuman. Tapi itu cuma di trimester pertama saja masuk bulan keempat, semuanya udah nggak ada masalah. Biasa aja," jelas Winarsih.
"Nah, Winarsih ini sama kayak aku. Aku juga gini, Win." Wulan menimpali.
"Denger-denger katanya yang hamil nggak pake acara mabok, anaknya bisa banyak. Karena nggak trauma dengan maboknya itu," ujar Jennie.
Winarsih meringis. "Kalau dipikir-pikir memang ada benernya, sih, Mbak." Winarsih tertawa usai menimpali perkataan Jennifer.
"Nah, iya. Menurutku juga ada benernya. Karena mabuk, aku agak kapok. Selain juga karena aku memang nggak bisa nambah anak lagi." Jingga ikut meringis. Percakapan hari itu ternyata lebih banyak membicarakan kehamilan dan anak-anak.
Musdalifah dan Novi lebih banyak diam menyimak percakapan istri-istri atasan mereka.
"Kamu, sih, nggak apa-apa. Udah lega, deh, dapat anak kembar. Udah komplit," sambut Jennifer.
Di lain sisi, para bapak-bapak beringsut menuju kursi di teras samping. Beberapa orang memegang piring di tangan mereka dan selebihnya sedang menggandeng atau menggendong anak yang sedang rewel. Dean adalah salah satu bapak-bapak yang menggandeng anaknya yang sedang rewel. Siapa lagi kalau bukan Widi.
"Ya, udah. Kamu duduk di sini aja sama Bapak. Kalo dikit-dikit ngambek, nggak usah temenan sama siapa-siapa. Nanti lima menit main, udah dateng lagi ke sini. Bapak bujuk kamu dari awal lagi. Bakal lama," omel Dean pada anaknya.
"Ya, ampun, De. Lo omongin panjang lebar juga dia nggak bakal ngerti," kata Langit.
"Gue harap dia ngerti," kata Dean, menunduk memandang wajah Widi yang sedang terperangah melihat wajah bapaknya. "Oh, kayanya kamu enggak ngerti, ya? Pokoknya jangan ngambek-ngambek lagi, kalo mau main bareng sama temannya. Kalo itu ngerti nggak?" tanya Dean menatap Widi di pangkuannya.
Widi cemberut, tapi mengangguk.
__ADS_1
"Kalo gitu sini peluk Bapak," pinta Dean. Menuruti apa yang dikatakan oleh bapaknya Widi melingkarkan tangan mungilnya di sekeliling dada bapaknya. Dean langsung menunduk dan mencium kepala putrinya.
"Yang ini anak Bapak banget, ya, De." Toni muncul sambil menggendong putranya.
"Widi ini termasuk yang paling lama jadi anak bungsu. Makanya begini. Yang lainnya langsung disusul. Dirja langsung disusul Dita. Dita langsung disusul Widi. Widi dan Daru yang selisihnya lumayan jauh. Jadi dia udah terbiasa dimanja-manja banget. Kerjanya setiap hari nemenin adiknya nyusu. Kayak ngiri gitu," tutur Dean, mengusap dahi Widi yang berkeringat.
"Namanya Widi. Inisialnya sama dengan ibunya. Kesannya Jawa banget. Tapi, mukanya kok gini?" Langit menggoda Widi yang masih duduk di pangkuan Dean dengan wajah cemberut.
Widi memiliki rambut hitam legam yang digunting pendek di bawah telinganya. Kulitnya mengikuti kulit Dean, cenderung putih. Beda dengan Winarsih yang kuning langsat. Wajahnya nyaris seratus persen mengikuti bapaknya. Matanya sipit. Dilihat sepintas, balita itu juga mirip dengan Bu Amalia. Hanya bibirnya saja yang mungil dan penuh mengikuti bibir ibunya.
"Namanya ini karena bini gue nekad pengen anak yang mirip dia. Jadilah Widi. Harusnya dikasi nama Mey Ling. Gimana kalo namanya Mey Ling?" tanya Dean lagi pada Widi.
Widi menggeleng. "Enggak mau," kata balita itu.
"Bagus. Kalo gitu nggak boleh sering-sering ngambek. Nanti bapak panggil Mey Ling kalo ngambek lagi." Dean menutup mulutnya menahan tawa.
"Enggak," cicit Widi, mengeratkan pelukannya pada tubuh Dean.
Ryan melihat apa yang sedang dilakukan atasannya itu dengan mencibir. Bukannya membujuk dengan benar, Dean malah menggoda anak perempuan yang paling mirip dengannya.
"Widi ini mirip banget dengan--"
"Siapa?" tanya Dean, menaikkan alisnya.
Ketika mereka semua sedang ikut menggoda Widi yang semakin bergulung di pangkuan Dean, dari kejauhan, Wulan mendorong kursi roda Bu Anderson ke arah teras.
"Mau nunjukin tamannya sama Mami?" tanya Toni dengan Tirta berada di gendongannya.
"Iya, Mas pegang Tirta dulu. Dia udah kenyang nyusu. Tinggal nunggu tidurnya aja," ucap Wulan.
Di belakang Wulan, Jingga, Jennifer, Winarsih, Musdalifah dan Novi, ikut mengekori langkah Wulan keluar pintu teras menuju taman samping.
Semua wanita itu berduyun-duyun menuju sekumpulan kursi taman yang pernah ditempati Asih saat mengobrol dengan Musdalifah.
Sedangkan para bapak-bapak, melanjutkan obrolan, sambil mengamati apa yang dilakukan oleh istri-istri mereka dari teras.
"Aku ngajak mami keliling dulu, ya. Mau ngasih liat taman anggrek yang baru. Baru tiga hari yang lalu koleksi anggrek ini aku lengkapi. Aku pernah janji sama Mami." Wulan meminta izin kepada sekumpulan wanita yang sudah menempati bangku taman.
"Iya, nggak apa-apa. Kita nunggu di sini aja. Biar bapak-bapak yang sekali-kali me time dengan anak-anaknya." Dari kejauhan, Jingga melihat Langit sedang menggendong Zurra dan menatap ke arahnya. Jingga terkekeh-kekeh melihat hal itu. Zurra pasti mau menghampirinya, tapi Langit merasa tak enak jika mengganggu waktunya berkumpul bersama ibu-ibu yang memang sangat jarang.
Wulan mendorong kursi roda Bu Anderson masuk dari sisi kanan taman dan berbelok ke kiri memutari sebuah kolam ikan koi. Di seberang kolam, tersusun berbagai macam anggrek yang baru saja dibelinya tiga hari yang lalu.
__ADS_1
Tak salah kalau anggrek menjadi salah satu dari tiga bunga nasional di Indonesia. Selain bunga melati putih, bunga puspa langka atau dikenal juga sebagai bunga rafflesia arnoldi, bunga anggrek bulan disebut juga sebagai bunga puspa pesona.
"Ini, Mi. Bunga yang Wulan janjikan. Anggrek bulan. Namanya hampir sama dengan nama Wulan. Mami masih inget, kan, Wulan pernah janji beliin ini? Lihat, deh. Bunganya besar-besar, warna ungunya masih segar karena baru mekar." Wulan menurunkan satu rangkai bunga anggrek yang tergantung dan mendekatkannya pada Bu Anderson.
"Rupanya Wulan masih inget janji sama Mami," ucap Bu Anderson. "Memang ini yang paling cantik. Wulan pinter milihnya. Mami suka taman ini. Kapan dikerjakan? Mami nggak tau," ucap Bu Anderson menoleh sekelilingnya.
"Sengaja nggak dikasih tau ke Mami biar jadi kejutan," sahut Wulan.
"Bagus. Mami suka. Terima kasih," kata Bu Anderson, membelai satu kelopak bunga anggrek bulan yang dipegang menantunya.
Bu Anderson hanya minta diturunkan dua bunga anggrek saja dari gantungannya. Ia membelai sesaat bunga itu kemudian meminta Wulan kembali meletakkannya ke gantungan. Pandangannya berkali-kali menoleh ke arah teras.
"Ngeliatin apa, Mi?" tanya Wulan.
"Kita masuk ke dalam aja, ya, Lan. Mami kasian sama Tirta. Pasti udah tidur digendongan papinya. Ayo, kamu taruh ke box-nya aja."
Bu Anderson memang menyiratkan raut cemas memandang anak semata wayangnya sudah menggendong bayi cukup lama. Dan cucu semata wayangnya sudah terlalu lama tidur di gendongan.
Wulan kembali memutari taman dan melewati sekumpulan kursi di mana beberapa wanita sedang duduk bercakap-cakap.
"Ibu-ibu, aku ke dalam dulu, ya. Mami khawatir karena Tirta udah terlalu lama digendong." Wulan mengedipkan matanya ke arah para wanita, yang jelas pasti mengerti apa maksudnya.
"Aku juga ikut masuk. Dari tadi kayaknya Zurra rewel sampe digendong didinya terus." Jingga bangkit dari duduknya.
Karena Jingga beranjak berdiri, disusul oleh Winarsih, Jennifer, Musdalifah dan Novi, ikut berduyun-duyun kembali ke dalam rumah.
Padahal mereka hanya duduk sebentar saja di taman. Tapi setibanya di teras, semua anak-anak menghambur mendatangi ibunya. Termasuk juga Widi yang seketika turun dari pangkuan Dean saat melihat Winarsih datang.
"Mey Ling," kata Widi saat menghampiri ibunya.
"Ha? Siapa Mey Ling?" tanya Winarsih bingung, menunduk mengusap wajah putrinya.
"Aku nggak mau jadi Mey Ling. Enggak mau Mey Ling," ucap Widi lagi.
"Widi, ya, tetep Widi. Siapa yang bikin jadi Mey Ling?" tanya Winarsih yang belum mengerti duduk perkara.
Ternyata, kebingungan Winarsih, menarik perhatian Langit yang tadi mengikuti cerita soal Mey Ling. Langit dan Dean saling pandang dan terkekeh-kekeh.
"Bapak bilang," kata Widi.
Winarsih seketika melempar tatapan kesal pada suaminya. "Baru sebentar jaga anak, anaknya udah diganti nama," sungut Winarsih.
__ADS_1
Dean hanya mengedipkan mata pada istrinya dan memajukan bibir, membuat mimik wajah sedang mencium.
To Be Continued